Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 108


__ADS_3

Sherin sedang duduk berhadapan dengan sang Mama, menatap tajam menuntut penjelasan atas semua yang kini terjadi dan kian menjadi rumit akibat perbuatan Mamanya itu.


Dunianya seakan runtuh dalam sekejap karena semua tindakan yang sudah Melly lakukan, wanita itu membawa anaknya pada lubang kehancuran yang tak pernah Sherin inginkan.


"Jawab Sherin Mama!!!" seru Sherin dengan suara lantang kala wanita di depannya seolah membungkam mulutnya dengan rapat.


"MAMA!" suara Sherin bahkan membuat semua orang yang ada satu ruangan dengan mereka sontak melihat padanya, memandang dengan penuh pertanyaan.


"Mama hanya berusaha mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik Mama, apa itu salah?" tanya Melly dengan sangat tidak masuk akal.


Seharusnya dia tidak perlu melontarkan pertanyaan tak masuk akal yang orang bodoh pun akan tau bahwa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan yang sangat besar, kesalahan yang sangat pantas bila di ganjar dengan hukuman penjara, yang rasanya juga masih kurang sebab selama ini Aditya cukup baik hati karena membiarkannya bebas berkeliaran bahkan sampai bisa menikah dan memiliki anak.


Apa yang akan terjadi jika dulu Aditya langsung memenjarakannya? mungkin dari dulu ia sudah menjadi penghuni sel atas apa yang sudah ia perbuat terhadap Rianti.


Setelah mengatakan itu terdengar suara rintihan yang keluar dari mulut Melly, wanita itu menangis tertunduk bukan menyesal karena sudah melukai Rianti, melainkan karena ia tidak sempat memberikan luka yang lebih menyakitkan kepada istri dari mantan kekasihnya.


"Semua ini tidak adil untuk Mama, kenapa wanita itu merebut pria yang Mama cintai? kenapa wanita itu harus hadir diantara kami, seandainya saja wanita itu tidak pernah muncul sudah pasti saat ini hidup Mama tidak hancur seperti ini," tutur Melly masih saja dengan kekacauan yang ia lontarkan dari mulut berbisanya itu.


Melly menarik kedua tangan sang anak lalu menggenggamnya dengan sangat kencang seraya berkata, "berjanjilah bahwa kamu akan membalas apa yang sudah terjadi pada Mama saat ini!" pinta Melly dengan mata yang memerah menatap tajam pada anak yang kini menggigit bibir bawahnya.


"Bahkan Mama masih saja memikirkan hal itu, apa Mama tidak tau yang harus aku hadapi? apa Mama tau kalau saat ini aku sudah tidak tau harus tinggal dimana!" urai Sherin tentang betapa beratnya ia saat ini.


Sherin melepaskan genggaman sang Mama, wanita yang menatapnya dengan penuh permohonan agar mau membalaskan apa yang ia rasakan saat ini.


Dendam sudah benar-benar berkobar di dalam hatinya untuk Rianti, selalu wanita itu yang ia incar dan menjadi sasaran kemarahan karena menganggap Rianti lah yang sudah merebut Aditya darinya, seolah ia tidak sadar pada dirinya sendiri bahwa ialah yang dulu meninggalkan Aditya.


Tapi tingkahnya sekarang seolah dirinyalah yang terkhianati, dirinyalah yang ditinggalkan, dirinyalah yang dikecewakan, mungkin di dunia ini dialah satu-satunya wanita yang paling jahat di dalam hidup Rianti.


"Ap.. apa yang terjadi?" tanya Melly menanggapi ucapan anaknya.


"Apa yang terjadi?" Sherin bertanya balik dengan ekspresi yang tak mengerti kenapa wanita di depannya ini justru bertanya seolah lupa bahwa dialah yang sudah menjual rumah mereka karena terdesak untuk membayar gaji para pekerjanya, belum lagi pihak bank yang akan menyita rumah mereka yang ada di Bali karena Mamanya tak sanggup membayar hutang bank yang jumlahnya tidak sedikit.


Kepala Sherin sungguh berputar dengan sangat cepat kala mantan pengacaranya menghubungi dan memberitahukan semua itu.


"Bagaimana bisa Mama sendiri lupa kalau sudah menjual rumah bahkan tanpa ragu menggadaikan rumah Papa yang di Bali! apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Mama?!" pekik Sherin emosi dengan sikap wanita di depannya.


Wanita yang tidak sadar apa yang sudah ia perbuat hingga hidupnya menjadi tak jelas begini, wanita itu malah menunjukkan wajah tanpa rasa bersalah yang makin memancing emosi di dalam hati Sherin.


"Minta pengacara untuk membebaskan Mama, Mama akan mengembalikan semuanya," ucap Melly yang malah membuat anaknya merasa sangat muak mendengarnya.


"Pengacara? Mama minta pengacara? apa Mama pikir setelah kita jatuh miskin akan ada pengacara yang mau membela Mama tanpa di bayar sepeser pun?!" seru Sherin.


"Tidak akan ada siapapun yang mau membela Mama tanpa mendapatkan bayaran!" tekan Sherin menyadarkan Mamanya yang mungkin saja memang benar-benar sudah tidak punya otak untuk berpikir dengan sehat.


Setelah berkata itu Sherin gegas pergi meninggalkan sang Mama yang berteriak memanggil-manggil namanya.

__ADS_1


Sherin tak perduli, ia tidak menggubris bahkan mengabaikan serta menutup kedua telinganya dengan telapak tangan seraya terus berlalu menjauh menuju pintu keluar.


Pelayan yang sejak tadi menunggu tergesa berdiri dan mengejar Sherin yang berjalan cepat keluar dari kantor polisi, berusaha mengimbangi langkah kaki majikannya yang tengah menuju mobil.


Di dalam mobil Sherin menghubungi Nella yang sebenarnya baru akan menghubunginya.


"Kebetulan, baru aja gue mau telepon," kata Nella menjawab telepon dari sang teman.


"Ada nggak?" tanya Sherin cepat tanpa ingin membuang waktu karena ia tidak mau sampai malam belum juga mendapatkan rumah sewa untuk ia tinggali.


"Ada, gue share loc aja, biar kita cepet," ucap Nella.


"Ya udah, gue langsung berangkat, kita ketemu di sana," jawab Sherin lalu mematikan sambungan telepon dan menunggu pesan yang Nella kirimkan.


Begitu ada pesan yang Nella kirimkan Sherin segera melihatnya lalu langsung menjalankan mobilnya menuju lokasi yang barusan Nella kirimkan padanya.


Mobil yang Sherin bawa sudah berhenti di halaman yang di depannya ada deretan rumah yang sepertinya memang di sewakan.



Sherin langsung turun dari mobil lalu menghampiri Nella yang melambai ketika melihatnya.



"Ayo Bi," ajak Sherin pada wanita di sampingnya yang mengangguk lalu ikut turun bersamanya.




Sherin sudah membayangkan banyaknya kuman yang ada di dalam kamar mandi itu namun ia sadar saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan berapa banyak kuman, karena yang terpenting adalah ia bisa mendapatkan tempat tinggal untuk tempatnya bisa beristirahat ketimbang harus berkeliling tak jelas di dalam mobil.



Dan begitu pemilik rumah itu bertanya mau atau tidak, langsung saja Sherin mengangguk mau dan segera membayar rumah itu untuk dua bulan, ya hanya dua bulan saja karena uang tabungannya yang sangat pas-pasan belum lagi untuk biaya makan dirinya dan juga Bibi yang ikut dengannya.


Lalu setelah ini ia harus memikirkan bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan uang agar kehidupannya bisa terus berjalan.


Untungnya rumah sewa itu sudah menyediakan tempat tidur meskipun kecil namun cukuplah untuk dirinya merebahkan tubuhnya di sana.



"Cepat ceritakan apa yang terjadi?" tanya Nella begitu sang pemilik rumah sudah pergi sedangkan Bibi sedang sibuk menyapu lalu mengepel lantai rumah itu yang cukup berdebu.


__ADS_1


Sherin menarik nafasnya terlebih dulu sebelum memulai ceritanya.



"Perusahaan Papa gue bangkrut, restoran serta cafe juga terbakar habis lalu Mama menjual rumah untuk membayar gaji semua pekerjanya, dan yang lebih parah rumah gue yang ada di Bali pun turut di sita oleh bank," beber Sherin tentang semua yang ia hadapi.



Mulut Nella terbuka dengan lebar tak bisa percaya dengan yang baru saja Sherin ungkapkan.



"Lu nggak lagi bercanda kan?" tanya Nella seolah membalikkan apa yang dulu pernah Sherin katakan ketika ia bercerita tentang Bimo yang kedapatan selingkuh.



"Apa lu kira bercanda seperti ini akan lucu?" ketus Sherin kesal.



"Dan sekarang Mama gue harus mendekam di penjara karena melakukan penganiayaan!" desis Sherin begitu marah jika sudah mengingat tentang wanita yang telah melahirkannya itu.



Nella makin membelalak dan kali ini menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu menggelengkan kepala tak menyangka begitu banyak yang harus di hadapi oleh temannya.



"Kenapa sih Nell, Mama gue itu nggak pernah mau berpikir dulu sebelum melakukan apapun? kenapa dia seolah mikirin perasaannya sendiri? kayak gue ini nggak dia anggap sama sekali!" cakap Sherin dengan suara yang terdengar begitu lelah.


Lelah karena harus bertahan dengan segala permasalahan yang Mamanya perbuat.


"Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah, sekarang Rona sedang hamil, hamil anak dari pria yang gue cintai, rasanya gue nggak sanggup menghadapi ini semua." suara Sherin sangat bergetar setelah mengatakan hal ini.



Wanita itupun melabuhkan kepalanya di bahu sang teman, kembali menangis melampiaskan semua beban yang tengah ia rasakan.



Sungguh Nella merasa iba dengan segala cerita yang dikatakan oleh Sherin, ia juga tidak menyangka jika temannya itu harus menghadapi cobaan seberat ini.



Nella pun tidak bisa mengatakan apapun untuk sekedar menenangkan sang teman, sebab ia sendiri pun tau bagaimana rasanya kecewa dan sakit hati, sedangkan apa yang dialami oleh temannya itu jauh lebih berat ketimbang yang ia rasakan tempo hari.

__ADS_1



\*\*\*\*


__ADS_2