Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 99


__ADS_3

"aaarrrgggghhhh, sialaaan!" pekik Melly menghancurkan apapun yang ada di atas meja kerjanya.


Sikap yang di tunjukkan oleh Aditya membuatnya kesal, wanita itu bahkan merasa sangat keterlaluan karena sudah membuang cincin kenangan miliknya.


"Tolong kendalikan diri anda," pinta Dirsya sambil menunjukkan raut wajah ngeri dengan semua yang sedang Melly lakukan di depan matanya.


Sungguh ini pertama kalinya dia melihat atasannya mengamuk, yah meskipun dia sudah tahu bagaimana perangai Melly yang sangat sombong serta angkuh itu namun ini pertama kalinya dia menyaksikan wanita itu membuat ruangan kerja yang tadinya tertata rapi menjadi bagaikan baru terkena gempa berkekuatan besar.


Hancur berantakan di segala-galanya, dan sepertinya semua berkas-berkas kerja pun ikut berhamburan di lantai, Dirsya sudah bisa membayangkan setelah ini dirinyalah yang akan di susahkan untuk mengumpulkan kembali semua berkas-berkas itu.


Dirsya perlahan memunguti berkas-berkas itu karena takut ada yang rusak karena itu akan menyusahkan nantinya akan menyusahkan dirinya.



Asisten itu benar-benar harus menyabarkan dirinya sendiri menghadapi atasan seperti Melly.



\*\*\*\*\*


"Kamu tau apa yang harus kamu lakukan bukan?" tanya Aditya pada sang asisten ketika mereka baru saja keluar dari kantor.


"Anda sepertinya mulai meragukan kepekaan yang saya miliki," sahut Johan membuat Aditya berhenti melangkah.


Aditya memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana lalu menatap sang asisten dengan begitu intens.


"Saya hanya bergurau," kata Johan seraya menggaruk daun telinganya yang entah kenapa mendadak sangat ingin di garuk.


Setelah mendengar pengakuan Johan Aditya pun segera menghentikan apa yang dia lakukan lalu kembali melangkah seraya mengibaskan Jas yang dia pakai, terlihat sangat konyol karena Johan pun langsung menggelengkan kepalanya sambil ikut menggerakkan kakinya mengekori sang atasan.


Seperti biasa Johan akan bertindak sebagai asisten sekaligus supir pribadi atasannya, padahal Aditya bahkan sudah membayar supir namun tetap saja dirinyalah yang selalu menyupiri pria itu kemanapun pergi, seolah tidak ada kepuasaan dalam diri sang atasan jika tidak memberikannya pekerjaan yang banyak.


Di dalam mobil Johan sempat melirik ke arah Aditya yang sedang menjawab telepon, telinganya pun berkedut ingin ikut mendengarkan pembicaraan pria yang sekarang dia sangat tau tidak mempunyai apa-apa, sebab semua harta dan asetnya sudah menjadi milik Rianti.

__ADS_1


"Apa? Darren ngidam?!" pekik Aditya dengan suara yang lantang.


Ciiiiiitttttt!


Bahkan membuat Johan menginjak rem mendadak karena diapun mendengar jelas apa yang Aditya katakan dan sungguh membuatnya terkejut hingga spontan menginjak rem membuat klakson kendaraan yang ada di belakang mereka langsung berbunyi nyaring membuat Aditya menutup sebelah telinganya.


TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNN!!!!


"Gila lu Han! mau bikin gua mati!" maki Aditya seperti biasa dengan menghilangkan perkataan formal jika sudah sangat kesal dengan asistennya itu.


"Kalau anda mati saya juga akan mati Pak, minimal luka-luka atau masuk penjara karena lalai dalam berkendara," jawab Johan menoleh pada atasannya yang mendengus, lalu pria itu segera menurunkan kaca mobilnya untuk meminta maaf pada orang-orang yang tengah mengumpat.


Aditya melirik sinis pada sang asisten lalu kembali berbicara pada sang istri yang meneleponnya dan kini bertanya-tanya apa yang tengah terjadi sehingga membuat suaminya itu berkata sangat kencang.


"Kamu kenapa Mas? nggak apa-apa kan? aku panik loh ini," cecar Rianti.


Sangat terlihat bahwa sekarang wajahnya sangat pias mendengar suara kencang suaminya.


Dan di saat yang bersamaan Johan pun kembali melajukan mobil ke tengah untuk kembali melanjutkan perjalanan setelah sebuah adegan yang hampir saja membuat nyawanya terlepas dari jasadnya.


Berulang kali Johan menghela nafas sambil memasang mata serta telinga, fokus pada kendaraan serta jalanan namun juga fokus pada suara Aditya yang berbicara cukup keras membuat dia makin penasaran.


"Kok malah jadi aku yang di bilang ngelantur segala," tutur Rianti tak terima malah ia yang kian terlihat salah.


"Ya kamu ngelantur, mana bisa Darren ngidam! kamu pikir dia bisa hamil! jangan jadi bikin otak aku nggak jelas deh sama omongan kamu," celetuk Aditya sengit.


"Lagian siapa yang bilang sama kamu kalau Darren itu ngidam, ngaco tuh orang!" sambung Aditya masih dengan emosi yang berada di tingkat paling atas.


Bagaimana tidak emosi jika nyawanya saja hampir menjadi taruhan karena perkataan tak wajar dari istrinya itu, perkataan tak masuk akal tentang putranya yang tengah ngidam.


"Tania yang bilang!" seru Rianti gemas.


Aditya mendesah berat seraya mengusap wajahnya kasar, kenapa sejak tadi ada saja orang yang memancing emosinya dari mulai Melly yang tiba-tiba muncul dengan segala pernyataan yang memuakkan serta istrinya yang sekarang malah terus mengeluarkan pernyataan tak masuk akan yang bisa dia terima begitu saja.

__ADS_1


Tidak perlu memikirkan ulah asistennya karena asistennya sejak dulu pun selalu sukses menguras emosinya.


"Kenapa mesti dengerin Tania sayaaang?" keluh Aditya dengan nada suara yang terdengar sangat frustasi.


"Anak kita itu laki-laki loh, dia nggak mungkin ngidam, yang harusnya ngidam itu Rona," jelas Aditya.


Sepertinya pria itu sudah salah paham dengan yang tadi di katakan oleh istrinya, memang salah istrinya yang berkata tak jelas padahal ia tau sendiri bagaimana suaminya itu sangat susah untuk mengerti jika orang tidak berkata dengan jelas.


Sudah sering kali hal itu terjadi bahkan tadi pun dia masih belum sadar akan ucapan Johan tentang maskawin.


"Dia itu istri Dokter, jadi dia lebih tau!" lagi-lagi Rianti berkata kencang dengan tingkat gemas yang sudah menggunung.


"Roman kan teman kamu, kamu juga tau sendiri profesi teman kamu itu apa," sambung Rianti seakan ingin mengingatkan suaminya barangkali pria itu sudah lupa jika memiliki teman sekaligus besan seorang Dokter kandungan.


Karena kesal Rianti pun memutuskan telepon begitu saja membuat Aditya sedikit terjengkit ke belakang bersandar pada bangku penumpang di dalam mobil dan kemudian memijat pangkat hidungnya.


"Kamu pernah mendengar laki-laki ngidam?" tanya Aditya pada asistennya.


"Maksud Bapak?" Johan balik bertanya dengan pertanyaan absurd yang Aditya lontarkan.


Walaupun sedari tadi dia mendengar pembicaraan yang Aditya lakukan namun kenyataannya tidak membuat dia bisa memberikan jawaban.


Aditya menggaruk ujung alisnya lalu berkata, "tidak perlu menjawab, fokus saja menyetir," kata Aditya datar.



Pria itu menyadari percuma saja bertanya pada asisten menyebalkan nya itu, bukan mendapat jawaban malah makin menumpukkan kekesalan yang sedari tadi menyerang dirinya bertubi-tubi.



Johan pun tidak berkata apapun lagi, pria itu terus menjalankan mobil membelah jalanan sore dimana orang-orang mulai memadatinya karena ini memang sudah jam pulang kerja.


****

__ADS_1


__ADS_2