
Beberapa hari setelah kejadian di villa para mahasiswa baru sudah mulai bisa mengikuti kegiatan belajar di kampus.
Rona turun dari mobil sang suami yang memang senantiasa mengantarkannya, ya Darren tetap kuliah malam karena sebagai kepala keluarga dan calon Ayah dia harus bekerja guna memenuhi semua kebutuhan istri serta calon anaknya nanti.
"Kalau ada apa-apa langsung telepon aku," perintah Darren.
"Iyaa," jawab Rona sumringah.
"Eeemmm ,Kak," panggil Rona sebelum mobil suaminya menjalankan mobilnya.
"Apa?"
"Aku boleh nggak besuk Sherin di rumahnya?" tanya Rona, sejak kejadian di puncak itu Rona sangat ingin menemui Sherin, mengetahui keadaan wanita yang sudah menolongnya.
"Memangnya dia udah keluar dari rumah sakit?" tanya Darren.
"Kata Tyo sudah," sahut Rona.
Darren diam sesaat terlihat sedikit ragu memberikan ijin pada sang istri.
"Nanti aku minta temenin sama Desi kalau nggak Kyla," cetus Rona agar suaminya memberinya ijin dan yakin bahwa ia akan aman bersama teman-temannya.
"Ajak Tyo sekalian," kata Darren akhirnya.
Nyatanya Darren sudah mulai memberikan kepercayaan pada Tyo untuk menjaga istrinya setelah melihat betapa tulusnya bocah tengil itu saat dia minta tolong untuk menjaga sang istri.
"Ya udah aku bakal ajak Tyo juga," ucap Rona semangat.
"Aku berangkat kalau gitu," kata Darren lalu menjalankan mobilnya ketika Rona mengangguk.
Rona pun segera masuk ke dalam kampus untuk memulai hari pertamanya sebagai seorang mahasiswi.
"Des," panggil Rona ketika mereka sedang mengikuti pelajaran dari seorang dosen berkepala botak.
"Apa?" tanya Desi dengan nada yang sangat jutek, merasa terganggu karena dia yang sedang mencatat.
"Nanti temenin ke rumah Sherin sama Kyla juga Tyo," bisik Rona yang untungnya Desi duduk di depannya.
"Hah? mau ngapain? lagian memangnya lu tau rumah dia?" Desi berbicara tanpa menengok pada temannya yang berada di belakangnya.
"Mau jengukin aja, sekalian bilang makasih karena dia udah tolongin gue sampai dia yang malah terluka, kalau alamatnya nanti tinggal tanya aja sama Kak Permana," jelas Rona.
"Ya udah terserah lu kalau gitu, gue ikut aja," sahut Desi lalu kembali menggerakkan jarinya di atas buku miliknya.
Dan sesuai dengan rencana Rona juga ketiga temannya langsung menuju ke sebuah alamat yang tadi sudah Rona dapatkan dari Permana.
Ketiga wanita itu naik taksi online sedangkan Tyo memilih untuk mengikuti dari belakang dengan motor besarnya yang sangat dia sayang.
"Di sini?" tanya Kyla begitu taksi yang mereka naiki berhenti di depan sebuah halaman dengan rumah kecil yang saling berdempetan.
Rona mengangguk lalu membuka pintu taksi dan turun lebih dulu dan barulah kedua temannya menyusul.
Tyo yang baru sampai langsung melepas helm nya dengan gaya yang sangat tengil membuat Kyla mencibir dengan gerakan bibir yang mengejek.
"Ayo," ajak Rona.
Keempat anak muda itu pun menuju pintu rumah yang tertutup rapat.
"Sepi banget, lu yakin di sini Na?" tanya Desi sambil menengok kiri kanan mencari penghuni rumah.
Rona melihat handphonenya guna memeriksa alamat yang diberikan oleh Permana, memastikan bahwa mereka mendatangi rumah yang benar.
"Benar kok ini alamatnya," jawab Rona menunjukkan layar handphone pada Desi membiarkan temannya itu melihat sendiri.
Desi mengangguk-anggukkan kepala lalu berkata, "ya udah ketok lah, mana mungkin dia tau kalau ada tamu di luar," katanya kemudian.
__ADS_1
Rona pun mengangkat tangannya siap untuk mengetuk pintu, namun belum juga tangannya menyentuh benda di depannya daun pintu sudah bergerak terbuka.
Mereka sama-sama menunjukkan ekspresi yang kaget secara bersamaan.
"Kalian mau cari siapa?" tanya wanita yang berdiri di depan Rona.
Wanita itu adalah Bibi yang selama ikut dengan Sherin.
"Kita teman-temannya Sherin mau ketemu sama Sherin," kata Rona.
"Dih temen?" gumam Kyla seakan tidak terima dengan pengakuan Rona bahwa mereka adalah teman dari wanita yang selama ini ia kenal sangat jahat pada Rona.
Lalu sekarang karena wanita itu menyelamatkan Rona dari pot yang di jatuhkan oleh Nella, bisa-bisanya langsung dianggap teman oleh Rona.
"Kebangetan baik," Kyla terus saja menggerutu sehingga Tyo menyikutnya agar mulut bawelnya itu diam.
"Oh Non Sherin, ada kok di dalam mari masuk," jawab sang Bibi.
"Kok manggilnya Non? itu Ibunya bukan sih?" untuk sekian kalinya Kyla berceloteh membuat Tyo mulai geram hingga menarik tangannya lalu membawanya ke halaman rumah.
Rona dan Desi masuk ke dalam rumah kecil yang ditempati oleh Sherin.
Raut wajah Rona terlihat sangat bingung karena hidup Sherin benar-benar berubah drastis, semua yang Sherin alami sudah di ceritakan oleh Darren.
Dalam hatinya pun muncul rasa iba dengan apa yang harus Sherin tanggung karena perbuatan Mamanya itu.
"Silahkan duduk, biar Bibi panggilkan dulu Non Sherin nya," ucap wanita yang Rona masih belum tau siapa hanya saja dari cara bicaranya Rona menduga bahwa wanita itu adalah pelayan atau orang yang mengurus Sherin.
Rona dan Desi mengangguk bersamaan, dan wanita itupun masuk ke dalam kamar yang tak jauh dari ruang tamu dimana Rona dan Desi berada.
"Ya, kenapa Bi?" tanya Sherin mengalihkan matanya dari buku yang ia pegang.
"Ada teman-temannya di luar."
"Siapa?" tanya Sherin dengan alis yang menaut.
Sang Bibi mengedikkan bahunya, "Bibi belum pernah lihat sih," aku wanita yang berdiri di dekat pintu.
"Siapa ya," bingung Sherin namun menutup buku yang tadi ia baca dan turun dari tempat tidur untuk menemui tamu yang datang.
Sherin keluar dari kamar dan langkahnya melambat begitu melihat teman yang tadi di katakan oleh sang Bibi.
Gerakan lambatnya tidak bertahan lama karena beberapa detik kemudian Sherin melangkah dengan normal menuju pada Rona dengan memasang senyum yang terlihat begitu tulus, di kepalanya masih ada perban untuk menutupi luka yang di jahit karena pot besar itu sukses memberikan luka yang cukup besar.
"Rona," kata Sherin pelan seraya menghampiri Rona yang beranjak dari duduknya berdiri menunggu kedatangan wanita yang telah menolongnya.
__ADS_1
"Sher." Ucap Rona pelan.
"Gimana keadaan kamu? nggak apa-apa kan?"
Aneh justru Sherin lah yang menanyakan keadaan Rona padahal jelas-jelas dia sendiri lah yang terluka.
"Maksud aku dia," ralat Sherin seraya mengelus perut Rona.
Rona segera sadar lalu menjawab, "nggak apa, dia baik-baik saja." Rona terdiam seraya melihat Sherin yang lagi-lagi tersenyum.
"Terimakasih," tukas Rona kemudian.
"Untuk?" tanya Sherin.
"Karena sudah menyelamatkan aku," Rona meremas tangan Sherin dengan tatapan mata yang dipenuhi keharuan.
Ia tidak menyangka bila akhirnya bisa tau bahwa Sherin tidak seburuk yang ia kira, karena ia tau perangai yang sering Sherin tunjukkan karena berteman dengan Nella yang selalu menjadi penghasut seperti yang Permana katakan.
"Aku tidak mau wanita yang Darren cintai terluka, apalagi kamu sedang mengandung anaknya, pasti Darren akan merasa bersalah kalau kamu dan anaknya tersakiti," sahut Sherin dengan binaran mata yang tampak begitu menyejukkan, sangat berbeda jauh dengan yang sering ia tunjukkan dulu saat pertama kali mereka bertemu.
Rona mengangguk haru menahan air matanya.
"Maafin aku ya kalau selama ini selalu jahat sama kamu," tutur Sherin dan Rona pun langsung memeluk tubuhnya dengan erat.
"Aku juga minta maaf," timpal Rona.
Kedua wanita itu saling berpelukan dan saling meminta maaf mengabaikan dua orang wanita yang sejak tadi melihat serta mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Desi dan sang Bibi mengusap air mata yang lolos begitu saja karena merasa sangat terharu dengan pemandangan yang mereka lihat.
Rona dan Sherin pun berakhir dengan damai setelah kejadian yang hampir saja merenggut nyawa salah satu dari mereka.
Semua manusia berhak memilih untuk berubah menjadi baik dan inilah yang Sherin pilih, memilih menjadi orang yang lebih baik ketimbang harus mengikuti sang Mama dan juga Nella yang akhirnya harus mendekam di penjara karena perbuatan mereka sendiri.
****
__ADS_1