
Rianti masih berada dalam pelukan suaminya, rasanya hari ini ia ingin sekali bermanja dan mencurahkan isi hatinya yang mulai sering uring-uringan apalagi menghadapi kedua anak yang masih kecil.
"kalau kamu cape urus Daren biar mas cari suster aja ya buat urus Daren " kata Aditya lembut mencoba memberikan solusi pada siang istri
Rianti menggeleng cepat menolak yang dikatakan suaminya, ia memang bukan tak ingin mengurus anaknya,karena yang ia ingin adalah perhatian dari Aditya sebagai suaminya
Aditya menarik napas mendapat penolakan dari Rianti atas saran yang dia katakan
"biar kamu nggak terlalu capek" mengelus bahu istrinya pelan
Rianti masih tetap menggeleng "aku cuma butuh kamu buat nenangin aku saat aku lelah " ucap Rianti pelan bahkan nyaris tak terdengar jika saja mereka tidak sedang duduk berhimpitan seperti sekarang
"kadang aku tuh mau nangis kalo Daren nangis dan mas cuma sibuk sama kerjaan mas, seolah mas nggak perduli sama aku" lanjut Rianti mengeluarkan keluhan nya terhadap sang suami yang bahkan tengah malam pun akan tetap bekerja meski sudah berada didalam rumah mereka, tempat yang seharusnya ia gunakan untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarganya, sering kali malah ia asik berada di ruang kerja dan menatap laptop yang berisi pekerjaannya
Aditya menarik napas kembali mendengar pengakuan istrinya yang tengah mengeluh tentang sikapnya akhir-akhir ini
"maaf " dan hanya itu yang mampu ia keluarkan dari mulutnya
"aku nggak nyalahin kamu mas, aku cuma ingin mas sesekali ngertiin aku " menatap mata suaminya dengan kedua matanya yang terlihat sekali bahwa ia sangat kurang tidur pada malam hari karena harus mengurus Daren yang bisa saja menangis saat dirinya baru saja memejamkan mata untuk tidur
"iya sayank mas janji saat dirumah mas akan fokus sama kamu Daren juga Riana, udah ya kamu jangan sedih gini, mas bingung harus ngapain kalo kamu kayak gini terus tiap hari " menangkup kedua pipi Rianti dan memfokuskan tatapan mereka yang saling beradu, ia menatap dalam wajah istrinya yang kini terlihat lebih pucat dan kelopak mata yang sedikit menghitam akibat sering begadang menyusui Daren, pengorbanan sang istri untuk merawat anaknya sangatlah besar hingga terkadang istrinya tak peduli dengan kepentingannya sendiri
dan sekarang ia tahu betapa sulitnya menjadi seorang ibu dengan dua anak yang masih kecil ditambah harus mengurus keperluan dirinya, membuat istrinya itu bahkan tak sempat mengurus diri sendiri
Aditya mengecup bibir istrinya mesra seraya mengusap rambut Rianti yang masih terasa basah karena ia tak sempat mengeringkan nya sehabis mandi
mata keduanya saling beradu dan memandang lekat, masing-masing memancarkan cinta yang tak redup malah kian bersinar, Aditya makin mencintai istrinya begitupun sebaliknya Rianti makin mencintai suaminya apalagi suaminya sudah sangat jauh berbeda dengan yang ia kenal dulu, sang pemimpin keluarga yang ia idam-idamkan kini benar-benar ia miliki.
__ADS_1
"kamu udah makan belum? " tanya Aditya
"belum" menggeleng kepala
"yaudah kamu makan dulu sekarang mumpung Daren lagi tidur" kata Aditya
"aku nggak laper mas, aku cuma mau tidur dipelukan kamu " ujar Rianti lalu menelusup kan wajahnya didada sang suami yang masih mendekap bahunya
"tapi setelah bangun tidur langsung makan ya sayank" menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Rianti
"he em" menyahut dengan suara pelan.
Dan benar saja dalam hitungan detik Rianti sudah tertidur pulas di dalam dekapan sang suami yang dengan setia menyediakan dadanya untuk tidur sang istri, rasanya ia tak tega jika harus meninggalkannya dengan kedua buah hati mereka dirumah sedangkan ia harus pergi ke Jerman
Aditya mengurut keningnya yang mendadak pusing memikirkan kantornya yang berada di Jerman,..
selfi tengah berada didalam taksi menuju kediaman kakak dan kakak iparnya
"mbak , ini aku udah dijalan bentar lagi sampe" selfi tengah berbicara dengan Tania melalui telepon memberitahukan kedatangannya
"loh, sekarang? bukannya minggu besok ya? " tanya Tania kaget mendapat telepon dari adiknya yang mengabarkan bahwa ia sudah ada dijalan menuju kerumahnnya dan Roman
"hehe maaf, aku bete dirumah, ibu marah-marah terus minta aku buat cepet-cepet cari kerja" sahut selfi beralasan
"mbak dirumah kan? " lanjutnya menanyakan posisi kakaknya saat ini
"mbak lagi dijalan sel" ucap Tania seraya melihat Roman yang sejak tadi sibuk menyetir
__ADS_1
"kita pulang aja kalo gitu" rupanya sejak tadi Roman ikut mendengarkan perkataan istrinya
"kok pulang? " Tania melihat suaminya
"itu si selfi mau kerumah" Roman berkata pelan dengan wajah yang terlihat bete
"yaudah mbak buruan pulang aku udah mau sampe" selfi menyetujui perkataan Roman yang terdengar samar di ponselnya
"yaudah" sahut Tania dengan nada yang terdengar sewot karena harus gagal untuk pergi jalan-jalan dengan suaminya karena kedatangan sang adik, ia bisa saja untuk tetap pergi seandainya Roman tak mengajaknya untuk pulang,.
Tania menatap keluar kaca mobil disampingnya, hatinya kesal karena sang suami juga adiknya yang seolah bersekongkol menggagalkan keinginannya untuk pergi..
"kan jalannya bisa besok-besok " Roman membuka mulutnya setelah menyadari istrinya marah padanya, padahal sekarang ia juga tengah marah pada adik iparnya yang tiba-tiba datang tanpa memberitahu lebih dulu
Tania tak berniat menyahuti perkataan suaminya, ia sudah kadung dongkol dengannya..
"sayaaank" mencoba merayu dengan panggilan semesra mungkin agar marah istrinya segera luntur
huek..
bukannya menjawab Tania malah terlihat akan muntah seraya menutup mulut dengan tangannya..
melihat reaksi istrinya Roman langsung sigap mengambil minyak angin yang ada didalam mobilnya lalu menyodorkan nya
Tania mendekatkan botol minyak angin ke hidungnya dan menghirup aroma minyak angin tanpa menyadari sang suami kini tengah ter senyum-senyum seorang diri seraya terus menatap perut istrinya...
****
__ADS_1