
Darren masuk ke dalam apartemen dengan mulut yang terus membungkam, tidak ada selera untuk mengajak istrinya berbicara, pria itu masih sangat kesal dengan sang istri, dengan kelakuan istrinya yang sudah menikah tapi tingkahnya masih saja seperti seorang gadis.
Darren sadar dia menikahi seorang wanita berusia 18 tahun yang bahkan belum lulus sekolah, tetapi setidaknya Rona bisa sedikit saja menjaga perasaannya sebagai seorang suami.
Tadi pagi istrinya itu sudah cukup menguras emosi dan rasa gemasnya dengan seragam sekolah yang bagi Darren sangat merusak mata, tidak layak untuk di lihat oleh lawan jenis, lalu tadi siang istrinya itu malah asik berboncengan dengan teman sekolahnya, astaga sepertinya ujian Darren sebagai seorang suami akan semakin sulit saja, sepertinya deretan segala ujian atas kelakuan Rona akan menjadi daftar panjang baginya.
Darren membanting tas ransel miliknya ke atas lantai begitu saja membuat Rona yang melihatnya mengernyitkan kening.
Tidak sampai di situ, kekagetan Rona bertambah kala Darren menendang kaki meja hingga membuatnya bergeser.
Batin Rona pun jadi bertanya-tanya ada apa dengan suaminya itu? kenapa mendadak terlihat emosi, padahal tadi saat di berada di kampus sang suami memanggilnya dengan sebutan sayang, sangat mesra dan lembut memperlihatkan bahwa suaminya itu sangat mencintai dirinya, lalu kenapa sekarang sifatnya berubah dengan sangat cepat, apa yang terjadi sepertinya Rona melupakan apa yang sudah ia lakukan hari ini.
Sejak tadi Darren menunggu inisiatif dari istrinya untuk meminta maaf, tapi kenapa istrinya itu malah jadi tidak peka sama sekali terhadap dirinya membuat aliran darah terasa naik semua ke atas kepalanya hingga membuatnya panas lalu memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyurnya dengan air dingin, mungkin ketika kepala itu terkena air akan ada kepulan asap yang keluar karena saking panasnya itu kepala.
"Kakak mau aku bikinin kopi?" tawar Rona ketika sang suami yang terlihat sangat keren itu sudah berada di tengah pintu kamar mandi.
Sepertinya pembukaan dengan tawaran secangkir kopi akan mendinginkan suasana, itu yang di pikirkan oleh Rona, tanpa dia sadari seharusnya dia menawarkan sebotol air dingin yang baru keluar dari dalam kulkas jika ingin mendinginkan suasana hati sang suami, bukannya secangkir kopi panas yang tentunya akan makin memanaskan suhu tubuh si peminumnya nanti.
"Minum saja sendiri," seru Darren kesal lalu membanting pintu hingga bunyinya menggema di dalam kamar mereka.
Rona menggaruk tengkuknya dengan wajah yang terbengong tak mengerti, wajahnya bahkan malah terkesan sangat bodoh.
Rona sedang duduk menonton tv ketika Darren selesai mandi, air bahkan masih menetes dari rambut hitamnya.
Pria itu mengambil kaos serta celana pendeknya lalu memakainya dengan cepat dan berjalan keluar dari dalam kamar.
"Mana kopinya?" tanya Darren saat melihat sang istri duduk dengan kedua kakinya yang naik ke atas sofa ruang tengah, menonton film yang Darren tidak mengerti sebab dia orang sangat jarang menonton tv, hanya ketika ada siaran bola saja dia baru akan menyetel tv.
__ADS_1
"Hah?" Rona bingung bukankah dari jawaban suaminya tadi terkesan kalau pria itu tidak mau kopi? lalu kenapa sekarang malah menanyakan kopi yang jelas tidak Rona buatkan karena melihat ekspresi dari suaminya yang terkesan marah dan Rona pikir tidak akan mau minum kopi yang dia buat membuat dia berinisiatif untuk tidak membuatkan kopi meski sudah menawarkan.
"Ck," Darren berdecak kesal lalu tanpa berkata dia pun menuju ke dapur berniat untuk membuat sendiri kopi.
Rona yang gelagapan pun langsung meloncat dari sofa dan berlari mengejar sang suami.
"Aku aja yang buatin," kata Rona secepat kilat mengambil cangkir dan meraih tempat kopi juga gula, mulai meracik kopi dengan terlebih dulu memastikan kembali bahwa yang dia ambil adalah gula, bukan garam seperti yang dulu dia lakukan.
Rona yang sedang mengaduk kopi panas itupun menghentikan gerakannya, melihat pada sang suami yang berdiri di dekat pintu.
Rona berpikir sejenak lalu menggeleng setelah yakin memang tidak ada yang mau dia katakan, karena menurut Rona memang tidak ada hal penting yang harus mereka bicarakan.
Selesai di aduk Rona pun lantas memberikan kopi yang baru ia buat itu pada Darren yang wajahnya makin di tekuk saja.
__ADS_1
"Buang tuh seragam," seru Darren yang langsung melenggang pergi setelah mengucapkan kata-kata itu.
Sontak Rona melihat pada seragam sekolah yang masih dia pakai, seragam yang tadi pagi terkena serangan senjata tajam yang di mainkan oleh sang suami, seragam sekolah yang sebentar lagi akan menjadi kenang-kenangannya selama menjadi pelajar, haruskah dia membuangnya?
Bibir Rona menukik turun seperti hendak menangis mengingat sebenarnya dia ingin menyimpan seragam sekolahnya ini untuk kenang-kenangan.
"Sebentar lagi kita akan berpisah." Rona mengelus-elus rok serta baju sekolahnya.
"Jangan kayak orang stres, baju di ajak ngomong." suara Darren membuat gerakan Rona terhenti.
Rupanya pria itu duduk di meja makan menyaksikan apa yang di perbuat oleh sang istri, kelakukan konyol dari istrinya itu yang kadang tidak di mengerti olehnya bisa saja muncul dengan mendadak seperti yang terjadi sekarang.
Bukankah sangat tak wajar manusia mengobrol dengan pakaian, bahkan mengelus-elus nya, sungguh Darren di buat mengangkat alis karenanya.
\*\*\*\*\*
__ADS_1