Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 85 Sejenak Tentang Riana


__ADS_3

Beberapa hari ini Riana sedang sangat tidak fokus dengan kuliah serta kerja part timenya setelah pertemuannya dengan Adrian beberapa waktu lalu membuat mereka akhirnya kembali menjalin komunikasi melalui media sosial Instagram.


Adrian kerap kali mengirimkan DM untuk sekedar menanyakan keadaan putri dari Aditya Erlangga dan juga Rianti itu.


Sekian lama mereka tidak bertemu membuat Riana terlihat canggung hingga hanya membalas singkat pesan yang Adrian kirim padanya.


Gadis berusia 22 tahun itu tampak gelisah ketika terakhir kali ia membaca pesan yang dikirimkan oleh Adrian tentang ajakannya untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dari sekedar teman.


Riana tidak bisa membalas apapun karena saat ini ia pun tengah dekat dengan Fariz anak dari asisten Ayahnya, dengan Fariz pun ia belum menjalin hubungan apa-apa namun selama ini Fariz sudah menunjukkan perhatian lebih kepadanya dan iapun sangat senang menerimanya.


"Arrrggg, pusing," keluhan Riana seorang diri di apartemen yang ia tempati selama ini.


Ia yang harus fokus dengan semesternya malah dipusingkan dengan dua orang pria yang sama-sama ingin dekat dengannya, dua orang pria yang juga sudah mengenalnya sejak kecil.


Riana yang tadi terlentang pun akhirnya memutar tubuhnya hingga tengkurap di atas tempat tidur lalu menopang dagunya dengan kepalan tangannya.


"Kenapa sih Adrian tiba-tiba muncul, terus kenapa juga si Fariz itu nggak pernah nembak? nyatain cinta kek apa kek, nggak sama sekali, kaku banget mentang-mentang anaknya Om Johan!" Riana mengomel sendiri.


"Aku mesti jawab apa sama Adrian? langsung di tolak nggak enak, kalau di terima nanti aku malah di katain PHP sama Fariz, padahal dia sendiri yang nggak nembak-nembak," gerutu Riana.


Riana hanya melihat saja pesan yang dikirimkan oleh Adrian di aku Instagramnya.


"Ah tau ah, bodo amat," kata Riana lalu membalikkan handphonenya.


Gadis itupun memilih untuk pergi ke rumah Tantenya yang tak terlalu jauh dari apartemen yang ia tempati.


"Ana."


Riana yang baru keluar dari apartemennya tersentak kaget mendengar suara milik salah satu pria yang tadi baru saja ia pikirkan.


"Fariz?" tanya Riana tidak menyangka jika pria itu mendadak muncul di apartemennya tanpa memberi kabar apapun.


Pria berlesung pipi itu tersenyum manis melihat Riana dengan wajahnya yang menunjukkan kebingungan, tentu Fariz merasa jika kejutan yang dia lakukan telah berhasil.


"Kamu kok ada disini? kapan berangkatnya? kok nggak kasih tau aku?" bermacam pertanyaan segera meluncur dari mulut Riana yang benar-benar tidak menyangka jika Fariz akan datang ke negara tempatnya berkuliah.


"Aku nih datang jauh-jauh apa tidak sebaiknya kamu tawarkan minum? atau istirahat sebentar saja, kepala aku pusing," jelas Fariz kala Riana seperti menginterogasi dirinya.


"Tapi kan kata Ayah nggak boleh berduaan di dalam ruangan sama lawan jenis," kata Riana yang sepertinya lebih mengingat pesan Ayah serta Ibunya ketimbang sang Adik.

__ADS_1


Lihat saja sekarang karena kelakuan Adiknya itu ia harus rela dilangkahi, karena sang Adik sudah sangat tidak bisa menahan hawa nafsunya dan dari pada melakukan hal-hal terlarang memang lebih baik dinikahkan.


"Di situ kan bisa." Fariz menunjuk bangku yang ada di lobby apartemen itu, "Banyak orang juga kan," sambungnya yang langsung di angguki oleh Riana.


Mereka berdua duduk berdampingan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, suasana terasa sangat sepi padahal banyak penghuni apartemen yang berlalu-lalang, namun itu tidak membuat dua anak manusia itu menjadi lebih rileks sama sekali.


Tidak! sebab ini pertama kali mereka bertemu langsung setelah kepulangan Riana ke Indonesia beberapa Minggu yang lalu, meskipun mereka kerap kali bertukar kabar melalu handphone tapi tetap saja berhadapan langsung seperti ini membuat jantung keduanya tak bisa tenang.


"Kamu nggak mau tau aku datang kesini untuk apa?" akhirnya Fariz memberanikan diri untuk memulai percakapan.


Riana mengerjap mendengar penuturan Fariz lalu nampak salah tingkah karenanya, "ah iya, ada yang kamu kerjakan disini?" tanya Riana meski sebenarnya sudah terlambat untuk bertanya.



"Iya," jawab Fariz.



"Ooh," kata Riana singkat.




Gadis yang bahkan tidak pikiran untuk bertanya kenapa dia datang karena gadis itu masih sangat tidak percaya kalau pria yang selama ini selalu menjemputnya di bandara ketika ia pulang akan datang ke negara dimana ia berada.



Riana menggeleng lugu karena memang ia tidak tau karena apa Fariz datang dan untuk urusan dengan siapa.



"Kamu," kata Fariz akhirnya.



"Aku?" Riana mengernyit kaget.


__ADS_1


Fariz mengangguk lalu berkata, "Aku merasa ada seseorang yang tengah mendekati kamu."



Perkataan Fariz sontak membuat Riana hampir saja mati kena serangan jantung, ia tidak menyangka bagaimana bisa Fariz bisa tahu apa yang tengah terjadi dengannya saat ini.



Pria di sampingnya itu seperti seorang peramal yang bisa mengetahui apa yang terjadi dengan orang lain.


Ucapan Fariz sangatlah tepat karena memang ada seorang Adrian, teman masa kecil Riana yang baru saja kembali hadir bahkan menyatakan perasaannya.


Fariz tersenyum melihat ekspresi Riana yang sangat lucu.



"Benar kan?!" tanya Fariz.



Pria itupun memalingkan wajahnya dan memandang ke luar, menatap lurus pada hamparan rumput yang tumbuh di taman apartemen itu.



"Aku kesini untuk mengatakan apa yang aku rasakan sama kamu selama ini, butuh waktu yang cukup lama untuk meyakinkan diriku sendiri mengingat orang tuaku hanya bawahan Ayahmu," ucap Fariz menghela nafas.



Riana mendengarkan dengan raut wajah yang tak terbaca.



"Aku sayang kamu, Maaf kalau aku terlambat untuk mengatakannya," tutur Fariz menatap kedua mata Riana yang tak berkedip sama sekali mendengar ungkapan hatinya yang selama ini dia tahan karena merasa tidak pantas untuk bersanding dengan seorang putri pemilik perusahaan tempat Ayahnya bekerja selama ini.



Riana benar-benar tidak bisa membuka mulutnya sama sekali untuk memberikan jawaban, wanita itu diam seolah patung, sungguh sama sekali tidak bergerak hanya nafasnya saja untuk membuktikan bahwa ia adalah manusia hanya saja sedang mengalami keterkejutan yang teramat sangat hingga tubuhnya menjadi kaku.


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2