
Roman dan Ninda duduk berhadapan di sebuah tempat makan yang tak jauh dari rumah sakit tempat Roman praktek.
Sampai minuman yang mereka pesan pun tak juga diantara mereka yang membuka mulut mengeluarkan suara, seolah mereka tengah sibuk merangkai kata untuk di keluarkan.
Tak tahan karena hari juga sudah semakin malam bagi Roman dan sang istri pun sudah beberapa kali menghubunginya namun tak sempat ia jawab karena saat ia akan menjawab panggilan sudah terputus, Roman memilih memasukkan ponselnya kembali kedalam saku lalu meminum minumannya sebelum bertanya maksud mantan kekasihnya itu ingin berbicara dengannya.
Roman tampak berdehem lebih dulu
"Ehhm."
Mata Ninda lantas melihat lelaki di depannya yang sejak tadi ia diamkan, padahal dirinya lah yang mengajak lelaki ini berbicara berdua.
"Mau bicarain apa?" tanya Roman serius.
"Aku cuma mau minta bantuan kamu." jawab Ninda dengan raut sedikit ragu takut Roman menolak permintaannya nanti.
Roman menatap curiga dengan kedua alis bertaut mendengar pernyataan wanita di depannya sekarang ini.
"Tergantung bantuan apa dan masalahnya apa." kata Roman akhirnya memilih untuk tak langsung mengiyakan karena ia takut jika langsung setuju nantinya malah akan jadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Sebab dengan duduk berduaan saja dengan seorang mantan kekasih tanpa di ketahui oleh istrinya saja Roman sudah cukup gelisah takut akan menyakiti perasaan sang istri apalagi jika mengingat masa lalu yang pernah terjadi antara dirinya dan Ninda sungguh bukanlah hal yang baik yang seharusnya tidak ia lakukan.
Ninda menarik napas sesaat lalu melepaskannya perlahan sebelum memulai pembicaraan serius yang sudah ia pikirkan masak-masak, sebagai seorang wanita ia juga tak mau melakukan hal seperti ini, mengajak pergi suami orang yang tentunya akan membuat istri lelaki itu akan marah padanya jika mengetahuinya, namun ia terpaksa karena baginya Roman lah yang bisa membantunya saat ini.
Ninda mulai mengawali dengan ragu seraya menunduk "Dulu aku pernah hamil anak ka.."
"Hah?" mata Roman membulat dengan mulut terbuka mengeluarkan kata"Hah" memotong perkataan Ninda yang belum selesai sama sekali.
Melihat ekspresi Roman Ninda jadi terdiam tak melanjutkan kata-katanya hanya tatapannya tertuju pada pria di depannya yang sepertinya tengah berpikir macam-macam.
"Nggak mungkin!" gumam Roman pelan menyela perkataan Ninda dengan kepalanya menggeleng dengan cepat.
"Kenapa kamu nggak beritahu aku dari dulu?" tanyanya kemudian.
"Bukan aku nggak mau memberitahu kamu, hanya saja saat itu aku ngerasa bersalah dan nggak enak sama kamu." sahut Ninda menatap mata Roman.
Raut wajah Roman berubah drastis sekarang ini, yang tadinya begitu datar dan tampak biasa namun berubah pucat setelah mendengar pengakuan Ninda yang baginya akan berbuntut panjang setelah ini.
__ADS_1
"Aku cuma mau minta kamu.."
terhenti lagi karena Roman kembali menyela apa yang sedang ia katakan.
"Aku udah punya istri dan istri ku sedang hamil."
sahut Roman mencoba tegas sebab yang ada di kepalanya saat ini ialah ada seorang wanita yang sepertinya tengah meminta pertanggung jawaban darinya.
"Aku udah tahu itu, memang nya kenapa kalau kamu sudah menikah dan akan mempunyai anak, toh aku tidak mengganggu rumah tangga kamu." sahut Ninda dan sampai disini rupanya mereka adalah dua orang bodoh yang sedang membicarakan hal berbeda, satu ke kiri dan yang satu ke kanan.
Seperti dua orang yang berlainan tujuan, tidak nyambung.
Mata Roman membesar ketika telinganya mendengar apa yang keluar dari bibir wanita di depannya dengan begitu lancar tanpa hambatan.
"Bagaimana bisa nih orang bilang nggak ganggu rumah tangga gue, sedangkan dia ngomong kayak gitu aja seakan dia ngedorong gue ke neraka." Roman membatin seraya mengurut keningnya yang mendadak membutuhkan obat pusing.
"Put, kamu mau kan?" menanyakan pertanyaan yang malah bikin Roman pusing.
"Nggak usah panggil Putra lagi." memprotes karena panggilan Putra biasa di gunakan Ninda ketika mereka masih berhubungan dulu, dan sekarang entah kenapa telinga Roman begitu sakit saat mendengarnya padahal itu adalah nama belakangnya sendiri.
"Oh maaf." tukas Ninda dengan menyesal.
Dahi Ninda berkerut "Kenapa harus bilang sama istri mu?" tanya Ninda bingung.
"Loh ini kan masalah serius. kamu pikir aku akan sembunyi - sembunyi?" tanya Roman dengan ketus.
"Bukan begitu, aku cuma nggak enak sama istri kamu."
Roman menarik napas panjang dengan hati yang bergemuruh cepat, membayangkan kemarahan yang akan di tunjukkan Tania nanti saat mendengar pengakuan nya tentang masa lalu.
"Terserah kamu kalau begitu." ucap Ninda seraya menyodorkan ponselnya ke depan Roman.
"Tolong beritahu Karza anaknya sudah besar sekarang dan saat ini terus saja menanyakan dimana ayahnya." ujar Ninda yang lantas membuat Roman membuka mulutnya dengan tatapan bingung.
"Apa? maksudnya apa?" tanya Roman sambil menatap serius Ninda menunggu penjelasan.
"Ini Karinda anak aku sama Karza." jawaban Ninda yang membuat mata Roman melotot dengan begitu besar.
__ADS_1
"Dulu saat putus denganmu aku sempat menjalin hubungan dengan salah satu temanmu,Karza, aku terlalu sering tidur dengannya hingga pada suatu hari aku menyadari di tubuhku ini ada segumpal darah yang akan terus membentuk seiring berjalannya waktu." Ninda menghentikan ceritanya untuk kemudian menarik napas dalam.
"Dan saat aku ingin mengatakan nya pada Karza untuk meminta pertanggung jawabannya lelaki itu malah pergi entah kemana, aku mencoba mencarinya ke mana-mana tapi aku tak juga bisa menemukannya sampai saat ini." Ninda berkata dengan lirih seraya menunduk.
Roman mendengarkan dengan seksama seraya terus mengutuki dirinya yang bisa-bisanya berpikiran lain.
"Kamu udah tanya keluarganya?" tanya Roman dengan wajah yang di buat biasa menutupi kebodohannya yang padahal dalam hati ia sedang mentertawakan tingkah konyolnya.
"Sudah, tapi tidak ada satupun keluarganya yang mau memberitahukan dimana Karza berada." sahut Ninda.
"Bukankah dulu kalian lumayan akrab, apa dia tidak mengatakan apapun?" tanya Ninda pada lelaki di depannya yang sempat salah paham.
"aku terakhir kontek dengannya setahun lalu, apa setahun kemarin kalian tidak bertemu?" tanyanya pada Ninda.
"Tahun lalu?" mata Ninda membesar seakan tak percaya, bertahun-tahun ia mencari lelaki itu, tapi kenapa ia tak pernah bisa menemukannya.
"Iya.tapi sepertinya dia akan menikah." Roman mengangguk.
"Put, eemm maaf Roman." meralat panggilannya
"aku cuma ingin dia menemui anaknya sekali saja, aku janji tidak akan mengganggunya apalagi sampai menghancurkan hubungan dia dengan wanita lain." Ninda berkata penuh harap agar Roman mau membantunya mempertemukan anaknya dengan Karza.
Roman menarik napas panjang "Aku nggak janji, tapi aku akan coba membantu kamu agar anakmu bertemu dengan ayahnya." kata Roman yang membuat mata Ninda berbinar mendengarnya seolah ada secercah harapan setelah pencarian panjang yang tak kunjung membuahkan hasil.
Yang di pikirkan Ninda saat ini adalah mempertemukan sang anak yang kini berusia empat tahun dengan ayah kandungnya.
Di perjalanan pulang seraya menyetir mobil Roman masih terus saja mentertawakan tingkah bodohnya yang mengira Ninda hamil anaknya dan minta pertanggung jawaban darinya.
"Begoo lu man, bisa-bisanya lu mikir itu anak lu!" mengutuk dirinya sendiri.
Sambil mulutnya mengutuk tangannya pun tak henti memukul kemudi berulang kali.
"Malu-maluin!!! untung aja si Ninda nggak sadar, kalau sadar bisa makin nggak punya muka aja gue saking malunya." menggerutu sendiri di tengah perjalanan pulang yang diiringi langit malam yang sudah menghitam pekat..
************
maaf yaa semuanya aku jarang up,,lagi banyak urusan...
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏