Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 88


__ADS_3

Sore hari Darren sudah dalam perjalanan menuju kampusnya, aktifitas rutinnya yang sudah selayaknya dia jalani dengan tanpa mengeluhkan apapun sebab itu adalah pilihannya sendiri yang sudah berani mengambil keputusan untuk menikah yang harus memenuhi semua kebutuhan rumah tangga yang menjadi kewajibannya.


Pria itu berhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah, sedikit meregangkan tangannya yang terasa pegal karena di kantor harus memegang alat tulis dan sekarang pun masih juga mesti memegang stang motor.


Ayahnya sudah seringkali menyuruhnya untuk membawa mobil saja namun pemuda sepertinya malah lebih senang membawa kendaraan roda dua dengan alasan tidak akan terkena macet atau karena ingin bisa lebih dekat dengan istrinya.


Pemikiran anak muda yang kadang tidak di mengerti oleh orang tua seperti Aditya yang sedari dulu memang selalu menggunakan mobil jika bepergian kemanapun.


Motor bukan stylenya, itulah yang Aditya katakan dulu ketika sang anak mengajaknya untuk naik motor dengan sang anak.


"Darren," panggilan dari motornya yang tengah berjalan dari belakang lalu berhenti di sampingnya itupun membuat Darren menoleh.


Rupanya Permana lah yang kini ada di sampingnya.


Keduanya mengobrol sambil menunggu lampu hijau menyala baru kemudian mereka berangkat bersama menuju kampus.


Jalanan sore terlihat begitu ramai dengan kendaraan para pekerja yang akan pulang ke rumah mereka masing-masing.


Sesampainya di kampus keduanya langsung memarkirkan motor mereka berjejeran dengan kendaraan mahasiswa serta mahasiswi lainnya.


"Darren," Permana memanggil Darren yang baru akan melangkah menuju gedung kampus, membuat Darren berhenti dan menatapnya menunggu apa yang ingin temannya itu sampaikan.


"Soal Rona." Permana tampak serius kala berkata.


"Kalian benar sudah menikah?" sambung Permana yang sejak kemarin di buat penasaran dengan pengakuan Darren yang sekarang sudah sampai menjadi topik hangat di kalangan mahasiswa.


"Lu tau gue seperti apa Per, gue nggak suka bercanda kecuali dengan orang terdekat gue, apalagi saat itu lu tau sendiri bagaimana marahnya gue sama Bimo, bagaimana gue memukuli orang yang sudah kurang ajar terhadap istri gue," jelas Darren pada temannya yang terbilang cukup dekat dengannya dan juga satu-satunya teman yang paling mengenal dirinya ketimbang yang lain.


Permana mengatupkan mulutnya lalu menepuk punggung temannya sudah sangat mengerti tentang bagaimana temannya itu.

__ADS_1


Tentang bagaimana cara berpikir seorang Darren yang meskipun simpel namu dengan kematangan yang membuat semua orang pun akan yakin dan percaya pada pria seperti itu.


Sebelum masuk ke ruang kelas mereka menyempatkan diri untuk pergi ke kantin karena rupanya Darren merasakan perutnya lapar setelah melakukan pertemuan dengan atasan dari perusahaan Argana Group, pertemuan pertama kalinya setelah dia menjawab sebagai seorang direktur di kantor cabang milik sang Ayah.


Dan yang pertama itu membuatnya cukup merasakan tegang hingga dia lupa untuk mengisi perutnya sendiri yang hanya di isi saat sarapan pagi bersama sang istri.


Sarapan pagi yang di buat istrinya meskipun kelebihan garam namun tetap saja Darren sangat menyukai hasil kerja keras wanita yang dia cintai itu.


Baru saja masuk ke dalam kantin mata Darren sudah di suguhkan oleh pemandangan tak mengenakkan dari wajah dua orang yang sebenarnya sangat tidak ingin dia lihat.


Kasak-kusuk dari teman-teman kampusnya yang lain mulai terdengar, nyatanya pernikahannya sungguh jadi pembicaraan seluruh penghuni kampus itu.


Darren langsung mencari tempat untuk duduk matanya pun tertuju pada bangku yang kosong di dekat jendela langsung saja dia menuju tempat itu diikuti oleh Permana yang selama ini memang jadi satu-satunya teman yang paling mengerti bagaimana dia.


Keduanya memesan bakso yang jadi favorit di kampus itu yah meskipun warung bakso di luar kampus masih jadi yang nomor satu, namun tetap saja bakso di kantin ini akan selalu laris untuk para mahasiswa yang enggan keluar.


Mata Darren menajam kala Rendi menarik bangku kosong di depannya lalu mendudukinya dengan raut wajah seperti tidak ada masalah apapun.


Darren menuruti perkataan temannya, dia benar-benar mengabaikan Rendi yang tengah mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja seperti tengah memancing Darren untuk bereaksi.


Beruntung ada seorang Permana disampingnya, jika tidak mungkin sejak tadi Darren sudah melayangkan pukulannya pada wajah Rendi yang sangat memuakkan, sangat menantang untuk berkelahi.


Meski begitu dengan susah payah Darren berusaha mengendalikan emosinya yang akan meledak dengan sempurna jika saja tidak ada yang mendampinginya.


"Gue nggak akan pernah menganggap elu sebagai suami Rona," desis Rendi tiba-tiba membuat Darren memicingkan kedua matanya.


"Ren." Permana mencoba untuk memperingatkan Rendi agar tidak memancing apalagi sampai membuat kegaduhan di kampus mereka sendiri.


Rendi mendengus lalu tersenyum sinis melirik Permana yang memang sejak dulu tidak pernah dia sukai karena menganggap jika Permana sangat sok berwibawa, sok santun dan juga selalu saja menjadi kebanggaan para dosen.

__ADS_1


"Lu nggak usah ikut campur, urus aja urusan lu sendiri, sana carmuk sama dosen biar semua urusan lu lancar!" sekarang malah menyerang Permana yang merasa tidak memiliki masalah apapun dengannya.


Aneh! Permana mengernyit mendengar tudingan ngelantur yang Rendi lontarkan seenak hatinya.


Bakso yang Darren dan Permana pesan sudah datang, kedua pria itu mulai menikmati apa bakso panas di dalam mangkok itu tidak berniat untuk menggubris tatapan sinis dari kedua mata Rendi.


Sampai akhirnya Rendi menggebrak meja membuat mangkok milik Darren terbalik karena perbuatannya.


Bugh!


Tanpa berkata apapun lagi Darren langsung memukul wajah Rendi hingga pria itu terjungkal dari bangku.


Darren yang sejak tadi sudah berusaha untuk mengendalikan amarahnya akhirnya sudah tak sanggup lagi untuk bertahan, jelas setelah ini dia akan pulang dengan wajah yang memar-memar karena Rendi tentu tidak akan diam saja, terbukti ketika Rendi langsung bangkit lalu membalas apa yang Darren lakukan.


Suana kantin berubah riuh dalam sekejap dengan pergulatan antara Darren dan Rendi di bumbui oleh teriakan-teriakan kompor dari Bimo serta teman-temannya.


Permana juga Angga yang baru datang dan temannya yang lain berusaha untuk memisahkan keduanya, sungguh setelah ini Darren dan Rendi pasti akan di panggil oleh Rektor atas kericuhan yang mereka buat.


Kegaduhan sudah benar-benar membuat kantin itu menjadi sangat berantakan, kejadian yang sama saat di warung bakso kembali terulang dengan orang yang sama namun kali ini lawannya berbeda.



Permana sangat sekuat tenaga untuk mengendalikan Darren yang malah bertambah beringas, kala Bimo melontarkan perkataan yang tidak mengenakkan tentang Rona.



Pemuda itu nyatanya masih saja belum kapok padahal wajahnya saja belum juga benar-benar sembuh.


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2