
Seolah tidak merasakan kantuk sama sekali di kedua matanya itu, Aditya kini sibuk berjalan ke sana sini menunggu panggilan tlp nya yang tak juga kunjung di jawab oleh Roman.
"Nih orang belum bangun apa gimana siih.. " mulut nya mulai tak sabar mengeluarkan omelan yang tentunya tidak akan pernah di dengar oleh Roman yang ternyata sedang asyik menikmati makan paginya dengan sang istri.
Tentunya Roman tidak mendengar maupun mengetahui ponsel nya tengah bergetar sebab ia meninggalkan nya di meja kamar.
Aditya mengumpat seorang diri, rupanya ia sudah tidak ingat ketakutan yang tadi sempat menyergap ke dalam dirinya, karena sekarang yang ia ingin adalah panggilan nya cepat di jawab oleh sang teman.
Sungguh kecemasan berlebih terhadap istri dan juga kedua anaknya membuat ia tidak bisa bersikap tenang sedikitpun.
Aditya yang udah cukup geram akhirnya melemparkan ponsel nya ke sudut sofa lalu memejamkan kedua mata menarik napas yang terlihat begitu berat hingga membuat dadanya turun naik dengan cepat.
Pria yang masih terlihat muda itu meskipun sudah memiliki dua orang anak kemudian memijit keningnya berkali-kali, kulit wajahnya yang masih tampak kencang dengan rahang yang tegas membuat nya semakin rupawan ketika wajahnya di terpa sinar lampu tidur yang ada di sebelahnya
Di luar masih nampak gelap karena memang jam baru menunjukkan pukul 3 pagi waktu Jerman
Ketika mata Aditya mulai terasa ngantuk dan baru saja akan memasuki alam bawah sadarnya, telinganya di kaget kan dengan suara dering ponsel miliknya, sontak saja kelopak mata Aditya terbuka kembali seiring lelaki itu dengan cepat meraih ponselnya.
"Kemana aja lu monyet " tanpa ampun lantas melabrak Roman yang menghubungi nya balik ketika melihat di layar ponsel nya banyak sekali panggilan tak terjawab dari teman nya itu.
"Apa lu, maen ngamuk aja, masih pagi nih". sungut Roman yang memang tak tahu apa-apa, namun malah kena semprot omelan di pagi hari
Meski perutnya sudah kenyang terisi oleh makanan tapi rasanya ia tak sanggup jika harus meladeni omelan dari sang teman
" Kemana aja lu dari tadi gue telepon nggak lu jawab?!!" bertanya masih dengan nada yang terdengar sensi
"Dih keppooo" malah meledek Aditya dengan acuhnya
"ck" Aditya berdecak dan memutar bola matanya
"Ngapain pagi-pagi nyariin gue, kangeen yaa?!". malah kepedean sendiri
" Najjiis" berkata kencang, merasa muak mendengar ucapan Roman
"Omongan lu bikin telinga gue mual mendadak" lanjut Aditya emosi
"Dih peak kali nih orang, kebiasaan ngomong nggak pake otak ya begini ini contohnya, pake segala telinga lah mual, di kira tuh telinga ibu-ibu hamil kali!!" memprotes omongan yang memang kerap kali tak masuk akal yang keluar dari mulut sang teman
"Berisik " seperti biasa tak senang jika ada orang yang meralat apalagi protes terhadap apa yang ia ucapkan
__ADS_1
"Up to you lah " sahut Roman akhirnya
"Mau ngapain nyariin gue.?! yakin gue ,pasti lu mau bikin gue punya kerja tambahan " sudah bisa menebak apa yang akan terjadi jika Aditya sudah menghubunginya sepagi ini, bahkan saat ia ingat di tempat Aditya sekarang masih sangat gelap dengan cuaca yang dingin menusuk
"Sial gue lupa, lu ngajak ngomong mulu nyet !!" mengomel lagi
"Beneran dah Dit lu tuh udah punya anak dua, tapi mulut lu ampun dah gue mah, lu taker apa Dit sedikit kesian gue kalo telinga anak lu terkontaminasi gara-gara mulut bapaknya bejat model begini " memperingatkan
"Oke oke, kalo udah bawa-bawa anak gue nyerah " sahut Aditya dengan raut malas
"Bentaran juga lupa " gerutu Roman
"Bacot ah" kembali kesal
"Nah kan apa gue bilang " kata Roman
"Lu nggak bilang, tapi lu gerutuin gue tadi " menyahut ketus, dan bisa di pastikan perang mulut akan terus berlanjut bahkan sampai besok jika salah satu diantara mereka tidak ada yang mengalah, hingga akhirnya dan untuk sekian kalinya Roman lah yang harus mengalah mengakhiri perdebatan yang hanya membuat mulut capek dan telinga sakit mendengar ocehan-ocehan mereka berdua
"Cepetan ngomong lu mau apa?! " sentak Roman yang sudah kepalang emosi mendengar Aditya yang masih pagi tapi mulutnya sudah aktif sekali mengeluarkan celotehan-celotehan tak berfaedah nya , aneh padahal Roman yakin temannya itu belum makan tapi entah kenapa semangatnya dalam berbicara sungguh tak kenal waktu apa lagi lelah, sedang kan dirinya yang perut sudah terisi malah malas untuk menggerakkan mulutnya itu, ia malah seperti lemas dan mengantuk sekarang ini
"Woy, sial malah hening" kesal karena tak ada suara dari seberang sana
Roman menarik napas panjang lalu berjalan menuju sofa mencari tempat nyaman untuk duduk
"Siapa? " tanya Tania yang baru saja masuk ke dalam kamar
"Adit" menjawab dengan gerakan bibir
"Ooh" bibir Tania membulat mengeluarkan kata oh tanpa suara, lalu meninggalkan suaminya yang sibuk kembali dengan ponselnya, tampak tengah memasang telinga mendengar ucapan dari lawan bicaranya.
"Man"
"Apa, dari tadi gue di sini nungguin lu ngucap" berkata malas
"Temen sehidup semati lu gangguin Rianti " Aditya berkata seraya membaca pesan baru yang masuk ke instagram sang istri
"Maksud lu apaan dah" tanya Roman bingung
"Ck,, si Imran ngirim pesan ke instagram ibunya Riana" menyebut status Rianti yang memang ibu dari anaknya
__ADS_1
"Hah, maksudnya? " masih tak mengerti dengan keningnya mengerut begitu penasaran
Aditya lantas membacakan pesan yang di kirim oleh Imran untuk istrinya seiring Roman yang mendengarkan dengan seksama
Aditya mulai membaca pesan dari Imran
"Halo, ini Rianti istri dari Aditya erlangga bukan?! "
"Loh kok di baca aja? "
"hehe gue tahu siapa lu yang baca pesan gue ini Dit"
"Bagus lah kalau lu yang baca sendiri jadi gue nggak perlu sembunyi-sembunyi buat deketin istri lu"
"Istri lu cantik juga ternyata, tapi sayang dapet suami modelan kayak elu, kayak yang kebanting aja gitu hahaha"
"Oh iya, lu sekarang nggak lagi di Jerman kan? wow luar biasa, sungguh kesempatan yang amat besar buat gue kan,? gue nggak bakal sia-siain kesempatan buat ngerasain apa yang lu punya "
"Satu lagi, lu nggak keberatan kan kalau harus nanggung satu anak dari hasil kerjaan gue??! hahahaha" pesan yang dikirim oleh Imran memang sungguh keterlaluan pantas lah jika sepagian ini Aditya panik bukan kepalang, ia khawatir serta takut akan terjadinya hal yang tidak-tidak terhadap istrinya
"Wah gila tuh orang, kemarin istri gue" kata Roman mengatakan hal yang ia alami kemarin, lalu bercerita bagaimana Imran mengirimkan foto istrinya yang tengah berbelanja
"Nyari mati nih orang " geram Aditya marah
"Terus gimana sekarang? tuh dia kalau udah ngomong kayak gitu pasti bakal di lakuin" ujar Roman yang sangat tahu bagaimana karakter seorang Imran
"Sekarang lu ke rumah gue Man, awasin Rianti sama anak-anak gue, sore gue sampe di jakarta, mau pulang sekarang gue nggak bisa, ada rapat penting" pinta Aditya kemudian
"Lu nggak bilang sama Rianti?! " tanya Roman
"Nggak, gue takut malah dia jadi ketakutan " ucap Aditya karena ia tidak mau istrinya banyak pikiran apalagi ia tahu sang istri sering mengalami stres dan kelelahan setelah melahirkan anak kedua mereka.
"Yaudah gue berangkat sekarang" kata Roman kemudian, sebab ia juga merasa takut jika istri dari temannya itu mengalami hal yang tidak diinginkan, jika sampai hal yang di takutkan itu terjadi bisa di pastikan temannya yang sudah menjadi manusia normal semenjak mengenal Rianti itu bisa kembali menjadi manusia tak waras seperti dulu.
"Terimakasih Man, gue percaya sama elu" ujar Aditya dengan ucapan yang tulus.
Aditya bisa bernapas dengan lega, sebenarnya bisa saja ia menghubungi polisi untuk berjaga di rumahnya , akan tetapi ia tidak mau gegabah dan malah membuat istri dan anaknya semakin panik jika sampai ada polisi yang datang ke rumah mereka. .
******
__ADS_1