
Mata Darren memicing saat melihat Rendi menghampiri Bimo, dia sangat tau bahwa playboy itu pasti akan mendukung kelakukan jahat Bimo.
Darren sangat kenal betul bagaimana karakter dua orang itu sangat tidak jauh berbeda, sama-sama sering bermain dengan wanita sekalipun Bimo sudah memiliki Nella, sayangnya Nella tidak pernah mau tau apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu di belakangnya.
"Rapikan barang-barang kamu Na." kata Darren pada Rona yang menjadi bingung.
"Memangnya kenapa?" tanya Rona menatap Darren.
"Kita pulang sekarang." sahut Darren lalu bersiap masuk ke dalam tendanya bersama Permana yang kebingungan dengan Darren yang memutuskan untuk pulang padahal camping mereka baru saja di mulai.
"Ini baru hari pertama loh Ren." Permana mengikuti Darren yang masuk ke dalam tenda untuk mengambil ranselnya.
"Gue nggak terima Rona di hina kayak tadi Per, bayangin aja calon istri gue di hina sama orang kayak Bimo yang bahkan nggak kenal sama sekali siapa Rona." berkata tegas dan Rona bisa melohat raut wajah marah yang masih tercetak jelas saat Darren berkata.
"Nggak usah di dengerin lah Ren omongan dia, lu kan tau sendiri gimana si Bimo itu kalau udah ngoceh." Permana mencoba untuk menahan Darren yang sudah menaikkan ranselnya ke punggung.
"Kalau yang dia katain itu cuma gue, gue masih bisa buat nggak anggap omongannya dia Per, tadi lu denger sendiri kan siapa yang dia katain, siapa yang dia hina? sampai kapan pun gue nggak akan pernah terima Per." Darren keluar dari tenda.
"Kenapa masih berdiri di sini?!" melihat Rona yang tidak beranjak dari tempatnya membuat Darren segera menarik tangannya dan mengarah ke tenda gadis itu.
__ADS_1
Rona pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya menurut saja dengan yang di minta oleh Darren toh itu juga dilakukan semata-mata untuk dirinya setelah ia mendengar percakapan Darren dan Permana barusan.
"Maafin aku Kak." kata Rona lirih merasa bersalah karena dirinyalah Darren harus berkelahi dengan temannya sendiri.
"Udah?" tanya Darren bahkan tidak mau menjawab permintaan maaf dari Rona, dia merasa Rona tidak melakukan kesalahan apapun terhadap dirinya dan juga teman-temannya.
Rona mengangguk perlahan seraya keluar dari dalam tenda.
"Nggak bisa kayak gini dong Ren, Lu nggak bisa seenaknya pulang gitu aja." Angga yang pemimpin mencoba untuk melarang Darren pergi.
"Kenapa nggak bisa? toh di sini juga mereka nggak ada yang terima Rona, jadi buat apa gue di sini? buat liat Rona jadi sasaran ocehan nggak mutu mereka?" Darren melirik pada keempat wanita yang berdiri melipat tangan di dada.
"Dan tadi lu juga denger sendiri kan gimana kurang ajarnya tuh orang menghina Rona!?" Darren melayangkan tatapan tajam pada Bimo yang juga tengah berdiri dengan dada yang naik turun.
"Nggak kenapa-kenapa, dia tuh terlalu manja tau nggak Per. nih juga pasti karena dia Darren jadi kayak gini." Ayu malah menuduh Rona telah menghasut Darren, padahal Darren melihat sendiri bagaimana perlakuan mereka terhadap calon istrinya itu saat berada di tempat ini.
"Iya, dasar cewek manja tukang hasut." sambar Sherin yang makin menambah emosi Darren.
__ADS_1
"Tutup mulut lu Sher!" bentak Darren yang lantas membuat Sherin terhenyak kaget dan merapatkan mulutnya, sungguh selama mengenal Darren baru hari inilah ia menyaksikan lelaki itu begitu marah, meskipun ia tahu Darren memang kerap kali bersikap dingin tapi jika untuk marah yang teramat sangat rasanya baru kali ini ia saksikan.
"Lu nggak usah ikut ngomong deh Sher." pinta Angga tegas.
"Kita ngomong berdua aja Ren." ucap Angga seraya berjalan menjauh dari tempat itu mencari tempat yang cukup untuk bisa berbicara dengan Darren agar tidak ada lagi yang semakin menyulut perkelahian, merasa harus membicarakan hal itu dengan kepala dingin.
"Kamu tunggu sebentar ya." pinta Darren pada Rona yang mengangguk, lalu lelaki itu berjalan mengikuti Angga.
Beberapa menit berlalu Darren tak juga kunjung muncul, Rona sudah bergerak tak bisa diam karena menahan kencing.
Gadis itu berdiri salah tingkah bergerak ke sana sini dengan matanya yang terus melihat ke tempat Darren pergi tadi.
"Kamu kenapa?" Rendi menghampiri Rona yang terjengkit kaget karena tak menyadari kedatangan lelaki itu yang kini sudah ada di belakang tubuhnya.
Mata Rendi memicing memperhatikan gerakan Rona yang tengah menyilangkan kakinya.
"Aku mau pipis Kak, nanti tolong bilangin sama Kak Darren ya." Rona langsung berlari menuju sungai untuk menuntaskan keinginannya yang sejak tadi memaksa untuk di selesaikan.
__ADS_1
Siapa yang menyangka jika akhirnya Rendi malah mengikuti Rona ke sungai tanpa sepengetahuan gadis itu.
****