Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
Bab 79


__ADS_3

Rianti langsung meminta Salma yang berada didalam kamar beserta kedua anaknya untuk bermain di kamar tamu saja yang berada di lantai bawah.


Salma pun menuruti tanpa protes permintaan sang majikan,dia gegas menggendong Daren serta menuntun Riana menuju kamar bawah.


"Mau kemana?"tanya Rianti kala melihat sang suami yang tengah berjalan keluar pintu.


"Mau kebawah,ngapain kita disini,sedangkan dibawah ada banyak tamu."kata Aditya dengan wajah biasa namun tersirat sebuah kekesalan yang sepertinya sedang ingin ia keluarkan,entah akan ia lampiaskan pada siapa,yanga jelas jika dibiarkan keluar oleh Rianti suaminya itu akan membuat kacau ruang keluarga.


Rianti bergerak cepat untuk menutup pintu serta menguncinya sebelum sang suami keburu keluar,karena pastinya akan sulit untuk membawa lelaki itu masuk kembali.


"Ngapain sih yank?!"Aditya terlihat tak senang pintu dikunci oleh sang istri dan kunci itupun langsung disembunyikan kedalam laci meja.


"Mas mau ngapain keluar?"bertanya lagi seraya berdiri didepan laci meja agar sang suami tidak mengambil kunci pintu.


Tentu Rianti tidak akan membiarkan suaminya itu keluar dari kamar sebelum membuat kesepakatan terlebih dulu,kesepakatan bahwa suaminya itu harus menyetujui hubungan antara Eva dan Rama dan tidak akan membuat masalah apapun apalagi sampai memancing keributan dengan Rama.


Rianti sadar betul bagaimana suaminya itu dulu sangat amat marah pada Rama ketika tahu bahwa Rama menaruh perasaan spesial terhadapnya dan yang paling membuat emosinya lagi adalah Rama yang membantu dirinya untuk kabur ke Bali.


Dan sepertinya semua itu masih diingat oleh sang suami sampai sekarang.


Ya Aditya memang seorang manusia yang akan menyimpan dengan rapi segala sesuatu yang membuat ia marah diingatan nya.


Tapi akan sangat mudah lupa dengan hal yang lainnya dan kesalahan orang lain akan senantiasa dia ingat sepanjang masa sepertinya.


"Mas mending nggak usah keluar kalau cuma mau ngeluarin omongan yang bikin orang kesel dengernya."ucap Rianti dengan menatap sengit sang suami didepannya yang berdiri dengan menaikkan sebelah tangannya di pinggang.


"Loh suka-suka aku dong,mau ngomong apa juga terserah aku,toh mulut aku sendiri."tentu saja Aditya tidak akan mudah untuk menuruti permintaan sang istri,bisa dipastikan akan terjadi drama sebelum ia luluh pada yang akan diucapkan oleh istrinya itu.


Rianti menghembuskan napasnya keluar masuk berulang kali secara perlahan guna meredam rasa kesalnya yang tentu saja akan mengeluarkan ucapan-ucapan yang akan makin membuat sang suami seliar hewan buas.


"Ngapain narik napas begitu?!"malah mempertanyakan apa yang kini tengah dilakukan oleh istrinya.


Rianti mengukir senyum yang terlihat sangat dipaksakan untuk sang suami.


"Kita duduk dulu yu mas."berkata sangat lembut.


"Kalau cuma mau duduk diruang tengah juga bisa,ngapain harus kesini."sudah sangat terlihat jelas betapa ngeyel nya seorang Aditya ini.


Karena sudah kesal akan sikap suaminya,Rianti yang sepertinya hampir kehilangan kesabaran lantas menarik lengan Aditya dengan sangat kencang lalu dengan kasar mendorong tubuh sang suami hingga terduduk di ranjang.


Aditya masih saja berusaha untuk beranjak bangun namun Rianti langsung duduk dipangkuan sang suami agar lelaki itu tidak keluar dari kamar.


"Sekarang mau ngapain?!"tanya Aditya dengan mata yang menatap sang istri di depannya.


"Nggak ngapa-ngapain,duduk aja disini diam nggak usah ke mana-mana."Rianti memberikan tatapan mata yang sangat tajam pada sang suami.


"Aku lagi nggak kepingin."kata Aditya lagi yang sudah bisa ditebak oleh Rianti apa yang kali ini dibicarakan oleh lelaki yang tengah ia duduki sekarang.


"Aku juga nggak bilang kalau aku lagi kepingin."kata Rianti mencibir.


"Terus ngapain duduk disini?kamu kan tahu aku bakalan langsung on kalau deket kamu,apalagi kayak gini."kata Aditya yang berusaha tenang meskipun wajahnya terlihat tengah menahan sesuatu yang mendadak menyerang dirinya.


"Biarin aja."Rianti berkata acuh.


"Turun nggak yank?!"


Rianti menggeleng tidak mau turun dari pangkuan sang suami yang sepertinya sudah mulai tidak bisa diam,terus bergerak berusaha menggeser turun tubuh sang istri.


Namun Rianti malah makin mempererat pelukan nya pada bahu sang suami disaat suaminya itu sedang bersusah payah untuk membuatnya turun.


"Pokoknya aku nggak mau turun." kata Rianti tegas.

__ADS_1


Aditya menarik napas mulai lelah karena istrinya yang malah makin memperkuat pegangannya ketika dia mencoba untuk membuat wanita itu turun dari tubuhnya.


"Ya udah oke,aku nyerah." akhirnya pasrah pada kelakuan Rianti.


Dia tidak akan bisa menang jika sudah berurusan dengan istrinya itu.


"Nah gitu dong."Rianti tertawa senang.


"Kamu minggir sekarang."ucap Aditya.


Perlahan Rianti turun dari pangkuan sang suami dan Aditya pun segera berdiri dan menuju laci untuk mengambil kunci pintu yang tadi disimpan oleh sang istri.


"Iih mas mau ngapain." Panik ketika sang suami akan memasukkan kunci keluhannya.


Aditya tidak menjawab perkataan Rianti,ia malah terus memutar kunci dan sudah akan membuka pintu.


Tapi rupanya tidak semudah itu bagi Aditya untuk keluar dari kamar karena tepat saat dirinya baru memegang Handel pintu Rianti sudah menarik tubuhnya dari belakang hingga mereka bersamaan jatuh keatas karpet yang menutupi lantai kamar.


"Aduh sakit mas."rengek Rianti jatuh tertimpa tubuh sang suami yang jauh lebih besar dari dirinya.


Aditya pun dengan cepat bangun dari tubuh istrinya.


"Lagian kamu mau ngapain!"ujar Aditya dengan wajah kesalnya.


Rianti berangsur duduk dan memegangi pinggangnya yang terasa sakit setelah ditimpa tubuh sang suami.


"Mas nya lagian rusuh."omel Rianti.


"Aku marah sama mas."


"Kenapa malah kamu yang marah,kan kamu yang dari tadi nggak jelas." sungut Aditya seraya membantu sang istri untuk berdiri.


"Bodo."kata Rianti sambil duduk di tepi ranjang.


"Ya biar mas nggak ngerusuhin pertemuan antar dua keluarga itu."tukas Rianti seraya meringis ketika tangan suaminya terlalu kencang ketika menyentuh pinggangnya.


"Siapa yang mau ngerusuh sih yaaank."ujar Aditya.


"Kamulah mas,siapa lagi memangnya." ketus Rianti.


"Ditanya sama papah jawabnya ngeselin,diajak ngomong sama orang tuanya Rama juga sama aja jawabnya."mempermasalahkan tentang sikap suaminya saat diberikan pertanyaan tentang hubungan Rama dan juga Eva.


"Terus mau kamu aku harus gimana?"


Aditya bertanya pada sang istri tentang bagaimana dia harus bersikap.


"Tinggal jawab setuju apa susahnya."sahut Rianti.


"Jadi maksud kamu aku harus setuju Eva nikah sama Rama?Lelaki yang pernah suka sama kamu itu,keenakan dia dong bisa lihat kamu bahkan mungkin bisa ketemu sama kamu." ujar Aditya yang membuat mata Rianti mendelik.


"Enggak,enak aja nggak bakal aku setuju."kata Aditya lagi.


"Mas bener-bener ya,ngomongnya kebangetan asal nuduh."Rianti berkata geram pada prasangka yang diutarakan sang suami terhadap Rama.


"Siapa yang nuduh?"malah bertanya seolah dia tidak mengatakan apapun.


"Kamu mas,nih bibir kamu yang berkata seperti itu."menunjuk bibir sang suami dengan menekannya.


"Kan emang dari dulu dia suka sama kamu."


"Itu kan dulu."menjawab kencang.

__ADS_1


"Ya siapa tahu aja dia masih belum berubah,kita kan nggak tahu isi hati orang." kata Aditya seraya menyebikkan bibirnya.


"Nah itu mas ngerti,isi hati orang kita nggak tahu,bisa aja dia udah nggak kayak dulu,lagian mas ngapain ribet banget sih toh dulu Rama yang tolong aku."


"Aku bukan lagi masalah dia baik atau nggak ya yank,bukan!bukan itu."kali ini wajah Aditya menjadi sangat serius.


"Nggak mungkin juga dia masih suka sama aku mas,nggak mungkin."Rianti sudah terlihat frustasi mengahadapi sifat suaminya.


"Mungkin aja." masih saja teguh dengan pemikirannya sendiri.


"Ya udah kalau gitu,jangan ijinin Eva nikah sama Rama!" kata Rianti dengan mata yang begitu sangar.


"Nah gitu dong dari tadi,dukung suaminya." kata Aditya dengan sedikit memamerkan senyumnya.


"Tapi jangan marah-marah ku akhirnya dia deketin aku lagi."perkataan Rianti selanjutnya sangat sukses membuat senyum dibibir Aditya luncur dengan cepat.


"Maksudnya apa kayak gitu?!"tanya Aditya dengan sorotan mata tajam.


"Kamu larang dia nikahin Eva,bukankah itu malah akan membuat dia kesal sama kamu,dan bisa aja dia kepikiran buat rebut aku dari kamu." ucap Rianti.


"Kamu mana mau sama dia."Aditya berkata santai seakan ia sangat yakin bahwa sang istri akan tetap bersamanya.


"Kalau aku mau gimana?"pertanyaan Rianti sukses mengejutkan jantung Aditya dan wajahnya pun mendadak cemas.


"Masa kamu mau sama dia,kan kamu cintanya sama aku." masih menganggap tidak mungkin sang istri memilih Rama daripada dirinya.


"Emang mas yakin kalau aku masih cinta sama mas?!"Rianti berkata sangat sinis sangat serasi dengan ekspresi yang ditunjukkannya saat ini.


"Kok kamu ngomongnya kayak gitu."


"Abis gimana lagi,mas nya aja tiap hari sikapnya seenaknya gini,Lama-lama orang juga bisa bosen."


"Jangan gitulah sayank,kan mas cinta sama kamu apa juga yang kamu mau kan selalu mas turutin,masa baru kayak gini aja kamu udah marah,ya udah yu kita turun kebawah." Aditya berkata lembut untuk membujuk istrinya.


"Mau ngapain kebawah?!" tanya Rianti ketus.


"Kan tadi kamu mau aku setuju Eva nikah sama Rama,ya udah ayo aku setuju sekarang." rupanya ancaman yang diberikan oleh Rianti membuat dia dengan cepat berubah pikiran.


"Beneran?"


"Bener sayank." kata Aditya dengan senyum yang dipaksakan.


"Bohong nggak?"


"Janji sayank,aku nggak bohong."Aditya menggandeng tangan Rianti.


"Mas marah sama aku?"


"Nggak kok,aku kan nggak bisa marah sama kamu."


"Jadi mas setuju kalau Rama nikah sama Eva?"


"Setuju,dari awal juga mas sebenarnya nggak ada masalah Eva mau nikah sama siapapun juga,hanya saja mas ngerasa kaget,kok Rama yang akhirnya jadi adik ipar kita."


menjelaskan apa yang ia rasakan ketika tahu bahwa Rama akan menikahi adik tirinya.


"Jangan ngambek lagi ya?kamu jangan tinggalin mas."


Rianti mengangguk cepat.


Aditya mendaratkan ciuman dibibir sang istri sebelum mengajaknya keluar dari kamar dan bergabung dengan orang-orang yang ada di ruang keluarga,yang mungkin tenang menanti mereka berdua.

__ADS_1


*****************


__ADS_2