Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 96


__ADS_3

Tania langsung menghela nafas panjang saat melihat benda kecil di tangannya diiringi dengan tatapan bingung sang anak yang sejak tadi merasa sangat bodoh karena melihat kedua orang tuanya malah seperti menggunakan bahasa isyarat.


"Ayo keluar," ajak Tania berjalan lebih dulu.


Tanpa bicara Tania pun menyerahkan benda yang tadi sudah di pakai oleh sang anak kepada suaminya agar suaminya melihat sendiri hasil yang di tunjukkan oleh alat itu.


Rona berdiri di samping Darren yang sekarang sudah duduk bersandar di tempat tidur.


"Ngapain?" tanya Darren pada sang istri yang menggeleng sebab sampai saat ini dirinya juga masih belum mengerti apa yang tengah terjadi.


Rona melihat kedua orang tuanya tengah berbicara serius tanpa bisa ia dengar karena jaraknya yang cukup jauh, ia dan suaminya di tempat tidur sedangkan Papa dan Mamanya di dekat pintu kamar.


"Kan udah pakai IUD kok tetap jadi," kata Tania pelan.


"Ya jadi orang yang pertama kan Rona belum pakai," sahut Roman.


"Memangnya sebelumnya mereka sudah itu?" tanya Tania dengan ekspresi wajah yang terlihat lucu.


"Udaaah, kemana aja kamu, sore-sore yang waktu kita anterin mereka ke apartemen," jelas Roman benar-benar tidak mengindahkan tatapan dua anak muda yang tengah memperhatikan dirinya dan juga sang istri dengan rasa penasaran.


Dengan polosnya Tania mengerutkan bibirnya mendengar perkataan dari suaminya itu.


"Terus sekarang gimana?" Tania bertanya seraya menengok pada dua pasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka.


"Ya kasih tau tuh anak dua," celetuk Roman.


Acara bisik-bisik keduanya pun selesai Roman sudah hendak berbicara pada dua anak muda yang sudah membuat mereka cemas itu namun dia merasakan tarikan di bajunya hingga dia menoleh dan melihat wajah istrinya seperti ada yang ingin di sampaikan.


"Apa lagi?" tanya Roman.


"Tapi nanti itu alatnya gimana?"


"Ya di periksa, kalau emang bisa di lepas ya di lepas, tapi kalau nggak ya udah biarin, soalnya bahaya juga," jelas sang Dokter kandungan kepada istrinya yang memang kurang tau tentang masalah hamil ketika memakai alat kontrasepsi.


Tania mengangguk lalu menarik nafas panjang menunggu suaminya yang akan menyampaikan berita penting itu kepada anak dan menantunya.


"Ehem." Roman berdehem dengan menunjukkan wajah serius namun datar membuat Rona dan Darren saling pandang.


"Darren," Roman memanggil menantunya yang langsung menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Rona hamil." keterangan Roman membuat mata Rona dan Darren membelalak terkejut keduanya membuka mulut bersamaan, suami istri itu benar-benar sangat kompak hingga beberapa detik kemudian Darren malah mengulas senyum.


"Yes!" serunya dengan ekspresi yang semangat.


Yang di tunjukkan oleh Darren malah sangat berlawanan dengan Rona, dalam sekejap kulit wajah Rona menjadi sangat pucat.


"Nggak lucu Papa bercandanya, Rona kan udah pakai IUD masa hamil, ngaco ih." Rona malah mengatakan bahwa Papanya tengah bercanda.


"Lihat sendiri kalau gitu!" Roman memberikan testpack yang sejak tadi dia pegang kepada sang anak.


Rona melihatnya dengan seksama lalu mulutnya kembali mengoceh, "ini kan bisa salah Pah," celetuk Rona.


"Kakak ih, kenapa malah seneng gitu sih!" sekarang malah kesal dengan tingkah suaminya.


"Ya udah kalau gitu ayo Papa periksa biar kamu nggak ngeyel!" tukas Roman menantang sang anak yang malah meragukan dirinya sebagai seorang Dokter dengan pengalaman puluhan tahun bahkan jauh sebelum anaknya itu ada dia sudah menjadi seorang Dokter.


Dan sekarang anaknya sendiri malah seolah meragukan dirinya, sungguh dia tidak akan terima begitu saja.


"Kalau emang Rona hamil berarti teman Papa itu nggak bener pasang IUD nya."


Sekarang Rona malah menyalahkan Dokter yang dulu memasang alat kontrasepsi itu padanya membuat Roman mendesah kesal dengan sikap sang anak yang terus mencari kambing hitam.


Dalam sekejap Rona pun terdiam mendapatkan Omelan dari sang Papa, pria tegas namun humoris yang nyatanya akan selalu membuat ia tidak berani jika sudah dalam mode tegas seperti sekarang ini.


"Kakaaak," Rona merajuk pada suaminya yang malah tengah kesenangan mengetahui dirinya hamil.


"Iya sayang." suara Darren sangat lembut sambil merentangkan kedua tangannya.


"Nanti gimana aku kalau kuliah, kan repot mesti pusing mual, akunya belum siap Kakak," mengadu pada sang suami berharap suaminya itu mau mengerti.


"Iya, iya aku ngerti, tapi mau gimana kan udah jadi juga," ucap Darren.


"Nggak usah mikirin itu, toh bukan kamu yang bakal ngalamin itu." Roman berbicara membuat Rona menatap padanya.


"Gimana nggak usah mikirin, lagian Papa aneh Dokter masa nggak ngerti dimana-mana itu orang hamil pasti ngalamin pusing mual ngidam, gimana bisa Rona nggak mengalami hal itu," ujar Rona seperti mengajari sang Papa yang siapapun tau dengan pasti bahwa Papanya itu jauh lebih mengerti ketimbang dirinya.


"Lah ini contohnya kamu sendiri, tanya aja sama suami kamu tadi dia ngerasain apa," celetuk Roman.


Sedangkan Tania hanya bisa mengurut keningnya menyaksikan Papa dan anak malah asik berdebat tidak ada yang mau mengalah, keduanya sama-sama merasa benar.

__ADS_1


Mata Darren melirik-lirik tak jelas bingung kenapa sekarang karena ikut di libatkan dalam perdebatan istri dan Papa mertuanya.


"Sindrom Couvade," kata Roman yang jelas malah makin membuat Rona dan Darren kebingungan karena tidak mengerti istilah apa yang sedang dibicarakan olehnya saat ini.


Roman mendengus, merasa sudah salah berbicara, seharusnya dia tidak perlu mengatakan tentang istilah kedokteran yang tentu tidak akan masuk di kepala pasangan muda itu, istrinya saja yang sudah lama menikah dengannya belum tentu mengerti apalagi dua bocah ini, batin Roman menggerutu.


"Pakai bahasa yang bisa di mengerti oleh mereka Pah," kata Tania.


"Kamu ngerti apa yang aku maksud?" tanya Roman.


"Enggak," geleng Tania dengan polosnya.


Roman langsung menunjukkan wajah kecewa padahal tadi dia sudah hampir ingin memuji istrinya itu jika saja Tania mengangguk, namun gelengan kepala yang dia lihat sontak membuatnya menunjukkan raut wajah gemasnya.


"Makanya aku suruh pakai bahasa yang mudah biar aku juga ngerti," jawab Tania sepolos mungkin.


Entahlah Roman merasa istri anak serta menantunya sangat sukses menguras otak serta kesabarannya malam ini dengan segala tingkah laku mereka.


"Kehamilan simpatik, dimana suaminya yang bakal ngalamin ngidam pusing mual," jelas Roman akhirnya.


"Jadi dari kemarin Darren pusing itu karena ini?" tanya Darren terkejut.


Roman mengangguk lambat mengiyakan pertanyaan sang menantu.


"Tapi kan Pah Rona belum sebulan nikah masa udah hamil," tampaknya masih belum bisa terima bahwa ia tengah hamil.


"Udahlah Papa males jelasin sama kalian, malah bikin kepala Papa ikut pusing jadinya," sungut Roman sudah tidak tahan menghadapi anak dan menantunya itu.


"Malam ini kalian nginep aja disini besok ikut Papa ke rumah sakit," sambung Roman sambil melenggang keluar dari dalam kamar yang entah kenapa membuat darahnya naik ke atas kepala.



"Mah." Rona menatap sang Mama yang mengedikkan bahunya karena ia tak tau harus berbuat apa.



"Kak," Rona melihat suaminya lalu memanyunkan bibirnya dan naik ke atas tempat tidur kala melihat suaminya sedang bengong entah memikirkan hal apa.


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2