Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 68


__ADS_3

Darren sudah mulai memijit kedua kelopak matanya yang mulai terasa berkunang karena sudah lebih dari 3 jam matanya terus dia pergunakan untuk membaca semua ketikan, huruf, kalimat yang tersusun di atas kertas putih yang berlembar-lembar banyaknya, manusia yang gemar membaca buku sekalipun akan merasakan pusing jika harus nonstop membaca kalimat-kalimat yang berderet seakan meledeknya.


"Om," seru Darren yang mulai ingin menyerah dan mengadu pada asisten Ayahnya itu berharap pria itu mau berbaik hati padanya untuk membujuk sang Ayah agar mau membiarkannya beristirahat dan melanjutkannya besok saja.


"Selesaikan sekarang atau kita berdua tidak bisa pulang!" tak di sangka si asisten itu malah sudah bisa membaca apa yang ada di dalam pikirannya tanpa perlu mengutarakan nya langsung.


Darren pun mulai menganggap bahwa Johan ini di masa lalu memang seorang cenayang yang di kutuk menjadi asisten pribadi Ayahnya.


Bagi sebagian orang mungkin menjadi asisten seorang Aditya Erlangga adalah kutukan karena sifat dan tingkah laku pria itu yang terkadang tak masuk akal serta membangkitkan emosi di dalam jiwa, tidak akan ada yang bisa berjalan di samping pria itu menemani setiap saat dan menyelesaikan masalah yang terkadang di buat oleh Aditya.


Hanya seorang Johan lah yang bisa melakukan hal itu, bertahun-tahun dia menjadi asisten sudah membuat dia sama gilanya dengan sang atasan, sifat nyinyir nya pun benar-benar tidak berbeda dengan Aditya, jangan salahkan jika terkadang Roman sering emosi jika bertemu dengan dua orang itu, Roman yang sifatnya pun sama bisa bertambah gila jika bertemu keduanya.


"Mumpung Ayah nggak ada Om." Darren masih berusaha untuk membujuk Johan, karena memang Ayahnya tengah memimpin rapat.


"Kamu pikir kenapa Ayahmu meninggalkan Om disini?" tanya Johan.


Darren menarik nafas berat, tanpa di beritahu dia tentu sudah sangat mengerti kenapa Ayahnya itu meninggalkan Johan padahal selama ini asisten itu selalu mendampingi Ayahnya kemanapun pergi apalagi ketika harus rapat seperti ini, tentu asisten dengan wajah tegas itu akan setia berada di samping sang Ayah.


Ayahnya meninggalkan Johan benar-benar ingin pria itu mengawasi dirinya, tidak membiarkan dirinya kabur sebelum menyelesaikan tugas yang sang Ayah berikan.


"Istirahat saja 10 menit, setelah itu lanjutkan lagi," kata Johan kemudian.


Darren begitu terkejut mendengar kata 10 menit, hanya 10 menit untuk dirinya beristirahat setelah hampir setengah dari isi Ordner ini yang dia baca setiap hari.


Pria muda itupun mendengus namun pasrah tak berkutik hanya mulutnya saja yang mulai berceloteh, "andaikan Rona tahu bagaimana perjuangan Darren mencari nafkah untuknya."


"Tentu dia akan sangat senang karena suami yang setiap malam mengerjainya akhirnya malah dikerjai balik oleh Ayah mertuanya." sambar Johan membuat Darren terperanjat kaget.

__ADS_1


Darren sungguh tak habis pikir dengan asisten Ayahnya ini yang menduplikat habis mulut pedas Ayahnya membuat dia jadi sangat frustasi berada di antara dua orang itu belum lagi di tambah oleh Papa mertuanya yang memiliki sifat tak berbeda jauh.


Dia yang bahkan menuruni sifat Ayahnya sendiri saja terkadang jengkel sendiri jika sudah mendengar ketiga orang itu berdebat.


Perkataan Johan barusan sudah membuat Darren tak bisa berkutik, memang semua ini karena dia sendiri yang sudah dengan jujur menjawab pertanyaan dari Ayahnya tadi sehingga kini jawabannya itu seakan di buat senjata oleh asisten sang Ayah untuk menyerangnya.


Setelah 10 menit berlalu Johan langsung kembali meminta Darren untuk melanjutkan membaca serta memahami semua yang ada di atas kertas itu, bukannya dia kejam hanya saja dia juga tidak mau sampai menginap di kantor ini untuk menemani anak dari atasannya sendiri.


"Perasaan baru dua menit istirahatnya," tukas Darren yang merasa waktu berjalan sangat cepat.


"Memang itu hanya perasaanmu saja, lihat ini," sahut Johan seraya menunjukkan handphonenya yang dengan sengaja memasang timer.


Mata Darren melotot tak percaya, bahkan asisten Ayahnya itu sampai harus memasang timer!


Mau tak mau Darren langsung kembali melanjutkan tugas membaca semua isi Ordner dengan cepat, waktu bahkan terus bergerak hingga tak terasa langit di luar sudah mulai menguning.


"Sudah selesai?!" Aditya yang baru saja kembali dari rapat di luar kantor langsung menuju sang anak guna melihat apakah anaknya itu benar-benar menjalankan apa yang dia perintahkan.


Ayahnya itu memang sangat totalitas bila memberikan pelajaran untuknya.


Johan menutup Ordner yang baru selesai Darren baca seperti memberitahu pada sang atasan kalau tugas yang pria itu berikan sudah selesai dengan baik, tanpa peduli bagaimana letihnya kedua mata yang Darren gunakan sedari tadi.


"Tidak usah mengeluh seperti itu, karena kamu juga Ayah harus mengundur rapat dan jam segini belum pulang ke rumah. lihat saja bagaimana Ibumu akan mengomel saat Ayah pulang," celetuk Aditya pada putra yang merasa seolah paling menderita sendiri, padahal masih ada orang lain yang juga turut serta pulang terlambat karena ulahnya itu.


Johan tak mau ikut campur lagi, pria itu memilih untuk sibuk merapikan Ordner yang sudah selesai di baca dan kembali meletakkannya di dalam lemari arsip di sudut ruangan.


"Masih mau mendebat Ayah?" tanya Aditya datar seraya mengambil handphonenya guna mengecek berapa banyaknya panggilan tak terjawab serta pesan yang istrinya kirimkan.

__ADS_1


Darren bangun lalu menegakkan duduknya di atas sofa sambil menjawab, "tidak ada," terdengar nadanya tegas saat berkata.


"Kalau begitu Darren langsung ke kampus saja, sudah di tunggu sama teman-teman," tutur Darren seraya merapikan kemeja serta rambutnya yang berantakan setelah berjam-jam lamanya berkutat dengan tebalnya kertas dengan susunan kata yang memusingkan.



"Kamu pikir hanya kamu saja yang di tunggu, ini Ibumu juga sudah mulai mengomel," seru Aditya jengkel karena anaknya itu yang paling merasa waktunya terbuang karena harus mempelajari semua tentang perkantoran yang sejak kemarin sudah menjadi tanggung jawabnya.



"Iya Ayah juga sedang di tunggu oleh Ibu," sahut Darren seraya menggerakkan kepalanya.



"Apa kita sudah bisa pulang sekarang? istri dan anak saya juga pasti menunggu saya pulang." sambar sang asisten tak mau kalah.



"Anakmu sudah dewasa semua Han, rasanya mereka pun tidak peduli kamu mau pulang atau tidak," ejek Aditya dengan ekspresi wajah yang selalu menyebalkan terpampang di wajahnya.



Darren menahan tawanya, senang asisten sang Ayah yang sejak tadi menekan serta mengintimidasinya terkena ocehan mengesalkan dari Ayahnya barusan.



Johan melirik pada anak atasannya yang mulai hari ini masuk ke dalam daftar orang-orang menyebalkan di dalam kamusnya, sama seperti Aditya dan juga Roman.

__ADS_1



\*\*\*\*\*


__ADS_2