
Rama yang sudah masuk kembali kedalam ruangan Selfi kini hanya duduk seraya memainkan ponselnya sambil menunggu Selfi bangun dari tidurnya.
Tak lama kemudian menyadari ada pergerakan dari arah ranjang didepannya membuat Rama mengangkat wajahnya dan melihat Selfi yang kini tengah berusaha untuk duduk.
Selfi melihat ke sekelilingnya tampak bingung begitu menyadari dirinya sekarang ini berada didalam kamar rumah sakit.
Mata Selfi berhenti ketika melihat seorang lelaki yang tidak ia kenal duduk di sofa dan terus memperhatikannya.
"Kamu siapa?" Selfi mulai membuka mulutnya menanyakan siapa gerangan lelaki yang kini ada didalam ruangannya.
Rama menarik napas sebentar untuk kemudian mulai beranjak dari duduknya dan menghampiri ranjang yang ditempati oleh Selfi.
"Seharusnya saya yang harus tanya siapa kamu dan kenapa malam-malam begini ada di jalanan bahkan hanya seorang diri, jika saya jahat mungkin saja saya sudah meninggalkan kamu seorang diri dan tidak perduli apapun yang akan terjadi pada kamu." ujar Rama dengan tatapan menyelidik dan kesal karena hari pertamanya di Indonesia harus dipertemukan dengan wanita ditengah jalan dalam kondisi hamil pula.
Selfi menundukkan kepalanya saat Rama dengan tegas menunjukkan tatapan matanya,saat ini ia merasa seperti seorang tersangka yang sedang diinterogasi oleh polisi yang begitu membuat tangannya bergetar hanya karena pertanyaan serta tatapan yang begitu tajam tertuju pada dirinya.
"Mana HP kamu?" tanya Rama kemudian karena Selfi yang tak juga mau menjawab pertanyaannya.
Selfi menggeleng, karena ia juga lupa dimana ponselnya berada sekarang ini,kemungkinan tak sengaja jatuh saat tadi ia ingin memasukkannya kedalam tas.
"KTP?" tak mau menyerah bertanya pada Selfi langsung padahal tadi ia sudah mencoba mencari sendiri di tas milik Selfi.
Untuk pertanyaan kali ini Selfi hanya diam,ia tidak menggeleng juga tidak mengangguk, malah kali ini ia terlihat tengah berpikir mengingat dimana ia meninggalkan KTPnya itu terakhir kali.
"Sepertinya ketinggalan di laci." hanya gumaman namun terdengar oleh Rama hingga lelaki itu langsung mengeluarkan pertanyaan.
"Laci mana?" tanya Rama.
Selfi menggeleng cepat tidak ingin memberitahukan pada Rama.
"Lupa." Selfi berkelit.
Rama mendengus kesal lalu menggaruk ujung alisnya berulang kali.
__ADS_1
"Telepon orang yang bisa menjemput kamu disini sekarang,saya masih banyak urusan yang harus dikerjakan." ujar Rama seraya menyodorkan ponselnya ke depan Selfi.
Selfi menatap Rama dengan tatapan sendu, sebenarnya saat ini ia bingung harus menghubungi siapa karena ia takut kehamilannya akan diketahui oleh orang lain terutama kakaknya Tania yang pastinya akan sangat marah kepada dirinya.
Karena selama ini ia sudah susah diatur dan terlalu banyak melawan pada sang kakak, bahkan saat terkahir dirinya menelepon sang kakak pun Selfi malah marah pada Tania karena tidak mau membantunya membayarkan biaya rumah sakit Imran.
Sungguh saat ini sangat amat menyesal karena tak pernah sekalipun mau mendengarkan apapun nasehat yang diberikan sang kakak,padahal ia tahu kakaknya itu begitu menyayangi dirinya.
Rama menggoyang-goyangkan ponsel ditangannya yang tidak juga mau diambil oleh Selfi.
"Ya sudah kalau begitu, saya tinggal kamu disini sendiri dan urus masalah Administrasi rumah sakit." Rama mengancam Selfi agar mau menghubungi orang yang ia kenal.
Rama sudah bersiap untuk angkat kaki, namun Selfi mencegahnya dan langsung mengambil ponsel yang ada ditangan Rama.
Selfi mengetikkan nomor telepon milik Tania, mau tak mau ia lakukan itu, sebab tak ada lagi yang bisa menolongnya selain sang kakak.
"Nggak aktif." ucap Selfi ketika tidak dapat menghubungi nomor Tania.
"Telepon yang lain." pinta Rama setelah mendengar sendiri bahwa memang nomor yang dihubungi tidak tersambung.
Selfi menerima ponsel yang diberikan Rama,namun ia tampak diam sejenak seperti mencoba untuk mengingat-ingat nomor siapa lagi yang bisa ia hubungi.
"Mas bisa tolong ambilkan tas saya nggak?" tanya Selfi karena merasa tidak juga bisa mengingat satupun nomor lagi selain nomor Tania.
Rama langsung berjalan keluar kembali ke mobilnya guna mengambil tas yang diminta oleh Selfi, bodohnya dia kenapa tadi setelah memeriksa tas Selfi tidak ia bawa saja keruangan malah kembali meninggalkannya didalam mobil.
Selfi menerima tas yang baru saja diberikan oleh Rama,ia langsung mencari-cari dompetnya yang memang ia masukkan kedalam tas.
Tangannya mengeluarkan sebuah kartu nama dan langsung mengetikkan nomor yang tertera dikartu nama itu kedalam ponsel, Rama hanya melihatnya saja seraya duduk kembali ke sofa menyilangkan kaki.
"Hallo ka." suara Selfi ketika panggilannya dijawab.
"Siapa?!" Roman bertanya ketus karena mendengar suara yang bukan suara istrinya padahal sejak tadi ia tengah menunggu sang istri yang kabur menghubungi dirinya.
__ADS_1
"Aku kak."
"Aku siapa?!" makin ketus saja suara Roman karena merasa orang yang menelepon nya sedang bertele-tele tak segera mengatakan siapa dirinya.
"Selfi." sahut Selfi dengan suara pelan dan terdengar tampak takut.
"Kenapa?! cepetan ngomong gua nggak ada waktu." Roman malah mengomel seolah mendapatkan orang yang tepat untuk tempat ia melampiaskan rasa kesalnya karena ditinggal oleh istrinya padahal Tania pergi belum sampai tiga hari tapi suaminya sudah sebegitu kelimpungan nya mencari sang istri, bahkan semua yang kenal Tania ia datangi, namun tak ada satupun yang mengetahui istrinya ada dimana.
Beneran tidak tahu atau hanya berpura-pura tidak tahu seperti Rianti, Roman pun tak tahu yang jelas seharian ini ia sudah dibuat emosi tinggi karena jawaban tidak tahu serta gelengan kepala yang terus saja membayangi mata juga telinganya saat ia mendatangi teman-teman Tania.
Rama yang tidak sabar melihat Selfi tak juga mengatakan tentang kondisinya sekarang ini lantas mengambil ponsel dari tangan Selfi lalu berbicara lantang pada orang yang dihubungi Selfi tanpa ia sadar bahwa ia mengenal siapa yang kini sedang ia ajak bicara.
"Istri lu ada di rumah sakit sekarang." ucap Rama mengira Selfi menghubungi suaminya.
"Istri gua?!" Roman kebingungan sendiri, aneh padahal tadi yang bicara dengannya itu Selfi.
Roman mulai menerka-nerka mungkinkah Tania sekarang sedang bersama Selfi?.
"Iya istri lu, gila lu yak jadi suami! istri hamil lu biarain kelilingan jalan kaki sendirian!" tanpa bertanya lebih dulu Rama memaki Roman.
"Hah? istri gua? dimana dia sekarang?kecelakaan? kecelakaan kenapa?" perkataan Rama sungguh membuat Roman panik dan mengira yang dibicarakan lelaki dibalik ponsel adalah Tania, istrinya.
"Dimana istri gua sekarang?!" Roman mengulangi pertanyaannya sambil berlari panik menuju kamar mengambil konci mobil.
Rama langsung saja memberitahukan alamat rumah sakit pada Roman, bahkan ia tak menyadari Selfi tengah menatapnya dengan kebingungan yang mendalam karena mendengar apa yang ia katakan pada Roman.
Sudah pasti saat ini Selfi harus menyiapkan dirinya dari kemurkaan sang kakak iparnya yang pasti mengetahui dirinya tengah hamil sekarang ini, belum lagi menghadapi kekecewaan dari kakak kandungnya nanti.
Sungguh rasanya ia tak sanggup lagi bertemu dan menampakkan wajah kehadapan kedua orang yang sudah begitu baik kepadanya selama ini, sekalipun selama ini ia selalu melawan dan tak pernah mau mendengarkan apa yang mereka larang hingga akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit seperti sekarang hamil tanpa seorang suami.
Mungkin inilah balasan atas segala perbuatan nakalnya selama ini, kini hanya penyesalan yang ia rasakan di lubuk hatinya.
******************
__ADS_1