Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
bab 44


__ADS_3

Beberapa hari kemudian di sabtu pagi..


Riana yang sudah mandi dan terlihat cantik dengan rambut sebahunya tampak sedang memperhatikan ayahnya yang tidur begitu pulas di atas ranjang kecilnya dengan kaki yang sedikit menjuntai ke lantai


"ayah bangun" gadis kecil itu mengguncang pelan lengan sang ayah yang langsung menggeliat merasa tidurnya terganggu oleh tangan kecil anak gadisnya


"ayah masih ngantuk" gumam Aditya dengan suara serak nya, bagaimana tidak ngantuk jika semalam ia mengganggu istrinya yang sedang menyiapkan semua perlengkapan serta pakaian yang akan ia bawa ke Jerman besok pagi


Aditya kembali menutupi wajahnya dengan bantal dan memeluk selimut semakin erat bahkan ketika Riana tengah berusaha untuk menarik selimut itu Aditya malah makin mempererat pegangan tangannya


"yaudah aku bilang ibu aja ,biar ayah di marahin karena nggak mau bangun" ancam Riana seraya berlari keluar kamar menuju meninggalkan ayahnya yang terpaksa harus membuka mata karena tak ingin pagi harinya diisi dengan omelan dari sang istri karena ia yang tak mau bangun ketika di bangunkan oleh sang anak


Dan benarnya dalam waktu singkat Aditya dapat mendengar teriakan Rianti dari kamar mereka yang memang tak jauh dari kamar Riana


"maaaasss bangun, udah siang ini" suara istrinya itu sungguh melebihi berisiknya terompet saat tahun baru


"aku udah bangun dari tadi sayank" balas Aditya seraya beranjak duduk di tepi ranjang seraya masih menguap


"tadi kata Riana kamu belum bangun" Rianti sudah berdiri di depan pintu kamar dengan Daren di dalam gendongannya


"Riana kamu dengerin" ucap Aditya santai seraya menghampiri anak dan istrinya lalu mencium kening mereka bergantian


"yaudah mandi sana" pinta Rianti yang segera di lakukan oleh sang suami


Aditya menyeret dengan malas kakinya menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, ia sempat melirik kearah Riana yang sedang duduk di sofa dalam kamar sembari memainkan bonekanya "tukang ngadu" gerutu Aditya


"ibuuuu" sontak suara kencang Riana yang memanggil ibunya membuat Aditya panik lalu berlari mendekati anaknya dan berusaha membujuk gadis itu


"mau boneka lagi nggak? " kata Aditya dengan wajah penuh cemas berharap anaknya bisa di sogok dengan sebuah boneka


Riana mengangguk penuh semangat mendengar tawaran yang di berikan oleh ayahnya


"nanti ayah beliin tapi kamu janji jangan laporan terus sama ibu soal ayah" ujar Aditya mengajukan persyaratan pada sang anak


"tapi yang banyak bonekanya" tawar Riana kemudian


"kan boneka kakak udah banyak" tukas Aditya mengingatkan bahwa boneka sang anak memang sudah sangat banyak bahkan hampir membuat kamar yang di huni oleh Riana bagaikan sebuah toko boneka karena begitu banyaknya boneka yang di miliki,.


"yaudah Ana bilangin ibu, kalo ayah tadi bilang Ana tukang ngadu" Rianti makin mengancam ayahnya yang kini berjongkok di depannya dengan wajah yang masih sangat kusut karena baru bangun tidur


"nih anak telinganya peka amat , perasaan gue ngomongnya pelan" Aditya membatin dalam hati mengingat apa yang ia ucapkan tadi


"iiibbb.. " Riana sudah akan kembali memanggil sang ibu yang berada di lantai bawah , namun secepat kilat tangan ayahnya sudah berada di depan mulut dan membekapnya pelan


"oke ayah beliin banyak boneka " akhirnya Aditya mengalah lagi pada Riana daripada urusan runyam karena aduan si gadis kecilnya itu


"janji? " Riana berkata setelah tangan ayahnya tak lagi menutupi mulutnya seraya mengacungkan jari kelingking


"kapan sih ayah bohong sama kamu" ujar Aditya sambil menautkan jari kelingkingnya kejari kecil sang anak, sebagai simbol terbuatnya janji diantara mereka.

__ADS_1


" Riana makan dulu sayang, ajak ayah sekalian" terdengar teriakan Rianti dari lantai bawah


"tuh di panggil sama ibu, kamu turun duluan nanti ayah nyusul, ayah mau mandi dulu " ucap Aditya meminta anaknya untuk kebawah lebih dulu karena dirinya ingin mandi


Riana lantas berlari dengan riang menuju Ibunya yang berada di ruang makan tengah menyiapkan makanan ke atas meja


Aditya melangkah ke kamar mandi dengan mulut yang terus menggerutu, kesal karena sedari kecil anaknya sudah mampu membuat dirinya tak bisa berkutik bahkan untuk sekedar membujuk anaknya pun ia harus memakai ekstra tenaga juga uang untuk membeli keinginan sang anak


Di ruang makan Sudah duduk rapi seraya tersenyum manis pada sang ibu


"seneng banget si anak ibu" ucap Rianti gemas seraya mengelus pipi sang anak dengan telapak tangannya


Riana tak menyahut , ia kini sibuk dengan sepiring nasi beserta lauk yang dihidangkan oleh sang ibu


"Daren mana? " Aditya sudah berada di belakang tubuh Rianti dengan rambut yang basah dan tersisir rapi


"sama siti di taman " sahut Rianti lalu menarik kursi untuk sang suami


"ibu kok ayah tidur di kamar Ana terus" Riana yang tidak tahu apa-apa akhirnya bertanya karena sudah hampir seminggu sang ayah berada di dalam kamar dan tidur bersama dengannya


"tanya ayah aja" Rianti malah meminta sang anak untuk bertanya langsung pada ayahnya


"tanya ibu aja, kan ayah di suruh ibu" kata Aditya keberatan untuk menerangkan pada sang anak perihal penyebab dirinya harus tidur di kamar anak gadisnya itu


"serius aku aja yang kasih tahu? " Rianti bertanya memicing dengan senyum misterius


Aditya sempat bingung dengan tatapan serta senyum sang istri, namun sebentar saja ia langsung tersadar lalu berkata "yaudah ayah aja" kata Aditya cepat, bisa kena marah oleh anak gadisnya dia jika sampai rianti mengatakan bahwa ayahnya di hukum karena masalah Selfi tempo hari batin Aditya


Aditya berdehem lebih dulu sebelum memulai karangan bebas di pagi hari ini


"ayah tidurnya ngorok karena takut ganggu adik kamu , jadi ayah tidur di kamar Ana deh" tukas Aditya pada Riana


"tapi kayanya aku nggak pernah denger ayah ngorok " kata Riana seraya melihat sang ayah dengan serius


"ya karena kamu tidurnya pules banget " Aditya kembali meyakinkan anaknya yang seperti tak yakin dengan jawaban yang diberikan oleh sang ayah


Riana mengerutkan kening kecilnya masih tak bisa percaya


"udah jangan ngobrol terus , nanti makanan nya dingin" ujar Rianti yang sejak tadi hanya menjadi pendengar diantara ayah dan anak di dekatnya


Riana mengangguk mengerti lalu kembali memasukkan sendok berisi nasi ke dalam mulutnya


Rianti tersenyum melihat anak gadisnya yang masih kecil bahkan belum sampai pada usia 5tahun , namun anaknya itu sudah sangat dewasa melakukan makan sendiri bahkan mampu beradu pendapat dengan sang ayah, jika kelakuan ayahnya terkadang tak sesuai dengannya atau bahkan memarahi ayahnya kalau ayahnya melakukan kesalahan,, sungguh gadis kecil yang bisa diandalkan meski terkadang sifat manjanya masih sering muncul, sangat wajar karena Riana hanyalah seorang anak kecil.


Rianti menunduk saat terus melihat Riana, entah kenapa ia jadi teringat anak pertamanya yang pergi sebelum sempat ia lahir kan, bahkan ia tak di beri kesempatan untuk melihat wajah anak nya untuk yang terakhir kali


Seandainya ia tak keguguran mungkin saat ini ia akan melihat dia orang anak kecil duduk di hadapannya dan melahap makanan yang ia hidangkan, Rianti menarik napasnya dengan dalam , rasanya ia ingin menangis sekencang mungkin berharap tangisannya bisa mengembalikan sang anak


"kamu kenapa? " Aditya bertanya seraya mengelus kepala Rianti yang tengah tertunduk

__ADS_1


Rianti menggeleng seraya mengusap airmata yang terlanjur turun ke pipi


wanita itu mencoba tersenyum pada lelaki di sebelahnya "aku mau ke kamar" ujar Rianti sambil beranjak dari kursi dan menaiki tangga


"kamu abisin makannya " kata Aditya pada Riana lalu pergi menyusul istrinya yang masuk ke dalam kamar setelah terlebih dulu memanggil Salma untuk menemani Riana


"kamu kenapa? " bertanya lagi saat melihat istrinya itu tengah duduk di tepi ranjang membelakangi dirinya


tak ada jawaban hanya terlihat bahu Rianti naik turun, Aditya lalu menutup pintu dan mendekati sang istri


"aku salah lagi? " mulai takut melakukan kesalahan tanpa ia ketahui


Rianti menggeleng cepat lalu memeluk erat pinggang suaminya yang baru saja duduk di sampingnya


"terus kenapa?" tangan Aditya mengelus punggung Rianti dengan lembut seolah bahu sang istri terbuat dari kapas yang harus di perlakukan dengan sangat hati-hati


"aku inget anak kita" ucap Rianti dengan suara yang bergetar menandakan wanita itu hampir menangis


"anak? " Aditya bertanya bingung anak yang mana hingga membuat Rianti menangis sekarang ini


"iya" sahut Rianti pelan


"Riana, Daren atau.. " Aditya tak melanjutkan pertanyaannya karena sudah pasti anak pertama mereka lah yang tengah di maksud Rianti saat ini


kini tangis Rianti malah pecah seiring dengan dekapan kencang dari tangan Aditya


"maafin mas " Aditya meminta maaf pada sang istri karena memang dialah yang menjadi penyebab sang istri kehilangan anak mereka


Rianti memukul-mukul dada sang suami dengan tangis yang terus berderai , saat ini entah kenapa ia merasa kan rindu pada anak yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya , rindu yang biasanya tidak seperti ini sampai membuat ia menangis bahkan memukuli sang suami.


Aditya hanya menerima apa yang dilakukan Rianti, ia tak berusaha untuk mengelak atau bahkan menepis tangan sang istri, karena ia sadar yang dilakukan istrinya hanya sebagai pelampiasan rasa rindu pada anak pertama mereka


tangan Aditya mengelus-elus punggung Rianti lalu mencium pucuk kepalanya begitu lama bahkan dalam, seolah memberi kekuatan pada sang istri


"udah ya sayank, kalo kamu kayak gini terus sampai kapan pun mas nggak akan bisa maafin diri mas " ucap Aditya seraya memegang kedua pipi Rianti dan mata mereka saling menatap


Rianti mengangguk perlahan dengan kedua mata yang basah oleh air yang sempat keluar dengan derasnya


jari Aditya mengusap air mata yang masih tersisa


lalu mengecupi kening serta bagian wajah sang istri " jangan sedih lagi ya, besok mas harus berangkat ke Jerman nanti mas kepikiran kamu terus" ucapnya lembut setelah puas menciumi seluruh wajah wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya


Rianti kembali melabuhkan wajahnya ke dada Aditya


"jangan di lap ke baju mas ingus kamu" Aditya yang hapal betul dengan kelakuan sang istri jika habis menangis mencoba memperingatkan


namun terlambat Rianti sudah lebih dulu melakukan apa yang dilarang oleh Aditya


Rianti mengumbar senyum tak bersalahnya di depan wajah sang suami yang tengah menarik napas kasar seraya melihat kaos yang ia gunakan sudah basah karena perbuatan istrinya...

__ADS_1


*"*"*"*"*


__ADS_2