
Tanpa terasa waktu sudah berlalu sangat cepat,dan hari pernikahan yang sudah dinantikan oleh Rama pun datang juga.
Setelah mengucapkan ijab dengan lancar dan tanpa hambatan yang disaksikan banyak orang,akhirnya kedua insan itupun telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Senyum bahagia terlihat memancar pada wajah-wajah yang hadir terutama kedua mempelai yang tak hentinya mengumbar senyum ketika mendapatkan ucapan selamat dari orang-orang yang hadir.
Tapi rupanya ada satu wajah yang malah memancarkan aura mistis disalah satu meja.
Siapa lagi kalau bukan Aditya Erlangga,sepertinya ia masih belum bisa menerima sepenuhnya bahwa kini Rama sudah sah menjadi adik iparnya,yah meskipun Eva hanyalah adik tiri tapi Aditya selalu menganggapnya adiknya sendiri,apalagi kalau bukan karena dia hanya anak tunggal yang sebenarnya dari kecil ia sangat menginginkan seorang adik tapi sampai dewasa pun keinginannya itu tidak pernah terwujud malah perpisahan yang terjadi antara orang tuannya itu.
Mungkin hal itulah yang menjadi alasan kenapa ia menginginkan banyak anak,agar Riana tidak merasakan kesepian seperti dirinya.
Tepukan cukup keras dipunggung Aditya membuat emosinya tersulut.
Ia menoleh dan melihat Roman sedang menarik kursi didepannya lalu mendudukinya dengan santai.
"Hari bahagia kenapa muka lu malah kusut begitu?"Roman mempertanyakan raut wajah sang teman yang tampak tidak bersemangat malah terkesan sangat enggan berada di tempat itu.
"Lu bayangin aja,kenapa gue kayak gini."
Roman mendenguskan napas.
"Iya gua paham,udah berulang kali kan elu ngomong sama gua kalau Rama bakal nikah sama Eva,sampai bosan gua dengernya."sahut Roman yang harus menampung kekesalan Aditya saat acara lamaran Rama dan Eva selesai.
Bahkan temannya itu langsung menghubunginya hanya untuk memberitahukan tentang Rama.
"Ya sudah jangan mempertanyakan lagi kenapa gue kayak gini." tutur Aditya.
"Kalau kata gua sih elu masih mending Rama yang jadi adik ipar lu,lah coba lu jadi gua,bayangin dah lu punya ipar macem si Imran,baru nikah sehari aja udah gangguin gua minta modal yang katanya buat usaha lah inilah itulah yang gua nggak paham bener apa nggak nya."Roman berceloteh mengenai kelakuan Imran yang sudah menjadi adik iparnya.
Ia juga mulai membandingkan Rama dan Imran,sebab menurutnya Rama jauh lebih baik daripada Imran yang pada dasarnya memang musuh sejak ia muda dulu.
"Nggak ada yang mending tuh orang dua." kata Aditya kemudian karena disaat kesal seperti ini Roman malah membicarakan Imran sang musuh bebuyutan nya itu.
"Yah tapi seenggaknya kan si Rama masih lebih baik dari pada Imran."kata Roman yang sepertinya tidak mau penderitaan yang ia alami karena harus mempunyai adik ipar seperti Imran dirinya masih jauh lebih teraniaya dibanding Aditya,yang setahu dirinya adalah saat ini Rama jauh lebih mapan karena sekarang sudah memiliki bisnis sendiri,sangat jauh jika harus dibandingkan dengan adik iparnya yang bernama Imran itu.
Sepertinya Roman akan kembali merasakan sesak didalam dadanya saat mengingat kembali bagaimana kelakuan Imran terhadapnya selama ini.
__ADS_1
Aditya terlihat mengacuhkan curahan hati Roman yang mendadak dituturkannya begitu saja seperti sedang melampiaskan ganjalan didalam hatinya.
"Lu sendiri?" tanya Aditya karena tidak melihat adanya Tania didekat Roman.
"Noh lagi sama Rianti." mulut Roman menunjuk keberadaan istrinya dan istri temannya itu yang sepertinya sedang sibuk dengan obrolan yang terlihat seru karena berulang kali mulut kedua wanita itu menampakkan senyum yang lumayan lebar.
Aditya melihat arah yang ditunjukkan Roman.
"Gue harus cari sekretaris baru lagi kayaknya."Aditya berkata lirih.
"Tania gue panggil lagi ya?!"meminta ijin pada temannya.
"Hah?enak aja lu,susah payah gua berusaha buat dia berhenti kerja dan minta elu buat pecat dia, sekarang malah lu minta dia balik kerja lagi,nggak bakal gua ijinin pokoknya.emangnya Eva kenapa?" tanyanya yang tak tahu bahwa setelah menikah Eva akan dibawa pergi oleh Rama dan tentunya tidak akan bisa melanjutkan pekerjaannya.
"Abis ini Rama mau bawa Eva ke Singapura."ucap Aditya dengan nada tak semangat,mengingat ia harus dipusingkan dengan pencarian sekretaris baru,sebenarnya Aditya bukan orang yang ribet mau sekretaris model apapun ia akan senang hati mempekerjakannya asalkan memiliki pengalaman di bidang nya,namun sekarang yang jadi permasalahan adalah Rianti yang pastinya akan ikut menseleksi para sekretaris yang datang melamar dan bisa dipastikan akan sangat lama untuk wanita itu menentukan pilihan.
Membayangkan nya saja Aditya sudah dibuat pusing tujuh keliling apalagi jika sudah saatnya tiba nanti,sungguh pastinya akan ada perdebatan panjang setiap harinya antara dirinya dan sang istri,karena bisa dipastikan istrinya itu tidak akan mencari wanita untuk menjadi sekretarisnya.
"Jadi aku dipecat karena perbuatan kamu?"Tania yang ternyata sejak tadi berdiri dibelakang suaminya mendengar semua yang diucapkan oleh Roman,Roman langsung panik dan menengok ke belakang dengan wajah yang terlihat memucat.
"Nah ribut nih pasti."gumam Aditya seraya beranjak dari duduknya dan menghampiri seorang pria dengan istrinya yang baru saja datang yang kebetulan adalah teman papahnya sekaligus rekan bisnisnya sendiri.
Aditya mulai mengobrol dengan tamunya tanpa peduli sang teman kini sedang terlibat masalah yang tentunya akan terbawa sampai ke rumah serta kedalam kamar,Aditya seperti yang sudah paham betul karena ia sudah sangat sering mengalami hal itu.
Roman lantas mengajak Tania untuk pulang dan memilih membicarakan masalah mereka di rumah.
"Kamu kenapa sih kayak gitu?"Tania mulai melancarkan serangannya ketika berada didalam mobil yang tengah membawa mereka ke rumah.
"Kan aku udah bilang,aku tuh nggak mau kamu masih kerja." kata Roman kepada sang istri yang kini menyilangkan tangannya diatas perutnya yang sudah sangat besar dan hanya tinggal menunggu satu bulan lagi bayi didalam kandungan itu akan lahir dan melihat kedua orang tuanya.
"Kan bisa ngomong baik-baik."sahut Tania ketus.
Roman terlihat menghembuskan napasnya berulang kali sebelum menjawab penuturan sang istri.
"Tania sayang,aku tuh udah ngomong sama kamu berapa kali,tapi kamu nggak dengerin malah terus kerja." kata Roman dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
"Jadi aku terpaksa minta tolong sama Adit."
__ADS_1
lanjutnya dengan ekspresi serius.
"Kamu kan bisa bujuk aku dulu." masih tidak Terima dengan perlakuan sang suami yang ternyata adalah dalang dari dipecatnya dia sebagai sekretaris Aditya.
"Loh kayaknya aku udah berulang kali deh bujuk kamu kamu buat berhenti kerja,tapi kamu tetap aja nggak nurutin permintaan aku itu."Roman berusaha membela dirinya dari sang istri yang kini terlibat masih terus ingin menyalahkan dirinya.
"Kamu bujuk nya kurang improvisasi,harusnya lebih gigih lagi biar aku turutin apa mau kamu."ucapan Tania malah semakin memojokkan dirinya karena sekarang malah mempermasalahkan cara membujuknya yang katanya kurang inisiatif.
Roman mengernyit kan keningnya kala mulai dilanda kebingungan karena pernyataan istrinya itu.
"Harusnya sebagai seorang suami tuh kamu bisa berimprovisasi apapun itu agar aku mau berhenti kerja,bukannya malah diem-diem minta bantuan teman kamu buat mecat aku."
"Apalagi dah,segala improvisasi diomongin,apa karena saking lamanya kerja sama si Adit kali ya,jadi ke ikutan drama begini,dikiranya gua penyanyi kali pake segala harus improvisasi" Roman membatin mengedumelkan omongan istrinya itu seraya telinganya mendengarkan segala protes yang terlontar dari mulut sang istri,yang sekarang masih terus saja mengomel tak jelas.
"Yaudah oke,aku yang salah deh,aku kurang improvisasi nya." sahut Roman memilih untuk mengalah agar omelan sang istri bisa berhenti karena semakin lama fokusnya menyetir makin terganggu saja jadinya.
"Nah gitu dong,harus nya dari tadi ngaku salah,nggak usah terus berdalih segala."Tania mencibir suaminya yang padahal sudah mengalah tapi masih harus dicibir seperti itu.
"Kami sekarang kok bawel ya?padahal dulu pertama ketemu kamu kalem banget."ucap Roman seraya memamerkan senyumnya agar sang istri tidak kembali marah padanya.
"Bawaan anak kamu kayaknya,lihat aja nanti pas lahir pasti bawelnya persis kamu."jawab Tania seraya mengelus perutnya.
"Masa sih?" Roman seolah tak sadar pada dirinya sendiri yang memang sangat bawel ketika sudah berbicara.
"Emang iya." sahut Tania.
"Jangan bawel-bawel nak,kasihan nanti pasangan kamu." tangan kiri Roman mengelus perut Tania dengan lembut seperti sedang berbicara pada bayi yang ada didalam perut sang istri.
"Jadi sekarang udah nggak marah lagi kan?" tanyanya pada sang istri dengan memamerkan barisan gigi-giginya.
"Ajak belanja dulu."imbuh Tania yang tidak mau melewatkan kesempatan untuk dibelanjakan oleh sang suami,ya meski sebenarnya ia bisa membeli apapun yang ia inginkan tanpa harus meminta pada Roman,tapi ada kebahagiaan tersendiri bagi seorang istri ketika suaminya membelikan apa yang ia mau.
"Iyaa."Roman menganggukkan kepala dan langsung melakukan mobilnya ke sebuah mall guna memenuhi keinginan sang istri yang sedang hamil besar itu.
Mereka menghabiskan waktu cukup lama didalam mall dengan belanjaan yang lebih didominasi kebutuhan untuk anak mereka yang akan segera lahir,dan setelah merasa semua yang diinginkan oleh Tania sudah didapatkan kedua orang itupun bergegas pulang karena langit pun sudah tampak gelap..
****************
__ADS_1