Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 95


__ADS_3

"Loh kamu belum pulang? suami kamu belum jemput memangnya?"


Roman yang baru saja pulang dari rumah sakit terlihat bingung ketika melihat anaknya masih ada di rumah padahal ini sudah hampir jam 10 malam.


"Rona masih ada disini ya berarti Rona belum pulang Papa, gimana sih!" sahut Rona seraya memainkan handphone di ruang tengah, masakan yang ia siapkan untuk suaminya sudah siap semua di atas meja hanya tinggal menunggu suaminya saja yang sedang mandi.


"Kak Darren lagi mandi."


Setelah mengatakan hal itu mata Rona membuka lebar seakan baru ingat sesuatu, langsung saja ia menyimpan handphonennya ke atas meja.


"Kak Darren kok dari tadi nggak turun-turun ya," kata Rona seraya berlari menuju lantai atas.


Suara derap kakinya terdengar cepat karena wanita muda itu sangat tergesa agar bisa segera sampai di dalam kamar guna mengetahui sedang apa suaminya hingga tidak turun juga sejak tadi bahkan Rona pun sampai lupa.


Roman menarik nafas lalu menggelengkan kepalanya dan mencari sang istri yang berada di dapur.


"Kaaaak," panggil Rona ketika sudah berada di dalam kamar.


"Bajunya masih di kasur," kata Rona kala melihat baju yang tadi ia siapkan untuk sang suami masih terlipat rapi di atas tempat tidur belum berubah sama sekali sejak ia tinggalkan tadi.


Langkah kaki Rona pun segera tertuju pada pintu kamar mandi yang tertutup, mencoba untuk membukanya namun terkunci dari dalam.


Ceklek! ceklek!


"Kenapa mesti di kunci sih," seru Rona kala memutar-mutar handel pintu namun pintu tak juga mau terbuka.


Rona menempelkan telinganya pada pintu untuk mendengar suara suaminya namun yang terdengar hanya suara air yang sejak tadi mengalir.


"Kakaaak," panggil Rona lalu menggedor-gedor pintu di depannya dengan tak sabar.


Duk! Duk! Duk! namun tak juga ada suara sahutan dari suaminya itu.


"Papaaaa." Rona yang akhirnya cemas pun segera berlari ke pintu untuk memanggil Papanya yang ada di lantai bawah.


"Papaaaa," panggilnya lagi ketika tidak ada jawaban.


Setelah kedua kalinya akhirnya Roman datang dan segera berlari menaiki tangga begitu melihat wajah cemas sang anak yang hanya nongol di pintu kamar.


"Kenapa?" tanyanya pada Rona ketika mereka sudah berhadapan.


Tania yang juga mendengar suara anaknya yang begitu kencang pun ikut menyusul ke kamar sang anak.

__ADS_1


"Kak Darren di kamar mandi dari tadi tapi nggak keluar-keluar, udah Rona panggil-panggil tapi nggak ada jawaban, Rona mau buka pintunya tapi di kunci," terang Rona dengan wajah yang sudah sangat khawatir.


Tanpa menunggu lama Roman pun segera menendang handel pintu agar pintu terbuka.


Druk! druk!


Beberapa kali akhirnya pintu bisa di buka dan pria itu segera masuk dan kedua matanya langsung bisa melihat tubuh sang menantu tengah berada di dekat bak mandi hanya memakai celana pendek.


Sudah jelas Darren sedang tidak sadar membuat Roman segera berusaha untuk mengangkat tubuhnya, untungnya meski sudah berumur dia masih memiliki tenaga yang cukup kuat hingga bisa mengeluarkan Darren dari kamar mandi meski dengan mengerahkan seluruh tenaganya.


"Kak Darren kenapa Pa?" tanya Rona merecoki Papanya yang sedang membawa Darren.


"Kamu diem dulu Na, Papa berat!" omel Roman karena perbuatan sang anak malah menyusahkan dirinya.


Tania yang juga ikut panik melihat keadaan menantunya itu bergegas mengambil handuk kering lalu menutupi tubuh sang menantu.


"Kamu gimana sih Na, Suami pingsan di kamar mandi malah nggak tau!" Roman mengomeli anaknya.


"Tadi kan Kak Darren bilang dia mau mandi, yaudah pikiran Rona ya Kak Darren lagi mandi," sahut Rona panik seraya naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping tubuh suaminya yang masih belum juga siuman.


"Kalau mandinya sudah terlalu lama harusnya kamu lihat, jangan malah main handphone." Roman benar-benar mengomeli anaknya.


"Udah Pah, Jangan malah bikin Rona jadi panik gitu," tukas Tania menenangkan suaminya yang terlihat begitu kesal dengan sang anak.


"Tapi Kak Darren nggak apa-apa kan?" tanya Rona dengan wajah pucat.


"Cepat ganti dulu, biar Papa periksa," paksa Roman lalu keluar dari kamar.


Tania pun ikut keluar karena jelas ia tidak mungkin tetap berada di kamar itu ketika anaknya tengah menggantikan celana sang menantunya.


Sambil menangis karena takut terjadi sesuatu yang tidak ia mau Rona mengganti celana suaminya yang tadi basah.


"Bangun dong Kak, kakak kenapa sih," seru Rona dengan suara lirih seraya menyelimuti tubuh suaminya setelah selesai memakaikan celana juga baju.


Roman kembali masuk membawa tas Dokternya yang berisi peralatan medis langsung mengeluarkan stetoskop lalu menempelkannya pada dada sang menantu untuk mendengar detak jantungnya normal atau tidak lalu kemudian memeriksa kedua matanya.


Semuanya terlihat normal membuat wajah Roman yang tadi turut cemas berangsur berubah tenang.


"Ambilkan minyak angin Mah," pinta Roman pada istrinya yang segera bergerak mengambil minyak angin yang untungnya ada di kamar itu lalu langsung memberikannya pada sang suami.


Roman pun mengarahkan botol minyak angin itu ke hidung Darren agar segera sadar dari pingsan yang sudah membuat semua orang panik.

__ADS_1


Kepala Darren mulai bergerak-gerak seiring dengan kelopak matanya yang perlahan membuka.


Rona langsung memeluk suaminya seraya menangis haru, wanita itu benar-benar sangat takut jika suaminya yang sejak tadi lagi mengeluh pusing tidak akan sadar.


Segala bayangan ketakutan pun langsung saja menghinggapi pikiran wanita berkulit putih itu.


"Jangan nangis Na," kata Darren mengelus punggung wanita yang kian bergetar.


"Kakak bikin aku takut tau nggak!" seru Rona di tengah isak tangisnya.


"Kamu kenapa Darren, kok bisa pingsan?" tanya Roman dengan wajah serius.


Darren mengerjap sesaat untuk menormalkan pandangannya yang masih sedikit tak jelas.


"Tadi Darren mual banget, terus kepala Darren juga pusing, nggak tahan pusingnya abis itu Darren udah nggak tau lagi apa yang terjadi," jelas Darren.


"Wadduh!" seruan spontan dari Tania membuat semua mata tertuju padanya tidak terkecuali Rona yang sekarang sudah menghentikan tangisannya.


Roman sepertinya mengerti dengan yang sekarang ada di dalam pikiran istrinya itu sehingga membuat dia menghela nafas lalu mengambil sebuah benda dari dalam tasnya.


Rona terlihat bingung ketika sang Papa mengulurkan benda itu padanya, kerutan di keningnya terlihat dengan jelas.


Wanita itu mengangkat kepalanya yang tadi berlabuh di dada sang suami seraya tangannya mengusap air mata yang membuat jejak di kedua pipinya.


"Ini apaan Pah?" Tanya Rona tak mengerti.



"Mah." Roman malah memanggil istrinya yang sejak tadi menunjukkan raut wajah tak biasa.



Tania yang mengerti pun segera mengajak anaknya untuk ke kamar mandi dengan wajah sang anak yang dipenuhi dengan keheranan.



Suaminya yang pingsan tapi kenapa perhatian kedua orang tuanya itu malah tertuju padanya? Rona membatin tak mengerti namun tetap mengikuti saja ketika Mamanya menuntunnya masuk ke dalam kamar mandi dan wanita itu menutup pintunya.



\*\*\*\*

__ADS_1



\*\*\*\*\*


__ADS_2