
Daren terlihat tengah memakan makanannya dengan tenang, sedangkan di depannya sang Ayah juga melakukan hal yang sama, namun itu tidak berlaku untuk Rianti sebab sekarang kakinya berulang kali berusaha menendang kaki sang suami berusaha untuk mengingatkan sesuatu, akan tetapi yang ia lakukan malah sama sekali tidak menggoyahkan Aditya untuk berhenti menikmati makanan yang sudah ia buat.
Rianti tahu suaminya itu memang sangat menyukai apapun makanan buatannya, lelaki itu tidak menolak sedikitpun bahkan ketika Rianti menyodorkan Aditya segelas susu untuknya.
Meskipun Aditya tidak menyukai susu dalam gelas tapi ketika Rianti yang memberikannya lelaki itu akan tetap meminum dan memaksakan susu itu untuk masuk ke dalam perutnya sekalipun dengan ringisan yang tercetak di wajahnya.
"Mas!" kata Rianti yang mulai gemas.
"Selesai makan aja sayang." Aditya berkata pelan.
"Sekarang aja." pinta Rianti kali ini dengan bisikan.
"kalau sekarang ujungnya malah aku nggak jadi makan nanti." sahut Aditya.
Daren mulai melirik dua orang di depannya itu karena merasa dirinyalah yang tengah dibicarakan saat ini.
Pemuda itupun menyelesaikan makannya dengan cepat dan berniat untuk kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Jangan masuk kamar dulu, Ayah mau bicara." seru Rianti menghentikan langkah sang Anak menuju tangga.
"Ayah belum selesai makan Ibu." sahut Daren.
Mendengar perkataan Daren, Rianti mendelikkan matanya seram.
"Ya udah Daren tunggu di ruang tengah." sahut Daren akhirnya lalu memutar tubuhnya untuk beralih ke ruang tengah.
"Kamu galak banget sama anak." protes Aditya di sela makannya.
"Lagian kelakuannya mirip sama kamu." kata Rianti yang seakan tidak rela sifat Aditya menurun pada sang anak.
"Memangnya mau mirip sama siapa lagi kalau bukan sama Bapaknya? ngaco aja kalau ngomong." Aditya berekspresi konyol mendengar penuturan sang istri.
"Ya mirip aku kek, biar nggak nyusahin perempuan."
"Kalau semua mirip kamu ya aku yang pusing Yang, nggak sadar apa Riana kayak gimana? semuanya yang ada pada Riana itu duplikat kamu. pusing aku ngadepin kalian berdua kalau lagi ngambek." kalau sudah begini Aditya pasti akan membicarakan Riana yang menuruni semua yang ada pada Rianti, bukan hanya sikap tapi juga wajahnya malah seperti kembaran sang istri.
Rianti merengut mendengar pernyataan suaminya itu.
"Tuh kalau di ungkit soal Riana aja malah cemberut begitu." ucap Aditya melihat wajah istrinya yang di lipat karena kesal bagaikan sebuah cucian yang baru selesai di setrika.
__ADS_1
"Udah kamu makan dulu, nanti aku ngomong sama Daren, tenang aja dia juga nggak bakal berlebihan kok ngerjain Rona nya. kan kamu sendiri yang bilang kalau Daren itu suka sama Rona." Aditya menenangkan istrinya yang terlihat masih kesal sehingga makanan yang ada di piring sang istri pun masih terlihat utuh karena tidak juga di sentuh sejak di ambil tadi.
"Beneran ya, awas aja kalau malah ngomongin yang lain." ancam Rianti.
"Iyaa Sayang, Mas udah tahu kok resikonya kalau nggak nurutin keinginan kamu." ujar Aditya.
"Apa memangnya?" tanya Rianti.
"Tidur di kamar Daren." sahut Aditya dengan cepat.
"Mas mendingan tidur di kamar Riana aja deh daripada tidur sama Daren, itu anak kalau tidur nggak bisa diem, ampun badan Mas sakit semua di tendangin dia." keluh lelaki yang sudah menemani Rianti selama ini tentang bagaimana anak lelakinya itu jika sedang tidur.
"Rasain." malah merasa sangat puas dengan yang dialami oleh suaminya seraya berdiri dari kursi.
"Kamu mau kemana? itu makannya kenapa nggak dimakan?" Aditya melihat Rianti malah membawa piring makan berisi makanan yang belum juga di sentuh oleh istrinya itu.
"Aku diet." menjawab santai yang malah membuat mata Aditya melotot mendengarnya.
"Makan nggak! enak aja diet-diet segala. badan udah kurus begitu nggak usah pake diet siapa yang mau lihat!" mulut Aditya nyerocos panjang mengomeli istrinya yang mengatakan diet, padahal sejak dulu berat badan Rianti ya segitu-gitu saja, tidak pernah gemuk sekalinya gemuk itupun karena sedang hamil.
Rianti menggeleng membuat Aditya beranjak Dari kursinya dan menarik sang istri untuk kembali duduk.
"Makan! kalau nggak Mas nggak bakal nurutin permintaan kamu!" ancam Aditya malah seperti seorang Ayah yang sedang memarahi anak perempuannya.
"Mas ngapain di sini? Mas udah selesai makan kan?" tanya Rianti yang di jawab anggukan kepala oleh sang suami.
"Terus ngapain di sini?"
"Mau lihat kamu makan, nanti kalau di tinggal malah nggak jadi makan. udah cepat makan." suruh Aditya pada sang istri.
Rianti pun makan dengan diiringi tatapan mata suaminya yang tidak pernah lepas darinya meski hanya sedetik pun, hingga Rianti menyelesaikan makan barulah Aditya beranjak ke ruang tengah untuk menemui sang anak yang tampak sibuk memainkan HPnya seraya duduk di atas karpet dan bersandar di bawah sofa.
Daren lantas menyimpan HPnya di sampingnya ketika menyadari sang Ayah berjalan ke sofa dan duduk disertai dengan tarikan napas yang kencang.
Lihatlah betapa ketampanan Daren saat ini karena semua itu di turunkan oleh Ayahnya di bantu dengan Rianti, sebab terlihat sekali bahwa wajah Daren perpaduan antar Ayah dan Ibunya, berbeda dengan Riana yang semuanya menurun dari sang Ibu bahkan seperti tidak mau menuruni wajah Ayahnya sendiri.
"Kamu apain Rona?" Aditya mulai bertanya tanpa basa-basi sebab pasti Daren sudah mengerti maksud pertanyaannya.
"Nggak Daren apa-apain." menyahut tenang dengan wajah biasa.
__ADS_1
"Jangan bohong Daren." Rianti yang baru masuk langsung nimbrung dan duduk di samping Aditya.
"Ih beneran Bu, emang Daren nggak apa-apain kok." aku Daren.
"Daren." seru Aditya yang tidak suka Daren berdebat dengan istrinya.
Daren membuang napasnya sesaat.
"Rona kenapa?" tanya Aditya dengan wajah yang terlihat berwibawa.
"Daren tinggalin Rona waktu dia minta anterin ke sekolah." akhirnya mengaku namun baru sebagian.
"Tuh kan." kata Rianti.
"Kenapa di tinggal?" tanya Aditya.
"Daren udah terlambat ke kampus Ayah." sahut Daren melihat sang Ayah.
"Lah kampus kamu aja ngelewatin sekolahnya Rona kok." kata Rianti yang merasa anaknya itu tak jelas tingkahnya.
Daren terdiam mendengar omongan Ibunya, memang sebenarnya jalan menuju kampusnya itu melewati sekolah Rona, hanya saja saat itu dia kesal melihat Rona berduaan dengan pemuda berseragam SMA bahkan akan naik ke motor pemuda yang dia tidak tahu namanya siapa.
"Kalau kamu nggak mau anterin Rona ke sekolahnya, ngapain kamu pake larang dia buat pergi bareng sama temannya?!" tuding Rianti yang sudah dengar semua dari Rona.
"Dih siapa yang larang." sahut Daren tidak terima dengan pernyataan sang Ibu.
"Ya kamu itu! kalau cemburu tuh ngomong, cemburu kok malah ngerjain. kalau nanti Rona suka sama cowok lain baru rasa kamu." omel Rianti di samping Aditya yang hanya bisa terdiam menjadi pendengar antara Ibu dan anak.
"Pake nggak ngaku lagi." lanjut Rianti.
"Nggak bakal Rona suka sama cowok lain." dengan pedenya Daren berkata yang langsung di angguki oleh sang Ayah di Sertai dengan satu jempol yang terangkat.
Melihat sikap suaminya seperti itu, Rianti pun memukul lengan sang suami.
"Anaknya ke pedean kayak gitu malah di iyain." sentak Rianti.
Aditya pun tak bisa berkata, hanya matanya saja yang bergerak ke sana sini tak jelas.
"Anak sama Ayah sama aja!" omel Rianti seraya pergi, ia merasa menyesal mengadukan sikap Daren pada suaminya itu padahal ia tahu Aditya selalu berada di pihak Daren.
__ADS_1
"Riana pulang Nak, bantu Ibu." seru Rianti yang membuat Daren serta Ayahnya saling memandang dan tertawa.
****