
senin jam 10:45..
Roman sedang sibuk di rumah sakit memeriksa para pasien wanita yang kebanyakan sedang hamil dari yang perutnya belum membuncit hingga yang sudah sangat besar sekalipun ia periksa dengan sangat cekatan bahkan terkadang ia mengajak tertawa agar pasien nya tidak gugup saat Roman melakukan tugasnya sebagai seorang dokter kandungan..
Saat Roman tengah bersandar di kursinya meregangkan tubuh yang lelah karena baru bisa beristirahat setelah tak hentinya memeriksa pasien-pasien nya, mata Roman yang terpejam lantas terbuka saat menerima pesan masuk di dalam ponselnya, dengan malas ia melihat siapa yang telah mengiriminya pesan
lelaki berjubah putih itu begitu penasaran karena nomor Imran mengiriminya pesan gambar terlihat dari logo kamera yang nampak di notifikasi di layar ponselnya
Tangannya bergerak cepat ingin tahu gambar apa yang dikirim untuknya
mata nya langsung terbuka melihat seorang wanita yang walaupun hanya terlihat bagian belakangnya saja ia sudah dapat mengenali wanita itu
"Tania" gumamnya menyebut sang istri karena ia yakin wanita itu memanglah istrinya
tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi istrinya itu berniat untuk bertanya sedang dimana wanita itu sekarang dan dengan siapa
"kamu dimana? " gegas bertanya saat terdengar suara sang istri menjawab teleponnya
"di supermarket, kan tadi sebelum kamu berangkat aku udah minta ijin buat belanja kebutuhan rumah" sahut Tania tenang seraya terus mendorong troli mengelilingi rak-rak berisi keperluan dapurnya
Roman terlihat berpikir mendengar jawaban Tania, memang tadi pagi saat dirinya akan pergi ke rumah sakit istrinya itu sempat meminta ijin untuk pergi belanja dan dirinya pun mengijinkan bahkan ia sendiri yang memesankan taksi karena tak sempat jika harus mengantar istrinya lebih dulu
"sama siapa? " masih penasaran dengan siapa istrinya itu pergi , padahal dari rumah hanya pergi seorang diri
"sendiri" kata Tania pada sang suami yang terus saja mengajukan pertanyaan
"yakiin? " masih kurang percaya dengan jawaban sang istri
"nggak ketemu sama siapa gitu? " lanjutnya memancing tanpa menyebut nama Imran
"yakiin banget sayaang, aku nggak ketemu sama siapa-siapa kok" sahutnya sambil menoleh kebelakang memastikan memang dirinya tak bertemu ataupun pergi dengan orang lain tanpa sepengetahuan sang suami
"kamu kenapa sih, kayaknya curiga banget sama aku" lanjut Tania mulai merasa tersinggung dengan suaminya yang terus saja bertanya menunjukkan bahwa lelaki itu begitu tidak percaya nya pada istrinya sendiri
"aku khawatir kamu kecapean sayang " kata Roman beralasan
"udah selesai belum? aku jemput deh ya " tanya Roman lagi
"masih lama sih, rame banget soalnya ini" mata Tania berkeliling melihat orang-orang yang berseliweran di dekatnya dengan kesibukan yang sama seperti yang tengah ia lakukan saat ini, padahal sekarang hari senin tapi entah kenapa supermarket malah sangat di padati oleh pengunjung yang mencari keperluan mereka masing-masing hingga antrean dimeja kasir pun terlihat begitu panjang
"yaudah nanti langsung telepon aku aja kalo udah selesai , biar aku jemput " Roman meminta sang istri untuk menghubunginya , Dan sekarang ia akan terlebih dulu menyelesaikan beberapa pasien nya yang masih tersisa
"iyaa" sahut Tania kemudian menyimpan teleponnya setelah panggilan terputus
wanita yang tengah hamil muda itu kembali melanjutkan kegiatannya memilih barang apa saja yang akan ia beli
__ADS_1
Imran dan Selfi sedang duduk berhadapan di sebuah Food court di mall yang sama dengan mall yang supermarket nya tengah Tania kelilingi
"buat apa tadi kamu ambil photo mbak Tania? " tanya Selfi tentang Imran yang tadi sempat mengambil photo kakaknya ketika tak sengaja mereka melihat Tania sibuk berbelanja tanpa di temani oleh suaminya
"Jangan-jangan kamu masih suka ya sama mbak Tania? " Selfi bertanya dengan raut wajah yang penuh curiga pada Imran
Imran yang tengah meminum jusnya sampai tersedak dengan pertanyaan yang diajukan oleh Selfi , gadis yang sekarang tengah ia manfaatkan bahkan ia sampai harus berpura-pura jatuh cinta pada Selfi dan menjadikannya kekasih guna memuluskan apa rencana yang tengah ia susun untuk Roman
"ya enggak lah, sekarang aku cuma sayang sama kamu, nama Tania udah nggak ada sama sekali di dalam hati aku" Imran meraih tangan Selfi dan menggenggamnya dengan erat untuk meyakinkan gadis di hadapannya sekarang ini bahwa ia serius dengan perkataannya
"terus ngapain tadi kayak gitu? " bertanya memperlihatkan wajah cemberutnya tak suka melihat lelaki yang kini menjadi kekasihnya itu masih saja ingat pada mantan kekasihnya yang adalah kakaknya sendiri
"iseng aja" menyahut santai dengan kedua tangan yang masih memegang erat tangan Selfi
"bohong , aku nggak percaya" Selfi menyentak tangan Imran melepaskan genggamannya
Imran melirik tak suka dengan perlakuan Selfi terhadap dirinya
"aku mau jujur, tapi kamu janji jangan marah dan mau bantu aku " tukas Imran menatap tajam pada Selfi yang tengah memalingkan wajahnya kearah lain
"apa? " bertanya tanpa menengokkan wajahnya pada Imran
"janji dulu " tutur Imran meminta Selfi untuk berjanji akan membantunya
"nah gitu dong, aku jadi makin sayang sama kamu" ujar Imran lalu berusaha mengelus kepala Selfi seraya tersenyum licik tanpa di sadari oleh gadis muda itu
"yaudah apa, nggak usah bertele-tele" tukas Selfi mulai tak sabar karena Imran tak juga mengatakan alasannya
sebelum memulai bicara lelaki yang masih terus berambisi untuk memiliki Tania itu terlebih dulu membuang napas kasar serta berdehem beberapa kali
"aku dulu itu satu sekolah bahkan satu kelas sama suaminya kakakmu itu " Imran memulai ceritanya yang entah lah akan seperti apa jadinya jika ia tambahi dengan bumbu-bumbu kedustaan karena ia begitu ingin memisahkan Roman dan Tania
"masa siih? " Selfi mengernyitkan kening karena ia tak tahu fakta yang tengah di katakan oleh Imran sekarang
Imran mengangguk yakin "aku juga kenal sama Aditya teman dekat dari kakak ipar kamu itu" menyebut nama Aditya yang padahal sudah sangat enggan untuk mengenal lelaki bernama Imran ini
"kak Adit? yang ganteng itu kan? " mengingat wajah Aditya yang menurutnya sangat tampan itu namun sayang lelaki itu sudah memiliki istri dan dua orang anak, jika tidak mungkin sudah ia dekati saat pertama kali dirinya di kenalkan oleh sang kakak saat acara pernikahan dulu
"jangan muji cowok lain di depan aku, aku cemburu! apalagi yang kamu bilang ganteng itu musuh bebuyutan aku" Imran berpura-pura marah pada Selfi ,agar Selfi percaya bahwa dirinya benar-benar mencintai gadis itu
"iya iya maaf, tapi kan sekarang dimata aku cuma kamu yang ganteng" Selfi membujuk Imran yang padahal tak ada perasaan apapun padanya
kini gantian tangan Selfi yang bergerak mengelus lengan Imran yang sedang berakting marah serta cemburu padanya
"aku maafin" Imran memberikan senyum nya
__ADS_1
"nah gitu dong" Selfi kegirangan tanpa tahu apa yang ada di hati Imran sekarang ini
"terus apa lagi? " bertanya tentang kelanjutan cerita yang tengah di katakan Imran tentang kakak iparnya
"aku dulu satu kelas sama Roman, awalnya sih nggak ada masalah apa-apa sama dia , sampai akhirnya dia deketin gebetan aku bahkan berani banget cium cewek itu di depan mata aku, ya aku emosi dong, sampe sekarang juga aku masih inget dan dendam banget sama kelakuannya dia itu " Imran cerita panjang mengenai awal ia dan Roman bisa bermusuhan hingga sekarang
"waktu aku hajar si Roman, eh nggak tahu dari mana si Adit tuh nimpuk aku pake bata sampe benjol, nih bekas nya juga masih ada" menunjukkan dahi nya yang menjadi saksi bisu bertenggernya bata karena ulah Aditya
Selfi melihat dahi Imran yang memang sedikit menonjol lalu mengelusnya
"kasihan banget pacar aku" ucapnya pelan
"makanya sekarang aku mau minta kamu bantuin aku" kata Roman memulai aksinya untuk mencari Sekutu
"bantu apa? " tanya Selfi seraya menatap lekat Imran
"bantu aku buat pisahin Roman dan Tania " jawab Imran menatap tajam Selfi yang merasa bingung mendengar permintaan Imran
"kamu mau mbak Tania jadi janda terus kamu bakal balikan sama mbak Tania gitu? " berkata dengan nada sedikit keras hingga memancing mata pengunjung lain
"pelanin suara kamu, maksud aku bukan gitu" meminta Selfi memerankan volume suaranya
"kalo bukan itu , terus apa? " masih tak percaya
"Roman kan kelihatannya cinta banget sama Tania , aku cuma mau buat Roman frustasi aja karena harus pisah sama Tania"
"terus kalo mereka udah pisah kamu mau apa? "
"kalo mereka pisah aku akan nikahin kamu" Imran berusaha meyakinkan Selfi dengan semua perkataan yang tak akan pernah ia buktikan, tak pernah ia berpikir untuk menikah dengan Selfi, memacari gadis itu saja ia merasa terpaksa karena tak ada jalan lain untuk membuat Roman dan Tania pisah selain memanfaatkan adik kandung Tania yang begitu tergila-gila pada dirinya
mata Selfi mengerjap berulang kali mendengar janji yang keluar dari mulut Imran
"serius? " meyakinkan dirinya bahwa apa yang tengah dijanjikan oleh Imran akan menjadi kenyataan
"kamu nggak percaya sama aku? " mata Imran terpicing karena merasa di remehkan
"bukan gitu" Selfi berkata pelan
"setelah apa yang kita lakuin, kamu masih nggak percaya juga?! " tutur Imran berusaha membangun kepercayaan pada Selfi terhadap dirinya
melihat wajah Imran begitu meyakinkan dihadapannya membuat Selfi mengangguk perlahan mencoba yakin pada ucapan Imran apalagi Imran mengingatkan akan perbuatan terlarang yang telah mereka lakukan
melihat itu Imran lantas mencium punggung tangan Selfi beberapa kali seolah yang ia katakan dan lakukan adalah tulus meski tersimpan kebusukan yang tanpa disadari oleh Selfi akan mambuat nya hancur bahkan hingga lubang terdalam, dan suatu saat hanya akan ada penyesalan yang mungkin akan ia ratapi setiap hari...
********
__ADS_1