Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 117


__ADS_3

Sudah terlihat sangat sore ketika Sherin dan Permana sampai di rumah kediaman Aditya, dan sekarang kedua anak muda itu sudah berhadapan dengan dua orang dewasa sang pemilik rumah dengan empat cangkir gelas berisi minuman yang ada di atas meja.


Sherin terus menunduk tidak berani menatap dia wajah dewasa di depannya yang ia tau kini tengah menatap ke arahnya.


"Sherin ingin meminta maaf atas semua yang sudah Mama perbuat pada keluarga Om."


Akhirnya dengan segenap kekuatan yang sejak tadi ia kumpulkan, Sherin pun berani mengeluarkan kalimat demi kalimat yang semestinya terucap sejak tadi.


Sherin kemudian mengangkat kepalanya menatap pada Rianti, wanita yang dari wajahnya saja sudah terlihat jika wanita itu berhati baik.


"Terutama pada Tante, Sherin minta maaf atas semua yang sudah Mama lakukan," sambungnya dengan suara yang begitu rendah.


Rianti menatap pada suaminya yang menarik nafas dengan sangat dalam, mungkin yang ada di dalam kepalanya saat ini adalah bagaimana bisa wanita yang sangat jahat dan licik seperti Melly bisa melahirkan seorang anak yang bahkan sifatnya jauh lebih dewasa ketimbang wanita itu.


"Sherin tau mungkin Om dan Tante tidak akan bisa memberikan maaf dengan mudah, ketika Mama sudah begitu banyak melakukan perbuatan yang sangatlah jahat, Sherin bisa mengerti jika Om dan juga Tante tidak akan mau memaafkan Mama," ucap Sherin lagi.


Sepertinya ketiga orang itu kini hanya menjadi pendengar saja, mendengarkan setiap kalimat yang Sherin ucapkan demi untuk sedikit melegakan hatinya agar kedepannya ia benar-benar bisa jauh lebih tenang jika sudah meminta maaf pada orang-orang yang sudah disakiti oleh sang Mama.


Lalu tanpa bisa di cegah olehnya air mata mulai meluncur dari kedua matanya, ini adalah kisah yang sungguh menyedihkan dalam hidupnya namun ia sadar kisah menyedihkan ini terjadi karena perbuatan sang Mama.


Kisah menyedihkan yang akhirnya harus ia hentikan dan tidak ingin semakin menambahnya dengan menuruti permintaan wanita yang kini mendekam di penjara untuk membalas dendam.


Bagi Sherin semua pelajaran ini sudah cukup berharga untuknya, semua pelajaran serta ujian yang harus ia hadapi tanpa dendam agar ia bisa lulus dengan baik dalam pelajaran berharga yang mungkin tidak akan pernah ia lupakan sampai kapanpun.


Ia akan jadikan semua ini agar tidak lagi melakukan perbuatan tak baik yang sempat ia lakukan dulu, sungguh Sherin sangat menyesal karena sempat berpikiran untuk merebut Darren dari wanita yang pria itu cintai.


Sungguh disaat itu ia benar-benar sangat jahat karena sebagai wanita bisa-bisanya ia berniat merebut suami orang.


Permana yang memang saat ini menjadi salah satu orang paling dekat dengan Sherin selain sang Bibi pun merangkul bahu Sherin lalu mengusap-usap bahu wanita itu guna sedikit membantu untuk menenangkannya agar tidak semakin larut dalam kesedihan.


Seperti biasanya seorang Rianti yang tidak pernah tega jika melihat ada orang lain menangis didekatnya apalagi wanita itu seusia dengan anaknya, membuat Rianti langsung berpindah duduk.


Rianti pindah ke samping Sherin dan Permana pun segera menjauhkan tangannya membiarkan Ibu dari temannya untuk memeluk wanita yang dia sukai.


"Kamu tidak bersalah apapun, kenapa harus meminta maaf," kata Rianti lembut menunjukkan betapa ia memang sangat baik bahkan tidak ragu untuk memeluk anak dari wanita yang sudah sangat bersalah kepadanya.


Mendapat perlakukan seperti itu dari wanita yang di benci oleh Mamanya malah membuat Sherin tak kuasa untuk menghentikan tangisnya.


Sungguh ia tidak menyangka bagaimana bisa Mamanya sangat jahat pada wanita berhati bersih seperti ini. Sherin benar-benar tak habis pikir dengan semua yang Mamanya lakukan.

__ADS_1


Mendengar itu sudah tidak ada lagi kalimat yang bisa Sherin keluarkan, lidahnya terasa kelu mendengar setiap kata lemah lembut yang di lontarkan oleh seorang wanita yang sempat ia benci karena segala tuduhan yang Mamanya ucapkan.


"Kamu tidak perlu meminta maaf karena memang bukan kamu yang bersalah, biarkan Mama mu menebus semua kesalahan yang sudah dia lakukan selama ini," Aditya ikut berbicara karena dalam lubuk hatinya pun dia merasa tidak tega kala melihat ada seorang gadis muda yang harus berjuang seorang diri di tengah semua masalah yang ditimbulkan oleh Melly.



Tentunya bagi Aditya tidaklah sulit untuk mengetahui bagaimana kehidupan orang lain terlebih lagi dirinyalah yang sudah membuat orang lain itu dalam keadaan yang mengenaskan bahkan untuk membiayai kehidupannya saja harus merelakan mobil yang begitu disayangi oleh gadis di depannya saat ini.



Sherin makin menangis haru mendengar pernyataan Aditya, sungguh Sherin benar-benar tidak menyangka bahwa semua yang ada di keluarga Darren adalah orang-orang yang begitu baik.


Rianti mengelus bahu Sherin lalu mengambilkan tisu untuk membantunya menghapuskan air mata yang sedari tadi tak juga kunjung mau berhenti.


Sherin sudah tak kuasa lagi untuk menggerakkan bibirnya guna mengeluarkan perkataan, saat ini yang terpenting baginya adalah dia sudah meminta maaf dan dia dapat dimaafkan, itu sudah cukup untuknya.



\*\*\*\*\*




"Besok aku akan meminta Johan untuk mengurus semuanya," kata Aditya ketika sejak tadi mereka terus membicarakan tentang Sherin.



Tentang seorang gadis yang kini harus berjuang sendiri di tengah kerasnya Ibukota untuk membiayai hidup dan juga kuliahnya.



Rianti mengangguk setuju, karena sejak Sherin pulang memang dirinyalah yang menekan suaminya untuk mengembalikan kehidupan Sherin seperti dulu, meskipun tanpa dampingan orang tua sekalipun, Rianti percaya bahwa Sherin adalah gadis yang pintar dan bisa membawa dirinya dengan baik.


Yakin setelah semua yang terjadi, Sherin akan menjadi seorang manusia yang baru terlahir ke dunia, berubah dengan sangat drastis menjadi jauh lebih baik.


"Gimana kalau kita suruh Ana pulang saja Mas."


Tanpa ada angin dan juga hujan tiba-tiba Rianti mengatakan hal yang membuat Aditya menatapnya penuh keheranan.

__ADS_1


"Kok mendadak ngomong Ana?" tanya Aditya mengerutkan keningnya.



"Rumah ini sepi Mas, sepi banget. biasanya tiap tengah malam aku terbangun dari tidur pasti aku dengar suara kamu dan Darren yang lagi heboh nonton bola, tapi sekarang.." Rianti mendesah berat.



"Sekarang anak kamu itu sedang asik menjadi pencetak gol," sahut Aditya asal.



Dan jawaban asalnya itu sukses membuat istrinya menggigit lengannya.



"Sakit sayaaaaang," seru Aditya menjauhkan kepala sang istri dari lengannya.



"Makanya kalau ngomong itu di pikir dulu, kebiasaan banget nih mulutnya dari dulu nggak ada berubahnya sedikit pun!" kata Rianti mendelik lucu.



"Ya kan emang kenyataannya kayak gitu."



"Tau ah," ketus Rianti seraya menarik selimut sampai lehernya lalu membelakangi sang suami.



"Yah ngambek, baru mau di ajak main-main," kata Aditya yang membuat Rianti menutupi telinganya.



Aditya tertawa melihat tingkah istrinya lalu mematikan lampu dan ikut masuk ke dalam selimut serta memeluk tubuh wanita yang selama ini menjadi tempat paling nyaman untuknya ketika dia sedang melalui banyak masalah yang tak jarang membuatnya sulit untuk bisa tenang.


Namun ketenangannya langsung menjalar ketika sudah memeluk tubuh wanita yang sebenarnya sudah memberikannya tiga orang anak, namun karena kesalahannya anak pertama mereka malah tidak sempat melihat dunia.

__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2