Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 51


__ADS_3

Darren berjalan tak sabar menuju unit yang dia tinggali bersama Rona di lantai 5, menaiki lift dengan satu tangan yang di masukkan ke dalam kantong celana jeans robek di bagian dengkulnya menambahkan kesan cowok brandal meski sebenarnya dia tidak seperti itu, itu memang tampilan dirinya yang sudah sejak lulus SMA, jeans belel bahkan sampai robek dipadukan dengan Hoodie berwarna gelap menambah kesan cowok-cowok muda nan gaul di masanya saat ini.


Darren nyaman dengan penampilannya meski kerap kali telinganya harus mendengar ocehan snag Ibu ketika dia sudah mulai mengenakan celana yang kata Ibunya itu sudah sangat layak untuk di buang ke tong sampah, mulut Darren hanya menampilkan senyuman saja tanpa mau menjawab karena dia sadar betul jika sekali saja bibirnya bergerak itu sama saja menantang sang Ibu untuk tidak berhenti mengomel dan jika itu terjadi bukan hanya Ibunya yang tak akan berhenti mengomel tapi Ayahnya pun akan ikut nimbrung karena tak rela telinganya ikut merasakan berdengung akibat ulah sang anak.


Ya memang kurang ajarnya Aditya itu membantu Rianti mengomel bukan untuk menolong anaknya tapi hanya ingin menyelamatkan telinganya agar tidak semakin sakit mendengarkan omelan-omelan yang terucap dari bibir tipis nan menggoda istrinya itu.


Bruk!


Darren yang baru akan keluar dari lift malah menabrak seseorang yang berniat masuk ke dalam lift yang sama. "Maaf." seru Darren cepat merasa bersalah padahal bukan dia yang menabrak, salahkan orang di depannya yang adalah seorang wanita kenapa masuk ke dalam lift tanpa menunggu dulu apakah ada orang yang akan keluar dari lift atau tidak.


"Saya yang seharusnya minta maaf, maaf karena terburu-buru hingga tidak melihat ada orang yang akan keluar dari lift." kata wanita dengan rambut tergerai itu pada lelaki yang tak sengaja ia tabrak.


Darren melihat sekilas lalu hanya merespon dengan senyuman dan kembali melangkah tanpa kata menuju unitnya berada.


Wanita itupun masuk ke dalam lift menatap punggung Darren sebelum pintu lift tertutup, seulas senyum kagum terpampang jelas di wajah yang terbilang cukup cantik itu untuk lelaki yang baru saja ia lihat di apartemen yang ia tinggali sejak satu tahun terakhir itu.


"Kenapa aku baru mengetahui aku memiliki tetangga yang tampan di sini?" gumam wanita itu seraya menekan tombol lift yang akan membawanya ke lantai atas.

__ADS_1


Darren mengetuk pintu unitnya dengan penuh penghayatan menunggu sang istri yang akan membukakan pintu itu, namun ketukan serta bel yang dia tekan nyatanya tak membuat wanita yang ada di dalam tergerak untuk membiarkannya masuk.


"Tidur?" bertanya sendiri setelah 5 menit berada di depan pintu berwarna cokelat itu namun benda kotak itu tak juga memunculkan wajah istrinya.


Darren mengangkat pergelangan tangannya guna melihat jam yang melingkar di sana, mendesah pelan kala jarum jam itu sudah menunjuk di angka 11.


Lelaki yang malam itu di buat keliaran oleh dirinya sendiri pun memasukkan password agar pintu terbuka, dia harus memarahi dirinya sendiri kenapa sebagai pengantin baru malah sibuk berkeliaran kesana-sini begitu mendengar keinginan Rona untuk menunda kehamilan.


"Na." serunya ketika pintu terbuka dan sebagian lampu sudah di matikan, cukup gelap apalagi ruangan tamu yang tidak satu lampu pun yang dinyalakan.


"Masa kamu tidur Na." seru Darren lagi dengan langkah yang menuju ke dalam kamar, membuka pintu yang membatasi lalu sedikit mengintip. "Na, Sayang." panggilnya lagi ketika ada tubuh yang terbungkus selimut di atas tempat tidur, tubuh siapa lagi jika bukan tubuh istrinya, wanita yang dia nikahi dua hari yang lalu.


Darren memicingkan mata kala mendengar tarikan napas istrinya yang begitu cepat, tidak halus dan relaks malah seperti orang yang habis lari berkilo-kilo meter jauhnya.


Senyum menyebalkan pun muncul di bibir lelaki keturunan Aditya itu, lebih tepatnya senyum yang sangat licik namun malah membuatnya semakin menawan.


"Kamu beneran tidur?" malah bertanya konyol.

__ADS_1


Rona di dalam hatinya bersungut kesal pada lelaki yang malah bertanya seperti itu, bukankah sudah melihatnya tidur? lalu kenapa malah bertanya? yah meskipun ia sendiri memang tidak benar-benar tidur, ia hanya kesal pada suaminya itu yang pergi begitu lama membiarkan dirinya sendiri di apartemen yang baru mereka tempati itu.


Darren mendesah berat menunjukkan sandiwaranya lalu bersiap untuk beranjak sambil mengoceh. "Baru aku mau cerita sama kamu Na, kalau di tempat ini kita punya tetangga wanita yang usianya tidak jauh denganmu." tutur Darren seraya menjauh.


Telinga Rona berkedut mendengar ocehan suaminya tentang tetangga wanita yang seusia dengannya. "Apa? bisa-bisanya dia malah mikirin tetangga sebelah?" gerutu Rona dengan telinganya yang masih terpasang guna menangkap setiap omongan yang keluar dari mulut suaminya itu.


"Darren sialan." seru Rona lalu menendang selimut hingga jatuh ke lantai.


Darren yang sudah membelakangi kembali memutar tubuhnya karena begitu terkejut dengan makian yang sangat lancar dari mulut istrinya.


"Siapa yang sialan?" suara Darren begitu dalam meskipun datar.


Rona menggigit bibirnya, sungguh ia tidak bermaksud berkata bahkan mengatai suaminya itu dengan kata-kata yang cukup kasar, bukankah suaminya sendiri yang memancing dirinya hingga tidak bisa mengontrol setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Ka.. Kakak." kata Rona takut, sungguh jika Darren sudah dalam mode serius seperti ini Rona sama sekali tidak bisa berkutik.


Jantung Rona berdegup dengan sangat cepat kala lelaki yang tadi menjadi sasaran makiannya itu malah berdiri menatapnya seraya bertopang dada.

__ADS_1


****


__ADS_2