
Aditya yang berjalan cepat memasuki ruangannya.
"Johan dimana?" berhenti didepan meja Eva yang memang menjadi sekretarisnya.
"Sepertinya belum datang pak." sahut Eva dengan panggilan bapak,biarpun ia adik dari pemilik perusahaan itu namun tetap saja saat bekerja dan berada di kantor ia tidak memanggil Aditya dengan panggilan kakak.
Aditya langsung masuk setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Eva.
"Kalau Johan sudah datang,suruh dia keruangan saya." kata Aditya lewat telepon kepada Eva,aneh bukan? padahal ia baru saja melewati meja kerja Eva bahkan sempat bertanya padanya tentang Johan,kenapa tidak langsung bicara saja pada saat itu malah memilih untuk masuk kedalam ruangannya dan menghubungi Eva melalui telepon kantor.
Eva saja sampai dibuat tak mengerti dengan tingkah kakak tirinya sekaligus atasannya itu,membuat dia berkali-kali menautkan kedua alisnya tak habis pikir sendiri jadinya.
"Pak Johan disuruh langsung keruangan sama bos." kata Eva ketika Johan baru saja menginjakkan kakinya dilantai depan mejanya.
"Kan ruangan saya juga ada didalam sana,nggak perlu disuruh juga saya akan masuk ke dalam sana." tutur Johan dengan tatapan tak biasa dengan ulah pemimpin perusahaan tempatnya bekerja selama ini.
Eva mengedikkan bahu berbarengan dengan cebikkan bibirnya.
"Hah ya sudahlah mungkin dia banyak pikiran."Johan malah berbicara sekenanya,dia tidak tahu bahwa Aditya kini tengah menantinya untuk menuntut pertanggung jawaban atas perbuatannya tempo hari.
Johan membuka pintu perlahan dengan suara langkah yang tidak terlalu terdengar hingga Aditya bahkan tidak menyadari akan kehadirannya karena tengah fokus pada berkas yang ada dimeja nya.
Dengan santai nya Johan malah langsung duduk di kursi kerjanya yang jaraknya hanya sekitar kurang dari lima meter dengan meja kerja Aditya.
Aditya tampak terkejut ketika ia mengangkat wajahnya dan melihat Johan sudah duduk melakukan pekerjaannya dengan tenang.
"Kapan datang?"tanya Aditya dengan sorot mata menyelidik karena Johan benar-benar seperti hantu yang datang tanpa bayangan dan ia sampai tidak sadar.
"Sekitar 15menit yang lalu." menjawab ringan seolah tidak perduli dengan kekagetan yang dirasakan oleh Aditya karena perbuatannya.
"Oh jadi selama di Jerman kamu belajar jadi ninja rupanya."malah meledek asistennya itu.
__ADS_1
"Di Jerman mana ada ninja pak."memprotes perkataan Aditya.
"Ya ada lah,zaman sekarang nggak ada yang nggak mungkin."seperti biasa tak mau mengalah dan mempunyai pendapat sendiri yang tidak boleh ada seorang pun yang bisa membantah apa yang sudah ia katakan.
"Bapak benar." mengalah daripada harus capek meladeni atasannya yang memang sering kali memancing beban pikiran orang lain dengan berbagai macam pernyataannya yang kadang melawan arus,tak nyambung juga tidak masuk akal.
"Waktu dari Jerman kamu bawakan Riana apa?"sepertinya masalah inilah yang akan dibahas oleh Aditya pada Johan hingga ia meminta Johan untuk segera ke ruangannya,bahkan pembahasan itu seakan membuat dirinya lupa kalau Johan satu ruangan dengannya.
"Sesuai dengan yang bapak minta." ucap Johan dengan nada berwibawa agar terdengar sopan saat berbicara dengan Aditya,karena sereceh apapun Aditya lelaki itu tetaplah atasannya.
"Emang apa yang saya minta?" Aditya menantang Johan untuk menyebutkan apa saja yang diminta olehnya.
Johan pun menyebutkan apa saja yang sudah ia bawa dari Jerman sesuai dengan yang Aditya minta dengan cepat.
"Robot?" kata Aditya saat mendengar satu barang yang keluar dari mulut Johan.
"Iya robot berwarna merah muda." membenarkan ucapan Aditya.
"Kayaknya saya nggak pernah suruh kamu buat beli robot."wajah Aditya terlihat bingung.
Johan mulai membuka tasnya dan mengeluarkan isi tas nya karena melihat wajah Aditya yang tidak percaya dengan pengakuannya tentang robot berwarna merah muda.
"Ini silahkan bapak lihat sendiri." memberikan secarik kertas pada Aditya yang terdapat tulisan barang apa saja yang harus ia beli pada waktu itu.
Aditya menerima uluran kertas dari Johan dan mulai memeriksa tulisannya satu persatu.
"Yang mana tulisan robot sih Han?" tanya Aditya ketika matanya tidak dapat menemukan kata robot yang dimaksud oleh Johan.
Johan kembali berdiri dan menghampiri meja Aditya lalu berdiri membungkuk di samping Aditya lantas menunjuk salah satu tulisan yang tampak tidak jelas.
"Ini."katanya seraya jarinya menunjuk sebaris kata yang tak jelas.
__ADS_1
"Astagaaa Johan,ini kan boneka Han,BO NE KA."kata Aditya begitu menyadari kata apa yang ditunjuk oleh sang asisten yang terkadang tak kalah ngaconya dengan dirinya.
Johan malah mengambil kertas dan mendekatkan nya ke arah mata agar bisa mencoba melihat dengan jelas kata yang hilang.
Lalu ketika sudah tahu bahwa dirinya salah mengira terhadap tulisan di kertas,ia hanya meletakkan kertas ke atas meja dengan gerakan yang begitu elegan seolah tidak ada salah yang ia perbuat.
"Boneka kan?" tanya Aditya dengan wajah sinis disertakan cibiran.
"Iya,tapi yang saya lihat waktu itu hanya bo nya saja dan kata robot langsung terlintas begitu saja di kepala saya."menjawab dengan begitu santai sambil kembali menuju meja kerjanya untuk duduk.
"Tapi kan bisa lu tanya dulu sama gua Han."seperti biasa jika sudah terlampau sewot berbicara dengan Johan dia akan mulai ber elu gua seenaknya.
Johan menggeleng.
"Saya tidak punya cukup waktu untuk bertanya pada bapak kala itu."
Mendengar penuturan Johan yang seperti orang penting itu sungguh membuat Aditya terus mengumpat dalam hati,apa saja ia ucapkan tanpa didengar oleh telinga asistennya itu.
"Yang penting kan robot itu sampai dengan selamat."Lagi-lagi jawabannya memancing kepanasan didalam kepala Aditya.
"Iya tuh robot emang sampai dengan selamat sehat tentram sentosa,tapi gua yang nggak selamat dari omelan anak gua."rahangnya berulang kali mengeluarkan suara gemeretakan tanda giginya sedang beradu menahan emosi.
"Saya tidak bertanggung jawab untuk itu." tuturnya seraya melanjutkan pekerjaannya yang sejak tadi ia diamkan karena diajak bicara oleh Aditya.
"Sebaiknya bapak mulai bekerja sekarang,karena saya lihat tumpukan berkas dimeja bapak hampir membuat wajah anda tidak terlihat."Johan menunjuk meja atasannya yang memang sangat penuh.
Ucapan Johan membuat Aditya mengambil salah satu berkas dengan kasar bahkan perbuatannya itu membuat tumpukan berkas hampir saja jatuh jika tidak segera ia tahan dengan tangannya.
Ruangan itu sudah hening karena kedua lelaki yang sibuk dangan pekerjaan masing-masing, Johan dengan berkas yang harus ia periksa lebih dulu sebelum diberikan kepada Aditya untuk ditanda tangani,serta Aditya yang kini tengah membubuhkan tanda tangan pada setiap berkas yang ada dihadapannya.
Suasana hening masih tercipta dan membuat ruangan itu menjadi damai setelah tadi terjadi perseteruan antara pemilik perusahaan dan asistennya yang sama-sama merasa benar.
__ADS_1
Namun sepertinya suasana damai itu tidak berlangsung lama,karena pintu yang terbuka dan memunculkan manusia bernama Roman yang langsung membuyarkan konsentrasi dua orang lelaki yang tadi fokus dengan pekerjaannya.
*****************