Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
bab 47


__ADS_3

Malam hari Roman mondar-mandir di ruang tamu, ia masih tak mengerti bagaimana caranya menghadapi wanita hamil yang masih tetap marah meskipun sudah ia bujuk sedemikian rupa,


semua yang ia lakukan malah di tolak dengan wajah yang masih di tekuk.


"Ini kayaknya lebih gampang ngedengerin keluhan para suami waktu ngadepin istri nya hamil , dari pada gue harus ngejalanin nya sendiri kayak gini" mulai mengeluh sendiri meski sebelumnya dia sudah berusaha menyabarkan dirinya


Roman memang seorang dokter yang pastinya sudah terbiasa menghadapi wanita hamil dan mendengarkan keluhan para suami yang harus ekstra dalam mengahadapi istrinya yang tengah mengandung, tapi menghadapi dan berada di posisi para suami yang sering mengeluh dengannya sungguh baru kali ini ia alami bagaimana sulitnya membujuk wanita hamil, karena biasanya ia akan memberi nasihat untuk bersabar tapi sekarang ia terpaksa harus menyabarkan dirinya sendiri.


Biasanya ia hanya tersenyum simpul waktu telinganya mulai di penuhi dengan keluhan istri yang sering mual, istri yang mengidam di tengah malam, dan istri yang jadi lebih sensitif serta berbagai macam tingkah aneh semasa hamil, dan saat itu ia hanya berkata " Nanti juga akan kembali seperti biasa, atau sabar resiko wanita hamil lebih besar dari yang bapak rasakan sekarang" kala itu ia berkata dengan santai dan tenang belum berpikir bagaimana jika ia mengalaminya sendiri tentu akan berbeda lagi yang ia katakan saat itu


contohnya seperti sekarang, jika saja nanti ada pasien datang dan suaminya mengeluh sudah pasti ia bukan memberi nasihat melainkan akan mengajak merenung bersama memikirkan nasib yang mereka alami.


Di luar kamar Roman menggumam sendiri, memikirkan harus berbuat apalagi untuk marah sang istri padanya mereda, ia merasa tak nyaman jika harus diam-diaman seperti ini dengan istrinya


"Nih kalo nggak lagi hamil udah gue tindih dah bener" gerutunya saat mengintip dari balik pintu yang ia buka sedikit dan melihat Tania tengah terlentang di atas ranjang seraya memainkan ponselnya


Tak tahan berdiam diri di balik pintu akhirnya Roman masuk juga ke kamar lalu dengan ekspresi wajah yang di buat marah dan terkesan angker persis bagaikan hotel angker yang telah lama terbengkalai, Roman berdiri tegak serta kaku di sisi ranjang tepat di sebelah Tania


Tangan nya cepat meraih ponsel milik Tania seraya berkata " Kamu mau nya apa sih yank? " tanyanya dengan raut tegas


Tania duduk menyender "Balikin HP aku! " pinta Tania tak kalah tegas dan wajahnya yang masih cemberut


Roman menggeleng pelan " Nggak ada HP, kalao kamu masih diemin suami kamu " malah memasukkan ponsel milik sang istri ke dalam saku celananya


"Kamu jangan malah bikin aku tambah kesel deh!! " kata Tania ketus


"Nggak ada yang bikin kamu kesel baby " mulai mengundurkan urat wajah nya yang tadi tegang bagaikan tiang listrik lurus tidak ada lekukan sama sekali


"Ya kamu yang bikin aku kesel, pake bilang nggak ada yang bikin kesel, nggak sadar apa kalo dirinya sendiri yang ngeselin" Tania mengomel panjang lebar selebar stadion bola


Roman yang tadinya berniat untuk sedikit menggertak sang istri malah justru terlihat semakin banyak melakukan kesalahan hari ini


Tania masih terus mengoceh menyebutkan rentetan daftar kesalahan yang ternyata bukan kesalahan hari ini saja melainkan kesalahan yang sudah lalu pun ikut di beberkan sedemikian rupa

__ADS_1


Sungguh jika dalam hal mengingat kesalahan sekecil apapun wanita lah ahlinya


Semua yang disebut sungguh membuat nyali Roman menjadi makin kerdil di hadapan istrinya sendiri, apalagi ketika Tania yang begitu bersemangat saat membahas mantan kekasih Roman yang kini menjadi pasiennya


"Kok jadi nyambungnya ke Ninda? " memprotes karena pertengkaran mereka hari ini adalah karena masalah penjemputan yang gagal total karena pekerjaan tidak ada konteksnya dengan sang mantan kekasih


"Ya emang harus di sambungin kemana lagi!" sengit Tania


"Kamu juga tadi waktu belanja ketemu sama si Imran kan? tapi aku nggak ada bahas apa-apa kok karena aku percaya kamu" Roman mulai membicarakan Imran yang sempat mengirimkan foto punggung istrinya saat tengah berbelanja siang tadi


Kening Tania tampak mengernyit tanda ia tak mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh suaminya


"Nggak usah sok bingung kamu" kata Roman dingin


"Nggak usah mulai deh" ujar Tania akhirnya


"Lah kamu yang mulai bahas-bahas mantan "


sahut Roman


Roman diam saja mendapat dorongan dari wanita yang tengah hamil itu, tak mungkin ia melawan apalagi sampai menyakiti wanita yang di cintainya hanya karena permasalahan yang sebenarnya sepele, namun karena yang ia hadapi wanita hamil jadilah permasalahan kecil mendadak jadi sebesar gunung yang sulit untuk di naiki


Roman menarik napas dalam-dalam sembari menyabarkan dirinya lalu bangkit keluar kamar meninggalkan istrinya seorang diri


"Gue lagi yang salah" gerutunya tak henti-henti


Waktu sudah tengah malam, Roman yang berada di ruang tamu dan belum tidur mendengar pintu kamar di buka perlahan, mendengar itu ia lantas memejamkan mata dan berpura-pura sudah tidur


Sebenarnya bisa saja ia tidur di kamar tamu, akan tetapi ia memilih tidur di sofa ruang tengah yang dekat dengan kamarnya agar bisa tetap mengawasi Tania dan bisa mendengar jikalau tiba-tiba terjadi hal yang tidak diinginkan.


Roman mengintip dengan sebelah matanya yang di tutupi lengan tangan guna melihat apa yang akan di lakukan oleh Tania tengah malam begini, tidak mungkin wanita itu keluar untuk minum, karena di kamar Tania selalu menyediakan air untuk ia minum jika haus, dan ke kamar mandi pun rasanya juga tak mungkin sebab di dalam kamar mereka sudah ada kamar mandi.


"Lapar kah? " batin Roman seraya terus memperhatikan istrinya mengendap di tengah gelapnya ruangan yang lampunya sudah ia matikan

__ADS_1


Tania berjalan pelan mendekati Roman, lalu ketika sudah dekat Tania terlihat membungkuk guna memastikan suami nya sudah tertidur atau belum


Tania memanggil Roman pelan kemudian memencet hidung mancung Roman, saat tak ada pergerakan apapun dari suaminya itu , Tania lantas berjongkok di dekat pinggang Roman, mata Roman terus mengawasi apa yang di akan di lakukan istrinya dari celah lengannya


Tak lama Roman merasakan ada yang bergerak menyelinap masuk ke dalam saku celananya membuat tubuh pria itu reflek bergerak karena merasakan kaget bercampur geli


Tania mencari-cari ponsel miliknya yang tadi di sita oleh sang suami


"perempuan apa nggak bisa hidup tanpa HP apa ya" batin Roman keheranan sendiri dengan tingkah istrinya yang tengah malam diam-diam merogoh saku celananya untuk mencari ponsel yang ia ambil


Merasa ponsel miliknya tak ada di saku pertama, lalu tangan nya bergerak ke saku yang satunya seraya melihat wajah Roman takut kalau suaminya terbangun


Tangan nya bergerak cepat mencari-cari benda pipih yang menjadi hiburannya saat sedang tak ada pekerjaan yang harus ia kerjakan di rumah


Saat tangannya menyentuh benda pipih yang ia yakini miliknya itu, Tania berniat menarik tangannya dan pikirnya akan segera lahir secepat kilat sebelum suaminya terbangun


Namun naas belum juga tangannya keluar dan ponsel ia dapatkan, suaminya itu sudah bangun seraya mencekal tangannya yang masih berada di dalam saku


Roman menggeleng dengan mata memicing begitu Tania menoleh


"Nggak ada HP " katanya dengan masih mencekal tangan sang istri dari luar saku


Tania diam pucat seperti seorang maling yang baru saja kepergok oleh si pemilik rumah


"Tidur sini " menarik tangan Tania seraya ia menggeser tubuhnya memberi ruang untuk sang istri ikut tidur di sofa panjang bersamanya


Tania diam saja mengikuti apa yang tengah dilakukan sang suami terhadap dirinya


Roman memeluk tubuh sang istri dari belakang sambil mengusap rambut milik Tania yang terurai dan menyingkirkan rambut halus yang menutupi kening Tania


"Jangan marah lagi ya, aku tuh nggak tahan kalau kamu diemin lama-lama" bisik Roman di telinga Tania membuat sang istri sedikit tersentuh walaupun tak menjawab namun di lubuk hati yang paling dalam Tania sungguh merasa beruntung bisa bersuamikan seorang Roman lelaki penyayang sekaligus humoris


Sungguh Tania merasa damai dan hangat jika berada di pelukan sang suami apalagi dalam keadaan habis bertengkar seperti sekarang ini.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu akhirnya tertidur pulas di sofa ruang tengah hingga pagi menjelang dan posisi mereka tidak berubah menjadi, masih sama seperti semalam Roman memeluk Tania dari belakang..


**********


__ADS_2