Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 90


__ADS_3

Johan masuk ke dalam ruangan atasannya sekaligus ruangannya sendiri, jadi dia sama sekali tidak perlu mengetuk pintu terlebih dulu.


Aditya tak menghiraukan siapa yang masuk karena jika tidak terdengar suara ketukan sudah pasti itu adalah asisten kurang ajarnya.


Brak!


Aditya kaget ketika ada sebuah amplop coklat besar yang sengaja di lempar ke atas mejanya dan sekarang tepat berada di tumpukkan paling atas menutupi lembaran kertas yang sejak tadi sedang dia periksa.


Aditya menatap Johan dengan sangat jengkel atas kelakuannya itu, sangat tidak salah jika Aditya dan Roman menjulukinya sebagai asisten kurang ajar karena beginilah kelakuannya jika sedang tidak terlalu banyak tugas yang di berikan oleh sang atasan.


"Yang beberapa hari lalu tuan minta," jelas Johan ketika Aditya menatapnya.


Aditya menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya yang akan selalu menjadi tempat ternyaman jika sedang seperti ini.


"Katakan saja siapa orang itu, apa saya mengenalnya?" Aditya malah masih saja repot bertanya.


Johan memutar kedua bola matanya kesal pada seorang Aditya yang selalu ingin sesuatu yang cepat dan tak mau bertele-tele, padahal Johan sudah melakukan yang terbaik mencontoh adegan yang ada di drama-drama Korea yang sering istrinya tonton.


Ketika seorang asisten di beri tugas untuk mencari tau tentang seseorang, asisten itu akan melaksanakannya lalu dengan sangat gagah memberikan sebuah amplop besar yang akan di buka oleh sang atasan untuk mengetahui siapa orang itu, lalu atasannya pun akan menunjukkan betapa terkejutnya ketika tau siapa yang orangnya.


Sungguh kali ini Johan merasa kecewa karena apa yang dia inginkan tak sesuai dengan harapannya.


"Anda bisa membukanya, jika ingin tau," terang Johan.


Sepertinya pria itu masih sangat ingin apa yang sudah dia rencanakan berhasil.


"Bukankah ada kamu, kenapa tidak kamu saja yang membukanya?" kata Aditya dengan tatapan penuh pertanyaan.


Nyatanya kejadian puluhan tahun lalu akan kembali terulang, kala Roman dan juga Johan menunjukkan pada Aditya foto-foto mantan kekasihnya yang dulu tengah merencanakan kejahatan untuk menjebak istrinya.


"Sudah ada di hadapan anda, akan lebih baik jika anda melihatnya langsung," tekan seorang asisten pribadi tegas dan berkompeten di dalam bekerja akan menjadi layaknya asisten tak jelas jika sudah berhadapan dengan atasannya ini.


"Kalau begitu saya ingin mendengarnya langsung dari mulutmu. itu lebih baik ketimbang saya harus membuat mata saya bekerja guna melihat apa yang ada di dalam amplop ini!"


Apa tidak sebaiknya Johan mengalah saja? ingatlah siapa yang tengah dia hadapi sekarang ini! Aditya Erlangga yang akan senantiasa tak mau mengalah kecuali pada anak dan juga istrinya.


"Jika saya berbicara bukankah malah telinga anda yang akan bekerja untuk mendengarkan apa yang akan saya katakan?!"


Bukan Johan namanya jika dia langsung menyerah begitu saja, karena baginya selama masih ada celah untuk berjuang sebaiknya perjuangkan sampai tidak lagi memiliki argumen untuk mendebat seorang pria di depannya.


Bukannya membuka amplop yang sedari tadi berada di dekatnya, Aditya malah meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya seraya berkata enteng, "sejak tadi kamu tidak ada di ruangan ini juga tidak ada yang menghubungi saya, itu artinya telinga saya menganggur, karena hanya mata saya yang bekerja melihat ketikan-ketikan di atas kertas itu," mata Aditya melirik tumpukan kertas yang memang tadi sedang dia lihat ketika asistennya itu masuk.

__ADS_1


"Itu artinya sejak tadi telinga saya tidak bekerja apapun bukan? karena memang saya bukan orang gila yang akan berbicara sendiri," cibir Aditya.


Johan mendesah panjang, sudah seperti ini dia tidak akan lagi mengatakan apapun. dia sudah kalah dan akan selalu kalah jika sudah berhadapan dengan pria mengesalkan sejagat raya itu.


Johan memilih untuk mengambil kembali amplop yang tadi dia lempar.


Iya pria itu akhirnya mengambil pilihan untuk tidak berbicara lagi ketika mulutnya sudah tidak bersemangat mengeluarkan kalimat demi kalimat, lebih baik dia langsung saja menunjukkan apa yang ada di dalam amplop coklat itu pada pria tak pernah mah mengalah dengan bawahannya sendiri.


Dengan cekatan Johan membuka amplop dan tanpa basa-basi juga dia langsung menunjukkan apa yang terdapat di dalamnya pada Aditya.


"Benar apa yang saya pikirkan," celetuk Aditya ketika matanya melihat foto sang mantan dengan seorang gadis yang pernah dia lihat di rumahnya.


Meski hanya sekilas namun nyatanya dia cukup mengingat wajah gadis itu.


"Ini foto mendiang suaminya," jelas Johan ketika menunjukkan foto yang lainnya.


"Sepertinya saya mengenalnya," ucap Aditya ketika melihat pria tua yang berfoto dengan Melly.


"Subroto Wijaya, pemilik Wijaya Karya," terang Johan dan kali ini membuat Aditya mencondongkan tubuhnya.


Keterkejutannya sangat wajar bila mengingat salah satu perusahaannya sempat akan bekerja sama dengan Wijaya Karya namun gagal karena Aditya yang secara sepihak membatalkan perjanjian yang untungnya belum sempat dia tanda tangani.


Pernyataan Johan membuat mata Aditya sangat tajam melihat dirinya, asisten kurang ajar itu seenaknya saja berkata.


"Kenapa harus mengatakan mantan kekasih saya?" kata Aditya tak terima.


"Karena memang itu kenyataannya," jawab Johan.


Aditya mendesah panjang, "oke dia memang mantan saya, tapi apa tidak lebih baik kamu berkata jatuh ke tangan anak dan istrinya, itu lebih sangat relevan ketimbang perkataan sialan mu tadi!"


Johan malah hanya mengedikkan kedua bahunya mendengar keberatan serta protes dari sang atasan, masa bodo dengan pria itu karena kini dia merasa senang karena berhasil membuat atasannya balik kesal padanya, setelah tadi membuatnya hampir saja naik darah.



"Tidak usah membahas hal lain yang tidak ingin saya dengar!" tegas Aditya akhirnya.



"Baiklah," jawab Johan.


__ADS_1


"Katakan, apa lagi yang kamu ketahui?" pinta Aditya.



"Ehem." terlebih dulu Johan mendehem sebelum membeberkan semua yang sudah dia ketahui.



"Wanita itu memiliki anak yang bernama Sherin."



"Itu saya sudah tau, tidak usah memberitahu lagi, pemborosan kata!" Aditya memotong apa yang ingin dikatakan oleh sang asisten.



Johan menelan ludahnya yang terasa sangat keras di dalam kerongkongannya, pria di depannya ini benar-benar menguras emosi serta waktunya.



"Sherin sudah menyukai anak anda sejak pertama kali melihatnya, dan yang saya lihat sifat gadis ini tidak berbeda jauh dengan mantan kekasih anda."



Lagi-lagi Johan menyebut mantan kekasih yang membuat mata Aditya melihatnya dengan sangat tajam.



"Sebaiknya mulai sekarang anda peringatkan Darren untuk berhati-hati," jelas Johan kemudian.



Aditya menampakkan wajah yang tak terbaca mendengar peringatan dari asistennya yang memang kenyataannya jauh lebih peka ketimbang dirinya, asisten yang sangat bisa membaca watak orang lain meskipun hanya melihatnya sekali saja.



Dan kali ini asistennya itu menunjukkan wajah yang sangat serius menunjukkan betapa mereka harus sangat waspada mulai saat ini.


Karena Johan tau benar bagaimana bencinya seorang Melly terhadap Rianti, wanita itu bahkan bisa melakukan apapun tanpa berpikir lebih dulu.


\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2