Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
bab 58


__ADS_3

Roman dan Tania sudah dalam perjalanan pulang,Roman yang mengajak pulang segera karena ia tak betah berada di rumah sakit, alasannya pekerjaan sebagai dokter sudah membuat ia terlalu sering berada di tempat yang mempunyai bau khas, yaitu bau obat-obatan. dan alasan lainnya adalah dia enggan menyaksikan adik iparnya terus menangis merengek pada sang istri mengeluarkan air mata buayanya agar istrinya mau menuruti permintaan untuk membayar tagihan rumah sakit.


"Duit gue banyak , tapi bukan berarti gue harus manghamburkan nya buat manusia modelan kunyuk kayak si Imran yang juga sudah pernah mengganggu rumah tangga gue." batin Roman kalau itu ketika telinganya di hiasi tangisan Selfi mengenai biaya rumah sakit.


Di mobil mereka saling diam, Roman dengan gerutuan nya di dalam hati.


Sedang Tania yang tengah berusaha merangkai kata untuk meminta bantuan sang suami agar mau membantu membayar rumah sakit.


"A."


"Nggak ada!! aku nggak mau nanggung biaya apapun, Imran siapa? aku nggak ada urusan sama dia, biar aja mereka urus urusan mereka aku nggak mau terlibat sedikitpun apalagi ngeluarin uang aku buat nyembuhin tuh orang, enak aja. nanti kalau udah sembuh tuh orang malah makin seenaknya!!" berkata panjang padahal sang istri baru memanggilnya saja, belum mengutarakan isi hati, namun Roman sudah bisa membaca apa yang akan di katakan istrinya itu, sudah pasti masih mengenai Imran dan juga adiknya itu.


Tania diam seraya menunduk meremas jari-jarinya mendengar bentakan dari sang suami yang seperti nya baru ia alami selama menikah dengan Roman.


"kalau cuma buat biayain hidup adik kamu, aku masih mau, tapi kalau udah menyangkut si Imran, jangan harap." Roman menggeleng seraya tatapan nya lurus ke depan memperhatikan jalan.


"eemm." Tania berkata ragu.


Roman memasang telinga menunggu perkataan apa yang akan keluar dari mulut istrinya.


"Kalau pakai uang aku, boleh?" masih menunduk tak berani mengangkat wajahnya.


Mendengar penuturan istrinya secepat kilat Roman menginjak rem hingga ban mobil berdecitan di aspal.


Perbuatan Roman itu membuat tubuh mereka bergerak ke depan, hampir saja membentur kaca jika mereka tidak memakai sabuk pengaman.


Roman memukul stir dengan kencang seraya menatap tajam Tania yang seperti nya sudah makin ketakutan dengan emosi yang kini melanda sang suami. dia tak mengerti kenapa suaminya itu menjadi seperti ini padahal dirinya hanya ingin membantu sang adik.


"Kamu ngerti aku ngomong nggak dari tadi? NGERTI NGGAK?!!!!" membentak hingga membuat Tania tersentak kaget apalagi suaminya berkata kencang di dekat telinganya.


"Uang kamu itu, uang yang aku kasih." kata Roman emosi, sungguh emosi orang yang sering ngelucu itu memang lebih menakutkan.


Tania makin menundukkan kepalanya merasa lelaki di sebelah nya ini seperti bukan lelaki yang ia nikahi dulu, tak pernah rasanya ia di bentak seperti ini apalagi di pinggir jalan dan dalam keadaan hamil.


Tania mengerti uang yang ia miliki memang pemberian suaminya itu, tapi tidak seharusnya suaminya mengatakan hal itu dalam keadaan marah seperti sekarang ini , membuat hatinya terluka karena sebagai istri dia memang tidak mempunyai penghasilan setelah tak bekerja.

__ADS_1


Roman dengan tingkat emosi yang sudah di ujung kepala seperti tak sadar mengatakan hal yang menyinggung sang istri, yang ia pikirkan sekarang hanya tak mau membiayai Imran karena ia tahu setelah sembuh nanti orang itu akan kembali membuat ulah padanya atau pada Aditya.


"Pokoknya aku nggak mau denger apapun lagi soal si Imran." mengultimatum Tania yang tetap menundukkan kepalanya menyembunyikan air mata yang sudah menetes sejak tadi.


Roman kembali melajukan mobilnya mengantar Tania pulang ke rumah, sedang dirinya akan langsung pergi ke rumah sakit tempat dia praktek.


Sampai di rumah sakit Roman langsung menuju ruangannya dengan langkah tegap serat gerakan yang cepat , bahkan saat seorang dokter menyapanya ia sama sekali tak menjawab, tujuannya hanya pada satu ruangan tempat ia bekerja memeriksa pasien-pasiennya yang sudah berdatangan.


Di dalam ruangan Roman lantas menyambar jubah putihnya yang langsung ia pakai.


"Ini daftar pasiennya dok." suster memberikan daftar pasien nya yang sudah datang dan menunggunya.


"Ninda?" gumamnya saat menemukan nama mantan kekasihnya ada di daftar pasien.


"Bukannya Ninda saya jadwalkan minggu besok sus?" tanyanya pada suster yang kini merapikan tempat tidur yang akan di gunakan untuk memeriksa pasien.


"Benar dok." sahut suster.


"Terus ini kok dia datang hari ini?" tanya Roman seraya menunjuk nama mantan kekasih nya itu.


Roman diam tak banyak bertanya lagi.


"Sudah siap dok." kata suster berdiri di depan meja sang dokter.


"Ya, panggil pasien sekarang." meminta pasien segera di panggil.


Pasien pertama masuk dengan berbagai keluhan semasa kehamilan yang tengah di rasakan.


Sebagai seorang dokter Roman mendengarkan apa yang di katakan pasien lalu setelah itu tugas selanjutnya adalah memeriksa sang pasien lalu meresepkan obat yang harus di tebus.


Pekerjaan yang memusingkan namun banyak juga yang tertarik hingga belajar sekian lama untuk menyandang gelar SPOG, Profesi yang sedari dulu memang ia impikan.


"Berapa orang lagi?" tanya Roman pada si suster yang langsung mengecek daftar pasien tinggal berapa.


"3 pasien lagi dok."

__ADS_1


"Kok hari ini banyak banget sus?" tanya Roman seraya melihat jam tangannya dan menyadari hari sudah mulai gelap.


"Sepertinya banyak pasien baru yang di rujuk oleh bidan dok." sahut suster.


Pasien demi pasien masuk bergantian hingga akhirnya suster memanggil nama Ninda yang membuat Roman berusaha menunjukkan ke profesionalitas nya sebagai seorang dokter berpengalaman.


Ninda masuk saat Roman tengah mengecek daftar riwayat penyakit yang di derita oleh Ninda.


Penyakit datang bulan yang sering membuat wanita itu merasakan sakit berlebihan hingga kadang membuat wanita itu pingsan tak sadarkan diri.


"Aku ke sini bukan mau periksa." Ninda mengatakan maksud kedatangannya terlebih dulu sebelum Roman membuka mulut, membuat Roman dan suster saling melihat bingung.


"Terus ke sini mau ngapain?" tanya Roman seraya membanting kertas keatas meja hingga membuat suster yang berdiri di dekatnya tampak tersentak tak menduga dokter yang biasanya ramah malah terlihat kesal terhadap wanita yang duduk di depannya.


"Ada yang mau aku bicarain berdua sama kamu."


"Cuma mau bicara kenapa harus mendaftar sebagai pasien?" berkata dingin.


Dirinya sudah kesal dengan urusan Imran di tambah lagi Ninda yang hanya memenuhi daftar pasien nya saja hari ini, padahal hanya ingin berbicara padanya.


"Aku nggak punya nomor telepon kamu."


Suster yang sejak tadi ikut mendengar pembicaraan dua orang di dekatnya dengan kening berkerut, merasa aneh, sebab biasanya para pasien yang di tangani oleh dokternya itu otomatis akan menyimpan nomor sang dokter agar bisa menghubunginya langsung jika ada yang perlu di tanyakan atau ada hal buruk tentang keadaan pasien.


Tapi kali ini sungguh aneh, sang dokter yang sengaja tidak memberikan nomor ponsel nya atau si pasien yang tidak memintanya.


"Mau ngomong apa?" tanya Roman akhirnya.


"Nggak di sini." ujar Ninda seraya melihat suster yang masih tak mau pergi juga dari ruangan itu, padahal seharusnya sang suster merasa peka harus berbuat apa ketika ada yang berkata ingin berbicara berdua saja dengan lelaki di diantara mereka.


"Tunggu di luar saja, saya selesaikan pekerjaan saya dulu." ucap Roman dengan kata saya sebagai panggilan untuk dirinya masih menempatkan dirinya sebagai seorang dokter terhadap pasien, tidak ada lagi panggilan aku kamu seperti yang Ninda ucapkan.


*********


Mulai konflik tipis-tipis yaa, nggak usah panjang biar nggak pusing bacanya...

__ADS_1


__ADS_2