
Sherin seolah sudah melupakan bahwa ia masih mempunyai seorang Mama, karena setelah pertama kali ia mendatangi Melly di penjara rupanya itu juga untuk yang terakhir kali karena sampai sekarang pun ia tidak lagi mengunjungi tempat itu untuk bertemu dengan sang Mama.
Ia menjalani hidupnya berdua saja dengan Bibi yang setia kepadanya, menganggap wanita setengah tua itu sebagai satu-satunya keluarga yang ia miliki, ia seolah tengah membersihkan pikirannya dari wanita yang telah melahirkannya, menganggap wanita itu tidak pernah ada.
Jika orang melihat tanpa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya mungkin ia sudah di anggap sebagai anak yang durhaka karena di saat sang Mama berada dalam masalah ia tidak mau menolehkan kepalanya sedikitpun.
Terserah orang mau berpikir apa karena sekarang cukuplah baginya hidup berdua dengan Bibi yang senantiasa mau mendengarkan setiap keluh kesahnya, Bibi yang selalu telaten mengurusnya dan Bibi yang juga akan selalu tersenyum kala ia pulang dalam keadaan lelah sambil menyiapkan makanan meskipun sederhana namun selalu bisa membuat perutnya tetap terisi setiap harinya.
Sherin bahkan mulai menyibukkan dirinya dengan bekerja di sebuah toko kue dari pagi sampai sore dan setelah itu ia akan langsung pergi ke kampus untuk berkuliah, tetap ingin menyelesaikan kuliahnya agar ke depannya ia bisa memberikan hidup yang layak untuk Bibi yang setia kepadanya.
"Sherin berangkat ya Bi," kata Sherin pada sang Bibi ketika kendaraan online yang ia pesan sudah datang.
Iya kendaraan online karena mobil kesayangannya sudah ia jual, meskipun sangat berat namun ia harus melakukan itu agar bisa membiayai kebutuhan mereka sehari-hari, sebab ia baru bekerja beberapa hari tentu untuk menerima gaji harus menunggu satu bulan dulu.
Apakah kebutuhan perutnya bisa menunggu selama itu? tentu saja tidak! tabungannya yang tak seberapa pun tidak cukup untuk membayar biaya sewa rumah yang harus di bayar selama 1 tahun, akhirnya dengan berat hati memutuskan mengorbankan mobil yang selama ini selalu mengantarkannya kemanapun.
"Hati-hati," jawab sang Bibi ketika Sherin berpamitan, Sherin tersenyum kecil membalas senyum tulus dari wanita yang sekarang menjaganya.
Namun saat di dalam mobil handphonennya berbunyi membuat Sherin bergegas untuk menjawabnya.
"Kenapa Nell?" tanya Sherin bahkan sebelum Nella mengeluarkan suaranya.
"Hari ini lu ke kampus kan? ini hari terakhir ospek loh, lu itu dari awal ospek nggak pernah hadir, dan besok juga malam keakraban pokoknya gue nggak mau tau, lu harus datang hari ini juga besok!" tekan Nella.
"Tapi gue harus kerja Nell, lu sendiri tau gimana keadaan gue sekarang," kata Sherin pelan.
"Gimana kalau gue sampai di pecat? gue baru beberapa hari kerja," sambung Sherin.
Wanita itu memang tidak mau sampai di pecat, karena ia sendiri sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan di toko kue.
"Udah lu tenang aja, kalau emang nantinya lu di pecat, bakal gue cariin kerjaan yang gajinya lebih besar dari pada di toko itu!" seru Nella memaksa.
Sherin mendesah berat dan akhirnya tidak akan bisa menolak permintaan dari temannya.
"Ya udah gue minta ijin dulu kalau gitu," tukas Sherin yang diiyakan oleh Nella.
Sherin pun segera menghubungi owner di toko kue tempatnya bekerja untuk meminta ijin tidak masuk hari ini, yah sepertinya Sherin mulai dikelilingi oleh orang-orang baik karena sang owner langsung memberinya ijin tanpa banyak pertanyaan, membuat Sherin tersenyum sumringah seraya mengucapkan banyak terimakasih.
Wanita itupun langsung meminta supir untuk mengarahkan mobilnya ke kampus.
"Hari ini Kakak ikutan ospek?" tanya Rona dengan mata berbinar saat suaminya mengatakan bahwa hari ini dia akan libur bekerja dan ikut bergabung dengan teman kuliahnya yang terlibat dalam acara ospek di kampusnya itu.
Darren mengangguk, "mau lihat kamu kecentilan apa nggak sama teman-teman aku," ucap Darren.
"Dih, teman-teman Kakak kali tuh yang selalu cari kesempatan buat deketin aku, ada aja tugas yang mereka berikan, bikin ribet!" tukas Rona.
"Itu mah bukan deketin kamu Rona yang pedenya tingkat tinggi, itu udah tugas mereka buat Maba kayak kamu ini."
Darren menjitak kepala sang istri yang langsung mengerucutkan bibirnya seraya mengelus bekas jitakan yang sedikit terasa sakit.
"Anak Papa gimana?" tiba-tiba Darren membungkuk lalu berbicara pada anaknya yang ada di dalam perut Rona yang bahkan belum terlihat membuncit.
"Dia nggak nakal kan Na?" mendongak melihat wajah istrinya yang menggeleng.
"Iya, sama kamu dia nggak nakal, tapi sama aku nakal banget. aku sampai capek bolak-balik kamar mandi terus kadang tiba-tiba suka kepingin makan yang jarang aku makan atau bahkan yang nggak pernah aku makan, untung ada Mbak Desi yang meskipun heran tapi tetap selalu sigap membelikan yang aku mau," kata Darren seperti mengadukan apa yang dia alami setiap saatnya kepada sang istri.
"Kasihan," ucap Rona tulus sambil mencium kening sang suami yang sejak tadi masih mendongak di depannya.
__ADS_1
Darren mengangguk seraya berkata, "demi dedek bayi aku rela ngidam makan apapun," sahut Darren lalu mengelus serta mencium perut sang istri.
Pria itu kembali menegakkan tubuhnya dengan bibirnya yang selalu terlihat berwarna merah, entah mungkin karena memang tidak merokok jadi pria itu memiliki warna bibir yang begitu memikat tak mau kalah dengan bibir yang dimiliki oleh istrinya.
"Ya udah ayo kita berangkat," ajak Darren.
"Aku bareng sama Kakak?" tanya Rona bingung.
"Ya iya, emang kamu mau bareng sama siapa? si bocah tengil? sembarangan! tugas tuh bocah tengil berakhir kalau sudah ada aku!" tegas Darren dengan wajah yang di buat galak.
"Bukan gitu, kan aku anak baru." Rona menggaruk kepalanya.
"Memangnya kenapa kalau anak baru?" tanya Darren mengernyitkan keningnya.
"Ih Kakak ini sebenarnya bagian dari panitia ospek bukan sih? masa kayak gitu nggak ngerti," sungut Rona.
"Apaaaa? anak baru nggak boleh pakai kendaraan pribadi kan selama menjalani ospek?"
"Ini kan mobil aku, kendaraan pribadi aku bukan punya kamu, lagian tiap hari juga aku yang antar kamu kok," sambung Darren lalu meniup kedua mata istrinya agar kembali berkedip.
"Iya aku tampan tapi nggak usah kayak gitu juga ngeliatin nya!" Darren pun kian mengejek istrinya yang kini tersenyum malu-malu.
"Tapi kan.."
"Nggak ada tapi-tapian, cepat jalan sekarang! kamu mau nggak takut di hukum kalau datang terlambat?!" seru Darren menarik tangan sang istri.
"Nggak lah, kan ada suami ganteng aku yang akan tolongin," sahut Rona dengan suara manja seraya bergelayut di lengan sang suami.
Darren menggeleng kan kepalanya tanda dia menolak untuk memberikan pertolongan pada sang istri kalau sampai mendapat hukuman.
"Jahat banget Kak sama wanita hamil," protes Rona dengan matanya yang membulat.
"Nggak ada toleransi, hukuman tetap hukuman, lagian aku juga bakal pastiin mereka untuk tidak memberikan hukuman yang berlebihan."
"Baru juga semalam di kasih jatah, kirain bakalan mau diajak kerja sama, eh malah tetap ngeselin," gerutu Rona.
__ADS_1
"Oh jadi semalam deket-deket terus rayu-rayu karena memang udah ada rencana terselubung, ckckck." Darren berdecak dengan gerutuan yang terlontar dari mulut istrinya.
"Nggak juga, aku aja nggak tau kan kalau hari ini Kakak bakal ada di kampus. aku ini cuma berjaga-jaga kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi kan bisa hubungin Kakak, eh taunya Kakak ke kampus juga hari ini, jadinya ya aku aman," sahut Rona.
"Wah nggak bener nih, ngerasa aman karena sudah dengan suap, itu namanya nyogok senior!" seru Darren menjawil hidung wanita yang segera menarik kepalanya menjauh dari gapaian sang suami.
"Mana cuma sekali doang lagi," sambung Darren membuat Rona menggigit lengannya.
"Sakit sayang," seru Darren.
"Lagian ngomongnya ngeselin," dengus Rona seraya masuk ke dalam mobil.
"Makanya kalau mau kasih suap itu jangan cuma sekali, biar aku jor-joran lindungin kamu kalau ada yang macam-macam sama kamu di kampus," ujar Darren tersenyum menyeringai pada sang istri.
Senyum menakutkan yang malah membuat Rona berdesir kala setiap kali Darren memunculkannya.
"Jangan senyum kayak gitu," protes Rona.
"Kenapa? keringat dingin ya?" dengan tenangnya malah semakin meledek sang istri sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Udah cepat jalan ah, nanti aku beneran kena hukuman."
"Kan udah kasih suap, masa masih takut kena hukum?"
Bukan keturunan Aditya Erlangga namanya jika tidak terus memberikan godaan pada wanita yang wajahnya sudah merah.
"Iiiiihhhh." Rona yang tak kuat menahan malu pun melabuhkan kepalanya di dada sang suami.
"Ya udah kita jalan sekarang," ucap Darren sambil menahan tawa.
"Awas aja kalu bahas suap-menyuap lagi!" tegas Rona.
"Iyaaa, ya udah duduk yang benar pasang sabuk pengamannya kita berangkat," tukas Darren lalu menunggu sampai istrinya membenarkan duduknya dan memakai sabuk pengaman baru kemudian dia menjalankan mobilnya.
*****
__ADS_1