Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 77


__ADS_3

Roman yang sedang memeriksa daftar pasien yang dikirimkan oleh asisten perawatnya terlihat langsung meletakkan tab nya ke atas meja kala mendengar suara ketukan dari arah pintu depan.


Pria itupun menyeret langkahnya yang malas untuk membuka dan melihat juga mengetahui siapa yang bertamu ke rumahnya saat langit sudah gelap serta ada urusan apa hingga mengganggunya yang sedang mengerjakan pekerjaannya karena besok dia ada jadwal operasi.


"Ad.." belum juga Roman menyelesaikan perkataannya di depan matanya malah muncul wajah sang anak.


"Kenapa pintunya di kunci sih Pah?" Tanya Rona yang tadi memang memainkan handel pintu untuk membukanya namun pintu itu tidak mau terbuka karena memang sudah di kunci.


"Ya udah malah harus di kunci lah," sahut Roman dengan kepalanya yang menoleh ke kiri dan kanan mencari seseorang yang memang tidak ada.


"Papa cari siapa?" tanya Rona sambil nyelonong masuk ke dalam rumah melewati sang Papa.


"Kamu sendiri?" tanya Roman yang masih berdiri di ambang pintu.


"Sendiri, memangnya Papa lihat ada orang lain lagi nggak?" tukas Rona.


"Lah, suami kamu kemana?" kali ini Roman menutup pintu setelah tahu sudah tidak ada siapa-siapa lagi yang akan masuk.


"Di kampus, belum pulang kuliah." Rona menjawab seraya menuju ke dalam ruang keluarga.


"Udah izin belum mau ke sini? nanti suami kamu nyariin, jangan dibiasain pergi-pergi nggak ngomong sama suami," tutur Roman mengikuti sang anak dari belakang.


Mendengar pertanyaan sang Papa membuat Rona menghentikan langkahnya memikirkan jawaban.


"Sudah kok, Rona sudah bilang Kak Darren tadi," kata Rona bohong dengan wajah yang terlihat tegang.


"Mama mana Pa?" menanyakan Mamanya untuk bisa segera kabur dari berbagai pertanyaan yang pasti akan lebih banyak muncul dari mulut Papanya itu.


Ia harus segera menyelamatkan diri sebelum sang Papa membaca gelagat mencurigakan darinya.


"Di kamar kamu," sahut Roman dan menatap heran ketika sang anak dengan cepatnya kabur menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


"Nggak wajar," kata Roman yang masih bisa di dengar oleh anaknya karena memang masih berada di tengah tangga.

__ADS_1


Rona melihat pada sang Papa yang sedang menekan-nekan layar handphone, dan iapun langsung menebak apa yang selanjutnya Papanya itu akan lakukan.


Ya tentu saja menghubungi menantunya untuk bertanya apa benar anaknya itu memang sudah meminta izin dari menantunya itu untuk datang ke rumahnya malam-malam begini.


"Harus cari perlindungan," batin Rona lalu serentak kembali menggerakkan kakinya berlari mencari sang Mama.


Darren baru sampai di apartemen dan ketika mendapati apartemen terlihat sepi masih bersikap santai karena dalam hatinya mungkin Rona ada di dalam kamar, pria itu memilih untuk langsung ke dapur guna mengambil air dari dalam kulkas.


Darren sedikit melongok ke arah pintu kamar yang terbuka sedikit, mulai merasa benar-benar sepi namun mulutnya masih saja gengsi untuk memanggil sang istri yang padahal saat ini ada di rumah mertuanya.


Dengan membawa segelas air dingin pria itu kembali ke ruang tengah masih saja dengan kepalanya yang melongok ke arah kamar, dalam hatinya berharap istrinya keluar dan mulai mengajaknya bicara namun nyatanya itu hanya harapan yang tidak akan terwujud.


Dia benar-benar masih belum menyadari bahwa di apartemen itu hanya ada dirinya seorang sampai ketika terdengar dering dari handphonenya memaksanya untuk segera menjawab panggilan itu.


Terpampang nomor sang mertua di layar yang membuat dia dengan segera menjawabnya tanpa menunggu lebih lama lagi.


"Istrimu ada di rumah Papa," terang Roman pada sang menantu.




"Astagaa malah bertanya, memangnya istrimu ada berapa Darren anaknya Aditya Erlangga! jangan menuruni semua sifat Ayahmu yang menyebalkan!" gerundel Roman kesal dengan menantunya yang malah mengajukan pertanyaan yang baginya terkesan konyol.



Sedangkan Darren hanya sekedar memberi respon cepat atas perkataan dari mertuanya yang sekarang malah di buat geleng-geleng kepala karenanya.



"Rona di rumah Papa? ngapain?" bingung Darren yang akhirnya tahu penyebab apartemennya tampak sangat sepi, karena memang tidak ada siapa-siapa lagi selain dirinya.


__ADS_1


"Nah benar kan dugaan Papa kalau Rona bohong," celetuk Roman mengingat bagaimana wajah anaknya yang tampak pucat saat menjawab pertanyaan darinya.



"Bohong? memangnya Rona bilang apa sama Papa?" Darren menarik nafasnya dengan sangat panjang sambil mengurut pelipisnya.



"Dia bilang sudah izin sama kamu, nyatanya apa? kamu aja malah nggak tahu kalo istri kamu ada di rumah Papa sekarang!" terang sang mertua melaporkan kelakuan anaknya sendiri para si menantu, meskipun Rona anak kandungnya namun dia tetap tidak akan membenarkan sikap anaknya itu, ketika anaknya salah dia tidak akan membelanya apalagi sekarang sudah menjadi seorang istri.



"Darren baru pulang Pah nggak tahu kalau Rona ke rumah Papa," ujar Darren lagi-lagi menghela nafasnya.



"Kalian pasti bertengkar," tebak Roman.



Tak ada jawaban dari menantunya atas dugaan yang dia ucapkan.



"Kalau tidak mau Rona nginep jemput sekarang!" tegas Roman akhirnya.



"Iya Pah, Darren jemput ke rumah sekarang," sahut Darren yang rupanya tidak mau jika istrinya itu menginap di rumah sang mertua dan membiarkan dia tidur sendirian di apartemen.



Setelah mengakhiri pembicaraan di telepon Darren pun langsung bergegas memakai kembali jaketnya lalu menyambar kunci motor yang ada di atas meja dan bergegas cepat keluar dari apartemen guna menjemput sang istri yang tengah kabur ke rumah orang tuanya karena dia abaikan.

__ADS_1



\*\*\*


__ADS_2