Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
Bab 62


__ADS_3

Mobil Roman keluar dari halaman kantor Aditya.


"Ikutin mobil itu pak." Tania yang menaruh curiga pada suaminya selama berhari-hari memutuskan untuk mengikuti kemana perginya sang suami.


Bagaimana Tania tidak curiga terhadap suaminya jika saat di rumah suaminya itu justru sibuk sendiri dengan laptop juga ponsel yang sepertinya tak pernah lepas dari tangan sang suami.


Puncaknya saat semalam Tania mendengar ponsel suaminya itu berdering dan Roman sedang berada di kamar mandi, Tania yang penasaran melihat nama sang pemanggil yang terlihat di layar ponsel.


Matanya langsung membulat sempurna ketika wanita bernama Ninda lah yang menghubungi suaminya itu.


Wanita yang sempat bertemu dengannya ketika mereka pergi ke mall tempo hari.


Ingin langsung marah saat itu juga, namun Tania memilih untuk menahannya ia menunggu sang suaminya lah yang berbicara padanya mengatakan kenapa Ninda bisa menghubunginya saat malam hari.


Jikalau pun urusan yang terjadi hanya sekedar antara pasien dan dokter rasanya cukup tidak mungkin, sebab Roman selalu mengatakan pada pasiennya untuk tidak menghubunginya jika sudah lewat dari jam 21:00. sedangkan sekarang sudah hampir jam 22:45 , hampir tengah malam.


Tania hanya melihat saja ketika Roman bergegas keluar dari kamar hanya untuk menjawab telepon dari mantan kekasihnya itu.


Saat itu kecurigaan Tania makin menjadi apalagi selesai menelepon Roman malah langsung tidur seolah tidak terjadi apapun, lelaki itu tak berniat untuk memberi penjelasan apapun pada istrinya yang padahal sengaja menunggunya untuk berbicara jujur.


Dan karena itulah sekarang Tania mengikuti kemana perginya sang suami, satu sisi ia penasaran apa yang di lakukan oleh sang suami di sisi lain ia juga takut pada kenyataan yang mungkin saja menyakiti dirinya dan anak yang ada di dalam kandungannya saat ini.


Berulang kali Tania mengelus perutnya yang sudah membesar bahkan saat duduk pun perutnya makin terlihat bulat.


"Kok berhenti pak?" tanya Tania ketika merasakan mobil tak lagi bergerak.


"Mobil yang kita ikuti berhenti di depan rumah itu bu." sang sopir menunjuk mobil Roman yang terparkir di depan sebuah pagar rumah berwarna putih.


"Rumah siapa?" Tania menggumam saat melihat rumah yang tak pernah ia datangi sebelumnya.


"Suami saya keluar dari mobil tidak pak?"


"Kayaknya tidak keluar bu." sahut sang sopir.


"Terus kita mau ngapain sekarang bu?" tanyanya pada wanita yang duduk di belakang nya.


"Kita tunggu di sini aja dulu pak." jawab Tania dengan kecemasan yang makin mengganggu hatinya.


Tania tampak begitu cemas terlihat dari tangannya yang terus saja saling meremas, sungguh bagaimana jika apa yang ia takutkan akhirnya harus terjadi dengan kedua matanya yang menyaksikan langsung, bukan tak mungkin hatinya akan hancur berkeping-keping bagaikan sebuah gelas yang di hantam kan ke bawah dari lantai gedung tertinggi sudah tentu takkan bisa di bentuk lagi, hancur.


Mata Tania membulat seraya menutupi mulutnya dengan kedua tangan berusaha menahan suara tangis yang hampir saja keluar begitu melihat Ninda keluar dari dalam rumah tempat mobil suaminya terparkir sejak tadi , dan Ninda terlihat menggandeng seorang anak kecil berambut pendek dengan poni di keningnya.


"Anak siapa?" bergumam saat melihat seorang gadis kecil berjalan lincah di samping Ninda.


Benar dugaan Tania, suaminya itu pergi menemui sang mantan kekasih, air mata Tania lolos tak terkendali saat Roman turun dari mobil dan berjongkok di depan gadis kecil itu.


"Kita pergi aja dari sini pak." Tania memilih untuk pergi daripada menyaksikan apa yang membuat mata dan hatinya perih.


Mobil berjalan menjauh dari perumahan tempat tinggal Ninda, dengan ke galauan yang kini melanda serta dugaan-dugaan yang mengganggu pikiran seorang wanita hamil yang tingkat sensitif nya makin bertambah setiap saat.


Tania memberitahukan sopir alamat yang akan ia tuju sekarang, rasanya ia tak sanggup untuk pulang ke rumah , si sopir pun hanya mengikuti saja apa yang di mau oleh penumpangnya karena yang terpenting baginya adalah mendapatkan uang agar setorannya lancar.


Tania bergegas turun dari mobil begitu sampai di tujuan.


"Masuk mbak." Rianti yang memang sudah di kirimi pesan oleh Tania terlihat sengaja menunggu kedatangan mantan sekretaris suaminya itu di depan pintu.


Tania masuk dengan wajah murung membuat Rianti curiga ada sesuatu yang terjadi pada sangat calon ibu di depannya ini.


Tak menjawab pertanyaan Rianti Tania malah menangis terisak membuat Rianti panik.

__ADS_1


"Aduh mbak kenapa?" ucap Rianti seraya merangkul bahu Tania dan menepuk-nepuk nya seolah mencoba untuk membuatnya tenang.


"Kita ke ruang kerjanya mas Adit aja yuk, kayaknya harus ada yang mbak ceritain sama aku." Rianti mengajak Tania masuk ke ruang kerja sangat suami sedang kedua anaknya sedang bermain dengan Salma di lantai atas jadi sekarang ia mempunyai waktu untuk mendengarkan cerita dari Tania.


Rianti menuntun Tania ke dalam ruang kerja suaminya.


"Suami kamu belum pulang?" tanya Tania kemudian.


"Belum, tadi bilangnya sih pulang telat." sahut Rianti seraya mengajak Tania duduk.


Dengan terbata akibat menahan sesak di dalam dadanya Tania menceritakan semua yang baru saja ia lihat, tentang suaminya yang bertemu dengan mantan kekasihnya serta seorang anak kecil yang Tania tak tahu siapa dan ada hubungan apa dengan suaminya.


"Kamu salah liat mungkin mbak." kata Rianti.


"Mata aku masih sehat Ri, nggak mungkin aku salah lihat, aku ikuti mobil Roman yang keluar dari kantor suamimu sampai ke tempat perempuan itu, nggak mungkin aku salah lihat aku bisa lihat jelas plat mobilnya juga sama." bersikeras bahwa apa yang dia lihat tidak salah karena pada kenyataannya itu memang benar suaminya.


"Rasanya nggak mungkin deh." Rianti terlihat tidak percaya dengan apa yang diceritakan Tania, karena selama ini yang ia kenal Roman seorang lelaki yang baik.


"Kayaknya Roman baik deh masa kayak gitu."


"Baik bukan berarti tidak akan selingkuh kan?" Tania berkata seraya menghapus air matanya.


"Iya juga siih." ucap Rianti.


"Mbak beneran liat Roman keluar dari kantor mas Adit?" mulai penasaran suaminya ikut terlibat dengan Roman atau tidak.


Tania mengangguk menjawab pertanyaan Rianti.


"Mas Adit ikutan lagi nih." jadi ikut curiga terhadap suaminya.


"Tapi rasanya nggak mungkin deh." kata Rianti lagi masih juga tidak bisa percaya jika Roman teman dekat dari itu berani berselingkuh dengan mantan kekasihnya, apalagi saat pikirannya mulai berpikir sang suami melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan oleh Roman.


"Yaudah mbak tenangin diri dulu aja, sebelum ngobrol dan tanya sama Roman ada hubungan apa dia sama mantan nya itu." saran Rianti.


"Mbak disini aja dulu, nanti kalau udah siap ketemu sama Roman aku suruh dia buat jemput mbak." kata Rianti mencoba membantu Tania.


"Nggak Ri aku nggak mau di sini nggak enak sama pak Adit nanti." sahut Tania sambil bersiap mengelap air mata yang masih tersisa.


"Mbak mau pulang?" tanya Rianti bingung.


"Nggak." Tania menggeleng.


"Terus mbak mau kemana?" Rianti menautkan kedua alisnya tak mengerti.


"Aku mau ke tempat temen kayaknya."


"Hah, iish mbak nginep disini aja deh, mbak lagi hamil loh kasian dede nya." memaksa Tania agar mau menginap di rumah nya saja dari pada harus pergi ke rumah temannya.


Tania tetap menggeleng tak mau mendengarkan Rianti.


"Yaudah ke rumah temen mbak yang mana, kasih tau aku." pinta Rianti dengan wajah serius.


"Tapi janji jangan kasih tau Roman."


"Iya nggak aku kasih tau." sahut Rianti meyakinkan Tania.


Tania lantas memberitahu kan Rianti tempat rumah temannya yang akan ia jadikan tempat untuk menenangkan diri.


Sebenarnya Tania juga mau menginap di rumah Rianti, kalau saja suami Rianti dan suaminya tidak saling mengenal.

__ADS_1


Karena suami mereka saling mengenal membuat Tania menolak permintaan Rianti, karena jika ia ada di situ sudah pasti Aditya akan melaporkan keberadaannya pada Roman.


Rianti mengantar Tania sampai naik ke dalam taksi, lalu langsung masuk ke dalam rumah setelah taksi yang di naiki oleh Tania menghilang di kejauhan.


"Mas Adit macem-macem awas deh." mengancam sang suami yang belum pulang dari kantor.


Jam 21:20 mobil Aditya memasuki halaman rumahnya.


Rianti yang mendengar suara mobil milik suaminya lantas berlari menuruni tangga menuju pintu dan berdiri di sana menanti sang suami.


Aditya memasang wajah sumringah ketika melihat sang istri berdiri menyambutnya.


Rianti mencium tangan suaminya.


"Tumben tungguin mas." kata Aditya sambil mengelus rambut sang istri.


Rianti memasang mata tajam memindai suami dari atas hingga bawah lalu mendekatkan hidungnya ke pakaian sang suami.


"Iih apaan sih kamu." Aditya terkejut ketika Rianti terus mengendus tubuhnya berulang kali.


"Mastiin ada bau aneh apa nggak."


"Bau apaan sih yank. jangan ngaco yank malem-malem aku endus balik baru tau rasa kamu." malah mengancam membalas perbuatan istrinya.


"Mas selingkuh ya?" langsung saja menuduh tanpa basa-basi.


"Yeeuh keseringan nonton sinetron nih pasti, jadi kebawa peak." menoyor kening Rianti hingga istrinya itu terdorong mundur.


"iish." seru Rianti.


"Kamu kenapa?" kali ini memasang wajah serius.


"Nggak tahu."


Aditya menatap heran sang istri seraya duduk di sofa.


"Mas dari mana?"


"Kerja sayank kerja." menjawab penuh penekanan menegaskan bahwa dirinya benar-benar kerja dan tak melakukan hal lain selain itu.


"Bohoong." Rianti menunjuk wajah suaminya dengan mata memicing.


Melihat jari istrinya Aditya refleks membuka mulut dan menggigitnya.


"Sakit maas." berkata manja merasakan gigitan sang suami yang memang terasa sakit di jarinya.


"Makanya diem jangan ngomong mulu."


mengeluhkan istrinya yang bawel itu.


"Tumben sepi anak-anak mana?" mencari kedua anaknya yang tidak terdengar suaranya.


"Udah tidur mas, liat dong tuh jam berapa sekarang ini." mengangkat tangan sang suami yang memakai jam tangan dan menunjukkan padanya.


"Yaudah kita juga tidur kalau gitu." kata Aditya sambil bangkit dari sofa tak lupa menarik tangan sang istri untuk ikut dengannya ke dalam kamar.


"Mandi dulu mas."


"Iya mandi." menjawab perkataan Rianti sambil terus melangkah menaiki tangga menuju kamar mereka.

__ADS_1


***********


__ADS_2