
Pagi sekira jam 9 kurang, mobil yang menjemput Aditya sudah sampai di depan pagar rumahnya dan kini menunggu Aji membukakan pagar besi di depannya.
Aji melihat heran ke dalam mobil ketika matanya melihat atasannya yang katanya akan pergi ke Jerman selama dua minggu, tapi pada kenyataannya kurang dari seminggu bosnya itu sudah kembali.
Kepulangan Aditya yang sangat cepat dan tidak seperti biasanya amat membuat si penjaga rumahnya itu cukup penasaran, dan jiwa-jiwa ingin tahunya pun langsung melambung tinggi
Apalagi kemarin pagi juga teman dari atasannya itu datang menginap dan pagi ini pun masih ada di dalam rumah yang ia jaga.
"Ini kenapa ya?!" bertanya pada dirinya sendiri seraya kembali menutup rapat pagar setelah mobil masuk ke garasi.
Aditya langsung masuk kedalam karena pintu yang di biarkan terbuka.
"Hore ayah pulang." Riana yang sedang bermain di temani oleh Roman di ruang tamu bersorak kegirangan begitu melihat ayah nya masuk dengan langkah cepat.
Seraya terus bersorak Riana berlari ke arah sang ayah lalu berhambur ke pelukan ayahnya yang sigap memeluk tubuh kecilnya dan lantas menggendongnya.
"Ibu di mana?" tanyanya pada sang anak karena matanya tak menemukan istri dan anak lelakinya saat ini seraya berjalan menuju sofa untuk kemudian duduk.
"Di atas sama tante." sahut Riana, yang tentunya Aditya sudah tahu tante siapa yang di maksud anaknya tanpa sang anak menyebutkan namanya.
Roman terlihat merapikan mainan Riana yang berserakan di dekat sofa yang ia duduki.
"Ayah." ucap Riana yang kini berada di pangkuan ayah nya.
"Hhmmm, kenapa?" tanya Aditya seraya memberikan ponselnya pada Roman dan menunjukkan pesan yang di kirimkan Imran padanya.
"Pesanan Ana mana?" menagih apa yang sempat ia minta pada sang ayah sebelumnya.
Aditya terlihat menggaruk-garuk pipinya yang mendadak terasa terserang alergi mendengar pertanyaan gadis kecilnya itu, ia tahu pasti kejadian ini akan terjadi, namun rasanya tetap saja ia bingung harus memberi alasan apa pada sang anak, karena ia tahu semua alasan yang ia katakan akan senantiasa di mentahkan oleh anaknya itu. ya sangat mirip sekali dengannya bukan? tentu karena pada kenyataannya Riana anak kandungnya yang pastinya sedikit atau banyak akan menuruni sifatnya.
"AYAH.!" berkata kencang di depan telinga sang ayah, membuat ayahnya yang tengah memutar otak tersentak kaget lalu mengelus telinganya yang terasa berdengung kencang dan membuat nya seakan mendadak tuli.
"Aduh ayah nggak sempat sayang." berkata yang sebenarnya saja daripada otaknya harus pusing memikirkan alasan-alasan yang tidak berguna nantinya
"Tapi ayah udah pesan sama om Johan kok supaya beli pesanan kamu waktu dia pulang nanti." lanjut Aditya
"Kenapa bukan ayah yang beli, ayah akan ayah nya Ana." malah mengungkit posisi hubungan mereka berdua.
Roman yang tengah membuka ponsel Aditya hanya mengerutkan keningnya mendengar percakapan antara ayah dan anak di dekatnya yang baru awal saja sudah terlihat akan adanya adu jawaban dan di pastikan ruang tamu itu sebentar lagi akan berubah fungsi menjadi tempat adu debat macam pemilihan presiden saja.
"Ya kan ayah bilang tadi, ayah nggak sempat." mengulangi jawaban yang tadi.
__ADS_1
"Kenapa harus nggak sempat?" mulai memasang wajah cemberut nya dengan pipi yang semakin bulat seiring tekukan di bibirnya
"Mulai nih" batin Roman seraya memilih beranjak masuk ke ruang kerja Aditya seraya membawa ponsel milik temannya,karena tidak ingin menjadi pembawa acara di ajang adu debat sekarang ini.
"Karena ayah pulang cepat, harusnya kan 2minggu" menjawab dengan wajah yang terlihat kaku, sebab ia yakin jawabannya akan membuat pertanyaan selanjutnya terlontar dari mulut sang anak.
" kenapa ayah harus pulang cepat, kan Ana nggak minta" sungguh Aditya sangat baik dalam menurunkan sifat tak mau mengalah nya kepada Riana gadis kecilnya
"Ada urusan mendadak dan penting yang nggak bisa ayah biarkan begitu saja Riana.." sudah mulai frustasi menghadapi sang anak yang tak juga mau mengerti perkataan apapun yang ia katakan.
"Tapi kan ayah bisa.."
"Nggak bisa, ayah nggak bisa" sudah memotong penuturan anaknya lebih dulu
"Ibu kemana? panggil ibu cepat,, buuuuu sayang..." berteriak kencang memanggil istrinya padahal tadi ia meminta sang anak untuk memanggil ibunya tapi pada kenyataannya ia sendiri yang memanggil dengan suara berat sekaligus serak nya yang apabila sedang berbisik terdengar sangat seksi, namun jika di pakai untuk berteriak sungguh membuat takut karena terdengar seperti harimau yang sedang mengaum.
Aditya memanggil istrinya berulang kali seperti sedang sangat membutuhkan pertolongan, ia merasa keadaannya cukup genting sekarang karena ia merasa tak sanggup meladeni dan menghadapi tekanan pertanyaan dari anaknya sendiri.
Aditya menoleh ke sana sini mencari posisi CCTV yang dulu sempat ia pasang, lalu tangan kanannya melambai cepat tanda ia menyerah seakan ia tengah berada di tempat uji nyali dan di ganggu makhluk tak kasat mata.
Aditya melambai kan tangannya meski ia tahu tidak akan ada yang melihat apa yang tengah ia lakukan sekarang ini kecuali Riana yang malah kesal melihat kelakuan aneh sang ayah.
Riana turun dari pangkuan Aditya lalu berlari menaiki tangga dengan kaki kecilnya
Riana tak mendengarkan teriakan ayahnya bahkan menoleh pun tidak, keras kepala yang menurun dari kedua orang tuanya
"Tadi kayaknya ibu denger suara ayah." tanya Rianti saat ia berpapasan dengan anak gadisnya di lantai atas
Riana tak menyahut , malah berjalan masuk menuju kamarnya
Rianti dan Tania yang baru keluar dari dalam kamar saling memandang dengan alis yang bertaut menandakan mereka tengah heran melihat tingkah Riana
"Ngambek" kata Rianti lumayan kencang sehingga Riana yang baru masuk mendengar dan sempat menoleh menunjukkan raut wajah jutek
Rianti dan Tania membungkam mulutnya menahan tawa yang hampir saja keluar melihat tingkah anak kecil yang sedang marah tanpa mereka tau apa penyebabnya.
Rianti dan Tania akhirnya turun kebawah seraya cekikikan mentertawakan Riana.
Sampai di ruang tamu cekikikan yang mirip sekali dengan kunti itu terhenti dan wajah Rianti kembali di buat bingung karena melihat suaminya tengah duduk di sofa sambil memejamkan mata, pusing rupanya dia meladeni anak bernama Riana
"Loh mas??" ucap Rianti ragu seraya menghampiri sang suami dan tangan nya sigap mencubit pipi suaminya memastikan orang yang di depannya itu sekarang bukan sekedar bayangan atau khayalan nya semata.
__ADS_1
Aditya menarik napas mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya.
Tania yang tengah menggendong Daren lantas pergi ke halaman depan karena ia tidak mau menjadi obat nyamuk di ruang tamu.
"Aku capek yank" memijit tengkuknya
"Lagian mas kenapa udah pulang?" tanya Rianti yang kebingungan melihat suaminya yang semestinya baru akan pulang 2 minggu lagi , tapi malah sudah ada di ruang tamu
padahal kemarin pagi buta mereka baru saja ber teleponan
"Kangen sama kamu" jawabnya berbohong seraya melabuhkan kepalanya di bahu Rianti
Rianti memandang tak percaya "Masa?" ucapnya
"Aku haus yank , mau minum" kata Aditya kemudian
"Punya anak perempuan bukannya sediain ayah nya minum, malah ngambek" terlihat seperti sedang mengadukan tingkah anak nya pada sang istri
"Oh Riana ngambek sama kamu" kata Rianti yang akhirnya mengerti penyebab anaknya memasang wajah cemberut ketika berpapasan dengannya tadi
Aditya mengangguk cepat seraya mengikuti Rianti yang masuk ke dapur
"Kamu kangen aku nggak?" berbisik di telinga sang istri yang tengah sibuk membuatkannya minuman
Rianti diam tak menjawab membuat Aditya merangsek dan memeluk nya
"Nanti di liat siti mas" Rianti berusaha berontak dari tangan suaminya
Aditya gegas melepaskan sang istri karena ia juga tak mau ada yang melihat melakukannya yang begitu manja pada sang istri, bergelendotan di tubuh istrinya sungguh hal yang patut untuk di tertawakan apalagi untuk seorang Aditya yang terkenal dengan ke sangaran nya jika sudah marah.
"Siti kemana? dari tadi aku nggak lihat kok" tanyanya kemudian karena memang sejak ia datang tadi ia tidak melihat pengurus rumahnya itu
"Aku suruh ke supermarket sama Salma" menyahut enteng membuat Aditya kembali merangkul nya lalu menyingkirkan rambut yang menutupi lehernya dan mengecupi nya berulang kali.
"iiissh, mas "merengek karena ia pun jadi merasakan geli akibat perlakuan suaminya sekarang
" Ayah!!" Aditya tersentak kaget dan bergerak cepat menjauh dari Rianti saat mendengar suara gadis kecilnya, ia pun lantas mengambil cangkir teh dari tangan istrinya lalu pergi di iringi sorotan mata Riana yang terus melihat pergerekan nya.
Langkah Aditya begitu tergesa karena ia panik anaknya yang masih kecil melihat aksinya yang seharusnya tidak boleh di lihat mata anaknya, agar tidak terkontaminasi.
Aditya masuk ke dalam ruang kerjanya menemui Roman yang memang ada di tempat itu sejak tadi.
__ADS_1
*******