
Darren sudah sepenuhnya menguasai tubuh Rona yang kini berada di bawah tubuhnya.
Lelaki itu mengungkung tubuh sang gadis hingga tidak bisa kemanapun, Darren masih terus menghayati setiap kecupan yang dia berikan kepada Rona dengan mata terpejam, hingga sedetik kemudian matanya terbuka dan saling berpandangan dengan mata Rona yang sudah tampak berbinar karena seperti tengah menahan tangis.
"Astaga." Darren terpekik kaget dengan apa yang hampir saja dia lakukan terhadap gadis yang dia cintai.
Dengan segera lelaki itu bergerak menjauhi tubuh Rona dan mencari sweater milik sang gadis yang tadi sempat dia lemparkan entah kemana, tangannya mencari dalam gelapnya tenda itu dan ketika menemukannya segera saja dia menutupi tubuh Rona yang sudah polos karena perbuatannya.
Jantung Darren berdebar sangat kencang, tidak bisa membayangkan apa yang akan dia terjadi padanya dan juga Rona jika dia mengatakan pada orang tuanya juga orang tua Rona jika sampai dia dan Rona melakukan zina.
"Pakai Na." pinta Darren seraya menumpulkan pakaian dalam Rona pada gadis yang kini sudah duduk berhadapan dengannya itu.
Rona pun segera memakai pakaiannya kembali dengan air mata yang sudah turun membasahi wajahnya, sungguh sejak tadi ia sudah merasa sangat takut dan mencoba untuk mengingatkan Darren, tapi lelaki itu seolah tidak mendengarkan ucapannya malah semakin memaksa membuat ia akhirnya hanya bisa diam saja seraya berdoa agar Darren tersadar dari apa yang akan dia lakukan.
"Maafkan aku Na." Darren berkata lirih setelah memakai kembali flanel nya, Darren juga tidak menyangka akan membuka seluruh pakaian yang ada di tubuh Rona hingga tadi pun dia bisa menyentuh semuanya dengan bebas.
"Rona takut Kak." lirih Rona seraya memakai kembali celana panjangnya.
Darren mendekat pada Rona dan membantunya memakai sweater lalu memeluk erat tubuh sang gadis, tubuh gadis yang hampir saja dia nodai.
Rona menjatuhkan kepalanya di atas dada Darren yang mendekapnya sangat erat.
Darren memejamkan kedua matanya turut merasakan kepedihan yang Rona rasakan karena mereka yang hampir saja tidak bisa mengendalikan diri.
Dan Darren pun semakin yakin untuk segera menikah dengan Rona, dia merasa akan semakin bahaya jika tidak menikah, sebab dia tidak mungkin selamanya bisa mengendalikan dirinya terlebih lagi dia juga tidak bisa mengandalkan Rona untuk terus mengingatkan dirinya, bahkan tadi saja dia juga tidak mau mendengarkan peringatan dari gadis itu.
Keduanya larut dalam perasaan masing-masing hingga akhirnya Rona tertidur di dalam pelukan Darren yang sampai pagi pun tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, menyesali perbuatan gila yang hampir saja dia lakukan.
Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya dengan asap kabut yang masih cukup tebal di sekitar tempat mereka camping.
__ADS_1
Darren merebahkan tubuh Rona lalu mencium keningnya dan beranjak keluar dari tenda yang langsung di sambut oleh kicauan burung-burung di atas pohon.
Melihat Permana dan Bimo yang sedang menghangatkan tubuh di dekat api, Darren pun menuju keduanya.
Permana langsung membuatkan teh panas untuk Darren, sangat jelas terlihat bahwa Permana teman dekat bagi Darren.
"Rona belum bangun?" tanya Permana kemudian setelah Darren duduk.
"Belum bangun lah, kecapean paling." malah Bimo yang menyambar dengan tatapan yang sangat mengejek seolah dia tau benar apa yang sudah dilakukan oleh Darren di dalam tenda semalaman.
"Jangan mulai Bim." Permana mulai tidak suka dengan sikap Bimo yang memang sangat suka sekali berkata seenaknya tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Darren menarik napas kasar seraya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan Bimo yang terkesan menyindirnya.
"Kenyataan lah, emangnya siapa sih yang bakal nolak kalau di tidurin sama cowok macam Darren ini, kita tau sendiri siapa Ayahnya ya nggak Gung?" kali ini mencari dukungan pada Agung.
"Ya emang iya Gung, lihat aja Sherin ngebet banget sama Darren." kata Bimo lagi seolah tidak peduli bahwa Darren sudah terlihat mengeraskan rahangnya masih menyimpan kemarahan dalam dirinya.
Dalam hati Darren sudah mengancam, jika sekali lagi Bimo menyebut nama Rona bisa di pastikan kepalannya akan melayang di wajah temannya itu.
"Apa lagi cewek macam kayak si Rona."
"Cewek macam apa Rona?!" Darren sudah berdiri marah di depan Bimo yang mengernyit.
"Modelan bocah kayak gitu malah seneng di tidurin sama anak kuliahan macam kita Ren, Nggak usah munafik lah. emang kenyataannya kayak gitu coba jujur sama gue udah berapa kali tuh anak lu tidurin?" pertanyaan yang semakin ngelantur dan menyakitkan terus saja dilontarkan oleh Bimo membuat darah Darren semakin mendidih karenanya.
__ADS_1
Tanpa berkata lagi Darren pun melayangkan kepalan tangannya yang sudah dia persiapkan sejak tadi.
Bugh bugh..
Memukul tanpa ampun dengan mata yang menunjukkan amarah.
Dia sangat tidak terima gadis yang dia cintai di hina seperti itu oleh orang yang bahkan jauh lebih tidak bermoral darinya.
"Jangan pernah samakan Rona dengan semua perempuan yang udah lu tidurin!! gue nggak terima!" Darren berkata tajam seraya menduduki tubuh Bimo yang wajahnya menjadi sasaran amarahnya saat ini.
"Darren udah Darren." pinta Permana mencoba menjauhkan tubuh Darren sedangkan agung dan Angga menarik Bimo yang memandang Darren dengan tatapan sinis.
Bimo sangat tidak terima dengan apa yang baru saja Darren lakukan padanya.
Permana pun meminta Agung membawa Bimo menjauh, Bimo pun beranjak seraya meludah di depan api yang membuat Darren kembali berontak.
"Lepasin gue!!" teriaknya kencang pada Permana hingga membuat Rona yang tadi tidur pun terbangun dan segera berlari keluar saat mengetahui itu adalah suara Darren.
Semua mata yang sejak tadi menyaksikan perkelahian dua lelaki itu pun beralih melihat Rona yang terlihat sangat khawatir.
Mata keempat orang wanita pun menatap Rona dengan kekesalan karena mereka berpikir Rona lah yang menjadi biang keladi atas perkelahian antara Darren dan Bimo saat ini.
"kamu kenapa?" tanya Rona panik.
"Aku nggak apa-apa." sahut Darren seraya menggeleng.
Rendi yang sejak tadi menunjukkan ekspresi tenang hanya melirik Darren saja dan kemudian berlalu menuju Bimo yang sedang berada di bawah pohon bersama dengan Nella.
****
__ADS_1