
Ketiga pria itu kini sudah berpindah tempat yang tadinya hanya makan di cafe kini mereka sudah ada di club malam , Lagi-lagi tempat yang memang sering mereka datangi..
"gue ketemu sama Ninda " suara Roman yang kalah dengan musik membuat Johan dan Aditya kompak mengerutkan kening karena tak mendengar apa yang sedang Roman bicarakan
Johan dan Aditya pun bahkan saling menyenggol lengan , persis seperti ibu-ibu yang sedang menggosipkan orang di sebelah mereka
Roman menarik napas panjang sebelum mengulangi perkataannya
"Gue ketemu Ninda" berkata dengan suara yang cukup keras dan sukses membuat mata Aditya membelalak tak berkedip, Aditya cukup tahu cerita Roman dan Ninda makanya tanggapan dia malah seperti orang yang terkena serangan jantung.
"dia ngomong apa? ada kisah dramatis nggak? " Aditya bertanya penasaran, sedang Johan yang pernah mendengar nama Ninda tanpa tahu kisah nya hanya ikut mendengarkan tanpa membuka mulut
"maksud lu kisah dramatis apaan? " Roman malah bertanya dengan tampang bodohnya
"ya kali dia dateng terus bilang, Roman sayang ini anak mu darah daging mu, sambil ngasih liat foto bocah kecil yang mirip sama elu" ucap Aditya dengan nada dramatis seperti yang ada di film-film ataupun novel, Aditya keseringan nonton sinetron sama baca novel kayaknya jadi gesrek aja kelakuannya
Roman langsung memukul Aditya dengan telak
karena jengkel dengan apa yang sedang di karang oleh temannya itu
Johan si asisten hanya menahan mulutnya agar tidak tertawa mendengar apa yang di katakan Aditya tadi, jika ia tertawa tampolan tangan Roman tentu akan menyentuh dirinya juga
dari pada harus menahan sakit lebih baik menahan tawa saja lebih aman pikir Johan
"nggak usah ngedramain hidup gue lu! " memarahi Aditya yang malah cengengesan tak merasa bersalah sedikitpun karena sudah bertindak seperti seorang penulis novel atau produser film
"kebanyakan nonton sinetron jadi nggak jelas kelakuan lu" sengit Roman pada Aditya
"terus dia tiba-tiba muncul mau ngapain, kalo nggak ada alasan nya , lu jadi laki jangan bodoh-bodoh amat Man" Aditya berkata sudah seperti seorang yang sangat berpengalaman saja
"buka begitu Han? " meminta pendapat dari Johan
"bukan pak" Johan menjawab ringan tanpa peduli ekspresi wajah Aditya ketika mendengar jawaban darinya
__ADS_1
"nah kan cuma elu yang punya pikiran drama begitu mah Dit" Roman berkata seraya menyilangkan kaki , sungguh ia kesal jika harus terus menimpali tingkah konyol serta aneh Aditya, sudah memiliki dua orang anak namun kelakuannya sejak muda tidak juga berubah sampai sekarang, kelakuan nya malah makin menjadi saja menurut Roman, Johan sepertinya juga merasakan hal yang sama seperti dirinya..
"kurang-kurangin ngayal nya pak" Johan begitu beraninya mengatai Aditya kebanyakan ngayal , bahkan Johan dengan berani berkata tepat di depan Aditya langsung, mungkin hanya Johan lah asisten yang berani mengatai bos nya sendiri tanpa takut akan di pecat dari pekerjaan dengan cara tidak hormat
"wah berani nih orang " Aditya melihat Johan yang selesai berkata menyudutkan dirinya langsung sibuk dengan ponsel entah menghubungi siapa
"ngapain takut sama elu Dit, orang lu aja takut sama anak lu" Roman yang menyahut karena Johan sudah tak menggubris atasannya yang sedang menggerutu berkepanjangan
mendengar celotehan Roman , Aditya hanya mampu menarik napas panjang , tidak bisa berkelit karena apa yang di katakan Roman tentang dirinya memang benar, bahwa faktanya Aditya memang tidak berani menghadapi Riana gadis kecil nya itu jika sudah marah akan lebih susah dibujuk berbeda dengan ibunya, meski sama-sama tukang ngambek namun membujuk Rianti lebih mudah dari pada membujuk anak gadisnya yang harus penuh perjuangan itu..
"terus gimana sekarang? " sudah mulai normal kembali pertanyaan yang Aditya ajukan
"apanya? " Roman tak mengerti Aditya tengah membicarakan apa mengerutkan keningnya
"Ninda, maksud gue " Aditya menerangkan pertanyaannya
"ya gitu lah, dia jadi pasien gue sekarang" sahut Roman memberitahu perihal Ninda yang kini jadi pasien di rumah sakit tempat ia praktek dan harus ditangani olehnya
"wah kacau" Aditya seperti orang kaget mendengar pengakuan Roman
"mulai lagi dah" Roman menggerutu sendiri
"kali ini saya setuju sama yang diomongin pak Adit " ucap Johan ikut nimbrung setelah sejak tadi sibuk sendiri dengan ponselnya
"tapi gue nggak lagi minta persetujuan dari elu tuh" Aditya menimpali Johan dengan lirikan mata serta gerakan mulut yang super ngeselin
"tapi kan saya mau ikutan " Johan kembali bersuara melawan bos nya
Roman yang sedari tadi kesal menghadapi Aditya merasa senang karena Johan rupanya dapat mengimbangi kekonyolan Aditya
"terserah " akhirnya Aditya yang mengalah dan memilih untuk tak melanjutkan debat nya dengan sang asisten
dari pada nantinya mulut Johan malah mengeluarkan kata apa saja yang tidak di ketahui oleh Roman bisa lebih bahaya lagi, begitu pikiran Aditya sebab ia tak mau jadi bahan lelucon lagi oleh Roman sudah cukup rasanya kepusingan yang melanda dirinya karena tidak diperbolehkan untuk tidur sekamar dengan sang istri karena kejadian melirik Selfi si adik ipar Roman tempo hari
__ADS_1
"nih sekarang kepala gue pusing, Tania tadi marah sama gue gara-gara si Ninda, terus gue balik marah aja" tukas Roman kepada Aditya dan Johan yang sudah berhenti berdebat
"Lah lu yang salah, elu juga yang marah" ucap Aditya yang diiringi anggukan oleh Johan
"iya kan bapak yang salah kok malah bapak yang marah" Johan mengulangi perkataan Aditya
"gimana gue nggak marah, kalo tahu si Imran ternyata sering ngehubungin bini gue" sahut Roman sengit seraya menatap tajam dua orang di dekatnya
"cuma mantan ngapain diributin" Aditya berkata dengan entengnya seolah dia takkan marah jika ada mantan Rianti yang tiba-tiba menghubungi istrinya itu
"ngomong mah gampang Dit, kalo Rianti di pepet sama mantan pacarnya juga lu bakal kelabakan lebih parah dari gue" sungut Roman kesal Aditya begitu meremehkan dirinya
"nah dengan lu marah-marah sama Tania apa lu nggak mikir kalo si Imran bakal kesenengan dan malah makin berusaha buat hancurin rumah tangga lu , apalagi Tania sekarang lagi hamil lagi masa-masa sensitif sekaligus butuh perhatian dari suami, tapi lakinya malah ngomel mulu" Aditya berkata panjang lebar menasehati Roman, dan memang ada benar nya juga apa yang di katakan Aditya barusan, seharusnya Roman yang dokter ini lebih bisa mengerti dengan kondisi snag istri, tapi karena kepalanya di penuhi rasa cemburu membuat dirinya tak memikirkan perasaan sang istri,, malah sibuk mementingkan perasaannya sendiri
Roman terdiam sepertinya memikirkan apa yang dikatakan Aditya memang benar, kenapa dirinya bisa begitu egois mementingkan perasaannya sendiri , sedangkan saat ini istrinya lah yang harus ia prioritaskan mengingat ada bayi hasil perbuatannya di dalam perut sang istri
"nah diem kan lu" ketus Aditya ketika menyadari temannya itu hanya diam mendengarkan pernyataannya tadi
"udah lah gue mau pulang" kata Roman kemudian pada Aditya juga Johan
"saya juga mau pulang" Johan menimpali
"lah gue terus sama siapa? " sebenarnya Aditya lah orang yang sudah mengajak untuk bertemu karena memang dia ingin ia membutuhkan teman untuk menghilangkan rasa stresnya karena di larang tidur satu ranjang dengan sang istri
"ya bapak pulang juga, ini kan udah lumayan malam" Johan mengingatkan bos nya untuk pulang ke rumah
"males gue" sahut Aditya enteng
"emang nya bapak mau huk.. "
"iya iya gue pulang" Aditya menghentikan ucapan Johan yang akan membocorkan masalah yang tak diketahui oleh Roman
Roman menatap tak mengerti dengan apa yang tengah dibicarakan dua orang lelaki ini, tapi ia tak sempat untuk memikirkannya karena sekarang yang ada di kepalanya ia ingin cepat berada di rumah bertemu dengan sang istri yang tadi ia marahan karena kecemburuan yang tengah melanda hati dan jiwanya..
__ADS_1
ketika lelaki itu jalan beriringan keluar dari tempat hiburan malam yang malah semakin ramai ketika malam sudah sangat larut..
*****