
"Mau kemana?" tanya Roman ketika melihat menantunya dan anaknya sudah memegangi helm ketika dia dan sang istri keluar.
"Kata Papa kan semalam kita mesti ke rumah sakit," jawab Darren dengan polos dan wajah yang terlihat pucat.
Bagaimana tidak pucat jika tadi pagi saja ketika bangun tidur ia sudah muntah-muntah walaupun yang dia keluarkan dari mulutnya hanya berupa cairan saja, tetap menguras tenaganya dan masih harus di tambah dengan pusing yang menyerang bersamaan.
"Kamu mau bawa motor gitu?" tanya Roman dengan picingan matanya yang menajam.
Dia sangat ragu dengan keadaan menantunya yang seperti ini akan bisa mengendarai motor dengan baik, jika dia biarkan kedua anak itu bukannya sampai di rumah sakit melainkan ke malah terjungkal di jalanan karena pusing yang Darren rasakan masih akan datang tiba-tiba tanpa pemuda itu inginkan, di tambah mual yang akan sangat makin menjadi bila terkena angin.
Darren melihat pada Rona lalu keduanya mengangguk bersamaan membuat Roman mengelus dada.
"Masuk mobil," tegas Roman seraya langsung masuk ke kursi depan sebab dialah yang akan membawa mobil itu.
"Nanti keburu siang," kata Tania ketika melihat anak dan menantunya masih saja berdiam diri memegangi helm.
"Sini Kak." Rona mengambil helm dari tangan suaminya lalu menyimpannya di atas kursi dan segera membuka pintu.
"Tapi aku maunya naik motor Na," bisik Darren pada sang istri.
Sepertinya efek kehamilan Rona sudah semakin berlebihan sehingga bahkan Darren pun menjadi begini.
"Nanti Papa ngomel, aku malah ikutan pusing nanti, udah cepet naik," pinta Rona ketika suaminya malah berdiri saja membisiki dirinya protes ingin naik motor saja.
Akhirnya dengan terpaksa Darren pun naik ke dalam mobil dan sepanjang jalan dia terus mendiamkan istrinya itu.
****
Aditya melempar proposal kerjasama yang baru saja Johan berikan padanya, pasalnya sudah jelas karena itu adalah perusahaan dari Melly mantan kekasihnya bahkan dia sendiri pun enggan mengakuinya.
"Bagaimana bisa dia dengan percaya dirinya mengajukan kerjasama dengan perusahaan ini!" sentak Aditya tidak pernah bisa menduga bahwa mantan kekasihnya itu sungguh tidak pernah kapok untuk bermain-main dengannya.
Johan mencebikkan bibirnya lalu menaikkan kedua bahunya, dia hanya sebagai seorang asisten bukan seorang cenayang yang akan tau apa yang ada di dalam pikiran orang lain.
Di tengah kemarahan Aditya dengan berkas yang berserakan di lantai dari arah pintu terdengar sebuah ketukan, tentu ketukan dari sekretarisnya yang sekarang seorang laki-laki.
Sekretaris itu hendak mengatakan bahwa ada yang ingin bertemu namun belum juga dia mengatakannya dari arah belakang tubuhnya sudah disingkirkan hingga hampir saja menabrak daun pintu yang baru di buka sedikit.
Alangkah tak percayanya Aditya ketika kedua matanya yang tajam melihat siapa yang datang ke ruangannya saat ini.
Ya itu adalah wanita yang sedari tadi membuatnya emosi malah dengan percaya dirinya melenggang masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Bagaimana kabarmu Aditya Erlangga."
Melly berkata sambil menyunggingkan senyum yang terlihat sangat memuakkan bagi Aditya tak terkeculi Johan yang tau benar semua kisah tentang dua orang itu.
Wanita ular yang sudah membuat wanita lain menderita karena segala perbuatannya, dosa wanita itu sungguh tidak termaafkan namun Aditya masih membiarkannya untuk tetap hidup bahkan tidak menjebloskannya ke penjara, hanya memberi pelajaran saja agar tidak lagi bertingkah macam-macam.
Namun nyatanya wanita itu malah muncul kembali dan dengan sangat berani menampakkan wajahnya di depan mata Aditya.
Melly dengan tenangnya duduk anggun di sofa seraya menatap lembaran berkas yang kemarin sudah dikirimkan oleh asistennya.
Proposal kerjasama yang tentu ia tahu dengan jelas Aditya tidak akan pernah menerimanya.
__ADS_1
Dengan kedua tangan yang menopang di atas meja kerjanya Aditya menatap tajam setiap gerak-gerik wanita berhati iblis itu, mengawasi apa yang akan dilakukannya.
"Aku ingin perusahaan kita bekerja sama," tukas Melly tidak mengindahkan bagaimana Aditya dan juga Johan menatapnya, sedangkan Dirsya hanya berdiri mematung di sampingnya tidak tau harus bersikap bagaimana, karena tadi pun dia sudah melarang Melly untuk datang ke perusahaan Aditya.
Aditya berdecih mendengar ucapan Melly yang sangat tak masuk akal, wanita gila itu ingin melakukan kerjasama dengannya? jelas ada maksud tertentu yang sedang dia inginkan.
"Silahkan tidur lalu bermimpi sampai kau merasakan neraka!" desis Aditya tersenyum miring, menganggap ajakan Melly itu adalah sebuah ajakan gila yang tidak akan pernah terjadi.
Melly mendesah lalu memutar-mutar cincin berlian yang ada di tangannya seolah sengaja melakukan itu guna memancing Aditya untuk melihat dan pasti pria itu akan langsung mengenali cincin apa yang sedang ia pakai saat ini.
"Sialan!" maki Aditya membuat Johan membelalak menatapnya.
Melly tersenyum tipis senang karena Aditya ingat pada benda bulat yang melingkar di jarinya.
Dan tanpa di duga Aditya pun maju menghampiri Melly lalu dengan kasar menarik tangan wanita itu dan mengambil paksa cincin yang dulu memang dia berikan pada wanita ular itu.
Melly tersentak lalu berteriak kala Aditya melemparkan cincin itu keluar jendela, jelas cincin itu sudah tidak tau jatuh kemana karena ruangan Aditya yang berada di lantai paling atas gedung kantor itu.
Aditya tersenyum puas lalu kembali duduk ke kursinya dan dengan santai melanjutkan pekerjaan.
"Tidak akan ada kerjasama antar perusahaan, dan jika sudah tidak ada lagi yang ingin kamu tunjukkan lebih baik pergi dari sini!" usir Aditya tanpa melihat bagaimana ekspresi yang di tunjukkan oleh Melly.
Bukannya segera pergi Melly malah menyilangkan kakinya lalu berkata, "anakku jatuh cinta pada anakmu, jika kita tidak bisa bersama bukankah lebih baik bila kita menikahkan mereka?!"
Tawaran yang baru saja diutarakan oleh Melly membuat Johan tersedak kaget, dalam benaknya sungguh mentertawai kelakuan wanita yang sejak dulu memang tidak tau malu itu, bahkan sangat santai ketika mengatakan hal tidak masuk akal dengan bibirnya yang memakai lipstik berwarna merah darah, benar-benar wanita yang sangat berani dan juga tak punya otak.
"Johan, panggil keamanan!" seru Aditya sudah tidak tahan dengan wanita di depannya itu.
"Baik!" dengan sigap Johan menjawab.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pergi dari sini," ajak Dirsya sang asisten yang sejak tadi tidak membuka suaranya.
Dia cukup tau diri karena sadar perusahaan Aditya pernah menolak untuk bekerja sama dan dia pun sudah menduga bahwa kali inipun Aditya akan kembali menolak apalagi dari yang dia dengar sejak tadi dua orang itu saling mengenal dan dari pembicaraannya terdengar keduanya pun terlibat masalah yang tidak bisa di bilang sepele.
Melly menatap Aditya lalu mengikuti permintaan asistennya ketimbang dia harus menanggung malu karena di seret keluar dengan paksa.
Sebelum keluar bahkan Melly sempat berhenti dan memberikan ancaman pada Aditya.
Johan yang belum sempat memanggil keamanan pun langsung menutup pintu begitu dua wanita itu pergi.
Aditya mengernyit kala mendapati asistennya berdiri di depan jendela dengan kepala yang tertunduk menatap ke bawah.
Aditya yang penasaran pun beranjak dari duduknya untuk ikut mengetahui apa yang sedang menjadi perhatian sang asisten.
"Bapak sedang apa?" tanya Johan bingung ketika Aditya berdiri di dekatnya.
"Kamu sendiri sedang melihat apa? saya kan ngikutin kamu?" Aditya balik bertanya pada si asisten.
"Meratapi cincin berlian yang anda buang tadi," kata Johan dengan raut wajah di buat kecewa.
Ya ampun! jawaban Johan sungguh membuat Aditya hampir saja bunuh diri, asisten pribadinya mah memikirkan berlian sungguh membuatnya kesal.
"Dari pada di buang seharusnya Bapak berikan saja pada saya, saya akan jual dan membeli satu set perhiasan emas untuk maskawin putri anda nanti."
Asisten Aditya ini memang sangat gila, bisa-bisanya berpikir membeli maskawin dengan cincin berlian bekas mantan kekasih Ayah dari gadis yang sedang berhubungan dengan anaknya, bukankah itu sama saja dia tidak keluar modal?
Sungguh asisten kurang ajar yang amat keterlaluan, beruntung Aditya belum mengerti apa yang dia maksud saat ini, untuk sementara memang belum mengerti karena cepat atau lambat Aditya akan mengetahuinya.
Aditya hanya menatap wajah asistennya dengan ekspresi bingung dan dari gerakan matanya pria itu minta penjelasan.
__ADS_1
****