Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 80


__ADS_3

Darren menghentikan motornya di pertigaan jalan, pria itu merasakan ada sedikit yang janggal dan membuat dia tidak nyaman.


Pria itu membuka helmnya lalu menoleh pada wanita yang duduk di boncengannya, wanita yang sejak tadi hanya diam saja malah jadi bingung melihat tatapan sang suami yang seperti tengah menelisik semua anggota tubuhnya.


Darren menggaruk ujung alisnya sebelum melontarkan perkataan dari bibirnya membuat Rona semakin bertambah bingung.


Di dalam hatinya Rona sudah mulai tumbuh serangkaian kecurigaan apakah suaminya itu akan memarahi dirinya? apakah suaminya itu masih ingin melanjutkan acara ngambeknya? Ya ampun pikiran Rona sudah terganggu dengan segala prasangka yang membuat jantungnya berdebar keras.


Sehingga akhirnya Rona mengambil keputusan untuk meminta Papanya menjemput dirinya jika saja Darren masih akan kembali marah padanya, bisa saja saat di rumahnya tadi Darren hanya berpura-pura baik dan minta maaf padanya agar tidak terkena ceramah dari Papa dan juga Mamanya.


"Na," panggil Darren singkat yang membuat Rona mempersiapkan mentalnya untuk mendengar kalimat kemarahan dari sang suami.


Sudah sibuk dengan segala isi pikirannya membuat Rona tidak bisa membuka mulutnya mengeluarkan suara guna menjawab panggilan dari suaminya.


"Kenapa sih?" tanya Darren ketika mendapati wajah istrinya menegang dengan warna kulitnya yang putih berubah menjadi pucat.


"Kakak mau marahin aku lagi?" tanya Rona akhirnya dengan suara yang sangat pelan menyiratkan bahwa ada rasa cemas yang wanita itu tengah rasakan.


"Kok mikirnya kayak gitu?" kening Darren mengernyit dengan jawaban yang terlontar di bibir mungil sang istri.


Tidak ada jawaban dari Rona membuat Darren menarik tangannya seraya berkata, "kamu nggak pegangan sama aku," terang Darren alasan kenapa dia mendadak menghentikan motornya di tepi jalan seperti ini, untungnya ini masih belum terlalu jauh dari komplek perumahan mertuanya jika tidak kemungkinan dia akan dihampiri oleh polisi yang sedang patroli dan di interogasi bahkan lebih parahnya akan dianggap tengah mojok.


Mendengar keterangan suaminya Rona pun bisa bernafas lega, ketegangannya mendadak langsung hilang entah kemana.


"Besok aku libur kerja, kita jalan-jalan yuk?" ajak Darren ketika melihat Rona sudah menunjukkan sedikit senyumnya.


"Jalannya kapan?" tanya Rona.


"Sekarang."


"Kan udah malam," Rona tampak ragu.


"Ya nggak apa-apa, jalan sampai pagi," kata Darren seraya mengelus-ngelus punggung tangan istrinya yang berada di genggamannya.


"Nanti kalau hujan gimana?" terlihat Rona khawatir karena angin yang berhembus malam ini terasa sangat dingin disertai dengan beberapa kilatan yang muncul menandakan kalau sebentar lagi mungkin akan turun hujan.


"Kan bisa nginep di hotel." Darren menjawab enteng.


Memang dengan status mereka saat ini sudah tidak perlu lagi ada yang di takutkan jika mau singgah dimana pun mereka inginkan, penginapan, hotel atau tempat semacamnya sudah bebas mereka masuki berdua tanpa takut akan ada petugas yang datang dan menggerebek mereka.


Rona pun mengangguk setuju dengan ajakan dari suaminya itu.


"Ya udah terserah Kakak aja," jawabnya masih dengan malu-malu bagaikan remaja yang baru berkenalan di Facebook dan pertama kalinya bertemu, melupakan fakta bahwa mereka pasangan suami istri.


"Kaku banget Na," malah di ledek oleh suaminya yang malah merasa lucu dengan tingkah istrinya itu.


"iiiihhhh." Rona merengek seraya mencubit lengan sang suami.


"Aduh aduh, sakit dong," ucap Darren dengan suara yang rendah dan seperti biasa setiap pria itu berucap dengan nada rendah begitu Rona akan langsung berdesir merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri seolah ada makhluk gaib yang berada di dekatnya.


Rona langsung menyembunyikan wajahnya di punggung sang suami, sepertinya hari ini wanita itu sangat hobi bersembunyi di tubuh orang.


"Kak," panggil Rona ketika Darren sedang mengelus tangannya.


"Kenapa?"


"Aku minta maaf, aku nggak dengerin kamu seenaknya terus," tutur Rona yang memang sejak tadi sedang menyusun kata untuk meminta maaf pada sang suami.


Entah sebanyak apa kata yang ia kumpulkan sejak tadi namun tetap saja yang bisa ia keluarkan lebih sedikit dari yang sudah ia kumpulkan, rasanya percuma saja sejak dari rumah orang tuanya tadi ia terus memutar otaknya untuk bisa berkata panjang, karena yang keluar ya hanya seperti itu saja.


Mendengar permintaan maaf dari istrinya Darren pun kembali memutar badannya lalu menangkup kedua pipi wanita itu seraya berkata, "iya, maafin aku juga, tapi aku sadar aku yang salah karena terlalu ngekang kamu padahal sebelum menikah aku udah janji nggak bakalan ngekang kamu, nggak bakalan Batasin pertemanan kamu." Darren menghembuskan nafasnya sejenak sebelum kembali melanjutkan perkataannya, "maaf banget aku jadi cemburuan karena aku itu beneran sayang sama kamu aku nggak mau ada cowok manapun yang deketin kamu termasuk si bocah tengil itu," ucap Darren.


Tidak tahu kenapa Rona malah tersenyum mendengar panggilan Darren untuk Tyo, masih tidak berubah juga.


"Malah senyum, suaminya lagi serius juga," protes Darren.


"Panggilan Kakak buat Tyo itu udah nggak bisa di ubah lagi?"


"Nggak! dia aja masih panggil Kakak Om kok!" kata Darren yang akan berubah sengit jika mendengar Tyo memanggilnya dengan sebutan Om, dasar memang bocah kurang ajar! rutuk Darren.


"Tuh anak emang ngeselin banget Ma," sambung Darren.


"Tapi Tyo baik Kak sama Rona, sering bantuin Rona kalau butuh bantuan tuh dia orang pertama yang bakal muncul."


"Sekarang nggak lagi, dia bakal jadi orang kelima karena yang akan muncul untuk kamu Kakak!" tegas Darren mencubit kedua pipi istrinya.


Kening Rona mengernyit tak mengerti kalau orang pertama adalah suaminya dan orang kelima adalah Tyo lalu yang dua sampai empat itu siapa?


"Orang kedua tiga dan empat siapa? Papa sama Mama? itu baru dua dan tiga, yang keempat siapa?" tanya Rona bingung apalagi ketika melihat suaminya itu menggeleng.


"Darren Darren Darren!" jawab Darren yakin.


"Itu mah sama aja Kakak semua, ngapain pake nyempilin nama Tyo segala di nomor lima," sungut Rona dengan kekonyolan suaminya.


Darren menghela nafasnya sesaat, "Yah nanti kalau Kakak benar-benar nggak bisa Dateng buat bantuin kamu setidaknya masih ada si bocah tengil itu," tutur Darren membuat Rona terdiam, tidak tahu mengapa hatinya merasa sedikit tercubit mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria di depannya itu.


"Kakak harus janji bakalan selalu ada buat aku!" tegas Rona akhirnya.


"Iya sayang," sahut Darren.


"Mau jalan kapan? katanya mau jalan-jalan nanti malah keburu hujan," ujar Rona kala merasakan angin yang semakin berhembus kencang membuat dia kedinginan.


"Sekarang," kata Darren namun pria itu malah sibuk membuka jaketnya.


"Kamu pakai ini." memberikan jaketnya pada sang istri yang hanya mengenakan kaos berwarna cokelat muda yang tentunya berbahan tipis.


"Nanti Kakak dingin," tolak Rona.


"Nggak lah kan nanti Kakak di peluk sama kamu," kata Darren sambil tertawa melihat ekspresi lucu dari sang istri.


Rona pun langsung memakai jaket yang diberikan oleh sang suami sedangkan Darren membantu memasangkan resletingnya agar udara dingin tidak menyusup masuk.


"Sudah?"


"Sudah," jawab Rona antusias sudah dengan wajah yang kembali ceria.

__ADS_1


Darren pun segera memakai helm lalu menyalakan mesin motornya dan perlahan menjalankan motor itu.


Rona mendekap erat pinggang pria di depannya seraya menyandarkan dagunya di bahu sang pria menikmati jalanan serta udara malam yang sudah mulai memunculkan aroma debu yang benar-benar menandakan bahwa hujan akan segera turun.


"Kak." Rona mencoba mengajak bicara suaminya.


"Apaaa?" sahut Darren dengan nada yang mendayu-dayu.


"Aku masih boleh berteman sama Tyo?" sebenarnya Rona tidak enak menanyakan hal seperti itu yang jelas suaminya bahkan cemburu pada sang teman apalagi sangat bisa melihat jika Tyo menyukai dirinya.


"Boleh, kalau nggak boleh mana mungkin aku sebutin nama dia meskipun di urutan kelima," terang Darren.


"Lagian dia juga sudah tahu kalau kamu ini istri aku, Kakak yakin dia nggak bakalan berani deketin kamu, Kakak percaya sama dia. yah meskipun dia itu ngeselin," sambung Darren meyakinkan sang istri yang tampak ragu dengan perkataannya.


"Terimakasih, Kakak emang suami yang baik dan pengertian," kata Rona yang semakin mendekap tubuh suaminya dengan sangat erat.


"Yah gerimis Na," Ucap Darren ketika merasakan tangannya dijatuhi oleh tetesan air dari langit malam yang sudah semakin dipenuhi dengan awan-awan berwarna hitam.


"Terus gimana?" Rona cemas karena suaminya tidak memakai jaket takut suaminya itu yang malah sakit nantinya.


"Kayaknya kita benar-benar akan tidur di hotel malam ini," ucap Darren dengan wajah yang sumringah.


Rona tidak menanggapi pernyataan suaminya itu karena ia sudah sibuk memikirkan bagaimana caranya agar mereka tidak semakin basah oleh air hujan yang turun semakin deras.


Darren melajukan motornya ke hotel terdekat dari mereka, tentunya dia cukup tahu ada banyak hotel yang bisa mereka datangi karena seringnya dia melewati ketika pergi ataupun pulang kampus.


Tidak perlu berpikir jika Darren pasti sering menginap di hotel karena pergaulan dan teman-temannya sangat bebas bahkan Riana pun sangat tidak menyukai teman-teman Adiknya kecuali Permana yang memang tak pernah berbuat hal aneh sama seperti Darren.


Darren adalah anak dari seorang Aditya Erlangga yang meskipun begitu tidak pernah berani tidur dengan wanita yang bukan sah sebagai istrinya.


Motor Darren sudah terparkir di sebuah hotel dan mereka pun kini sedang berada di resepsionis untuk memesan kamar di tengah hujan yang sudah semakin deras dihiasi dengan kilatan petir yang menyala di luar sana.


"Kita kan nggak ada baju ganti Kak," kata Rona ketika mereka sedang berada di dalam lift dengan seorang pria yang mengantarkan mereka menuju kamar.


"Nanti Kakak telepon Ayah," sahut Darren seraya menggandeng istrinya keluar dari lift ketika lift terbuka.


Sesampainya di kamar Darren pun langsung menghubungi Ayahnya sedangkan Rona berada di kamar mandi guna mengganti celananya yang basah untung saja tadi ia memakai jaket jadi kaosnya masih tidak terlalu basah, tentu tidak membuatnya semakin kedinginan, beda dengan Darren yang seluruh pakaiannya tidak terselamatkan basah semua terkena air hujan.



"Ada apa? Ayah lagi tidur kenapa telepon malam-malam begini?" suara Aditya yang serak benar-benar membuktikan bahwa pria itu memang tadi sedang tidur dan harus bangun karena handphonennya terus saja berbunyi membuat istirnya mengomel karena wanita itu juga tadi sedang tidur di sampingnya.



"Ayah bisa minta Om Johan buat anterin baju Darren nggak, sama minta baju punya Ibu?" tanya Darren membuat Ayahnya sontak terduduk.



"Baju buat apa? bukannya kamu di apartemen?" bingung Aditya mendengar ucapan sang anak.



"Darren di hotel Yah," sahut Darren.




"Siapa?" tanya Rianti menatap sang suami.



"Darren lagi di hotel." Aditya memberitahu.



"Nginep Ayah Darren kehujanan nggak ada baju ganti."



"Nginep sama siapa? kenapa pakai minta baju Ibu kamu juga!?" Aditya mulai berkata keras yang ada di kepalanya saat ini adalah sang anak tengah bersama dengan seorang perempuan.



Yang membuat Aditya makin terkejut adalah tangan istrinya langsung menyambar handphone yang ada di tangannya.



"Kamu jangan macam-macam Darren! cepat pulang! ngapain di hotel sama perempuan! kamu ini punya istri, pulaaaang!" teriak Rianti sekencang-kencangnya membuat Aditya menutup kedua telinganya sedangkan Darren menjauhkan benda yang menghubungkannya dengan suara sang Ibu dari telinganya.



Gendang telinganya seakan hancur berantakan mendengar lengkingan suara sang Ibu yang masih saja nyerocos tanpa henti.



"Kenapa Kak?" Rona yang baru keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandi pun terlihat heran.



"Kamu ngomong sama mertua kamu nih, telinga aku mendengung," tukas Darren lalu memberikan handphonennya pada sang istri.



"Hallo."



"Heh Kamu jangan gangguin anak saya ya, dia sudah punya istri jangan jadi perempuan nggak benar kamu!" Rianti langsung saja menyerang menantunya sendiri tanpa mau mendengarkan dulu bahwa yang tengah berbicara dengannya adalah sang menantu.



"Ini Rona Bu," kata Rona akhirnya setelah mertuanya berhenti bicara untuk mengambil nafas yang terdengar ngos-ngosan.


__ADS_1


"Rona?" barulah Rianti mulai memasang telinganya untuk mengenali suara menantunya itu.



"Iya ini Rona, tadi Rona sama Kak Darren kehujanan makanya ke hotel, nggak apa-apa kan Bu kalau Rona nginep sama Kak Darren?" dengan polosnya Rona malah menanyakan boleh atau tidak mereka menginap pada sang mertua padahal mereka itu suami istri yang tentu tidak akan ada yang melarang.



"Boleh lah, heheh boleh kan ya Yah.." jawab Rianti dengan suara tawa yang sangat kaku seraya menatap pada sang suami, sedangkan suaminya mencebik dengan kelakuan sang istri.



"Ya udah mana Darren nya Ayahnya mau ngomong lagi," ucap Rianti merasa tak enak dengan menantunya sendiri.



"Kak, Ayah mau ngomong." Rona memberikan handphonennya pada Darren yang sudah membuka kemeja yang basah.



"Udah puas belum ngomelnya?" ejek Darren pada orang tuannya yang sudah salah sangka.



"Kamu lagian nggak bilang kalau sama Rona," sahut Aditya tak mau terlihat salah, apalagi istrinya yang malah sudah kembali melanjutkan tidurnya.



"Ayah sama Ibu nggak tanya, malah nyerocos aja, nggak mau dengerin orang ngomong dulu," protes Darren.



"Kamu tadi mau minta apa?" Aditya mengalihkan pembicaraan karena tidak mau anaknya terus menyalahkan dirinya.



"Minta di bawain baju buat Darren sama Rona, minta tolong sama Om Johan," tukas Darren.



"Ya kamu telepon aja langsung, ngapain malah telepon Ayah!" seru Aditya pada putranya.



"Darren nggak enak, Ayah aja yang teleponin."



"Perasaan kamu sama Ayah nggak ada rasa nggak enak gitu udah ganggu tidur Ayah," celetuk Aditya yang memang sejak tadi masih merasakan ngantuk karena perbuatan sang anak sudah mengganggu tidurnya yang sedang benar-benar lelap.



"Iya Darren minta maaf udah ganggu tidur Ayah." tukas Darren mengaku salah karena sudah mengganggu orang tuanya yang sedang beristirahat.



"Ya sudah nanti Ayah suruh Om Johan buat anterin baju kalian, kasih tahu aja hotel mana," kata Aditya akhirnya.



"Tapi anterinnya besok aja Ya Yah," pinta Darren.



"Darren nggak mau di ganggu sekarang," sambung anak muda yang kini tengah menatap sang istri yang sedang mengeringkan rambutnya.



"Iya! Ayah ngerti! ya udah matiin," ujar Aditya.



"Oke terimakasih Ayahku sayang assalamualaikum," kata Darren lalu mematikan teleponnya setelah sang Ayah menjawab salam.



"Giliran ada maunya pake Ayahku sayang," sungut Aditya yang kemudian menghubungi asistennya.



Darren melempar handphonennya lalu berjalan cepat ke arah Rona yang sedang berdiri dengan hairdryer di tangannya.



"Main yuk?" ajak Darren memeluk Rona dari belakang.



"Kakak buka celananya, itu basah nanti masuk angin," pinta Rona.



"Iya tapi main," kata Darren lagi.



"Iya ih, tapi kan Kakak mandi dulu sana."



"Siap!" Darren sangat semangat lalu mengecupi tengkuk sang istri sebelum masuk ke kamar mandi.



\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2