Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 52


__ADS_3

Tatapan mata Darren yang seakan menyala di dalam kamar yang bernuansa redup itu sungguh bagaikan seekor kucing hitam dan liar, siap menerkam siapa saja yang tanpa sengaja menginjak ekornya.


"Coba bilang sekali lagi, siapa yang sialan?" pinta Darren dengan suara yang teramat rendah dan berat tapi di telinga Rona bagaikan sebuah raungan kucing hutan yang mempunyai gerakan lincah, seperti suaminya yang sudah berdiri di dekat dirinya.


"Mulut nggak ada adab, ngatain orang nggak pandang bulu, kalau mau ngatain orang tuh milih-milih dikit kek, jangan yang macam begini di katain. nyeremin." wanita yang duduk di atas ranjang itu malah membatin seraya menepuk bibirnya sendiri mengakui kebodohannya yang seolah lupa bahwa Darren akan sangat menyeramkan jika sudah dalam mode dingin dan tersinggung seperti sekarang ini.


"Tadi ngomong apa?" Darren menunduk agar posisinya wajahnya sejajar dengan Rona.


Kali ini suaranya tidak seperti tadi, lebih santai namun tetap saja tatapan matanya amat tajam dan membuat Rona memejamkan mata lalu mengintip sedikit melalu celah matanya, mengintip lelaki di depannya mencoba mengumpulkan keberanian dan menyiapkan serentetan perkataan untuk membela diri.


"Rona sayang." tangan dinginnya mengelus kepala sang istri, elusan lembut namun malah membuat Rona merinding di buatnya.


Rona menarik napas lalu bersiap mengoceh cepat. "Siapa suruh Kaka buat aku nunggu berjam-jam, pulang telat lalu setelah pulang bukannya bujuk aku malah ngomongin tetangga sebelah! peduli amat sama tetangga sebelah, bujuk nih istrinya yang lagi ngambek." seru Rona cepat bahkan sepertinya wanita yang sudah tidak lagi gadis itu melupakan nafas yang seharusnya memasuki paru-parunya, membuatnya tersengal setelah itu.


Dada Rona naik turun dengan hidung yang kembang kempis guna memasok oksigen terbaiknya agar ia bisa bernapas lega.


"Jadi siapa yang sialan?" untuk ketiga kalinya menanyakan hal yang sama.


Pipi Rona menggembung mendengar pertanyaan yang sama. kenapa suaminya ini malah terus memancingnya untuk mengulangi umpatan yang tadi dengan lancar ia keluarkan, ia sudah menjelaskan kenapa ia kesal hingga berpura-pura tidur tapi yang ada di kepala lelaki itu malah kalimat sialan yang jadi permasalahan.


Padahal alasan di balik kata sialan itu sudah ia jelaskan bukan? "Siapa?" ulang Darren.


"Tuh cowok yang barusan ketemu sama tetangga sebelah yang sialan." ketus Rona, jika masih tidak merasa juga dan terus bertanya akan lebih baik jika Rona menarik tubuh suaminya itu lalu menindihnya agar tak lagi menanyakan hal yang tak sengaja ia lontarkan.


"Aku dong?" kata Darren kemudian seraya menegakkan tubuhnya.


Kedua mata Rona memutar dengan lambat, kesal dan gemas bercampur jadi satu, bagaimana bisa sifat Darren ternyata lebih mengesalkan dari yang ia tahu selama ini, ya tuhan ku rasanya Rona ingin berteriak di telinga suami tampannya itu, mengatakan bahwa kata sialan itu memang untuk dirinya, untuk Darrendra!


"Udah tau masih aja nanya." gumam Rona yang terdengar oleh indera pendengaran suaminya.

__ADS_1


Tanpa aba-aba apapun Darren dengan liarnya membuka Hoodie berwarna gelap yang dia pakai menyisakan kaos dalam yang juga berwarna gelap di tubuhnya, lalu membuka gesper di celana jeans robeknya dan menurunkan resleting tanpa peduli istrinya tengah menatap terkejut ke arahnya.


"Aku sudah dapat pengamannya." ucap Darren lalu mengambil tempat di sebelah istrinya dengan hanya mengenakan celana boxer serta kaos dalamnya.


"Sepertinya aku ingin melakukan banyak gaya malam ini." bisik Darren sensual yang membuat Rina terjengkit kaget.


"Jangan macam-macam Kak, gaya biasa saja aku masih kaku." tutur Rona merasa tidak akan sanggup untuk memenuhi gaya yang diinginkan oleh sang suami.


"Kita belajar bareng sayang, kita sama-sama baru melakukannya, tapi setelah merasakannya aku jadi ketagihan." kata Darren dengan suara yang sangat berat.


Suara yang sudah menandakan bahwa lelaki itu sudah sangat ingin mengulang kembali sore pertama mereka yang sudah mereka lalui beberapa jam lagi, bukankah dia sudah rela berkeliling dari minimarket lalu ke rumah Ayahnya dan berakhir mendatangi rumah Papah mertuanya untuk bisa mendapatkan benda yang akan dia pakai saat ini, jika tidak melakukannya buat apa dia harus capai melakukan hal itu, mengubur rasa malunya pada Ayah serta Papah mertuanya.


Rona sudah tak bisa berkata apapun lagi, ia mulai pasrah dan menikmati sentuhan demi sentuhan yang suaminya itu lakukan di seluruh anggota tubuhnya, mendaratkan kecupan di lekuk tubuh dan bibir tipisnya memancing rasa yang tadi sore sempat ia rasakan.


Meski Bagain sana masih terasa sedikit nyeri namun Rona terlihat menanti ketika suaminya tengah membuka satu bungkusan kecil. "Kita pakai ini dulu, besok Papah minta kita ke rumah sakit." kata Darren ketika Rona melihat apa yang tengah dia lakukan.



Darren tersenyum sangat manis sebelum mengambil posisi diantara tubuh istrinya, memejamkan kedua mata kala merasakan mereka mulai menyatu.


Darren mulai bergerak setelah mendapat persetujuan dari sang istri, bergerak perlahan dan sekitar beberapa menit meminta istrinya untuk merubah posisi.



Meski bingung namun Rona mengikuti saja, mengikuti sambil mengingat gerakan pada film yang pernah ia tonton dulu, gerakan yang sama seperti yang sekarang tengah ia lakukan bersama suaminya.


Mereka berganti posisi sebanyak tiga kali sampai akhirnya suara Rona terdengar makin menggoda di pendengaran Darren.


"Kak." seru Rona ketika ia merasakan hal yang sama seperti tadi sore, desakan sesuatu yang meminta untuk keluar.

__ADS_1



Tanpa bicara, Darren yang sudah mengerti bahwa istrinya akan segera sampai pun mengembalikannya pada posisi awal dan bergerak cepat agar mereka bisa bersamaan menggapai kebahagiaan itu.



Semuanya selesai dan hanya menyisakan deru napas serta tubuh yang kelelahan, Darren menarik tubuhnya dari sang istri lalu duduk dan menarik benda yang dia pakai dengan tatapan kesal.



"Bener kata Ayah." gumam Darren yang memang merasa bahwa yang sekarang berbeda dengan yang tadi sore.



"Kenapa Kak?" tanya Rona menatap heran suaminya.



"Aku nggak mau pakai ini lagi." kata Darren lalu mengecup kening kepala istrinya.



Sungguh lelaki itu membuat Rona tersenyum di buatnya, lelaki yang ternyata sangat mesum itu tidak mau ada yang menghalanginya saat masuk ke dalam sana, sekalipun hanya benda tipis seperti yang tadi dia gunakan.



Darren masuk ke dalam kamar mandi lalu membersihkan benda tipis itu dengan air baru setelahnya membuangnya ke tempat sampah.


__ADS_1


"Cukup sekali gue make elu." katanya seperti orang tak jelas yang berbicara dengan benda tipis yang sudah teronggok tak berdaya di dalam tempat sampah di dekat kakinya.


****


__ADS_2