
Aditya langsung membuka pintu kamar rumah sakit yang sudah diberitahukan oleh Roman sebelum.
Begitu ia masuk matanya langsung bertubrukan dengan mata Rama yang melihat pintu terbuka dan ingin tahu siapa lagi yang kali ini datang setelah Roman.
Kejutan yang sangat membuat rahang Aditya mengeras melihat lelaki yang dulu selalu memancing emosinya karena terus saja mendekati Rianti yang kala itu belum menjadi istrinya bahkan setelah Rianti menjadi istrinya pun pendekatan yang dilakukan oleh Rama tak juga terhenti tapi malah semakin menjadi.
Mata Aditya kemudian beralih melihat Roman yang sudah berdiri menghampiri dirinya.
Tatapan mata Aditya seolah bertanya kenapa lelaki bernama Rama itu bersama Roman, ada urusan apa antara mereka berdua sekarang ini?.
"Lu ikut gua." ajak Roman yang sudah dapat mengenali gerak-gerik Aditya kalau sedang menahan kesal, daripada bikin keributan lebih baik dipisahkan, begitu menurut Roman tak sadar diri bahwa tadi dia juga hampir saja membuat kegaduhan dan akan mengamuk jika Rama tidak menahannya.
Roman menarik paksa tubuh Aditya yang mendadak keras seperti dipaku ke lantai rumah sakit.
"Cepet Dit ah." Roman mulai jengkel.
"Ngapain dia disini?" tanya Aditya terus memberikan sorotan mata kearah Rama yang cuek saja memainkan ponselnya seolah tidak ada apa-apa.
"Nanti gua ceritain,sekarang ikut gua dulu." kembali berusaha untuk membawa Aditya pergi.
"Lu berkhianat sama gua ya?!" tanya Aditya kini melihat Roman dengan wajah geram.
Mendapat pertanyaan seperti itu Roman malah menjadi semakin agresif menarik keluar Aditya.
"Dasar temen nggak tahu diri." maki Aditya pada Roman ketika mereka sudah diluar dengan Aditya merapikan pakaiannya karena dibuat kusut oleh tarikan Roman.
"Apaan dah, nggak jelas lu!" ketus Roman seraya duduk di kursi.
"Pake berkhianat segala,lu pikir jaman penjajahan."lanjut Roman memprotes tudingan Aditya padanya soal berkhianat.
"Berkhianat bukan cuma waktu jaman penjajahan aja." menjawab seenaknya meskipun benar seperti itu, pengkhianatan bukan hanya terjadi pada jaman penjajahan saja, karena pada kenyataannya berkhianat bisa terjadi kapanpun dan di manapun.
"Oke lu pinter, tapi terkadang jawaban lu yang pinter itu malah bikin gua kesel plus emosi dan ingin rasanya gua kubur lu hidup-hidup, duduk sini lu!" meminta Aditya untuk duduk dengan membentaknya.
Aditya menuruti permintaan sang teman,duduk tegap disebelah Roman dengan wajah yang masih tegang, sepertinya ia masih memikirkan tentang kenapa Rama bisa ada di rumah sakit yang sama dengan Roman.
"Ngapain dia disini?" tanya Aditya akhirnya guna menjawab rasa penasaran yang ada didalam dirinya.
"Ya makanya lu duduk diam yang anteng dulu disini wahai yang mulia ADITYA ERLANGGA KUSUMA." berkata penuh penekanan pada pelafalan nama sang teman.
"Gua bakal jelasin semuanya sama eluuu." rupanya Roman makin terlihat geregetan dengan tingkah Aditya yang masih saja cemburu terhadap Rama sedangkan kini dia sudah diberikan dua orang anak oleh Rianti,sepertinya itu tidak cukup bagi seorang Aditya, terbukti ia masih saja cemburu pada Rama dan takut lelaki itu kembali mengusik istrinya atau membawa kabur sang istri.
Roman tampak menceritakan kejadian apa hingga Rama bisa ada bersama dengannya sekarang ini dengan sangat serius sampai tidak sadar bahwa Rama sudah berdiri didekat pintu yang tak jauh dari tempat Roman dan Aditya duduk.
"Ehhmm." akhirnya untuk membuat Roman dan Aditya menoleh padanya Rama berdehem bahkan berpura-pura batuk.
__ADS_1
"Uhuk Uhuk." suara batuk yang lumayan kencang akhirnya berhasil membuat kedua lelaki yang terlibat pembicaraan serius itupun teralihkan kepada dirinya.
Kepala Aditya dan Roman kompak menoleh kearah suara dan melihat Rama yang sudah berdiri didepan pintu.
"Gua mau pulang sekarang ada urusan penting yang harus dikerjakan." ucap Rama santai namun terdengar tegas.
"Oh ya udah sana pulang." usir Aditya yang tetap saja terlihat sensi pada Rama padahal saat ini lelaki itu tidak berbuat aneh padanya.
"Nggak apa-apa kan gua pulang?" tanya Rama pada Roman yang tadi memang melarangnya untuk pulang.
"Nggak apa-apa lah, kenapa emangnya?" justru suara Aditya yang kembali menyahut.
Mata Roman sontak mendelik pada Aditya yang terus saja nyerocos menjawab pertanyaan Rama yang sebenarnya diajukan untuknya.
"Nggak apa-apa, gua terimakasih banget ini sama elu udah mau nolongin adik ipar gua sampai bawa dia kesini." Roman mengucapkan terimakasih pada Rama tanpa memperdulikan wajah Aditya yang terlihat tidak suka.
"Jangan kayak anak kecil lu!!" Roman menendang betis Aditya.
Aditya hanya mendengus saja.
"Urusan apa emangnya kalau gua boleh tahu?" Roman berdiri mendekati Rama dan malah mengajaknya mengobrol.
Rama menggaruk tengkuknya terlihat ragu untuk menjawab tapi sesaat kemudian ia memberitahukan urusan apa yang akan ia lakukan.
Jawaban Rama membuat Roman melirik Aditya memastikan apa temannya itu juga mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Rama.
Dari raut wajah Aditya yang berubah menjadi tegang dapat dipastikan lelaki itu mendengar apa yang diucapkan oleh Rama.
Sontak Roman membuat gerakan bibir tanpa suara yang bisa dipahami oleh Aditya.
"Mampus dia mau nemuin bini lu." gerakan bibir Roman sungguh membuat Aditya gelisah dan panik.
"Lu nggak usah ke mana-mana, disini aja temenin gua, karena habis ini Roman mau pergi lagi." Aditya merangkul bahu Rama dan mengajak nya duduk.
"Kayaknya nggak bisa,orang yang akan gua temui jauh lebih penting." Rama mencoba menolak tawaran Aditya padanya, apalagi perubahan sikap Aditya yang menurutnya sangat tidak wajar, yang tadinya tidak ramah malah mendadak berubah 99persen dari sebelumnya, menjadi begitu ramah bahkan tak segan untuk menampakkan senyuman meski sangat terlihat itu senyuman terpaksa yang diberikan oleh Aditya.
"Lah emang gua mau kemana?" tanya Roman yang tidak paham dengan pernyataan Aditya.
Aditya menepuk keningnya karena ia lupa pada maksud kedatangannya kesini ialah untuk memberitahukan satu hal penting pada Roman.
"Pikun kayaknya nih." Roman berkata menyindir pada Aditya yang terkadang pelupa itu.
"Lu duduk dulu disini." menyuruh Rama untuk duduk.
"Jangan ke mana-mana, awas aja kalau gua lihat lu pergi dari sini!" mengancam Rama dengan wajah serius.
__ADS_1
Sekarang ini Aditya hanya bisa mencegah Rama untuk pergi kemanapun, ia tidak mau Rama mendatangi istrinya di rumah, padahal Rama tidak ada niat sedikitpun untuk menemui Rianti seperti yang ditakutkan oleh Aditya,rupanya Aditya menjadi seperti ini karena perbuatan Roman yang seperti sengaja membuat dirinya panas.
"Apaan?" tanya Roman ketika mereka sudah berdiri lumayan jauh dari Rama yang terlihat menelepon seseorang.
"Nih alamat tempat istri lu." Aditya memberikan secarik kertas berisikan alamat yang ditulis dengan tinta warna hitam.
"Lu tau darimana?" bertanya seperti tidak percaya pada yang dikatakan oleh Aditya.
"Ck." Aditya berdecak karena Roman menyangsikan dirinya.
"Itu dari Johan, tadi pagi dia udah balik dari Jerman." sahut Aditya memberitahukan darimana ia mendapatkan alamat Tania sekarang ini.
"Nah kalau dari Johan gua percaya." ujar Roman membaca tulisan yang ada didalam kertas.
"Ini dia kapan nyarinya? kok bisa langsung ketemu?" tanya Roman kemudian.
"Pas dia nyampe bandara gua langsung suruh dia nyari Tania, kurang apa gua sama elu Man? apa juga gua lakuin." ucap Aditya dengan ekspresi konyolnya.
"Mendingan lu jemput Tania sekarang." pinta Aditya.
"Terus lu?" tanya Roman.
"Gua disini juga nggak apa-apa tapi lu jangan lama-lama."
"Sendiri doang kan?" tanya Roman.
"Maksudnya?" Aditya tak mengerti dengan pertanyaan Roman.
"Elu disini sendirian nggak apa emangnya? itu kan Rama mau pergi kayaknya urusannya penting banget dia." kata Roman dengan wajah meledek.
"Nggak ada!! dia disini sama gua! kalau dia pergi, ya gua juga pulang, ogah amat gua disini sendirian nemenin si Selfi, ketahuan sama Rianti diamuk bisa-bisa gua." ujar Aditya tampak berkelit padahal Roman tahu betul sekarang ini Aditya sedang termakan oleh cemburu akibat perbuatannya tadi.
"Masa? bukan karena mau ngawasin Rama kan? takut dia nemuin Rianti." ledek Roman dengan menaik turunkan kedua alisnya hingga membuat Aditya kesal.
"Udah sana lu cepetan jemput Tania, berisik banget mulut lu." omel Aditya mengusir Roman dan mendorong tubuh temannya itu untuk segera pergi.
Dan sekarang ini tinggallah Aditya dengan Rama yang saling sibuk memainkan ponselnya masing-masing dengan berbagai pikiran yang berkecamuk didalam kepala mereka.
Aditya yang berulang kali melirik ke layar ponsel Rama ingin tahu dengan siapa lelaki itu berkomunikasi saat ini, ia juga terlihat memicingkan mata agar dapat melihat nama yang tertera di layar ponsel Rama saat ada pesan masuk yang dengan cepat dibaca oleh Rama.
Memang kekonyolan Aditya selama ini makin menjadi saja, ia begitu takut kehilangan Rianti hingga terkadang tidak sadar tingkahnya amat berlebihan jika sudah curiga pada orang apalagi terhadap lelaki disampingnya sekarang ini yang sampai kapanpun akan ia curigai.
Aditya tidak sadar atau bahkan tidak mau peduli padahal nama yang tertera di pesan WA Rama, nama yang begitu familiar baginya selama ini, karena yang ia pikirkan hanyalah nama Rianti, asal bukan nama Rianti ia masa bodo dan tidak mau tahu.
*********
__ADS_1