
"Sekretaris lu ganti lagi Dit?" tanya Roman yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja temannya itu.
Ya semalam setelah betapa terkejutnya Aditya mendengar permintaan Darren untuk menikah dengan Rona membuat Aditya gegas menghubungi Roman dan memintanya temannya itu untuk datang ke kantornya, apalagi yang akan di bahas olehnya jika bukan tentang sang anak yang tiba-tiba minta di nikahkan sedangkan lulus kuliah saja belum.
"Nggak ada yang betah Pak." Johan yang memang ada di dalam ruangan Aditya langsung menyahut.
Memang setelah Eva menikah dan ikut dengan Rama tinggal di Singapura, Aditya kerap berganti sekretaris dengan berbagai macam hal yang di katakan oleh lelaki itu.
"Bukan nggak ada yang betah, tapi gue yang nggak cocok sama kerjaan mereka." sengit Aditya tak terima dengan jawaban sang asisten yang memang kerap kali mengoceh tak jelas kala dirinya minta di Carikan sekretaris yang baru.
Roman menarik napas panjang seraya menghempaskan tubuhnya di sofa menatap kedua orang yang sepertinya masih belum selesai beradu argumen tentang siapa yang salah antara Aditya atau sekretaris yang kerap di ganti.
"Udah belum? kalau belum selesai gue mau tidur dulu." kata Roman pada kedua manusia yang tampaknya bukan bertambah akur di usia mereka yang sudah terbulang tua itu, tapi malah semakin seperti musuh bebuyutan, tentunya karena kelakuan Aditya yang memang kerap memancing serta menguji kesabaran orang lain terutama asistennya sendiri yang sekian tahun setia mengabdi padanya.
Serentak kedua orang itu berhenti mengoceh dan kini tengah menatap Roman yang dengan santainya tiduran di atas sofa dengan kedua kaki yang bergoyang.
Aditya gegas menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa berbicara dengan Roman tentang anak-anak mereka.
"Man." Aditya sudah duduk di seberang Roman yang sepertinya beneran tidur.
"Tidur Pak." Johan memberitahu atasannya.
"Nih orang bisa-bisanya tidur saat ada orang yang sibuk kerja." gerutu Aditya ketika Roman malah dengan enaknya mengeluarkan dengkuran.
"Perlu saya siram?" tanya Johan.
"Bisa ngamuk dia." seru Aditya sambil berjalan menjauh.
"Nggak apa-apa, kan ngamuknya sama Bapak, bukan sama saya." lihatlah betapa lancarnya seorang Johan mengatakan hal itu pada Aditya yang posisinya sekarang ini adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Kamu yang siram, kenapa jadi saya yang di amuk." wajah lelaki beranak dua itu terlihat kesal dengan jawaban dari sang asisten.
"Tapi kan bapak yang suruh." sungguh jika ada penghargaan untuk asisten paling kurang ajar sudah pasti Johan lah yang akan menjadi pemenangnya, lihatlah caranya menjawab setiap perkataan dari sang atasan.
"Gue nggak suruh elu ya Han, itu ide lu sendiri." Aditya sudah mulai tersulit.
"Saya hanya memberi saran Pak." rupanya keras kepala dan sifat tidak mau mengalah bukan hanya di turunkan Aditya pada anak-anaknya, tapi juga dia turunkan kepada Johan.
__ADS_1
"Gue nggak mau pakai saran elu Johan!" ketus Aditya lalu menatap kesal nan dongkol pada sang asisten setianya itu.
"Baiklah." dengan santainya menjawab seperti itu tanpa mau tahu bahwa saat ini Aditya tersulut emosinya karena dirinya itu.
"Berisik banget lu berdua." tanpa perlu di siram akhirnya Roman bisa bangun sendiri tentunya karena terganggu dengan perdebatan antara dua orang di dekatnya itu.
Roman langsung duduk sambil menguap.
"Baguslah lu bangun." ucap Aditya seraya kembali duduk di depan Roman.
"Ada apaan sih? ngapain gue di suruh ke sini?" tanya Roman seraya menenggak habis air teh yang sudah mulai dingin.
"Pasti ada yang mau dibicarakan Pak, kalau nggak mana mungkin Bapak di minta datang ke sini." Johan dengan santainya menjawab seraya tetap sibuk dengan berkas yang ada di depannya.
"Dit, sekretaris lu kan ganti terus nih, sesekali bisa kali Dit asisten lu ini di ganti." ucap Roman yang membuat Johan langsung mengalihkan pandangannya dari berkas pekerjaan.
"Ide bagus." Aditya malah menimpali ocehan Roman.
"Ganti aja Pak, saya tinggal bilang sama Ibu Rianti soal klien baru Bapak yang kemarin ngajak makan malam di rumahnya." Johan berkata sangat tenang namun tersirat bahwa itu adalah sebuah ancaman yang akan membahayakan seorang Aditya jika sampai Johan mengadu pada istrinya tentang klien baru mereka yang seorang wanita singel berusia 30an tahun dan mengajaknya makan malam berdua saja, dari sikap wanita itu terlihat jelas bahwa sang klien menyukainya.
Memang meskipun sudah memiliki anak yang beranjak dewasa namun ketampanan Aditya masih terlihat jelas di wajahnya hingga membuat wanita manapun akan jatuh hati padanya.
"Bapak tahu sendiri bagaiman sifat Ibu, meskipun Bapak menolak tapi kan."
"Udah Han diam, gue nggak bakal ganti elu." menghentikan Johan berbicara sebelum menyelesaikannya.
"Seperti itu akan lebih baik." sahut Johan yang merasa memenangkan pertarungannya kali ini dengan sang pemilik perusahaan besar itu.
Roman mengurut keningnya yang terasa sangat pening Karena harus kembali menyaksikan dua orang itu berdebat tentang hal yang tak jelas sekalipun semua perdebatan itu berawal darinya.
"Lu mau bicarain apa sebenarnya Aditya." Roman sudah mulai tak sabar.
"Kemarin waktu Anak lu pulang lu ketemu sama Darren Nggak?" tanya Aditya yang sepertinya sudah akan mulai membicarakan tentang Darren yang meminta nikah setelah pergi berduaan dengan anak dari temannya itu.
"Ya ketemu lah, jam 11 lewat baru nganterin Rona pulang." Roman menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dia nggak ngomong apa-apa sama elu?" Aditya bertanya lagi dengan wajah yang semakin penasaran.
Roman menggeleng, sebab memang setelah mengantar pulang Rona, Darren langsung pulang setelah berpamitan padanya.
"Rona ada ngomong sesuatu?" kali ini menanyakan Rona.
"Nggak." menggeleng lagi dengan kening yang mengernyit, sungguh pertanyaan Aditya membuat Roman yang tidak tahu apa-apa menjadi sangat bingung di buatnya.
"Ada yang aneh nggak sama Rona?"
"Aneh apanya?" bingung Roman.
"Sebenarnya lu mau ngomongin apaan sih Dit." mulai kesal karena temannya bukan langsung mengatakan apa yang sebenarnya ingin di katakan, malah bolak-balik bertanya tentang hal yang tidak dia mengerti.
"Darren bilang dia mau nikah sama Rona." ucap Aditya akhirnya.
"Ya bagus dong, kan emang mereka udah kita jodohin." sahut Roman yang terlihat santai kali ini.
"Darren minta nikah yang secepatnya Roman, nggak pake nunggu Rona lulus sekolah apa dia kerja dulu, secepatnya dia mau nikah secepatnya." Aditya terus mengulang kata secepatnya agar Roman paham.
Mata Roman akhirnya terbuka lebar dengan tubuhnya yang tadi bersandar jadi duduk dengan tegak dan menatap Aditya dengan tatapan tidak percaya.
"Ini maksudnya gimana?" kata Roman dengan bodohnya.
"Bisa-bisanya anak lu minta nikah padahal kuliah juga belum selesai." omel Roman.
"Gue curiga mereka udah ngapa-ngapain." Aditya memicingkan mata, biar bagaimanapun dia pernah muda dan cukup paham benar dengan pergaulan anak muda jaman sekarang.
Roman jadi ikut kepikiran dengan perkataan dari temannya barusan.
"Pantesan semalam Rona pulang sumringah banget." kata Roman mengingat anaknya yang terus menyunggingkan senyum setelah pulang ke rumah.
"Tuh anak dua mesti di sidang kayaknya Man." tutur Aditya kemudian yang di angguki oleh Roman.
"Nanti malam gue ke rumah lu Man." sambung Aditya yang lagi-lagi di angguki oleh temannya itu.
Johan menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan dua orang sahabat yang tengah di buat pusing oleh tingkah anak-anak mereka.
__ADS_1
\*\*\*\*