Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 93


__ADS_3

"Tumben tuh anak mulutnya nggak berisik," tukas Roman pada sang anak seraya melihat ke arah Tyo yang sedang serius berbicara dengan salah satu temannya.


"Lagi sariawan kali," sahut Rona asal dengan kedikkan di bahunya.


"Perasaan tadi Papa nggak lihat ada sariawan," jawab Roman.


Bola mata Rona berputar sangat cepat mendengar jawaban dari pria dewasa yang sejak dulu memang selalu berkata sesuai dengan yang pria itu inginkan.


"Memangnya Papa dokter gigi! Tyo kan nggak mungkin nganga di depan mata Papa!" celetuk Rona kesal dengan pernyataan konyol Papanya itu.


"Ya kan sariawan juga ada yang di bibir Rona, tadi Papa lihat bibirnya itu nggak kenapa-kenapa." Roman masih saja dengan pernyataannya yang malah menganggap serius ucapan sang anak.


Sebaiknya jika sudah seperti ini salahkan saja Rona Aliza karena semua berawal dari dia yang dengan asal menjawab jika Tyo sedang sariawan sehingga malah di tanggapi serius oleh pria yang sampai saat ini sifatnya masih tetap saja sama seperti puluhan tahun yang lalu.


Seperti tidak ingin berubah setua apapun usianya sekarang yang jelas itu adalah caranya untuk sedikit mengistirahatkan dirinya sendiri dari kejenuhan yang kadang muncul ketika dia tengah bergelut dengan profesinya.


"Pasti kalian lagi ribut, jangan suka ribut Na sama teman sendiri apalagi dia itu kan yang dulu sering bangat kamu manfaatin buat antar kesana sini," cetus Roman yang malah membuat Rona tak terima.


"Siapa yang ribut sih Pah, Papa ngomongnya ngeselin banget masa aku di bilang manfaatin Tyo," omel Rona.


"Lah kalau nggak ribut itu kok dia bisa nggak ngobrol sama kamu sedangkan sama yang lainnya ngobrol, apa dong namanya?"


"Tau ah, males ngomong sama Papa, aku terus yang disalahin, lagian dia kayak gitu juga karena tau Rona udah nikah sama Kak Darren," jelas Rona yang akhirnya membuat sang Papa mengerutkan keningnya.


"Aneh," seru Roman.


Rona menatap Papanya tak mengerti kenapa pria itu tiba-tiba mengatakan aneh.


"Yang tau bukan cuma Tyo kan? tapi kok yang kelihatannya menghindar dari kamu cuma dia," terang Roman.


Jelas dia merasa aneh karena dia sangat tau sedekat apa anaknya itu dengan pemuda bernama Tyo, bahkan dulu anak itu tak jarang menemaninya bermain catur hingga larut malam, yah meski bukan dengan sukarela karena dirinyalah yang memaksa anak itu untuk menemaninya bermain ketimbang ngelayap tak jelas dengan anaknya.


Anggukan dari sang anak membuat Roman terdiam lalu sebentar kemudian berkata, "sejak dulu juga Papa tau anak itu suka sama kamu, cuma ya gimana kamu maunya sama Darren."


Bibir Rona mengerucut menanggapi pernyataan sang Papa.

__ADS_1


"Kan Papa sama Om Adit yang udah jodohin dari kecil," sahut Rona.


"Lah meski di jodohin juga kan kalau kalian nya nggak mau ya nggak akan di paksa, ini kan kalian juga yang mau," ucap Roman tak terima dengan jawaban dari anaknya.


Konyol, sudah sampai menikah seperti ini malah lagaknya seperti orang yang di jodohkan dengan paksa.


"Papa aduin sama Darren baru tau rasa kamu!" ancam Roman yang langsung saja membuat anaknya itu bergelayut di lengannya lalu merengek manja meminta untuk tidak mengatakan apapun kepada suami yang dia cintai itu.


"Dari dulu itu kalian sama-sama suka, cuma yang satu sok jaim nah yang satu lagi pecicilannya astagfirullah, buat ngelus dada," celetuk Roman.


Memang benar dulu dia dan Aditya bahkan Johan kadang geram melihat dua anak muda itu yang selalu berlawanan, yang pria bersikap cuek sedangkan yang wanita malah jadi yang lebih agresif.


Bahkan kerap kali mereka menyaksikan keduanya malah saling adu mulut, bertengkar tak jelas apa permasalahan yang tengah jadi pemicunya.


Hingga kadang membuat Roman berpikir kalau Darren itu tidak akan mungkin mau menikah dengan anaknya yang cerewetnya luar biasa, tapi nyatanya takdir berkata lain, kedua anak yang sejak kecil sering bersama itu benar-benar menjadi sepasang suami istri.


Meskipun pernikahan mereka belum di ketahui oleh banyak orang, namun yang jelas sekarang Roman sudah tak perlu khawatir lagi jika anaknya itu pulang malam, dia tak perlu repot-repot untuk mencarinya karena tugasnya sudah di ambil alih oleh Darren.


Dan sekarang Darren lah yang harus pusing menghadapi sikap Rona yang terkadang semaunya sendiri tanpa perduli orang lain melarang atau tidak.


Rona mengangguk karena mereka juga sudah selesai mengambil ijazah sekolahnya dan sekarang dia hanya tinggal mengurus semuanya untuk mendaftar kuliah, meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.


****


"Ceritain sama gue lu kenapa?" tanya Sherin pada Nella.


Sherin sungguh sangat ingin tau ketika tengah malam Nella datang ke rumahnya dengan keadaan yang sangat kacau, ketika ia bertanya temannya itu malah terus saja menangis tanpa mau menjawab hingga akhirnya kelelahan sendiri lalu tertidur dan baru bangun ketika jam sudah berada di angka 11, sepertinya temannya itu sangat benar-benar lelah.


Mendapat pertanyaan seperti itu malah kembali membuat Nella menangis kencang.


"Huaaaaaaa." suaranya begitu keras hingga Sherin menutup telinganya.


Bahkan bahu Nella sampai naik turun karena tangisan yang sudah tidak bisa ia kendalikan itu, kejadian semalam sungguh membuatnya bagaikan orang gila.


Sherin pun berusaha untuk menenangkan temannya itu dan memintanya untuk bercerita pelan-pelan kepada dirinya agar ia tahu apa yang membuat temannya jadi seperti sekarang.

__ADS_1


"Bim.. Bimo selingkuh Sher." akhirnya pelan-pelan Nella mulai memberitahukan penyebab ia menjadi seperti ini.


"Hah? Bimo selingkuh? gue nggak salah dengar?" betapa terkejutnya Sherin mendengar aduan dari sang teman.


Sherin sungguh tidak habis pikir, padahal selama ini yang ia tau Nella dan Bimo terlihat sangat mesra hingga tak jarang membuatnya iri dan ingin juga memiliki kekasih seperti Bimo, bahkan ia sering berkhayal bila Darren menjadi kekasihnya mungkin akan melakukan hal yang sama seperti Bimo.


"Jangan bercanda deh," kata Sherin tidak percaya.


"Gue nggak lagi bercanda Sher! Lu nggak lihat sekacau apa gue saat datang ke sini tadi malam!" sentak Nella emosi karena temannya itu malah mengira dirinya sedang bercanda.


Hal seperti ini sungguh tidak layak untuk di anggap sebagai bercandaan saja.


"Gila lu ya, yang kayak gini malah lu anggap bercandaan!" seru Nella marah mendorong Sherin hingga hampir jatuh dari atas tempat tidur karena wanita itu yang duduk di pinggirnya.


"Ya abis kan kayaknya dia sayang banget sama elu Nell, masa dia kayak gitu," terang Sherin seraya membenarkan posisi duduknya.


"Gue yang lihat sendiri Sher! gue juga yang labrak mereka bahkan gue sempat memberi mereka pelajaran!"


Tampak sekali Nella masih sangat marah mengingat apa yang ia saksikan dengan mata kepalanya tadi malam, bagaimana ia mendengar dengan centilnya selingkuhan sang kekasih memanggil sayang pada kekasihnya.


Dan pengakuan Nella kali ini memancing Sherin untuk bertanya siapa wanita yang jadi selingkuhan Bimo, karena dari pengakuan Nella barusan jelas wanita itu pasti melihat wajah wanita itu.


"Bimo selingkuh sama siapa, lu pasti udah lihat orangnya kan?" selidik Sherin ingin tau.


Nella mengangguk cepat disertai dengan air mata yang masih saja merembes dari kelopak matanya.


Lalu satu nama meluncur dari mulut Nella membuat Sherin terpekik seraya menutup mulutnya.


"Lu nggak salah lihat kan?" tanya Sherin yang tidak menyangka bahwa teman mereka sendirilah yang diam-diam berhubungan dengan Bimo di belakang Nella.


"Gue nggak salah lihat Sher, itu Dini! Dini yang selama ini gue anggap sebagai teman gue tapi malah nusuk gue! gue yakin mereka sudah melakukan ini sejak lama," tukas Nella menunjukkan betapa sakit hatinya ia saat ini, pria yang ia sayangi bahkan sudah ia rela menyerahkan apa yang sangat berharga untuknya namun pria itu malah dengan brengseknya berselingkuh darinya.


Nella kembali menangis histeris lalu menjatuhkan tubuhnya ke pelukan temannya yang kini mengelus punggungnya membiarkan temannya itu melampiaskan semua kesedihan yang sekarang tengah dirasakan.


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2