
"Maafkan Darren Kak." seru Darren dengan suara yang sangat lemah.
Pemuda berusia 20 tahun itu sejak tadi sudah terus mengucapkan kata maaf pada sang Kakak yang berteriak memarahinya setelah pemuda itu menceritakan semua dengan sangat jujur tidak ada yang dia tutupi sama sekali dan ya hal itupun sangat sukses membuat lengkingan suara perempuan yang menjadi Kakaknya seperti orang kesurupan.
Riana bukan marah karena Adiknya meminta ijin untuk lebih dulu menikah, ia hanya kecewa karena sebagai seorang pria Darren tidak bisa mengendalikan dirinya ketika bersama Rona.
"Kamu tuh kebanyakan gaul sama teman-teman tak jelas kamu, dan sekarang jadi ketularan tak jelas juga mesum!" omel Riana sengit tentang kelakukan sang Adik.
"Awas aja yah kamu kalau masih main sama mereka!?" ancam Riana yang memang dari awal sangat tidak suka dengan pergaulan dan teman-teman Adiknya itu, baru sekali melihat saja Riana sudah bisa menilai mereka semua tidak baik untuk di ajak berteman.
"Teman kamu tuh yang benar cuma si Permana doang tau nggak?!" bentak Riana yang mengecualikan Permana diantara semua teman Darren yang ia kenal.
"Iya Kak, Darren tau." jawab Darren.
"Ya sudah Kakak kasih ijin kamu nikah, tapi Kakak nggak tau bisa pulang apa nggak soalnya Kakak lagi banyak tugas." beritahu Riana.
"Terimakasih Kak, maafin Darren sudah bikin Kakak kecewa." Darren berkata sangat tulus sebab dia sendiri menyadari kesalahan apa yang dia perbuat.
__ADS_1
"Minta maaf terus, tetap saja kamu salah." omel Riana lalu segera mengakhiri pembicaraan dengan Adiknya yang sekarang bisa menghembuskan napas lega karena masih bisa mendengarkan omelan sang Kakak, sebab itu lebih baik daripada Kakaknya hanya diam malah membuat Darren semakin merasa bersalah nantinya.
Pagi hari yang seharusnya Aditya sibuk untuk pergi bekerja kini dia sangat sibuk mondar-mandir keluar masuk kamar lalu menaiki tangga mencari dan akan mengoceh sendiri seperti orang yang kurang waras.
"Ngapain sih Mas?" sang istri yang sejak tadi melihat tingkah suaminya mulai jengah dan tak tahan karena kepalanya dalam sekejap berkedut melihat suaminya mondar-mandir tak jelas di depannya.
"Darren mana? kenapa belum turun juga?" rupanya sedari tadi orang tua itu mencari anaknya yang belum juga menampakkan batang hidungnya padahal sekarang mereka harus segera berangkat.
"Darren." Rianti berteriak kencang memanggil sang anak yang memang belum ia lihat, bahkan saat dirinya mengeruk kamar anaknya tadi pagi untuk mengajaknya sarapan Darren menolak dengan alasan ia tidak merasa lapar sedikitpun.
"Tadi udah turun kan dia?" kening Aditya berkerut bingung karena dia tadi memang sempat melihat anaknya keluar dari kamar dengan HP yang menempel di telinganya, apalagi kalau bukan tengah menelepon seseorang yang Aditya tidak tau.
Rianti mengedikkan bahunya.
"Ya nggak tau, aku cuma mah cuma ketemu waktu mau ajak sarapan." Rianti menjawab pertanyaan sang suami.
Aditya membuang napas kesal lalu melangkah menaiki anak tangga melewatinya satu persatu untuk bisa mencapai kamar putra satu-satunya yang kelakuan mulai memusingkan dirinya.
__ADS_1
"Darren." saru lelaki itu memanggil anaknya dari balik pintu kamar yang tertutup rapat.
Perlahan pintu di buka dan wajah sang anak muncul di depannya.
"Kita harus berangkat sekarang." ucap Aditya dengan suara yang pelan, melihat wajah anaknya yang sejak kemarin menunjukkan rasa bersalah dan penyesalan membuat Aditya yang sejak tadi sudah ingin meledak berubah menjadi begitu bijaksana dan penuh kasih sayang, biar bagaimanapun Darren anak kandungnya akan salah juga jika dia mendidiknya dengan sangat keras sedangkan selama ini Darren sudah bersikap cukup baik, dan bahkan dengan sikap gentleman mengakui apa yang sudah dia perbuat, sangat jarang pemuda yang akan bersikap seperti anaknya itu, sepatutnya dia cukup berbangga dengan Darrendra sang anak lelakinya.
"Iya Ayah, Darren sudah selesai kok." Darren yang sebetulnya sejak tadi terus berusaha untuk mengendalikan debaran jantung yang entah kenapa sejak bangun tidur tadi terasa sangat berdebar seperti orang yang habis melakukan maraton tingkat internasional, membuat dia sangat tak nyaman sekali.
"Ya sudah, Ibu sudah menunggu di bawah, Rona juga pasti sudah tidak sabar menunggu lelaki yang saat ini tingkahnya sudah menjadi seperti manusia tak normal karena jatuh cinta." mengejek sang anak seraya melenggang keluar.
Darren tertawa tipis mendengar sang Ayah yang mengatainya, apakah benar dia sudah tidak normal sekarang? sepertinya memang begitu, sebab setelah kejadian di kampus tempo hari Darren selalu ingin menyentuh Rona lagi dan lagi, bukankah itu sangat berbeda jauh dengan dirinya yang dulu?.
Dulu dia akan selalu menghindar jika sudah mendengar suara cempreng Rona di dalam rumahnya, bahkan langsung kabur ketika orang tuanya sudah mulai membahas tentang perjodohan mereka, aneh bukan? tentu sangat aneh bahkan pikiran Darren yang tak waras sempat mengira bahwa Rona memakai pelet, seperti di bibir misalnya? karena setelah dia mencium bibir gadis itu dirinya selalu terbayang dan ingin mengulang hal itu kembali.
"Kamu pakai pelet apa Rona?" mengikuti sang Ayah yang berjalan lebih dulu seraya membatin memikirkan betapa sekarang dia menjadi begitu tergila-gila pada gadis bernama Rona Aliza binti Roman Dwi Putra.
****
__ADS_1