Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 104


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu dengan begitu cepat hingga di kamis sore saat Rianti sedang sibuk menyiapkan makanan untuk suaminya pulang bekerja telinganya di usik dengan suara bel dari pintu yang di tekan berulang kali dan sangat kuat.


Rianti langsung berlari untuk membuka pintu dan ia melihat Aji so penjaga pintu pagar tengah berbicara dengan seorang wanita yang posisinya saat ini membelakangi dirinya.


"Siapa Ji?" tanya Rianti.


Aji menoleh begitupun dengan wanita yang sontak membuat kedua mata Rianti membola.


Meski sudah bertahun-tahun berlalu namun ia tidak akan pernah melupakan semua yang telah wanita itu perbuat padanya.


"Mau apa kamu datang kesini?" tanya Rianti dengan raut wajah yang sangat sulit untuk bisa bersikap ramah.


"Kita perlu bicara."


"Bicara saja disini," tukas Rianti.


Melly melirik pada Aji yang tetap berdiri di tempatnya, terlihat tidak nyaman dengan kehadiran penjaga itu.


"Aku ingin bicara berdua saja denganmu," pinta Melly dengan tatapan yang sangat sulit untuk di tebak oleh Rianti.


"Biarkan aku masuk, aku tidak akan melakukan apapun padamu," tutur Melly meyakinkan wanita yang sebenarnya memang sudah sangat waspada dengan dirinya.


Dengan ragu Ranti akhirnya menyingkir dari pintu dan membiarkan mantan kekasih dari suaminya itu masuk ke dalam rumahnya.


"Kamu kembali ke depan saja," kata Rianti pada Aji.


"Apa tidak apa-apa jika wanita itu dibiarkan masuk?" tanya Aji, raut wajahnya bahkan menyiratkan kecemasan, sedikit banyak tentunya dia sudah tahu siapa wanita yang sekarang ini datang, mengingat dirinya sudah cukup lama bekerja bersama dengan Aditya.


Di dalam ruangan Melly Dirsya sedang sangat begitu panik karena ruangan itu sudah sangat berantakan setelah Melly yang kembali mengamuk karena para penagih hutang yang datang bergantian memaksanya untuk segera melunasi hutang perusahaan yang jelas tidak akan sanggup untuk ia bayar lagi.


Semua miliknya sudah benar-benar habis tak bersisa, bahkan rumah pun akan segera ia jual untuk menutupi gaji karyawan yang harus ia bayarkan ketimbang terus menerus mendapatkan tuntutan dari kanan kiri.


Tadi pun Dirsya sudah mencoba untuk menenangkan wanita yang dalam kondisi sangat frustasi itu, namun Melly tetap saja tidak mendengarkan malah semakin semangat menghancurkan semua yang terlihat olehnya.


"Terus sekarang Bu Melly pergi kemana?" tanya salah satu karyawan yang membantu Dirsya untuk merapikan isi ruangan itu, memasukkan semuanya ke dalam kotak-kotak besar karena memang kantor itu harus segera di kosongkan.

__ADS_1


"Nggak tau gue, dia lari gitu aja gue juga nggak sempat cegah dia. semuanya benar-benar sangat kacau," ucap Dirsya menghela nafas.


"Gue juga nggak pernah menyangka bahwa kantor ini sudah benar-benar bangkrut dan tidak akan beroperasi lagi," timpal satu karyawan pria yang juga berada di dalam ruangan itu.


Semuanya langsung terdiam masing-masing dengan pikirannya sendiri yang setelah ini harus pusing untuk mencari pekerjaan yang baru, tentu tidak akan mudah untuk bisa mendapatkan pekerjaan apalagi dengan kondisi seperti sekarang ini yang dimana banyak perusahaan yang tengah mengurangi pekerjanya agar perusahaan bisa terus berjalan.


Ruangan itu sudah kembali hening hanya terdengar suara barang yang tengah mereka masukkan ke dalam kotak juga barang hancur ke tempat sampah untuk mereka buang.


****


Rianti dan Melly duduk saling berhadapan dengan Rianti yang tengah menunggu apa yang hendak Melly katakan padanya.


"Aditya menghancurkan perusahaan milikku dan aku sekarang bangkrut tidak ada yang tersisa." akhirnya setelah cukup lama diam Melly bersuara, seperti tengah memberitahukan pada Rianti bahwa apa yang terjadi padanya adalah perbuatan suaminya.


Inilah yang membuat Melly kembali mengamuk di kantornya, setelah mengetahui siapa dalang di balik hancurnya semua usaha yang dia punya sehingga tanpa berpikir langsung berlari menuju rumah Aditya, jelas tujuannya adalah untuk bertemu Rianti karena ia tahu di jam itu Aditya belum pulang dari kantor.


Rianti mendesah berat, ia memang cukup terkejut karena sungguh ia tidak tahu apa yang suaminya perbuat pada wanita di depannya ini, bahkan wanita itu kembali muncul pun ia juga tidak mengetahuinya.


"Aku tidak tau apa-apa," kata Rianti menatap wajah Melly yang terlihat berantakan.


Melly menunjuk Rianti dengan tajam lalu menatapnya penuh kebencian serta kemarahan dan ketidak terimaan atas semua yang menimpanya.


Rianti adalah orang yang tepat untuk ia salahkan karena Melly merasa Rianti sudah sangat menikmati hidupnya dengan pria yang ia cintai, hidup bahagia dengan kemewahan yang seharusnya menjadi miliknya.


Rianti mengernyit dengan sikap Melly yang seenaknya menunjuk serta menuduhnya.


"Aku memang tidak pernah meminta Aditya untuk melakukan apapun! jika Aditya melakukan itu mungkin karena dia memang sangat membencimu Melly!" kata Rianti tegas tidak terima dengan tudingan yang Melly layangkan padanya.


Sekalipun ia sangat benci wanita itu namun rasanya ia bukan orang yang akan menaruh dendam dan juga tidak mungkin meminta Aditya untuk berbuat jahat pada orang lain untuk membalaskan perlakukan orang itu.


"Tidak mungkin! aku tau Aditya sangat mencintaiku! dari dulu sampai sekarang pun aku masih bisa merasakan masih ada cinta yang dia simpan untukku!" pekik Melly.


Sungguh Rianti di buat tidak bisa berkedip sama sekali oleh ucapan gila yang Melly lontarkan barusan, bagaimana bisa wanita itu dengan lancarnya berkata bahwa Aditya masih menyimpan cinta padanya, apa mantan kekasih suaminya ini sudah benar-benar menjadi gila?


"Kamu sudah tidak waras, sebaiknya kamu pergi," usir Rianti yang sudah mulai jengah dan tidak ingin lagi menanggapi wanita gila di depannya sekarang.

__ADS_1


"Tidak! aku tidak akan pergi kemanapun! karena seharusnya ini adalah rumahku bersama dengan Aditya! seharusnya aku yang menikah dengannya!"


Bicara Melly semakin ngelantur dan tak jelas, kedua mata wanita itu bahkan sudah sangat merah terus melotot menatap tajam pada Rianti seolah Rianti adalah buruannya yang siap ia terkam kapanpun ia mau.


"Gila!" maki Rianti lalu beranjak dari sofa hendak menuju pintu namun Melly malah menarik tangannya dengan keras hingga tubuhnya terhempas jatuh ke atas sofa.



"Kamu wanita gila yang sudah merebut Aditya dariku! kamu wanita gila yang harus aku singkirkan!" seru Melly menduduki tubuh Rianti yang mencoba untuk menjauh dari wanita yang sepertinya sudah kehilangan kewarasannya.


Rianti mendorong tubuh Melly namun wanita itu malah menjambak rambutnya dengan sangat beringas bahkan dengan begitu kesetanan menampar wajah Rianti berulang kali hingga pipinya berwarna merah dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Ajiiiiii!" teriak Rianti mencari pertolongan namun karena jarak pos jaga cukup jauh membuat penjaga itu tidak mendengar teriakan dari sang majikan.



"Tidak akan ada yang bisa menyelematkan kamu lagi seperti dulu, dan ketika Aditya datang nanti hanya ada tubuhmu tergeletak tak bernyawa," desis Melly dengan seringaian yang begitu mengerikan.



"Ajiiiiiiiiii!" Rianti kembali mencoba untuk memanggil penjaganya berharap pria itu datang untuk membebaskan dirinya dari wanita gila yang berniat untuk membunuhnya.



Rianti sambil terus berusaha untuk menyingkirkan Melly dari tubuhnya dan dengan usaha yang sangat keras akhirnya wanita itu terjatuh ke lantai, Rianti pun mengambil kesempatan itu untuk berlari namun nyatanya tangan Melly malah mencengkeram kakinya hingga tak bisa melangkah.



"Jangan pernah bermimpi untuk bisa lari dan menyelamatkan nyawamu darimu, karena aku tidak akan membiarkannya! ini kesempatan bagiku untuk bisa menghilangkan kamu dari hidup Aditya!" teriak Melly lalu menghentakkan kaki Rianti hingga wanita itu terjatuh.



Dan Melly kembali berusaha untuk menyakiti Rianti, tidak memberikannya kesempatan untuk melawan sedikitpun, sungguh Melly seperti tengah dirasuki oleh iblis sehingga kedua matanya hanya ada kebencian.


__ADS_1


\*\*\*\*\*


__ADS_2