
"Ayah Ibu, Darren berangkat ya." pamit Darren pada kedua orang tuanya.
Ya hari ini dia dan teman-temannya akan berangkat camping selama 4hari cukup lama, bahkan Ibunya sempat protes karena rumah akan terasa sepi apalagi Riana pun sudah kembali ke Singapura beberapa hari yang lalu.
Namun Darren tidak bisa berbuat apa-apa sebab 4hari itu sudah menjadi kesepakatan teman-temannya dan untungnya saat ini pun Rona sudah memasuki libur sekolah sebelum menjalani ujian kelulusan yang akan di lakukan seminggu lagi, libur sekolah yang harusnya diisi gadis itu untuk belajar malah ikut camping bersama calon suaminya dengan alasan menjaga lelaki itu dari gangguan ayam betina bernama Sherin.
"Hati-hati, Rona nya jagain, ingat pesan Kak Ana kamu kalau mau nikah." Rianti memberi peringatan dengan mata yang tajam.
"Iya Buu." jawab Darren lalu gegas masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke tempat camping yang berada jauh dari Jakarta itu.
Mobil yang dikendarai Darren sudah berhenti di halaman rumah Rona, untuk apa lagi kalau bukan untuk menjemput gadis itu yang juga akan ikut bersamanya.
"Loh Na, Lu mau kemana?" tanya Tyo yang baru saja sampai ketika Rona baru akan memasukkan ransel miliknya ke mobil Darren.
Darren melirik tak suka dengan kedatangan bocah tengil yang seringkali memancing emosinya itu saat bertemu.
"Gue mau camping." jawab Rona dengan sangat antusiasnya.
"Hah? camping? sama Om itu?" tangannya dengan enteng menunjuk Darren yang sedang berdiri mengobrol dengan sang calon mertuanya di depan pintu rumah.
"Tyooo." seru Roman yang telinganya menangkap perkataan Tyo untuk sang calon menantu yang sudah bersungut kesal.
"Hehe." lihatlah Tyo malah dengan polosnya terkekeh.
"Gue ikut boleh nggak?" tanyanya pada Rona.
"Nggak!" tolak Darren mentah-mentah dan langsung menarik Rona untuk masuk ke dalam mobil.
"Om, Tante, Darren sama Rona berangkat." kata Darren pada Roman dan Tania yang mengangguk.
"Hati-hati, kalau ada apa-apa kabarin." seru keduanya.
"Rona kamu jangan bikin Darren repot." pesan Roman kepada sang anak yang mengangguk cepat.
__ADS_1
"Tyo, gue berangkat ya." kata Rona pada Tyo yang memanyunkan bibirnya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Roman pada Tyo yang masih saja berdiri di halaman rumahnya padahal mobil yang membawa Rona sudah tidak terlihat.
"Mau main catur?" tanya Roman lagi yang langsung membuat Tyo pergi secepat kilat.
"Nggak Om, Tyo sibuk." langsung menuju motornya, sungguh dia tidak akan sanggup meladeni Papah dari temannya itu jika sudah bermain catur, bukan karena takut kalah, tapi lebih karena malas meladeninya karena lelaki dewasa itu akan minta main catur terus menerus tanpa mengingat waktu.
Tyo sudah pernah mengalami hal itu dari pagi sampai malam, maka lebih baik langsung menghindar saja daripada kepalanya pusing karena terlalu lama menatap papan catur yang berwarna hitam putih nantinya.
"Kita ke kampus dulu." kata Darren seraya fokus pada kemudi mobilnya.
"Buat apa?" tanya Rona.
"Barengan sama yang lain, ada yang akan semobil sama kita juga di sini." sahut Darren.
"Jadi di mobil ini kita nggak cuma berdua?" mata Rona membuka dengan bibir yang mengerucut.
"Ya iya, memangnya kenapa?"
"Kalau mau mesraan ya nggak apa-apa, mereka kan udah tahu kamu siapanya aku." jawab Darren tenang.
Pipi Rona bersemu merah namun kemudian mengernyit bingung kala Darren menepikan mobilnya.
"Kok?" bingung Rona.
Namun kebingungan Rona di jawab dengan kecupan dari Darren di keningnya yang sekarang membuat wajah Rona memanas.
Setelah melakukan itu Darren kembali menjalankan mobilnya menuju kampus.
"Kamu ingat kan harus panggil aku apa nanti?"
Rona mengangguk cepat.
__ADS_1
"Apa?" tanya Darren memastikan bahwa Rona memang mengerti harus memanggil dia apa saat di depan teman-temannya.
"Sayang." Rona menjawab dengan malu-malu dan tentunya hal itu membuat hati Darren sangat puas dengan tangannya yang terulur untuk mengusap rambut calon istrinya itu.
****
"Nah tuh Darren sampai." kata Bimo menunjuk mobil temannya yang baru masuk ke halaman kampus.
"Tuh cewek beneran ikut?" Nella bertanya pada Bimo, kekasihnya.
Bimo hanya mencebikkan bibirnya.
"Biarin aja sih, calon istrinya ini, bagus juga ikut biar nggak ada ular yang ngelilit si Darren." timpal Permana yang memang sangat tidak menyukai tingkah sepasang kekasih itu yang terus saja menjodohkan Darren dengan Sherin padahal mereka jelas-jelas tau bahwa Darren tidak menyukai wanita yang memang cantiknya bisa di katakan sempurna itu.
Nela mendengus sebal mendengar ocehan Permana yang memang sikapnya berbeda jauh dengan dirinya dan Bimo yang mendukung Sherin dan Darren untuk berpacaran.
"Darren udah sampai?" seru Sherin yang berlari menuju Nela.
"Tuh." Nela menunjuk pakai dagunya ke tempat mobil Darren berada.
"Iish, tuh anak ngapain ikut sih." desis Sherin melihat Rona yang juga turun dari mobil lelaki yang ia sukai sejak lama.
"Semangat, pasti ada kesempatan untuk nikung selama janur kuning belum melengkung. yang udah nikah aja banyak kok yang bisa di rebut apalagi yang baru pacaran." dengan entengnya Nela berkata seperti memberi dukungan pada seorang wanita untuk merusak hubungan orang lain.
Sherin mengangguk setuju lalu dengan langkah yang elegan dia berjalan menuju Darren yang tengah mengobrol dengan Permana dan dua orang temannya yang lain sebelum mereka berangkat.
Mata Rona memicing melihat Sherin yang berjalan mendekati calon suaminya, wanita itupun dengan cepat menuju Darren dan merangkul lengan lelaki itu dengan erat.
"Kamu kenapa?" tanya Darren yang Bingung dengan tingkah Rona.
"Ada badut." bisik Rona seraya melirik Sherin yang mendelik padanya.
Darren hanya tersenyum lalu balas memegang lengan Rona yang membuat mata Sherin semakin panas melihatnya.
__ADS_1
\*\*\*\*