Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 39


__ADS_3

Riana tengah duduk seorang diri di bangku taman dekat kampusnya setelah selesai melakukan video call dengan sang Ibu guna melihat pernikahan sang Adik yang di laksanakan hari ini.


Tugas kuliah membuatnya tidak bisa pulang untuk sekedar memberikan selamat pada Adik yang begitu Riana sayangi, gadis berusia 22 tahun itu tersenyum haru kala sang Adik yang begitu gagah dengan lantang tanpa kesalahan apapun mengucapkan ijab kabul yang akhirnya membuat Adiknya itu resmi menjadi seorang suami.


"Rasanya baru kemarin kita bermain bola bersama Darren, tapi sekarang kamu sudah harus bertanggung jawab menjadi seorang suami." tutur Riana yang masih mengingat jelas bahwa dulu dia dan Adiknya selalu bermain bola karena Adiknya itu yang terus merengek minta di temani.


Riana menarik napas panjang seraya mengulas senyum, sebenarnya ia sangat ingin menyaksikan langsung pernikahan Adiknya yang hanya di gelar sangat sederhana karena alasan Rona yang masih belum menerima pengumuman kelulusan, tapi apa daya tugas kuliah membuatnya terpaksa melewatkan momen itu dan hanya bisa berbicara dengan sang Adik lewat benda pipih yang ada di tangannya.


Riana memejamkan kedua matanya menikmati angin sore yang berhembus menerpa wajahnya di taman yang terasa sangat teduh karena pohon yang rimbun mampu menghantarkan udara yang sejuk untuknya sampai satu suara mengusik indera pendengarannya saat ini.



"Riana?" seru suara milik seorang lelaki yang tampak tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang ini, seorang gadis yang dulu menjadi teman masa kecilnya bahkan mereka sempat bersekolah di SMP yang sama hingga akhirnya dia harus pindah bersama orang tuanya keluar kota lalu setelah lulus sekolah langsung melanjutkan bisnis keluarga dan sekarang tengah mengecek bisnisnya yang ada di Singapura, hingga saat mobilnya melintas sebuah taman matanya seolah tertarik untuk melihat sebuah taman nan sejuk hingga akhirnya dia memarkirkan mobil di tepi taman dan turun dari mobil, matanya makin tak bisa mengerjap kala dari kejauhan dia melihat seraut wajah yang tampak tak asing baginya.



Riana membuka matanya lalu menoleh pada suara yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk, gadis itu memicingkan mata guna menegaskan pandangannya untuk mengenali lelaki yang tadi memanggilnya.



"Rian." gumam Riana pelan namun gerakan mulutnya bisa terbaca oleh lelaki di depan sana, lelaki itu mengangguk dengan senyum yang begitu sumringah dan kini melangkah menuju gadis yang sedari kecil sudah membuat kenangan manis untuknya hingga sampai saat ini pun dia tak sanggup untuk sekedar melupakannya barang sedetik pun.


"Adrian." Riana menyebut nama lelaki ketika jarak lelaki itu sudah semakin dekat dengannya.


Jantung Riana berdegup tak menentu kembali di pertemukan dengan lelaki yang dulu menjadi teman masa kecilnya, lelaki yang ia ketahui adalah anak dari teman sang Ayah pun dengan gerakan tenang duduk di sampingnya dengan senyuman yang tak juga sirna sedari dari.


"Kamu sedang apa di sini? kenapa sendirian?" tanya Adrian yang begitu ingin tau kenapa Riana bisa ada di Singapura setelah mereka lama tak berjumpa.

__ADS_1


"Aku kuliah di sini, karena aku ingin menikmati udara sore yang menyejukkan ini." kata Riana dengan semburat rasa canggung yang ada di hatinya, sungguh sekian lama tak bertemu membuat gadis itu merasa sangat bingung harus mengeluarkan kalimat apa, terlebih lagi lelaki di sampingnya ini dulu selalu menemani masa kecilnya.


Adrian mengangguk mengerti lalu kembali berbicara. "Nggak nyangka ya kita bisa ketemu di sini? ketemu di negara orang setelah bertahun-tahun lamanya." tutur lelaki yang penampilannya semakin sangat dewasa jauh berbeda dari yang Riana kenal dulu.


Yah pastinya setiap manusia akan mengalami perubahan bukan? begitu juga dengan seorang Adrian yang kini semakin terlihat sangat gagah dengan setelah jas yang dia kenakan, terlihat jelas bahwa lelaki itu kini sudah menjadi seorang yang sangat penting di perusahaan milik keluarganya.


"Om sama Tante apa kabar?" tanya Adrian yang memang sudah sangat mengenal Aditya dan Rianti.


"Baik." Riana menjawab singkat, apalagi kalau bukan karena ia masih terkejut bisa kembali bertemu dengan lelaki yang kini duduk di sampingnya.


"Kalau Darren bagaimana? pastinya dia sudah kuliah bukan?" kali ini menanyakan Darren yang yang dulu suka dia buat nangis karena terlalu sering mengganggunya ketika tengah asik bermain.


"Darren baik, bahkan sekarang dia sudah punya istri." kata Riana seraya tersenyum menyembunyikan rasa canggung yang menghinggapi dirinya.


Mata Adrian membulat sempurna mendengar penuturan gadis berambut sepundak di sampingnya itu.


"Menikah? Darren sudah menikah?" pertanyaan yang penuh ketidak percayaan di lontarkan oleh Adrian, bagaimana mau percaya jika dirinya saja yang lebih tua dari anak itu belum menikah.


"Kenal." sahut Adrian, terang saja dia tau karena Ayahnya dan Papahnya Rona juga saling mengenal karena memang satu sekolah sama dengan Aditya.


"Itu istrinya sekaligus Adik ipar ku." senyum Riana kembali mengembang mengingat dirinya sekarang yang sudah menjadi seorang Kakak ipar.


"Serius?" Adrian tampak makin sangat terkejut karena dia juga tau betul bahwa dulu Darren sering sekali mengerjai Rona hingga Rona kecil menangis karena perbuatan Darren, sungguh tak menyangka jika akhirnya mereka berdua menikah.


Lagi, Riana mengangguk cepat mengiyakan pertanyaan Adrian.


Adrian tertawa lebar. "Nggak nyangka ya ternyata mereka sudah menikah sekarang." tutur Adrian turut merasa senang.

__ADS_1


"Iya, aku di langkah." kata Riana sambil mengumbar senyum, bukan kesal hanya dia merasa tidak menyangka jika akhirnya sang Adik lah yang menikah lebih dulu ketimbang dirinya.


Adrian terdiam mendengar penuturan gadis di sampingnya seraya matanya menatap Riana yang tengah menatap lurus ke depan.


"Ana?" panggil Adrian pelan membuat Riana melihat padanya.


tanpa bertanya Riana hanya mengangkat kedua alisnya saja menunggu apa yang ingin disampaikan oleh teman masa kecilnya itu.


"Apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Adrian tanpa ragu.


Riana terdiam, bingung harus mengatakan apa, sebab hubungannya dengan Fariz memang dekat tapi lelaki itu tak juga kunjung mengungkapkan perasaan, hanya menunjukkan perhatian saja padanya.


Riana terdiam sangat lama, beruntung suara dering dari HP Adrian, membuat perhatian lelaki itu teralihkan dan memilih untuk menjawab panggilan dari sekretarisnya.


Riana memperhatikan punggung Adrian yang tampak sangat lebar, makin terlihat sempurna terbalut dengan jas yang lelaki itu pakai.


"Ana, aku ada urusan." ucap Adrian setelah menyelesaikan pembicaraan dengan sekretarisnya.


"Iya." jawab Riana.


"Em." Adrian terlihat ragu mengatakan sesuatu.


"Kenapa?" Riana menatap bingung.


"Bolehkah aku meminta nomor HP mu?" akhirnya mengatakan apa yang dia mau.


Riana tersenyum lalu mengulurkan HPnya yang langsung dengan cepat diambil oleh Adrian untuk mencat nomor Riana yang sudah ada di layar HP gadis itu.

__ADS_1


"Terimakasih, aku akan menghubungimu." kata Adrian bersemangat lalu tersenyum sumringah dan ketika sudah berada di dalam mobil pun lelaki itu masih saja tetap melihat pada Riana yang juga tengah menatapnya.


***


__ADS_2