Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
bab 42


__ADS_3

Setelah mengantarkan Tania ke rumah, Roman langsung bergegas untuk pergi menemui Aditya dan Johan yang tadi mengajaknya bertemu,


tentunya dengan diiringi dengan cemberutan yang menghiasi wajah sang istri, yang sebenarnya tak ingin di tinggal sendiri di rumah.


Tapi Roman yang sedang di kelilingi emosi memilih untuk tetap pergi dari pada nantinya ia dan istrinya akan terus beradu mulut mengenai siapa yang salah sebenarnya diantara mereka


nah ni rupanya cemburunya Roman lebih serem daripada si Aditya.


Roman masuk kedalam cafe tempat yang memang sudah tak asing baginya, Aditya ataupun Johan, karena tempat ini sering kali mereka jadikan untuk tempat berkumpul guna membicarakan sesuatu hal yang sangat penting bahkan hal tak penting sekalipun , atau hanya sekedar untuk menikmati suasana malam saja jika sudah terlalu pusing dengan urusan dunia.


Mata Roman nampak tengah mencari-cari dua sosok manusia yang memintanya datang, namun dimatanya sama sekali tak terlihat dua wujud orang yang bernama Johan dan Aditya


Roman menggaruk kepalanya dengan wajah bodoh sekaligus kesal, padahal bukan dia yang membuat janji, tapi kenapa tetap dia yang harus menunggu,.


Roman merasa tidak salah melihat jam, namun untuk memastikannya Roman kembali membaca pesan dari Johan lalu melihat jam di pergelangan tangannya dan mencocokkannya dengan jam yang ada di ponsel miliknya.


merasa yakin dia tak salah jam ataupun salah melihat akhirnya ia memilih untuk bertanya pada pelayan tentang dua sosok yang pasti sudah tak asing dengan para pelayan karena terlalu seringnya mereka bertiga menampakkan wajah di cafe itu


Seorang pelayan yang memang sudah cukup mengenal bahkan sangat familiar dengan dua orang lelaki yang tengah di tanyakan oleh Roman menjawab pertanyaan Roman dengan penuh yakin


"belum dateng sepertinya mas" pelayan mengatakan apa yang ia ketahui, memang sejak tadi ia belum melihat Johan maupun Aditya di cafe tempatnya bekerja


"sial nih orang dua"maki Roman yang kesal pada Aditya dan Johan


"kenapa mas? " bertanya karena tak sengaja mendengar makian yang di lontarkan Roman untuk kedua orang yang telah membuat janji


"nggak apa-apa, nih kayaknya rame amat" Roman melihat tamu yang datang malam ini terbilang cukup ramai dari biasanya hingga ia bingung sendiri mencari tempat kosong untuk duduk


"mungkin karena besok tanggal merah" jawab pelayan seraya tersenyum


"di sana ada yang kosong kok mas " menunjuk meja yang berada di ujung kepada Roman


mata Roman mengikuti tempat yang di tunjukkan "oke gue disitu aja" ujar Roman seraya melangkah pergi setelah pelayan mengiyakan


Roman gegas duduk lalu mengambil ponsel dari saku, sudah jelas terlihat siapa yang akan ia hubungi sekarang , tangannya bergerak tak sabar saat orang yang dihubungi nya tak juga kunjung menjawab telepon membuat dongkolnya makin menjadi


"udah lama? "


baru saja Roman akan mematikan ponselnya , orang yang sejak tadi ia hubungi muncul di depan matanya bahkan dengan wajah tak berdosa sedikitpun


ya Aditya dan Johan langsung duduk di sofa kosong seraya terus memamerkan senyum mereka seakan sedang mengobral murah senyum yang mereka miliki kepada Roman


"lu berdua ngerjain gue? " tanya Roman dengan wajah sengitnya pada dua orang lelaki di hadapannya sekarang ini


Aditya dan Johan menggeleng berbarengan menjawab pertanyaan Roman


"kan biasanya emang lu yang dateng nya duluan " sahut Aditya tenang seraya melihat Johan seperti meminta Johan menyetujui ucapannya barusan

__ADS_1


"iya kan bapak sudah biasa dateng lebih awal" bukan hanya setuju dengan ucapan Aditya, Johan bahkan ikut berbicara


kini tatapan tajam Roman beralih kearah Johan yang sedang berbicara


"ya itu kan karena gue lupa kasih tahu jam berapanya" Roman berkelit, dengan mengatakan kesalahan yang sering ia lakukan jika membuat janji dengan orang


"yaudah, nggak jadi masalah kan ? " Aditya melihat Roman yang masih kesal


sudah kesal dengan Imran yang begitu lemesnya melaporkan apa yang ia lakukan pada Tania dan sekarang dua orang di hadapannya malah tengah menambah emosi yang ada di dalam kepalanya saat ini


"mau ngapain nyuruh gue kesini? " mengalah saja dari pada ia makin di keroyok oleh atasan dan asisten yang sedang akur di depannya ini


"Johan mau nikah lagi" Aditya berkata asal hingga membuat mata Johan melotot langsung kearahnya


"hah? " mulut Roman terbuka tak percaya dengan ucapan aditya barusan


"lu gila Han? " Roman malah mengatai Johan yang tengah melihat Aditya


"atasan saya yang sudah kurang waras sepertinya pak" Johan malah balik menyerang Aditya yang seenaknya saja berkata seperti orang yang sedang menguap karena ngantuk


"kok lu ngatain gue Han?! " Aditya tak Terima mendengar yang di katakan Johan tentangnya


"kan bapak yang mulai" Johan tak mau kalah, karena memang Aditya lah yang memulai duluan


"oke sorry" Aditya mengalah pada Johan kali ini karena memang ia yang salah karena perkataannya tadi


Johan tak menyahut , karena kini ia sudah sibuk degan pelayan yang datang untuk mencatat pesanan mereka


"bapak pesan apa? " bertanya pada Aditya yang sedang menggerutu karena pertanyaan Roman


"terserah" ketus Aditya tanpa melihat Johan


"bapak jangan kayak perempuan dong, kan saya jadi bingung " Johan menggaruk tengkuknya


"bingung ngapa lu? " malah Roman yang bertanya seraya mengambil alih buku menu


"nanti kalo pesenan nggak sesuai saya kena marah, kan biasanya perempuan kayak gitu, bilang terserah tapi waktu di pesenin apa aja malah protes" Johan malah membicarakan perempuan seperti ia yang paling tahu perihal wanita


"sini " menarik buku menu yang tengah di pegang oleh Roman,mendengar perkataan Johan yang tengah menyamakannya dengan wanita membuatnya kesal , akhirnya Aditya memesan sendiri apa yang ia ingin makan dan minum nantinya


Roman hanya melihat kelakuan Aditya yang seperti orang kelaparan memesan apa saja yang ada di tempat itu


Perbuatan Aditya itu akhirnya membuat Roman tidak memesan apapun karena ia tak mau menambah penuh meja dengan pesanan miliknya


jika mau ia bisa memakan saja makanan Aditya nanti nya pikir Roman


Dan benar saja saat pesanan mereka datang, meja langsung di buat penuh begitu saja oleh berbagai macam makanan serta minuman yang di pesan oleh si pemilik perusahaan yang tengah maju pesat itu namun sayang nya si pemilik malah malas-malasan untuk pergi ke kantornya sendiri..

__ADS_1


"makanan lu mana? " melihat sinis Roman yang sudah akan mengambil steak yang tak jauh dari Aditya


"gue kan nggak pesen Dit" gerakan tangan Roman terhenti karena tatapan Aditya padanya


"kenapa nggak mesen?! " bertanya lagi pada Roman


"ini kan banyak Dit, emangnya lu bisa ngabisin sendiri nih makanan?! " menunjuk semua makanan yang ada di meja


"kalo gue nggak bisa abisin nggak mungkin gue pesen" Aditya menyahut sengit, entah ada angin apa sehingga napsu makan seorang Aditya malam ini begitu besar sehingga dengan yakinnya ia berkata bisa menghabiskan makanan di hadapan nya ini


entahlah menu apa saja yang di pesan oleh Aditya Roman pun tak terlalu memperhatikan karena ia sibuk kini sibuk berebut makanan dengan Aditya


Di tengah hebohnya perebutan makanan antara dua orang lelaki beristri rupanya ada satu lelaki beristri lagi yang malah tengah asik menikmati makanan miliknya tanpa merasa terganggu dengan perdebatan kedua orang di dekatnya


bahkan dengan santai dan penuh penghayatannya Johan tampak sekali tak menghiraukan Aditya dan Roman sekarang ini..


"lu ini aja" Aditya menyodorkan sepiring kentang goreng untuk Roman


Roman menatap tak percaya "cuma ini Dit? " sungguh Roman seperti seorang yang tak punya uang sama sekali karena begitu mengharap Aditya memberikan makanan padanya


"siniin kalo nggak mau" tangan Aditya sudah bersiap untuk mengambil kembali kentang yang tadi ia berikan untuk Roman


tangan Roman menahan piring yang akan di tarik oleh Aditya lalu melahap kentang dengan cepat


Aditya mencibir melihat Roman yang sudah menghabiskan dengan cepat sepiring kentang


"bapak kenapa nggak pesen? " Johan yang sudah menghabiskan makanan miliknya bertanya pada Roman setelah terlebih dulu minum


"itu dia mesen makanan nggak kira-kira , dari pada nanti nggak abis karena kebanyakan ya mending gue nggak mesen" sahut Roman dengan ketus sambil melihat Aditya yang tengah makan


Johan mengangguk mengerti dengan maksud Roman, lalu beralih melihat Aditya


"yaudah bapak makan aja, tuh kayaknya nggak bakal di makan" Johan yang sudah sangat hapal dengan makanan apa saja yang bisa masuk dan tidak ke perut bos nya seraya menunjuk satu buah burger di dekat tangan kanan Aditya


Roman menepuk keningnya merasa bodoh kenapa sejak tadi ia tidak mengambil burger saja , karena makanan itu tidak akan menggugah selera seorang Aditya, ia malah sibuk merebutkan steak yang sudah pasti takkan di lepaskan oleh Aditya


tangan Roman lalu mengambil burger dan benar saja Aditya hanya melirik membiarkan Roman mengambilnya, apa yang ada di dalam kepala Aditya saat ini kenapa ia memesan makanan yang tidak ia sukai itu hanya karena tak mau ribet dengan lapisan-lapisan roti dan isian nya


ketiga orang itu menyelesaikan makan lalu melanjutkan obrolan, membicarakan apa saja yang sekarang tengah terjadi..


*****


maaf yaa ini bab paling nggak jelas kayaknya,.


pikiran lagi buntu banget soalnya..


maaf yaaa 😥😥😥🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2