Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 73


__ADS_3

Rona turun dari motor Tyo, sejak di perjalanan keduanya mendadak bagaikan orang asing yang hanya sekedar saling menolong saja.


Tentu setelah Tyo mendengar apa yang dikatakan oleh Darren membuat dia merasa sudah tidak ada kesempatan untuk terus berharap agar Rona menjadi kekasihnya, tidak bisa disembunyikan bila saat ini pemuda itu tampak kecewa terlihat jelas dari raut wajahnya yang begitu mendung seperti akan turun hujan.


"Makasih Yo," ucap Rona setelah turun dari atas motor dan menyerahkan helm pada temannya itu yang hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya.


Keduanya benar-benar terlihat sangat canggung hingga hanya untuk beberapa detik hanya saling diam hingga akhirnya Rona memutuskan untuk naik ke unit apartemennya.


"Na," panggil Tyo ketika Rona baru berjalan beberapa langkah membuat Rona berhenti dan menoleh padanya.


"Selamat." satu patah kata itu akhirnya keluar dari mulut Tyo, meski awalnya sangat sulit namun dia memang harus mengeluarkan ucapan selamat itu untuk temannya.


Pernikahan bukankah memang harus diberikan selamat, sekalipun kita merasakan kekecewaan karena orang yang kita sukai sudah jelas menjadi milik orang lain dan dia tidak boleh mengusiknya.


"Iya, terimakasih," jawab Rona dengan wajah yang terharu.


"Ya sudah masuk sana, nanti tuh Om-om makin ngamuk lagi," ucap Tyo berkelakar dengan senyuman yang jelas sangat dipaksakan, pemuda itu hanya ingin pertemanannya dengan Rona menjadi buruk karena dirinya yang tidak rela melihat temannya itu sudah menjadi istri orang.


Rona tersenyum lalu mengangguk cepat dan berlari meninggalkan Tyo yang hanya menatapnya saja dengan mata yang menyiratkan kesedihan.

__ADS_1


Sepertinya Tyo mencoba untuk menerima kenyataan yang ada, sebagai pria sejati dia tidak mau mengganggu wanita yang sudah menjadi istri orang, cukuplah dirinya dan Rona menjadi teman seperti biasanya, namun dia berjanji untuk berusaha menjaga temannya itu dari gangguan pria-pria sialan seperti Bimo.


Tyo menghembuskan nafasnya yang terasa sangat berat apalagi sesak yang dia rasakan dua kali lipat, dari di pukul oleh Bimo di bagian dada hingga kenyataan tentang Rona dan Darren tentu semakin membuatnya kesulitan bernapas.


Begitu Rona sudah tidak terlihat lagi Tyo pun melajukan motornya untuk pulang ke rumah, beristirahat untuk melupakan betapa syoknya dia tadi hingga seluruh persendiannya bahkan melemas.


Rona sudah berada di depan pintu apartemennya berdiri guna mengumpulkan keberanian untuk menghadapi suaminya, tadinya ia malah tidak ingin pulang dan minta diantarkan ke rumah Papa dan Mamanya karena takut menghadapi suaminya, tapi Tyo dengan ketulusannya memberikan nasihat dan meyakinkan jika Darren tidak akan mungkin melakukan hal yang keterlaluan membuat Rona menurut.


Rona takut menghadapi suaminya karena ia tahu kesalahan yang ia perbuat sudah beberapa kali semenjak mereka menikah hingga membuat nyalinya menciut.


Saat membuka pintu dan masuk ke dalam mata Rona melihat suaminya sedang duduk di sofa ruang tengah, sepertinya suaminya itu di situ hanya untuk memastikannya pulang tanpa berniat untuk mengajaknya bicara, terbukti setelah melihat istrinya pulang pria itu langsung beranjak bangun dan masuk ke dalam kamar meninggalkan sang istri yang terpaku melihatnya.


"Memar Kak!" Rona yang baru masuk terpekik melihat tubuh sang suami, tentu itu adalah hasil dari pertarungannya dengan Bimo.


"Aku ambil salep dulu," kata Rona lalu bergegas untuk mengambil kotak obat yang ia simpan di lemari dapur.


"Kak," suara Rona yang tadi tergesa tampak kecewa karena suaminya malah masuk ke dalam kamar mandi padahal ia tadi sudah mengatakan akan mengambilkannya salep, bukankah seharusnya suaminya itu duduk di tempat tidur menunggunya untuk mengobati memar di pinggangnya itu? sepertinya Darren kesalahan Rona kali ini benar-benar membuatnya marah.


Rona mengepal salep yang ada di tangannya dengan kencang bahkan membuat telapak tangannya terasa sakit karena tempat salep yang terbuat dari bahan plastik.

__ADS_1


Dari dalam kamar mandi terdengar suara air yang mengalir itu artinya saat ini Darren sedang mandi, membuat Rona bergegas untuk menyiapkan baju untuk di pakai oleh suaminya.


Setelah menyimpan pakaian untuk Darren di atas tempat tidur Rona pun beralih menuju dapur, dia ingin membuatkan suaminya itu secangkir teh hangat, berharap teh hangat bisa sedikit mencairkan suasana yang menjadi sangat tegang karena suaminya yang terus mendiamkan dirinya dan juga berharap teh bisa membantunya untuk memulai permintaan maaf atas kesalahan yang ia lakukan.



Keluar dari kamar mandi Darren tak mendapati Rona di dalam kamar namun pakaian yang istrinya itu siapkan ada di tempat tidur tangannya sudah bersiap untuk mengambil pakaian itu namun dia urungkan lalu terlintas di pikirannya untuk tidak memakai pakaian yang sudah disiapkan untuknya.


Jiwa mudanya yang masih egois seakan membujuknya untuk memberi pelajaran pada sang istri bagaimana rasanya jika apa yang kita lakukan tidak di hargai


Entah setan dalam bentuk apa yang akhirnya berhasil membujuk Darren untuk tidak memakai pakaian yang ada di tempat tidur itu hingga akhirnya dia terbujuk dan beralih menuju lemari untuk mengambil pakaiannya sendiri.


Rona masuk ke dalam kamar dan mendapati suaminya tidak memakai pakaian yang sudah ia siapkan dalam sekejap hatinya merasa sakit namun tidak mau mengatakannya, wanita itu hanya meletakkan teh di atas meja lalu kembali keluar dari kamar begitu saja.



Sepertinya jiwa muda mereka yang makin memperburuk keadaan rumah tangga yang baru seumur jagung itu, keegoisan dan sifat paling benar sendiri seakan mendominasi diantara keduanya, jika tidak segera diperbaiki mungkin akan benar-benar berantakan.


****

__ADS_1


__ADS_2