
Rona berjalan riang di samping Darren ketika memasuki sebuah Mall besar dimana mereka langsung menuju bioskop yang nyatanya sudah di penuhi oleh banyaknya orang yang di dominasi oleh pasangan muda-mudi, sepertinya hari libur ini seperti hari kencan nasional bagi semua pasangan.
Rona tengah berdiri seorang diri sambil melihat-lihat poster-poster yang tertempel di dinding tempat itu, sedangkan Darren tengah mengantri untuk beli tiket nonton mereka tentunya setelah terjadi perdebatan antara mereka untuk menonton film apa.
Rona yang ingin nonton kisah percintaan sedangkan Darren malah ingin menonton film horror Entah apa maksudnya lelaki itu karena begitu ngototnya padahal Rona sudah mengatakan bahwa ia takut, tapi Darren tak mau mengalah dan segera mengeluarkan jurusnya agar Rona mengikuti kemauannya, dan akhirnya inilah yang terjadi, dengan senyum kemenangan karena Rona pasrah dengan yang di mau oleh Darren.
Darren selesai membeli tiket dan menuju wanita yang sekarang tengah berdiri bersama dengan dua orang lelaki yang satunya Darren kenal.
"Ck, bocah tengil ngapain di sini!" gerutu Darren seraya menuju Rona.
"Ayo masuk." ajak Darren tanpa memperdulikan dua orang lelaki di depannya.
"Loh, lu ngapain Na sama Om-Om gini? gue bilangin Papah lu ya." perkataan Tyo terang saja membuat Darren meradang.
"Heh, gue bukan Om lu!" omel Darren seraya mendelik seram.
"Tyo." seru Rona sambil menarik tangan temannya itu menjauh.
"Kamu mau kemana?" tanya Darren tidak senang melihat Rona pergi membawa Tyo.
"Aku ngomong dulu sama Tyo sebentar." sahut Rona.
"Nggak usah pakai pegang tangan dia segala." ujar Darren garang yang serentak membuat Rona melepaskan tangan Tyo.
Se perginya Rona dan Tyo, tinggallah Darren dan teman Tyo yang berdiri bak patung di depan Darren Karen tidak bisa berkutik kala mendapatkan tatapan yang luar biasa tajam dari lelaki di depannya itu.
"Ngapain berdiri di situ?!" desis Darren yang malah jadi jengah sendiri.
Cuma gelengan kepala yang di lakukan bocah seusia Tyo tanpa berani beranjak sedikitpun.
Darren mendengus kesal lalu mencari tempat duduk menunggu Rona sambil matanya tetap mengawasi apa yang di lakukan oleh calon istrinya dan si bocah tengil bernama Tyo tak jauh di depan sana.
Baru setelah Darren beranjak dari depannya temannya Tyo langsung menghembuskan napas yang luar biasa leganya.
"Ngapain si Na? gue mau nonton ini." ucap Tyo saat sudah berdua dengan Rona.
"Lu jangan Panggil Om terus sama Kak Darren." Rona memperingatkan.
"Emangnya kenapa? suka-suka gue dong. lagian tuh orang demen banget marah." sahut Tyo ngeyel, rupanya dia sengaja memanggil Darren dengan sebutan Om karena memang ingin memancing kekesalan seorang Darren.
__ADS_1
"Lu mau di hajar sama dia?!" Rona menakut-nakuti temannya itu.
"Dih nggak takut gue." dengan sok nya menjawab padahal di lihat dari body nya saja Tyo kalah jauh dari Darren yang memiliki tubuh selayaknya lelaki yang sering berolah raga, sedangkan Tyo? sudah jangan di tanya lagi, sekali pukul mungkin bisa terhempas jauh.
"Lagian lu ngapain sih jalan sama cowok galak gitu?!" sungut Tyo seraya melihat ke arah Darren yang langsung memberikan tatapan tajam padanya.
"Itu calon suami gue." jawab Rona.
Dan ekspresi Tyo pun menjadi begitu tidak percaya dengan ucapan yang baru saja di dengar olehnya.
"Lu lagi mimpi?" malah menyentuh kening Rona.
Darren yang melihat itu langsung menghampiri Rona dan menariknya.
"Filmnya udah mau di mulai." kata Darren membawa Rona pergi dari Tyo.
Mulut Tyo masih menganga saja melihat apa yang dilakukan oleh Darren saat ini.
Kening Tyo mengernyit tak mau percaya.
"Jadi nonton nggak?" kata sang teman yang sudah berdiri di samping Tyo yang masih berdiri mematung.
"Nggak jelas." gerutunya seraya menyusul Tyo.
Darren dan Rona tampak sudah duduk di kursi menunggu film horror pilihan Darren di mulai.
Tak lama film pun di mulai, dan wajah Rona sudah berubah menjadi pucat.
"Kak." panggil Rona.
"Hm."
"Aku takut." ucap Rona yang memang selalu takut jika menonton film Horror apalagi seperti yang di perlihatkan saat ini.
Sungguh setelah ini pun mungkin Rona masih akan terbayang hingga tidur nanti dan sepertinya Rona akan menahan untuk tidak ke kamar mandi sepanjang malam.
"Pegangan." ucap Darren seraya mengulurkan tangannya.
"Kita bukan mau nyeberang jalan Kak." sahut Rona seenaknya yang membuat Darren menatap dirinya.
__ADS_1
"Bisa serius nggak?" tanya Darren dan kini sorot matanya seperti menyala di dalam bioskop yang gelap itu.
"Aku kan lagi nggak bercanda." rajuk Rona.
"Aku juga lagi nggak bercanda, ini di suruh pegang tangan aku biar nggak takut malah jawabnya kayak gitu." sungut Darren yang memang sangat jarang berkata ceplas ceplos seperti wanita di sampingnya sekarang ini.
"Iya maaf." ucap Rona.
Dan tanpa bicara Darren pun lantas menggenggam tangan Rona dengan sangat erat.
Suara film sudah mulai terdengar sangat mengerikan membuat Rona mempererat genggamannya di tangan Darren seraya memejamkan kedua matanya.
Tanpa Rona sadari ternyata wajah Darren sudah berada sangat dekat dengan dirinya bahkan hembusan Darren bisa Rona rasakan menerpa pipi hingga membuat Rona membuka mata dan menoleh.
Dalam sekejap pipinya menyentuh kedua bibir Darren.
"Kakak ngapain sih?" tanya Rona dengan wajah yang malu karena ketidak sengajaan nya itu sedangkan Darren masih menunjukkan sikap yang normal seperti tidak terjadi apa-apa.
"Rona." bisik Darren dengan suaranya yang begitu memabukkan di telinga Rona.
"Iya." sahut Rona namun wajahnya terus menunduk.
"Angkat wajah kamu." pinta lelaki yang ada di sampingnya itu.
Seperti orang terkena hipnotis Rona melakukan permintaan Darren, kini wajah mereka sudah berhadapan dan mata yang saling menatap di tengah gelapnya bioskop karena hanya ada sinar dari layar besar di depan sana.
Jantung Rona tidak bisa berdetak dengan normal ketika berhadapan sangat dekat dengan lelaki yang ia sayangi itu lebih lagi ketika Darren semakin memajukan wajahnya, dekat dan semakin dekat hingga bibir mereka kembali bersentuhan sama seperti saat di kampus tadi.
Untuk kedua kalinya Darren mendaratkan bibirnya pada bibir merah Rona yang sejak Darren mengetahui bahwa dialah orang pertama yang menyentuh bibir itu membuat Darren merasa ingin kembali mengulanginya lagi dan lagi.
Seperti saat ini dia tengah mempermainkan bibir wanitanya bahkan tidak peduli tengah berada dimana mereka saat ini, beruntung tempat yang mereka datangi membuat Darren leluasa mencium Rona.
Mereka melakukan hampir satu menit namun harus menyudahinya saat mendengar teriakan ketakutan dari para penonton ketika melihat adegan mengerikan di layar besar itu.
Darren menatap Rona yang menunduk malu, tentu saja sudah pasti saat ini kedua pipi Rona sudah berwarna merah karena perbuatannya.
Dan dengan gerakan lembut Darren mencium kening Rona seolah mengatakan bahwa dia sangat menyayangi wanita yang kelak akan menjadi istrinya itu.
****
__ADS_1