Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 111


__ADS_3

"Gue nggak habis pikir kalau Melly itu benar-benar orang yang nekat," imbuh Roman mengingat bagaimana mengerikannya apa yang di lakukan oleh Melly terhadap Rianti.


Pagi ini Roman menyempatkan diri untuk mampir ke kantor teman sekaligus besannya setelah cukup lama pria itu tidak mengunjungi kantor yang dulu sangat sering mereka jadikan sebagai ajang untuk bertukar pikiran meskipun terkadang hanya akan ada ketidak jelasan yang mendominasi.


Aditya mengedikkan bahunya lalu menyeruput kopi panas yang baru saja di suguhkan oleh seorang OB.


Pria itu bahkan begitu menghayati kopi yang kini mengalir di tenggorokannya dan terus meluncur memberikan kehangatan bagi perutnya.


"Teman anda ini yang sangat kurang kerjaan Pak," si Johan yang memang akan selalu ikut bergabung dengan dua sahabat itu pun menimpali omongan Roman membuat Roman dan Aditya serentak melihat padanya.


Sudah jelas apa yang Aditya lakukan ketika mendengar tudingan dari sang asisten yang memang terkenal dengan kekurang ajarannya apalagi jika Aditya sampai melakukan kesalahan sudah sangat pasti asistennya itu tidak akan ragu untuk memberikan ceramah tanpa henti yang akan dengan malas Aditya dengar.


Aditya memberikan tatapan yang luar biasa tajam teruntuk sang asisten yang kian bersikap santai dan juga tenang setelah dengan lancarnya berkata bahwa dia kurang kerjaan.


"Jelas-jelas bertahun-tahun lalu kita sudah memperingatkannya untuk langsung menjebloskan mantan kekasihnya itu ke dalam penjara, tapi apa yang teman anda lakukan? malah dengan konyolnya memberikan perintah kepada Suryo untuk mencelakai wanita itu, wanita itu tidak jera malah teman anda ini menambah catatan dosanya," tukas Johan panjang lebar dan seperti biasa Aditya menghela nafas teramat panjang.


Roman pun setuju dengan apa yang diucapkan oleh Johan, pria itu kini menatap Aditya dan juga memberikan komentarnya dengan perbuatan gila yang Aditya lakukan dulu.


"Kenapa lu berdua jadi kompak nyerang gue?!" dengus Aditya tak terima.


"Ya karena emang secara nggak langsung elu juga yang memberi kesempatan pada mantan pacar lu itu untuk balas dendam, dan akhirnya Rianti yang lagi-lagi menjadi korban, istri lu sendiri!" tekan Roman dengan emosi yang memuncak mengingat betapa tidak masuk akalnya jalan pikiran Aditya dulu.


Aditya terdiam membisu tak berani mengeluarkan argumennya untuk membela diri, memang dari hati kecilnya dirinya juga merasa bersalah karena mengabaikan saran yang Johan serta Roman berikan dulu, dia malah lebih mengedepankan emosi ketimbang berpikir akibat yang akan terjadi di masa depan.


"Dan sekarang tuh perempuan gila sudah beranak Pinak, lu sendiri juga tau kalau ternyata anaknya itu suka sama Darren, bisa dibayangkan jika induknya saja sudah semenyeramkan itu lalu bagaimana dengan anaknya, bagus kalau anaknya tidak menuruni sifat gila itu, tapi kalau sifatnya itu menurun pada sang anak bagaimana? anak gue yang bakalan terancam! dan sekarang pun anak gue lagi hamil, cucu lu Dit, cucu lu!" sentak Roman seraya menekan-nekan meja kaca melampiaskan kekesalan yang dia rasakan.


Ruangan itu berubah menjadi panas seakan tidak ada AC yang bisa mendinginkan suasana yang terlihat begitu tegang.


"Sebaiknya anda minum dulu Pak." si Johan malah menawarkan minuman pada Roman yang langsung mendelikkan mata padanya.


"Tadi elu yang ngomporin gue, sekarang gue udah cukup panas dan siap meledak malah di suruh minum! lu tuh sama ngeselinnya sama bos lu!" hardik Roman.


Aditya menahan tawa melihat Johan yang kini menjadi sasaran empuk bagi Roman untuk semakin menyalurkan emosinya.


Wajah Johan dalam sekejap berubah menjadi begitu datar tanpa ekspresi hanya tangannya saja yang bergerak untuk menggeser cangkir berisi kopi ke depan Roman.


Roman mendengus seiring dengan tangannya yang bergerak mengambil cangkir kopi lalu ketika akan meminum kopi itu dia menghadap ke samping, kelakukan konyol yang tak luput dari perhatian Johan serta Aditya.



"Untuk Rona lu nggak usah khawatir, gue sudah memberitahu soal ini kepada Darren, percaya sama dia karena gue sangat yakin bahwa Darren pasti bisa menjaga istri dan juga anaknya," terang Aditya ketika Roman kembali meletakkan cangkir itu ke meja.



"Semoga aja dia nggak benar-benar nurunin semua sifat lu yang terkadang sulit di nalar," Roman bersungut-sungut.

__ADS_1



Aditya menggaruk tengkuknya mendengar sang teman sedang bersungut tentangnya, tidak mampu protes untuk membela diri sebab yang dikatakan oleh Roman memang benar adanya.



\*\*\*\*



"Itu.." mata Sherin menatap pada wanita yang ia kenal.



"Benar!" Nella mengangguk mengetahui siapa yang kini sedang Sherin lihat bahkan menjawab sebelum temannya itu menyelesaikan kalimatnya.



"Dia kuliah disini?" tanya Sherin kemudian tak mengalihkan pandangannya sedetikpun.



"Sejak awal gue mau kasih tau elu, tapi tidak sempat melihat begitu banyaknya masalah yang sedang lu hadapi," terang Nella.




Jantung Sherin kembali bergemuruh hebat mengingat apa yang Darren katakan padanya belum lama ini, sungguh dalam sekejap dadanya kembali merasakan sesak yang sangat hebat terlebih lagi ketika ia melihat Rona yang sedang tertawa lepas dengan teman-temannya, menunjukkan betapa bahagianya kehidupan wanita itu, betapa sempurnanya karena semua yang Rona miliki, berbanding terbalik dengan dirinya yang semua terasa begitu menyedihkan.



Sherin merasa semua ini tidak adil untuknya, merasa bahwa seharusnya dirinyalah yang merasakan kebahagiaan, bukan penderitaan yang membuat dirinya bahkan harus bekerja keras guna bisa menghidupi kebutuhannya.



Wanita itu mengepalkan kedua tangannya, menatap lurus pada wanita yang ia ketahui sedang mengandung, mengandung anak dari pria yang ia cintai.



Lalu Sherin mengalihkan pandangannya pada sosok pria yang nyatanya lebih mencintai wanita lain ketimbang dirinya, menatap penuh penyesalan karena bukan ia yang di pilih oleh pria itu.



Darren yang sedang berbicara dengan temannya merasakan ada yang tengah memperhatikan pun menengokkan kepala dan matanya bertabrakan dengan sepasang mata Sherin,tak terlalu lama sebab Darren segera mengalihkan pandangannya pada teman pria di depannya.

__ADS_1



Namun tidak di pungkiri sejak matanya bertemu dengan sepasang mata wanita yang menyorot penuh ketegangan, pria itu merasakan ada sesuatu yang tidak biasa, pikirannya pun langsung terganggu sehingga dia tidak bisa lagi fokus mendengarkan apa yang tengah dibicarakan oleh teman-temannya.



Darren kembali melihat ke tempat dimana Sherin berdiri tadi, namun wanita itu sudah tidak ada, lalu dengan gerakan cepat matanya mencari keberadaan sang istri dan menarik nafas lega begitu mendapati istrinya sedang tertawa bersama dengan Tyo dan juga dua orang teman wanitanya.



"Eh nanti malam kita bebas pakai baju apa kan? dandanan juga nggak aneh kayak gini lagi?" suara Kyla yang bawel mulai terdengar membicarakan untuk malam keakraban setelah masa ospek yang mereka lalui selama beberapa hari ini selesai.



"Iyaa, suka-suka lu dah mau dandan kayak ondel-ondel juga nggak masalah, nggak bakal ada yang protes," sahut Desi.



"Iya palingan juga di ketawain sama senior," timpal Tyo sambil nyengir lebar.



"Berisik lu!" sentak Kyla yang sepertinya selalu saja kesal dengan setiap ocehan yang Tyo lontarkan.



"Perasaan lu berdua berantem Mulu deh." Desi menatap Tyo dan Kyla bergantian.



"Biasanya kalau yang sering berantem itu kan jodoh, jangan-jangaaan.." timpal Rona seraya tersenyum penuh arti.



"Idiiwwww ogah amat gue sama dia, gue ni kuliah mau cari cowok ganteng, masa malah jadi sama nih bocah modelan ngeselin begini," cerocos Kyla.



"Idih gue juga ogah sama elu Kyl, ogaaaah nggak SNI lu mah," ledek Tyo.



"Heh gila! lu pikir gue Helm pake SNI segala!" sentak Kyla yang membuat Rona serta Desi tertawa bersamaan sedangkan Tyo malah dengan entengnya menenggak air mineral tidak peduli pada seorang wanita yang kesal karena ucapannya, seolah tidak terjadi apa-apa.


__ADS_1


\*\*\*\*\*


__ADS_2