
Begitu mematikan HPnya Darren tampak melamun sendiri, memikirkan bagaimana nantinya jika Rendi malah semakin dekat dengan Rona, apalagi sekarang Rendi sudah tau rumah Rona dan itupun dia sendiri yang memberitahukannya.
"Kenapa kamu malah bengong begitu?" tanya Roman melihat wajah anak dari temannya.
"Nggak apa-apa Om." menjawab bohong lalu dalam sekejap merubah ekspresi wajahnya.
"Darren mau ngomong sama Rona ya Om." ijin pemuda yang terlihat sangat kelelahan itu, bagaimana tidak lelah jika baru saja menempuh perjalanan yang cukup panjang dan masih harus mengkhawatirkan keadaan Rona yang mendadak demam, jika saja ini rumahnya sendiri mungkin sudah sejak tadi dia langsung mencari tempat untuk bisa merebahkan tubuhnya.
Roman seolah tau bagaimana lelahnya Darren pun berucap sebelum anak Aditya itu menghilang ke dalam kamar anaknya.
"Kamu kalau capek tidur aja Darren, nggak usah kaku kayak gitu, waktu kecil aja kamu sering geratakan di rumah ini kok." seru Roman yang membuat Darren tersenyum malu.
Memang waktu kecil kelakuannya sungguh tak tau malu ketika orang tuanya mengunjungi rumah Roman, pintu baru di buka saja Darren kecil sudah langsung nyelonong masuk ke dalam ruang tamu Roman lalu membuka seluruh laci meja dan lemari pajangan guna mencari mainan atau sejenisnya yang bisa dia mainkan, bahkan terkadang tak jarang membuat Rona menangis karena dia yang dengan gemasnya akan mencubit pipi Rona yang saat kecil cukup berisi.
"Permisi Tante." ucap Darren sopan ketika melihat Tania tengah menaikkan selimut di tubuh Rona.
"Tante tinggal ya, kalian jangan curi-curi kesempatan." tekan Tania dengan tatapan mata yang dibuat tajam membuat Rona tertawa melihatnya.
Mendengar peringatan dari sang calon Mamah mertuanya itu membuat Darren menggaruk tengkuknya mengingat sebelumnya dia pernah mencuri kesempatan bahkan hampir saja melakukan perbuatan yang lebih jauh bersama Rona.
Tania keluar dari dalam kamar sengaja membiarkan pintu terbuka lebar agar kedua remaja itu tidak melakukan hal yang tidak ia inginkan.
"Na." Panggil Darren seraya duduk disebelah Rona yang kini berusaha untuk bersandar di tempat tidur dan Darren pun membantunya.
"Kenapa?" tanya Rona kemudian setelah merasa posisinya nyaman.
__ADS_1
"Rendi mau ke sini?" Darren memberitahukan pada Rona yang gegas menatapnya.
"Ngapain?" tanya Rona bingung.
"Dia kan lihat waktu kamu di dorong sama Sherin." tutur Darren dengan segurat wajah yang terlihat kecemburuan.
"Ya udah nggak apa-apa." kata Rona akhirnya.
"Kok nggak apa-apa?" tanya Darren dengan nada kesal.
"Ya memangnya harus gitu kan, kamu cemburu ya?" Rona sudah bisa menebak apa yang kini tengah mengusik perasaan seorang Darren.
Mata Darren mendelik memperingatkan Rona untuk mengecilkan suaranya yang terdengar kencang itu.
"Nggak, ngapain cemburu orang kamu nya juga cuma mau sama aku kok." berbicara dengan tingkat pede yang sangat tinggi bahkan sepertinya kepedean sang Ayah pun berada setingkat di bawahnya.
"Kata aku lah, buktinya semalam.."
"Jangan di terusin!" Rona membekap mulut Darren untuk tidak melanjutkan perkataannya tentang kejadian yang hampir saja mereka lakukan dan sekarang hanya terdengar gumaman-gumaman tak jelas dari mulut Darren yang di bekap olehnya.
"Astaga Rona, Darren!" seru Roman kaget ketika mendapati tangan anaknya melingkar di tengkuk Darren lalu saling berhadapan dengan posisi Darren yang membelakangi pintu membuat Roman berpikir kalau kedua anak muda itu tengah berciuman.
Darren dan Rona kompak menoleh lalu tangan Rona mendorong tubuh Darren menjauh darinya padahal tadi dialah yang menarik Darren untuk membekap mulutnya.
"Om bakal telepon Ayah kamu Darren." tegas Roman seraya berjalan keluar.
__ADS_1
"Na urusan Rendi belum selesai, sekarang karena kamu aku bakal kena ceramah Ayah." ucap Darren dengan wajah panik lalu menyusul Roman keluar.
Kecemasan juga tampak di wajah Rona yang kini tengah memainkan kuku jarinya.
"Tari kan Mamah udah bilang Na, Jangan curi-curi kesempatan, kalau udah kayak gini ribet Na, Papah kamu dan Ayahnya Darren pasti mulutnya berisik." omel Tania yang sudah bisa menebak apa yang akan terjadi di rumahnya sebentar lagi, rumah itu dengan segera akan menjadi ajang untuk berdebat yang tak jelas arahnya karena kelakuan sepasang anak manusia yang sudah di jodohkan itu.
"Tapi Rona sama Kak Darren nggak ngapa-ngapain Mah." Rona membela diri karena memang apa yang di lihat oleh Papahnya itu tidak seperti yang sang Papah pikirkan.
"Papah kamu itu lebih percaya sama apa yang dia lihat Rona!" Tania yang sudah paham dengan sifat suaminya itu terus mengomeli anaknya yang memperlihatkan wajah sendu di tambah dengan kondisi badan yang masih sedikit demam.
Di dalam kamar Tania masih berbicara dengan anaknya sedangkan di luar Darren terus mengekori Roman yang sedang berbicara dengan Ayahnya melalui sambungan telepon.
Darren mencoba untuk menerangkan kejadian sebenarnya tapi itu tetap tidak membuat Roman percaya sedikitpun, sampai kemudian suara mesin mobil berhenti di halaman rumahnya.
"Gue tunggu lu nanti malam." kata Roman ketika Aditya mengatakan baru akan bisa datang nanti malam karena sekarang dia sedang berada di luar kota.
"Itu Rendi Om." kata Darren saat Roman hanya berdiri saja di depan pintu ketika seorang anak muda berpenampilan rapi turun dari mobil.
Darren memicing melihat betapa sempurnanya Rendi seperti tengah datang untuk mengapeli kekasihnya.
"Om." sapa Rendi pada Roman dengan senyuman yang sangat manis.
"Masuk." tutur Roman tanpa ekspresi.
"Setelah lu dan Rona pulang, anak-anak juga ikut pulang." kata Rendi pada Darren yang padahal tidak bertanya tentang dirinya dan yang lain, karena Darren tidak peduli tentang apapun yang akan dilakukan oleh teman-temannya itu, sekarang yang dia pikirkan adalah bagaimana caranya agar Rendi tidak tebar pesona pada Rona dan mencari muka pada calon mertuanya juga cara menghadapi orang tuanya nanti yang sudah bisa di pastikan akan mengomel padanya karena dia sempat mendengar calon Papah mertuanya berbicara dengan Ayahnya.
__ADS_1
****