Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M ll bagian 11


__ADS_3

"Ronaaa." Darren memanggil Rona yang terus berjalan cepat menghindari dirinya namun wanita itu seperti tengah menutup telinganya tak mau mendengar panggilan darinya yang sejak tadi terus mencoba untuk menghentikan gerak langkahnya.


Sejurus kemudian Rona berbalik cepat dengan mata yang menatap sinis pada lelaki yang berhenti tepat di depannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Darren.


"Pulang lah, ngapain di sini? cuma bikin kesel doang." Rona berkata ketus.


Siapa yang tidak kesal jika dirinya tidak di bolehkan untuk ikut untuk camping padahal dia juga ingin mengawasi calon suaminya dari wanita nakal yang sejak tadi menatapnya dengan sinis, di tambah lagi pengakuan lelaki di depannya tentang dirinya yang bukanlah ciuman pertama lelaki itu.


Sungguh kesal dalam kepalanya sudah memuncak dan masih harus di tambah lagi dengan larangan Darren padanya.


"Aku antar." ajak Darren.


"Nggak usah, Rona bisa pulang sendiri." tolak Rona dengan wajah marah.


"Sana Kakak urusin aja tuh camping nya biar bisa berduaan sama yang namanya Sherin." tuduh gadis yang bulu matanya terlihat sangat lentik meski tidak memakai apapun.


"Lah kok jadi nuduh kayak gitu? emangnya siapa yang mau berduaan sama dia?!" ujar Darren seraya melihat wanita mungil di depannya, wanita yang akan menjadi istrinya itu tampak tengah marah meluapkan rasa cemburu yang hinggap di dalam hatinya.


"Ya Kakak lah, buktinya aku mau ikut nggak boleh, apalagi dong alasannya kalau bukan itu?!" sengit Rona seraya kembali berjalan.


"Biarin aja kalau Kakak nggak ajak aku, aku bakal pergi ke villanya Tyo." ancam Rona yang membuat mata Darren membelalak lebar mendengarnya.


"Loh Nggak bisa gitu dong." Darren menarik tangan Rona yang hampir menjauh darinya.


"Ya bisa lah, Kak Darren juga bisa. masa aku nggak?!" desis Rona.


"Kamu kenapa si Na? marah-marah terus." keluh Darren seakan dia tidak mau mengerti dengan yang tengah di rasakan oleh Rona saat ini.


Kening Rona mengernyit dengan pertanyaan Darren.


"Kakak tuh aneh ya, udah tahu aku marah karena apa tapi malah tanya kenapa marah-marah terus, jadi Kakak maunya aku diem aja gitu? masa bodo Kakak mau pergi kemana aja. sedangkan aku tahu Kakak mau pergi sama wanita yang kelihatan banget suka sama Kakak!" cerocos Rona.


"Aneh, malah di bilang marah-marah terus." desis Rona seraya melayangkan tatatapan kesalnya.


"Kan rame-rame Na, Nggak cuma berdua doang." Darren mencoba menerangkan.


"Rona tahu Kakak pergi sama teman-teman Kakak, tapi Rona tetap nggak percaya." ketus Rona sambil berjalan.

__ADS_1


"Ya udah, ya udah kamu maunya apa sekarang?" dengan bodohnya masih saja bertanya kekasihnya mau apa padahal sejak tadi yang Rona bicarakan adalah dia ingin ikut bersama kekasihnya itu.


"Ikut Kakak camping!" ujar Rona tegas.


Darren menarik napas panjang sebelum memberikan jawaban.


"Ya udah." kata Darren.


"Ya udah apa?!" tanya Rona seraya menghentikan langkah kakinya dan menatap lelaki yang entah kenapa malah semakin tampan saja setiap harinya hingga Rona tidak rela ada wanita lain yang mendekatinya bahkan mencoba untuk merebut calon suaminya itu.


"Iya kamu ikut." ucap Darren kemudian.


Mata Rona yang tadinya memancarkan aura marah kini berubah menjadi menggemaskan sepertinya biasanya, kedua bola mata yang selalu memancarkan keteduhan setiap kali Darren memandangnya membuat dia bahkan tidak rela ada lelaki yang memandang kedua bola mata milik Rona.


"Tuh gitu harusnya Dari tadi." ucap Rona dengan senyum puas.


"Tapi janji dulu." kata Darren.


"Janji apa?" tanya Rona antusias.


"jangan jauh dari aku."


"Nggak kayak gini juga Rona." tutur Darren sambil melepaskan tangan wanita yang tengah memegang erat lengannya.


"Iish." Rona memanyunkan bibirnya saat Darren berjalan, tapi kemudian wanita itu tersenyum senang karena ia paham benar bagaimana perangai lelaki bernama Darrendra itu, memiliki rasa sayang yang besar namun enggan sekali untuk menunjukkannya secara berlebihan pada orang lain.


Rona terus menyunggingkan senyumnya seraya berjalan menyusul Darren.


"Satu syarat lagi." ujar Darren tanpa menghentikan langkahnya.


"Masih ada lagi?" tanya Rona.


"Iya, dan harus kamu lakukan." tukas Darren.


"Apa? cepat katakan." Rona terlihat tidak sabar.


"Kalau di depan teman-teman aku jangan panggil aku Kakak." seru Darren sambil duduk di motornya dan memakai helm.


Alis Rona tertaut mendengarnya.

__ADS_1


"Kenapa nggak boleh panggil Kakak?" tanya Rona bingung sekaligus heran sebab dari dulu ia sudah memanggil Darren dengan panggilan Kakak dan ia sudah terbiasa dengan panggilannya itu tapi kenapa sekarang Darren mendadak melarangnya memanggil dengan sebutan Kakak.


"Aku bukan Kakak kamu!" tegas Darren.


"Cepat Rona." kata Darren gemas ketika Rona malah masih berdiri saja di samping motornya.


"Terus aku panggil apa?" kata Rona seraya gegas naik ke atas motor yang tadi membuatnya mengeluh merasakan pegal.


"Terserah, asal jangan panggil Kakak." Darren mengingatkan.


"Panggil apa Ya?" Rona terlihat tengah berpikir saat Darren sibuk memundurkan motornya dari parkiran.


"Kalau panggil Mas boleh?" tanya Rona mendekati kepala Darren agar lelaki itu mendengar perkataannya.


"Nggaak." seru Darren dengan kencang.


"Itu kan bagus, kayak di novel-novel." ucap Rona tak mau kalah.


"Itu panggilan Ibu ke Ayah." kata Darren.


"Terus apa dong?" Rona mulai bingung.


"Terserah." sahut Darren.


"Di Panggil Mas nggak mau, tapi di tanya terserah-terserah Mulu." keluh Rona.



"Tau ah." akhirnya malas untuk berpikir.


"Pegangan Rona." pinta Darren ketika tidak merasakan tangan Rona di pinggangnya.


Kedua tangan Rona pun sudah mendekap pinggang Darren dengan erat menampilkan sunggingan di bibir Darren.


"Mau nonton nggak?" tawar Darren ketika mereka sudah berada di jalan raya.


"Mau mau." jawab Rona secepat kilat.


Dan tanpa berkata lagi Darren pun membawa motornya ke sebuah Mall besar untuk mengajak Rona Nonton.

__ADS_1


****


__ADS_2