
Duduk Rona nampaknya sudah mulai gelisah ketika bunyi perutnya sudah mulai menginterupsi seakan tengah mengingatkan bahwa harus segera di isi, ini sudah jam 7 lewat itu artinya sudah beberapa jam Rona duduk di kantin itu dan sudah ini juga saatnya untuk makan.
"Pesen makan aja kali ya?" bertanya sendiri seraya melihat pada bulatan-bulatan bakso yang saling menindih di dalam etalase di atas meja, "Tapi uangnya udah habis tadi." katanya kemudian mengingat bahwa uang jajannya yang tersisa sudah habis ia jajani saat di sekolah tadi, itu uang jajannya yang tersisa yang di berikan oleh Papanya sebelum menjadi seorang istri dan hari ini Darren tidak memberikannya uang, mungkin suaminya itu lupa bahwa dia mempunyai istri seorang anak sekolahan.
"Nanti kan Kak Darren ke sini, suruh aja Kak Darren yang bayar." akhirnya merasa itulah jalan yang terbaik ketimbang harus menahan lapar yang malah akan membuatnya sakit lalu berujung Omelan dari sang suami yang tentu akan menyalahkannya dengan berbagai macam celotehan dari mulai "kenapa tidak makan, kalau tidak punya uang itu bilang, minta sama suami." kata-kata seperti itulah yang mungkin akan terlontar lancar dari bibir seksi Darren.
Rona akhirnya beranjak menuju sang penjaga kantin yang tengah mengelap meja, sepertinya banyak sekali anak kampus yang mengambil kuliah sore, tentunya karena masing-masing dari mereka melakukan hal yang sekarang tengah di lakukan oleh suaminya, kuliah sambil bekerja untuk menambah pemasukan atau justru membiayai sepenuhnya kuliah mereka.
"Mbak, aku mau pesen bakso dong satu." Rona sudah berdiri di depan sang penjaga wanita yang menyunggingkan senyum ramah.
"Campur?" tanya wanita itu.
Rona menggeleng, "Sayur sama bakso aja," sahut Rona.
Wanita itu mengangguk lalu mulai meracik bakso pesanan Rona dengan sangat cekatan, tentunya wanita penjaga kantin itu sudah sangat ahli dalam meracik bakso yang memang sangat di gemari oleh para mahasiswa di kampus itu.
"Mbak," panggil Rona ketika kuah bakso mulai di tuang ke dalam mangkoknya.
"Ini Neng." menyerahkan bakso yang sudah selesai ia buat membuat Rona yang baru saja akan mengajukan pertanyaan malah lupa dan mengambil bakso lalu kembali ke meja yang tadi ia tempati.
"Tadi gue mau nanya apa ya?" bingung sendiri setelah meletakkan bakso di atas meja dan ia mendaratkan bokongnya di kursi plastik, wajahnya terlihat begitu bingung memikirkan pertanyaan yang terlupa, namun kemudian masa bodo dan kini sibuk dengan semangkuk bakso di hadapannya, mulai menambahkan saos, kecap dan sambal dengan tak memakai takaran, sangat asal bahkan kini warna kuah bakso berubah menjadi merah, astaga sepertinya Rona pecinta pedas yang sangat tak tahu diri.
Mulai menikmati rasa bakso yang ia akui sangat enak itu, bahkan lebih enak dari bakso langganannya di sekolah, "Kayaknya mau kuliah di sini aja deh, biar bisa makan bakso terus sekalian ngawasin Kak Darren," cetusnya padahal tanpa ia ketahui Papanya juga suaminya itu memang akan membuat ia kuliah di kampus yang sama dengan suaminya.
"Kampus kita udah mulai terima mahasiswa baru ya?" segerombolan mahasiswa yang baru datang ke kantin itu langsung berhenti ketika melihat ada seseorang dengan memakai rok abu-abu.
"Perasaan belum ada Ospek," sahut pria berjaket denim.
"Emang belum! dodol." timpal seorang wanita yang baru datang.
__ADS_1
Rona masih acuh menyuapkan bakso ke dalam mulutnya menunduk dengan kepala yang memakai tudung Hoodie milik suaminya.
"Nah itu, bocah SMA ngapain nyasar kemari?" tanya suara yang tampaknya Rona tak asing.
"Lupa jalan pulang kali, hahaha," mereka malah tertawa seolah ada lelucon yang sangat lucu.
Rona yang merasa terganggu pun meletakkan sendok dengan kasar hingga membentur mangkok dan menimbulkan suara dentingan yang cukup berisik.
Sudut bibir Rona terangkat sedikit seperti mengejek ocehan Sherin, apakah perempuan itu tidak salah menyebutkan cewek gatel? padahal selama ini yang terlihat bagaikan ulat bulu adalah dirinya sendiri, selalu mendekati Darren dengan segala cara bahkan dengan gilanya berniat mencelakai dirinya hingga jatuh ke sungai.
Rupanya gerombolan mahasiswa yang sejak tadi mengusik ketenangan Rona adalah orang-orang yang sama saat mereka pergi kemah dulu, wajah-wajah yang sama yang sangat mengesalkan Rona kini malah memberikan tatapan tak senang pada Rona.
"Teman-teman sialannya sudah muncul, tapi Kak Darren belum nongol juga." oceh Rona seraya menatap tajam pada Sherin dan juga Bimo, sebab dari tadi yang Rona dengar suara dua orang itulah yang banyak sekali bicara membuat ia kehilangan selera untuk menghabiskan bakso yang memang hanya tinggal kuahnya saja.
__ADS_1
"Ooh, Kak DARREN!" Sherina berkata meledek Rona, "Nggak usah sok-sok Deket deh sama Darren, bocah kayak elu nih bukan tipenya dia tau nggak!" ketus Sherin yang memang merasa cemburu kala ia tahu Rona tengah menunggu Darren yang tadi pergi karena di panggil oleh Dosen, entah lah sepertinya akhir-akhir ini Darren sering sekali menemui Dosen.
"Bo do ammat!" ketus Rona dengan gerakan mulut meledek.
"Sayang," seru Darren yang baru masuk, dan dengan pedenya Sherin menjawabi seruan Darren.
"Iya sayang, tuh lihat dia manggil gue apa?" ledek Sherin konyol mengira Darren memanggilnya apalagi arah jalan Darren yang menuju padanya makin geer lah wanita itu.
Darren mengernyit bingung kala Sherin tersenyum padanya dengan kedua tangan yang di rentangkan seolah menyambut dirinya.
Semua temannya sontak menutup mulut menahan tawa kala Darren melewati Sherin begitu saja lalu menuju Rona yang tersenyum penuh kemenangan.
"Ayo pulang," ajak Darren tak peduli pada Sherin yang menghentakkan kakinya marah.
"Bayar bakso dulu, aku tadi makan tapi nggak bawa uang, kamu kan nggak kasih aku uang jajan." cerocos Rona yang melirik pada Sherin sangat sengaja membuat wanita itu kesal.
"Kamu nggak bilang, aku lupa kan kalau sekarang kamu tanggung jawab aku." sahut Darren seraya mengelus puncak kepala Rona, lalu beranjak menuju penjaga kantin untuk membayar bakso yang sudah di makan oleh istrinya itu.
Rona menunjukkan senyum kemenangannya pada Sherin yang mendengus seraya memikirkan perkataan Darren tentang tanggung jawab.
"Ayo." Darren yang selesai membayar pun menarik tangan Rona, sepertinya hubungan Darren dengan teman-temannya menjadi tidak baik setelah acara kemah waktu itu, terbukti ketika Darren sama sekali tidak menyapa teman-temannya itu, melewati mereka begitu saja tanpa berkata sepatah katapun membawa istrinya pulang.
****
__ADS_1