
Senin pagi Rona sedang menyiapkan pakaian kerja yang akan dikenakan oleh sang suami, mengeluarkan pakaian kerja sesuai dengan yang ia inginkan, Darren sebagai suami hanya bisa memakai apa yang akan dipersiapkan oleh istrinya itu, tidak perlu membantah sekalipun dia terasa sedikit aneh dengan pemilihan warna kemeja yang entah istrinya dapat darimana kemeja berwarna ungu tua itu.
Darren terlihat berdiri dengan melihat pada kemeja yang ada di tangan sang istri.
"Kenapa ngeliatin kayak gitu? nggak mau pakai baju yang aku siapin lagi?" sindir Rona yang masih saja ingat pada kelakuan suaminya beberapa hari lalu.
Darren nyengir kaku lalu menggeleng kepalanya, "aku pakai kok," kata pria itu seraya mengambil kemeja di tangan Rona lalu melepaskan gantungannya dan dengan gerakan lambat diiringi dengan tarikan nafas yang sangat berat, pria itu akhirnya mulai memasukkan satu persatu tangannya pada si kemeja ungu tua itu hingga kemeja itu melekat sempurna di tubuhnya.
"Sini." Rona membantu mengancingkan kemeja itu, terlihat sangat telaten sebagai seorang istri.
"Kok kamu makin cantik ya," tukas Darren padahal yang saat ini dia lihat adalah puncak kepala istrinya bukan wajahnya.
"Ubun-ubun aku cantik?" cibir Rona lalu mengancingkan semua kancing pakaian itu hingga ke leher membuat Darren tercekik.
"Yang atas nggak usah Na, ngaco!" sentak Darren lalu membuka kembali kancing bagian paling atas.
"Kan mau pakai dasi harus di kancingin semua lah," terang wanita yang ada di depan Darren seraya mendangak.
Tinggi suaminya itu teramat menyusahkan dirinya saat mereka berbicara sambil berhadapan seperti ini.
"Aku nggak pakai dasi Rona Aliza!" Darren segera kabur ketika melihat istrinya sudah menunjukkan dasi yang warnanya luar biasa kontras dengan kemeja yang dia pakai saat ini.
Darren merasa istrinya itu sengaja mendandani dirinya dengan tampilan seperti itu agar menyamarkan ketampanannya sehingga tidak akan ada wanita di kantor yang melirik dirinya.
"Ih kenapa kabur sih, pakai dasinya Kakaak," pekik Rona mengejar sang suami yang berlari ke ruang tengah unit apartemen yang mereka tempati.
"Nggak mau!" tolak Darren seraya menunjuk Rona agar berhenti bergerak tak lagi mengejar dirinya.
"Biar keren Kak," tutur Rona membujuk sang suami yang tampak ngeri melihat tingkahnya saat ini.
"Nggak usah pakai gitu-gituan aku udah keren," sahut Darren dengan sangat narsis yang tinggi membuat Rona berdecak.
Namun dalam hati wanita itu ia membenarkan bahwa suaminya tidak memakai pakaian sekalipun akan tetap saja tampan, karena memang itulah kenyataannya dan kenyataan itu yang sekarang membuatnya takut akan ada wanita-wanita macam Sherin yang mendekati sang suami.
"Aku marah nih sama Kakak," ucap Rona dengan bibir mengerucut guna mengancam suaminya.
"Ya udah marah aja, mendingan marah dari pada aku di bikin kayak badut sulap, pakai setelan warna-warni nggak jelas." dengan ringannya Darren menantang istri kecilnya yang sebentar lagi akan masuk perguruan tinggi.
"Oh jadi gitu?" mata Rona memicing.
"Iya gitu, kamu mau apa?" kata Darren dengan tampang yang konyol dan meledek sang istri.
"Aku kabur lagi nih ya?" Rona mengeluarkan ancaman keduanya yang nyatanya hanya mendapatkan cebikkan bibir dari suaminya.
"Gih kabur, paling pulang ke rumah Papa sama Mama," tantang Darren.
"Dih nggak bakal ke rumah Papa lagi, nanti kamu susulin lagi!" seru Rona mendengus.
"Kalau gitu paling ke rumah Ayah terus curhat deh sama Ibu, ngadu Kak Darren gini Kak Darren gitu, Kak Darren jahat sama Rona," ejek Darren dengan bibirnya yang luar biasa sangat pandai di buat-buat menyebalkan.
"Tau ah!" Rona melemparkan dasi ke lantai lalu masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Apa yang Darren lakukan? pria itu terbengong dengan mulut terbuka dan bola matanya yang bergerak kesana-kemari melihat istrinya benar-benar ngambek padanya.
"Naaa," panggil Darren sambil mengambil dasi yang tergeletak di lantai, pria itu sedikit bergidik melihat campuran warna di dasi yang membuat mereka berdebat dan berakhir dengan Rona yang ngambek padanya.
"Bodo!" seru Rona dari dalam kamar ketika Darren memanggilnya serta mengetuk pintu.
"Rona sayang, sini dong aku berangkat ini," bujuk Darren dengan panggilan sayang yang jarang keluar dari mulutnya.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar membuat Darren kelabakan, pria itupun lalu segera memakai dasi yang tadi membuat mereka ribut dengan wajah yang meringis membayangkan bagaimana tampilannya saat ini jika dia bercermin.
"Ya deh Na aku pakai dasinya," kata Darren seraya mulai melilitkan dasi di kerah kemeja warna ungunya.
Ceklek!
Tak di sangka terdengar suara kunci yang di putar lalu handel pintu yang bergerak hingga pintu pun terbuka.
Darren nyengir lebar seraya menunjukkan dasi yang kini sudah terpasang rapi di lehernya.
"Nih udah aku pakai, ganteng nggak?" tanya Darren pada sang istri yang mengulas senyum.
"Ya udah sarapan dulu baru berangkat," ajak Rona.
Keduanya berjalan beriringan menuju dapur dan melewati lemari pajangan yang ada cerminnya membuat Darren berhenti melangkah.
"Beneran ganteng Na," Ucap Darren ketika melihat pantulan dirinya di cermin cukup besar di depannya kini.
Rona pun jadi ikut tertarik mendengar pernyataan sang suami lalu turut serta melihat pantulan suaminya di cermin.
Dalam sekejap mulutnya cemberut tak terima jika suaminya tetap saja terlihat sempurna sekalipun memakai baju serta dasi yang warnanya bertabrakan.
"Lepas!" cetus Rona dengan tangannya yang bergerak membuka dasi yang sudah sangat rapi di leher suaminya.
"Lah gimana sih Na, tadi maksa suruh pakai, pas udah di pakai malah suruh lepas," seru Darren aneh dengan sikap Rona.
"Nggak mau tau, pokoknya dasinya lepas," rajuk Rona.
"Ya udah aku buka, tapi jangan suruh pakai lagi ya?"
"Iyaa ih cepet lepasin," sahut Rona tak sabar dengan dasi yang sepertinya mulai betah nangkring di tubuh suami tampannya itu.
Darren pun membantu Rona membuka dasinya lalu memberikan dasi itu ke tangan sang istri yang kemudian meremas-remasnya dengan sangat gemas.
Melihat itu Darren pun tersenyum samar karena rencananya untuk tidak memakai dasi konyol itu sudah berhasil.
Darren menghembuskan nafas lega seraya mengelus dadanya sendiri di belakang Rona.
Keduanya mulai sibuk menikmati sarapan sederhana yang di buat oleh Rona, meski masij sedikit asin karena kebanyakan garam namun Darren tidak protes ataupun mengomel, pria itu tetap menikmati makanannya sampai habis.
"Na," panggil Darren setelah menenggak habis air minumnya.
"Hm," Rona mengangkat alisnya.
"Nanti kurangin garamnya sedikit ya," kata Darren lalu mengelus rambut sang istri.
__ADS_1
"Keasinan ya?" tanya Rona dengan wajah yang sedih.
"Nggak apa-apa, namanya juga baru belajar tapi besok-besok tinggal di kurangin aja garamnya dari yang tadi," tukas Darren sangat maklum jika dia memiliki istri yang belum pandai memasak.
Rona pun akhirnya mengangguk mengerti apa yang suaminya katakan, masih bagus dia memiliki suami seperti Darren yang tidak langsung mencela masakan yang ia buat, malah dengan lembutnya memberitahu dirinya tentang garam yang harus di kurangi.
"Kak."
"Iya sayaang," sahut Darren membuat Rona hampir saja pingsan karena suara serta ekspresi suaminya saat berkata seperti itu.
"Hari Kamis aku ambil ijazah, siapa yang ambil?" tanya Rona.
"Papa aja kali ya," si Rona ini tadi dia yang bertanya dan sekarang dia juga yang menjawab pertanyaannya sendiri membuat Darren menggelengkan kepala.
"Aku yang ambil," sahut Darren kemudian.
"Tapi kan Kakak kerja, biar Papa aja yang ambil. lagian kan.." Rona menghentikan ucapannya.
"Ya udah kalau mau Papa yang ambil," kata Darren yang tidak mau lagi mendebat istrinya.
Rona tersenyum haru betapa ia baru menyadari suaminya itu memang sangat perhatian padanya meskipun memiliki jiwa pencemburu yang sangat besar, tentunya rasa cemburu itu sangat wajar sebab Rona juga tidak akan suka bila melihat suaminya berdekatan dengan wanita lain apalagi teman-teman kampusnya.
****
Darren yang baru sampai di kantornya langsung saja menaiki lift menuju ruangan miliknya, saat keluar dari lift pria itu sudah di sambut oleh sekretarisnya yang dari awal Darren menjabat selalu saja merasa telinganya tersakiti karena panggilan Darren untuknya.
Bayangkan saja selama Desi menjadi sekretaris belum ada direktur manapun yang memanggilnya dengan panggilan Mbak! Desi benar-benar ingin protes namun ia masih memikirkan pekerjaannya yang mungkin dalam sekejap akan berakhir jika ia melakukan protes hanya karena panggilan Mbak yang direkturnya lakukan.
Desi menyambut kedatangan sang direktur dengan tubuh yang sedikit membungkuk sebagai tanda hormat.
Darren mengangguk lalu membuka pintu ruangannya namun ternyata dia tidak segera masuk karena kemudian dia memanggil sekretarisnya itu.
"Mbak."
Desi sedikit melemaskan tubuhnya karena sepagi ini telinganya sudah harus mendengar kata Mbak.
"Iya Direktur," sahut Desi yang sejak di larang oleh Darren untuk tidak memanggil Bapak segera menggantinya dengan panggilan direktur saja, itu lebih baik ketimbang harus terus menerus di protes, padahal ia juga sebenarnya sangat ingin protes pada sang direktur yang seenaknya memanggil dirinya Mbak.
"Siang ini anda ada pertemuan dengan pemilik perusahaan Argana group," terang Desi bahkan sebelum Darren bertanya.
Darren menautkan kedua alisnya mendengar keterangan sang sekretaris, "memang saya menanyakan itu?"
Pertanyaan Darren langsung di sambut dengan gelengan kepala dari wanita yang memakai rok pendek namun tetap terlihat sopan karena rok masih ada di bawah lutut wanita itu, tidak seperti rok sekolah istirnya yang tempo hari habis dia bedel jahitannya.
"Seharusnya saat saya memanggil Mbak cukup menjawab saja, lalu kembali menunggu apa yang ingin saya katakan, begitu urutan yang benar," tukas Darren.
Ya Tuhan baru juga datang namun Desi sudah merasa di permainkan oleh direkturnya yang mahasiswa itu, sekretaris itupun diam-diam mengurut dadanya menyabarkan dirinya agar tidak mengeluarkan emosinya yang sudah naik ke atas kepala.
"Buatkan saya teh," ucap Darren lalu dengan santainya melenggang masuk.
Desi meremat kedua tangannya ketika Darren masuk dan pintu tertutup guna menyalurkan rasa gemas yang ia tahan sejak tadi, padahal tanpa di minta pun Desi akan langsung mengambilkan teh untuk direkturnya itu.
Desi menghentakkan kakinya ke lantai di gedung itu seraya melangkah menuju dapur kantor guna membuatkan apa yang direkturnya minta.
"Nih sekretaris punya direktur baru dan muda malah cemberut Mulu perasaan, nggak ada happy-happynya," sindir seorang karyawan yang berpapasan dengan Desi.
"Tapi kan ganteng, terus gue denger juga masih kuliah, berondong berarti ya, daun muda itu masih seger-segernya," kata wanita itu dengan sangat konyolnya.
"Iya emang ganteng terus juga masih muda saking mudanya sampai gue di panggil Mbak! gila anjir di pikirnya gue Mbak-mbak tukang sayur apa," gerutu Desi.
"hahahaha." lihatlah dengan spontan dan kurang ajarnya wanita itu tertawa dengan kencang mendengar keluhan sekretaris yang dulu sempat menjadi sektretaris Aditya namun tidak lama karena Aditya yang kadang banyak maunya dan merasa tidak cocok dengannya hingga dia dimutasi ke kantor cabang.
Beruntung dia hanya dimutasi saja tidak sampai di pecat, namun keberuntungannya itu tidak bertahan lama karena akhirnya ia harus mempunyai direktur yang sifatnya sama persis dengan Aditya.
Baru beberapa hari saja wanita itu sudah di buat sangat pusing dengan panggilan Mbak yang Darren tujukan untuknya.
"Eh tapi kalau di tegesin gini sih muka lu emang kayak Mbak sayur sih, hahaha." wanita itu malah makin meledek Desi yang sudah sangat melotot mendengar suara tawanya.
"Sana lu ah, ngeselin banget lu!" Desi mengusir temannya yang masih saja tertawa saat meninggalkannya.
****
"Kenapa anak itu belum menelepon juga?!" gumam Aditya yang terdengar oleh sang asisten yang selalu piawai dalam melakukan pekerjaan.
Aditya menatap pada Johan yang sedang memperhatikan dirinya dengan tatapan tak jelas.
"Apa?" tanya Aditya.
"Bapak bicara dengan saya?"
"Tidak! saya sedang menggumam." Aditya selalu saja bisa menjawab sesuai dengan yang dia inginkan apapun itu meskipun kadang membuat orang tak mengerti bagaimana bisa ada seorang pengusaha cukup sukses namun tingkahnya terkadang tidak masuk di akal seperti yang baru saja dia lakukan.
"Suara gumamman anda terdengar di telinga saya," terang Johan.
"Ya karena kamu punya telinga, jika tidak kamu tidak akan mendengar apa yang saya gumam kan tadi."
Serentak Johan memijit pangkal hidungnya dengan helaan nafas yang teramat berat seolah menggambarkan betapa lelahnya dia selama ini.
"Baiklah, silahkan lanjutkan gumamman anda dan saya akan menyumpal telinga saya." Johan berkata pedas lalu mulai mengabaikan sang atasan untuk kembali sibuk pada pekerjaannya.
Aditya pun mengedikkan bahu serta mencebikkan bibirnya mendengar dan melihat sikap sang asisten yang selalu membuatnya tertarik untuk membuatnya kesal atau mengganggunya.
Terbukti saat suasana mulai tenang, Aditya pun kembali bersuara.
"Cepat hubungi Darren," kata Aditya dan jelas itu adalah sebuah perintah namun sang asisten malah tetap sibuk pada kertas di atas mejanya mengabaikan apa yang Aditya katakan.
Asisten itu bahkan tidak bergerak sedikit pun untuk menoleh padanya membuat Aditya berdecak geram.
"Kamu tidak mendengar saya bicara?!" Aditya tampak kesal.
"Johan!" seru Aditya kala Johan tetap tidak bergeming seolah tidak menganggap dirinya ada di ruangan itu.
"Bapak memanggil saya?" dengan raut wajah yang datar Johan bertanya.
"Saya bicara dengan kamu!"
__ADS_1
"Saya pikir anda bergumam lagi," cibir Johan yang sudah tidak lagi merasa sungkan untuk kurang ajar pada atasannya sendiri.
"Oh ya ampun," keluh Aditya seolah dirinyalah tersiksa menghadapi sikap asistennya itu.
Johan melepas kacamata yang membingkai di kedua matanya, meski belum terlalu rabun namun pria itu cukup membutuhkan kacamata untuk memperjelas ketikan yang ada di atas kertas pekerjaannya.
"Saya bilang cepat hubungi Darren!" tekan Aditya gemas sendiri akibat ulah yang tadi dia lakukan.
Tanpa bicara lagi Johan pun segera melaksanakan permintaan sang atasan untuk menghubungi seorang mahasiswa yang menjabat sebagai direktur.
"Kenapa Om?" tanya Darren ketika mengetahui Johan menghubunginya.
"Ayah kamu mau bicara," kata Johan lalu memberikan handphonennya pada sang atasan.
"Bagaimana?" langsung saja bertanya ketika mendengar suara anaknya tanpa menjelaskan apa yang dia tanyakan saat ini.
"Bagaimana apanya?" dan benar saja Darren justru kebingungan dengan apa yang tengah di tanyakan oleh Ayahnya itu.
"Siapa nama Mamanya teman kamu itu?!" sentak Aditya keras yang terdengar di telinga Johan hingga pria itu membelalak tak mengira bahwa atasannya itu tengah menanyakan Ibu dari teman anaknya.
Pemikiran gila pun sudah langsung memenuhi kepala Johan dengan pandangannya yang menyorot curiga pada pria yang masih belum sadar akan dirinya.
"Darren lupa Ayah, nanti Darren tanya sama Permana. lagian kenapa jadi Ayah yang penasaran sih?" Darren memojokkan sang Ayah.
Mendengar itu Aditya pun mengelus tengkuknya sendiri hingga tak sengaja matanya bertabrakan dengan sepasang mata Johan yang memandangnya dengan pandangan tajam dan sinis.
Sadar akan terkena masalah membuat Aditya segera mematikan teleponnya dengan sang anak lalu meletakkan handphone milik sang asisten di atas mejanya.
"Apa saya perlu memberitahukan pada istri anda tentang apa yang baru saja saya dengar?" pertanyaan yang lebih menjurus pada sebuah ancaman meluncur dari mulut Johan.
Lihatlah bagaimana Johan tahu betul apa yang akan terjadi pada seorang Aditya Erlangga jika dirinya ketahuan oleh sang istri tengah menanyakan Ibunya teman dari anak mereka.
Sudah tidak akan ada yang bisa menyelamatkan Aditya dari amukan Rianti nantinya.
"Cari tahu siapa Ibu dari temannya Darren yang mengenal saya!" dari pada urusan panjang lebih baik langsung saja memberikan perintah pada Johan.
"Apa istri anda tidak perlu tahu?!" sindir Johan.
"Jangan membuat masalah Han," ujar Aditya akhirnya.
"Saya hanya menjalankan apa yang pernah di perintahkan oleh istri anda dulu, apa Bapak lupa jika istri anda meminta saya untuk melaporkan setiap perbuatan anda yang mencurigakan."
Astaga sepertinya jika sudah menyangkut tentang wanita Johan akan lebih memihak pada istrinya ketimbang dirinya, jadi rasanya sangat berbahaya jika dia tidak memberikan penjelasan pada asistennya itu tentang kenapa dia sampai menanyakan nama Ibu dari teman anaknya itu.
Aditya pun akhirnya menceritakan apa yang sempat Darren ceritakan serta tanyakan padanya tempo hari kepada sang asisten yang sekarang mengelus dagunya dengan serius mendengarkan cerita darinya.
"Cari tahu siapa wanita itu, jangan sampai kecurigaan saya terbukti!" tekan Aditya memberikan peringatan.
Sejak berbicara dengan anaknya kemarin Aditya sungguh merasa sedikit terusik karena wanita yang di gambarkan oleh Darren sudah mengarah pada satu orang wanita yang pernah dia kenal.
"Anaknya bernama Sherin," kata Aditya lagi.
Johan pun mengangguk mengerti dan tidak jadi melapor pada Rianti karena memang atasannya tidak sedang berniat untuk melakukan hal gila.
__ADS_1
\*\*\*\*\*