
Satu keluarga itu sudah berada di dalam mobil yang berjalan dengan Sang anak yang duduk di bangku penumpang belakang yang sibuk memanyunkan bibirnya ketika kedua orang tuanya itu terus bertanya apa yang menyebabkannya jadi seperti sekarang ini.
Sebagai orang tua Tania dan Roman cukup tahu seperti apa rasa suka Rona pada Darren, oleh sebab itu mereka merasa aneh saat sang anak mengatakan tidak ingin menikah dengan Darren mengingat pemuda itu adalah yang anak mereka sukai.
Sepanjang perjalanan dua orang dewasa itu berusaha untuk membujuk anak mereka untuk berbicara dan memberitahu apa yang terjadi.
Tapi hasilnya nihil, gadis mereka tidak juga mau membuka mulutnya bahkan malah semakin mengunci rapat dengan bibir yang di majukan.
"Kita tanya Darren aja." kata Roman yang akhirnya menyerah karena tidak berhasil membuat anaknya berbicara.
Tania mengangguk seraya mendesah panjang dengan sikap Rona yang tidak seperti biasanya itu.
Tak butuh waktu lama mereka bertiga pun akhirnya sampai di rumah Aditya, memang jarak komplek rumah mereka tidak terlalu jauh makanya setiap kali pulang sekolah Rona bisa saja tiba-tiba muncul di rumah Aditya dengan berbagai macam alasan untuk bisa bertemu dengan Darren.
Roman dan istrinya turun dari dalam mobil dan langsung berjalan menuju pintu rumah yang memang terbuka, mereka berjalan beriringan dan masuk setelah sebelumnya mengucapkan salam.
Aditya datang menghampiri keduanya dengan tatapan curiga, sebab tidak biasanya temannya itu datang pagi-pagi sekali bersama istrinya.
"Ngapain ngeliatin gua kayak gitu?!" tanya Roman sengit.
"Lu ngapain pagi-pagi Dateng ke sini?" tanya Aditya, lihatlah tingkah laku mereka yang masih tetap saja sama seperti dulu setiap kali bertemu, selalu diawali dengan adu mulut apapun situasinya.
"Urusan anak gua." sahut Roman singkat yang makin mengernyitkan kening Aditya.
"Terus anak lu mana?" tanya Aditya dan pertanyaan Aditya itu sontak membuat Roman juga Tania memutat kepalanya untuk melihat ke belakang mereka, terkejutlah mereka karena Rona tidak ada.
"Rona mana?" bertanya pada istrinya yang hanya mengedikkan bahunya sebab ia sendiripun tidak tahu dimana Rona sekarang.
Sontak mereka bertiga berjalan keluar mencari Rona.
"Rona!" seru Tania memanggil sang anak sedang mata Roman berkeliling mencari gadis yang sejak semalam terus saja menunjukkan wajah tak biasa.
Saat Roman tengah mencari, Aditya berdiri di dekatnya memberikan colekan di bahu Roman dan saat Temannya itu menoleh tangan Aditya lantas menunjuk ke dalam mobil milik Roman.
"Astagaa." pekik Roman yang membuat Tania menoleh.
"Kenapa?" tanya Tania.
"Tuh anak kamu, kita sibuk nyariin dia malah asik duduk di dalam mobil." kata Roman pada sang istri.
Tania pun menggeleng-gelengkan kepala melihat anaknya seraya berjalan menghampiri mobil dan berbicara pada anaknya itu.
"Ayo turun." ajak Tania.
"Rona nggak mau ketemu Kak Darren." tutur Rona.
"Diapain lagi sama Darren?" tanya Aditya yang sudah sangat paham dengan tingkah anak lelakinya yang memang menuruni sifat dan kelakuannya, jadi dia cukup sadar diri untuk bisa menebak Rona seperti itu pasti ada yang telah di lakukan oleh Darren.
"Tanya aja anak lu sendiri." jawab Roman seraya masuk ke dalam rumah.
"Ayo Rona, nggak enak sama Om Adit tuh." kata Tania berusaha meminta Rona untuk keluar dari mobil.
"Tapi Rona males liat Kak Darren." sahut gadis yang memakai kaos berwarna abu itu.
"Ya nggak usah di liatin." ucap Tania.
"Yuk kalau kayak gini nanti Papah marah loh." Tania berusaha menakut-nakuti sebab biar bagaimanapun Rona memiliki rasa takut jika Papahnya sudah marah.
Akhirnya gadis itu mau juga untuk turun dari dalam mobil dan pasrah saja ketika Mamahnya itu menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Rona menghempaskan tubuhnya di atas sofa berhadapan dengan Aditya setelah sebelumnya mencium tangan lelaki yang menjadi Ayah dari lelaki yang sejak semalam membuatnya kesal itu, dan kedua orang tuanya yang duduk di samping kiri kanannya.
"Udah lama Mbak?" sapa Rianti yang baru saja turun entah sedang apa dia di lantai atas hingga tidak mendengar kedatangan keluarga Roman.
"Baru sampai kok." sahut Tania.
Rona pun berdiri untuk mencium tangan Rianti.
"Darren." Rianti berteriak memanggil putranya yang sedang bersiap di dalam kamar.
"Iya Bu, kenapa?" sahut Darren.
"Ada Om sama Tante nih, cepat turun." ujar Rianti memberitahu sedang Rona makin memajukan bibirnya cemberut.
"Sebentar, Darren lagi siap-siap." masih menjawab dengan suara yang keras agar sang Ibu mendengar.
"Darren mau pergi kayaknya ya?" tanya Tania.
"Iya mau ke kampus katanya sih tadi."
"Bukannya libur?" Roman bersuara karena memang ini hari Minggu dan Darren tidak ada kuliah di hari Minggu.
"Ada rapat, katanya sih mau bahas soal camping." kali ini Aditya yang menjawab.
"Alasan aja, paling juga mau ketemu sama cewek yang semalam." gerutu Rona di samping Mamahnya.
"Kamu ngomong?" tanya Tania.
Rona menggeleng cepat lalu memamerkan senyum kamu di wajahnya.
Kedua pasang orang tua itu mulai sibuk mengobrol masing-masing sedangkan Rona hanya diam saja persis seperti patung pajangan hingga tak lama Darren turun dengan memakai jaket serta Tas ransel hitam yang berada di punggungnya.
Darren melirik Rona setelah menyalami Roman dan Tania, namun tampaknya Rona memang malas untuk melihat Darren karena saat Darren meliriknya Rona malah melengos dengan sangat juteknya.
"Duduk dulu sini." kata Aditya pada sang anak.
"Darren udah di tungguin Yah." ucap Darren sambil tetap berdiri.
"Sebentar aja, ada yang mau di omongin Sama Rona." Rianti berucap di samping Aditya.
"Ya udah ngomong aja." ujar Darren masih dengan wajah tenangnya.
"Kamu ngomong langsung aja." Roman berbicara pada Rona.
Aditya dan Rianti yang sudah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Rona hanya diam menunggu tanggapan yang seperti apa yang akan di tunjukkan oleh anak mereka nantinya, yang jelas mereka pastikan Darren akan melotot tak percaya setelahnya.
"Rona nggak mau nikah sama Kak Darren." kata Rona yang membuat mata Darren memicing.
"Apaan?" tanya Darren seperti orang yang kehilangan pendengarannya dalam sekejap.
"Malah mendadak Bolot." gumam Aditya mengejek anaknya.
"Rona nggak mau nikah sama Kakak!" kali ini Rona berbicara dengan nada tinggi agar pemuda yang masih berdiri itu bisa mendengarnya.
"Ngomong apaan sih Na, Nggak jelas banget." kata Darren seraya duduk.
"Katanya udah di tungguin, kok malah duduk?" ledek Aditya.
"Ayah diem ah." omel Darren yang sedang tidak ingin mendengar ledekan dari siapapun termasuk Ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Orang ngomong jelas begitu." lagi-lagi Aditya yang menjawab, sungguh mulut lelaki di samping Rianti itu tidak bisa diam meskipun anaknya sudah memintanya untuk diam.
"Maksud Darren kenapa dia ngomong kayak gitu? emangnya Darren bikin salah? dia kalau emang dari awal nggak mau nikah sama Darren ya udah ngomong, jangan udah lama baru ngomong. nggak jelas." anak dari Aditya sudah mulai menunjukkan kekesalannya pada Rona.
Mata Rona membesar mendengar ocehan pemuda di depannya saat ini, tidak terima di bilang tidak jelas, padahal Rona jelas-jelas semua ini karena yang dia lakukan semalam.
"Kakak yang nggak jelas." seru Rona.
"Aku nggak jelas kenapa?" sentak Darren.
"Ngapain semalam boncengan sama cewek?" tanya Rona yang membuat keempat orang dewasa di dekatnya akhirnya mengetahui permasalahan antar dua anak yang di jodohkan itu.
"Cuma nganterin dia pulang doang, kan kamu denger sendiri semalam, aku udah suruh Sherin buat naik taksi tapi dianya nggak mau." jawab Darren.
"Giliran tuh cewek aja di anterin, nah kemarin waktu aku bilang udah terlambat sekolah Kakak malah tinggalin." ungkap Rona.
"Pake pelukan segala lagi." lanjut Rona.
"Kamu ya Darren." mata Rianti mendelik melihat anaknya.
"Rona juga salah Bu." Darren tak mau mengalah.
"Aku salah apa coba."
"Malam-malam kamu masih jalan sama bocah tengil, mana aku di panggil Om-Om lagi." adu Darren yang sontak membuat Roman berkata.
"Jadi yang di maksud Tyo itu kamu?" tanya Roman.
"Tuh bocah ngomong apa emang Om?" tanya Darren.
"Cuma bilang Rona ketemu Om-Om." sahut Roman.
"Tuh liat, temen kamu ngajak jelas emang, sembarangan kalau ngomong." seru Darren pada Rona.
"Kayaknya kamu emang udah pantas di panggil Om, apa Ayah suruh Kakak kamu nikah aja Ya?" Aditya mulai lagi dengan tingkah tak jelasnya.
"Mbak, bantuin aku bikin kue aja yuk, pusing kita di sini." Rianti mengajak Tania untuk ke dapur dari pada kepala mereka semakin pusing.
Tania pun cepat berdiri karena telinganya juga sudah mulai berdengung.
Di saat Rona dan Darren masih saja berseteru Aditya dan Roman juga pindah ke ruang tamu untuk bermain catur, seperti sudah masa Bodo dengan anak mereka yang satupun tidak ada yang mau mengalah.
"Ngapain Kak Darren masih di sini? katanya tadi mau pergi." sungut Rona.
Darren menarik napasnya lalu bangkit dari duduk bukan langsung keluar tapi malah menarik tangan Rona untuk ikut bersamanya.
Darren memakaikan Helm pada Rona dan memintanya untuk naik ke atas motor.
"Nggak mau." Rona menolak.
"Naik nggak." kata Darren dengan tegas.
"Rona!" bentak Darren yang membuat gadis di depannya itu segera naik ke atas motor miliknya.
"Pegangan." seru Darren pada Rona.
Tangan Rona pun berpegangan pada Ransel yang ada di punggung Darren.
"Ck." Darren berdecak kesal lalu memindahoan ranselnya ke depan dan menarik kedua tangan Rona untuk memegang pinggangnya.
__ADS_1
Motor pun melaju pelan menuju kampus dengan mulut mereka yang tak saling bicara.
****